Mencibir “Tukang” Ibadah
Sabtu 26 juli 2014. Hari itu lah yang tertulis di hape bb
ku, itu tahun masehi. Tahun hijriah adalah hari ini merupakan hari terakhir
dibulan ramadhan. Artinya perkataan maenstrim “ramadhan akan pergi” akan
terlalu sering kita dengar lagi. Sebenarnya siapa yang meninggalkan dan ditinggalkan. Tentu dengan kalimat
maenstrim itu, kitalah yang ditinggalkan, manusia. Menurut saya Ramadhan tidak
akan kemana-mana, ia akan tetap berada diantara bulan Syakban dan Sawwal.
Manusialah yang akan pergi, kita. Bulan Ramadhan akana selalu begitu, meskipun
di Indonesia penetapan awal bulan puasa
menjadi hal yang selalu menjadi perdebatan antara organisasi besar dan
pemerintah. Namun diluar semua itu, Ramadahan merupakan sunnatullah yang telah
kita tau kapan ia akan datang. Nah, manusia ?. ,kitalah yang meninggalkan Ramadahan,
mungkin besok, besoknya besok, entahlah , saya tidak akan menyebut nama waktu
dan hari dimana kita akan meninggalkan Ramadhan selamanya, itu urusan Tuhan.
Yah, mungkin sebagian orang merasakan bahwa Ramadhan kali
ini lebih baik dari yang kemarin, sebagian. Tapi yang sebagian lagi entahlah.
Yang pasti ketikan atau tulisan ini hanya berkewajiban menjelaskan apa yang
saya rasa dan fikirkan. Bukan orang-orang sebagian itu atau semuanya. Saya
memang merasa Ramadhan kali ini lah yang paling sulit untuk saya nikmati,
sampai malam ini saya belum pernah solat tarwih, apalagi tahajjud, mengaji
hanya beberapa lembar saja. Saya memang merasa tahun ini saya terhindar dari
kelompok orang yang sering memamerkan betapa ia menikmati bulan Ramdhan ini.
Terkadang saya memang cemburu dengan mereka yang benar-benar mampu mencumbui
anugrah ini. Mampu dengan khusyu dan bersuka cita melewati hari demi hari
dengan ibadah. Yah, meskipun saya cemburu, tapi entah kenapa tak ada dorongan
yang mampu mengalahkan rasa malas dalam diri. Bulan Ramadhan sama halnya dengan
bulan lain, tak ada yang istimewa bagiku. Inilah mungkin yang disebut berpuasa
hanya mendapat lapar dan dahaga saja. Seperti hari biasa, saya tidak tau hari,
tanggal, bahkan kadang-kadang saya lupa tahun berapa ini. Selama di Makassar ,
saya hanya sahur dan berbuka, ibadah wajib saja yang kulakukan. Dengan siklus
seperti itu, rasa-rasanya baru kemarin saya puasa yang pertama, waktu berlalu
begitu cepat selama saya bersama teman-teman di Makassar. Dan mungkin jika saya
tidak dikampung, saya tidak akan sadar kalau lusa sudah mau lebaran, seperti
rasa heranku yang kemarin tau ternyata puasa sudah 10, tiba-tiba menjadi 16.
Apa yang kufikirkan adalah, bahwa saya benar-benar tak
tau, apakah saya yang akan meninggalkan Ramadhan tanpa mampu bertemu lagi,
sesungguhnya saya merasa sangat rugi dengan beberpa hari yang kulalui tanpa
ibadah seperti tahun-tahun sebelumnya, mengaji hingga khatam, tarwih, tahajjud,
kadang-kadang solat duha. Tapi tentu saja saya sangat tidak tertarik dengan
cara mereka beribadah yang selalu saja memamer kebaikan yang mereka lakukan
melalui status jejaring sosial. Entah apakah mereka sedang berbangga ataukah
sangat senang, atau mungkin mereka merasa pahala mereka akan bertambah jika
orang lain tau kalau ia sedang mengaji, tahajjud atau berinfak, entahlah. Apa
yang salah sebenarnya dari ini, karena jujur saya sangat mati rasa dan benci terhadap orang yang selalu mengisi
statusnya dengan ibadah yang ia lakukan. Yang salah mereka, saya, atau mungkin
kehadiran smartphone, atau smartphone yang tak bermasalah tapi mereka saja yang
terlalu eksis dengan ibadah mereka. Yang jelas, lebih baik saya tidak melakukan
kebaikan, jika harus memamerkan ibadah-ibadah yang telah saya lakukan, atau
apakah mereka sangka bahwa Allah tidak melihat kalau mereka sedang beribadah ?,
atau mereka sedang mencari saksi jikalau nanti ibadah mereka ternyata tidak
sah. Entahlah, seharusnya mereka memperlihatkan itu kepada Allah saja. Kami tak
perlu itu semua.
yah, mungkin saja aku sedang tidak hanya muak dengan
status-status ibadah sebagian orang tadi, tapi secara keseluruhan saya muak
dengan status-status yang jika kau
tanyakan ke saya kenapa, saya akan menjawab LEBBAYY. Bagaimana bisa mereka
terlalu berbangga , memberitahukan ke kita apa yang akan, sedang dan telah
mereka lakukan. Gunanya apa coba ?, atau mungkin memang itulah gunanya sosmed,
mengakomodasi perasaan galau, bangga, benci dan segala bentuk emosi ?, jadi itu
wajar. Jadi jika itu wajar, berarti satu-satunya yang tidak wajar adalah saya,
saya yang sangat muak dengan hasil cerita kalian, dengan kesimpulan dari
kebodohan kalian , entahlah. Membicarakan tentang status, pasti lah tak perlu
terlalu berkoar seperti caramu berkoar ketika seseorang terlalu banyak bicara
tentang dirimu, tentang apa yang tidak ia ketahui. Karena menurut mereka
kalimat yang terkadang membuatku sangat ilfill di sosial media adalah hak
mereka, hp, dan jari mereka. Jadi mungkin apa yang sedang saya lakukan saat
ini, mencibir kalian bersama laptop, adalah hal yang wajar, dan mungkin halal.
Karena saya sedang tidak membicarakan siapapun dengan siapapun. Ini adalah
akumulasi dari sikap kalian, tak perlu mengangkat satu atau dua nama yang hanya
akan membuatku berdosa lebih banyak. Hahah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar