Kamis, 02 April 2015

Penghayal Realistis

Penghayal Realistis

Jum’at 8 agustus 2014. Sudah 5 hari saya di Makassar, di sekret HIMIKOM tapi belum ada tanda-tanda teman2 yang di kampung akan segera kembali ketempat ini. Hanya Usman disini, dia tidak pulang kampung, entah pertimbangannya apa sehingga ia mau melewatkan hari penuh suka cita yang biasanya dibayar mahal oleh beberapa orang agar mampu menikmatinya bersama keluarga, merakyakan kemenangan lebaran Idul Fitri. Usman, ia sedang tidur beberapa meter diseblah kiriku saat kutulis tentang dia, ku gosipi dia bersama jejeran tombol dan huruf laptopku yang beberapa  waktu lalu ku sangka rusak, tapi Usman memperbaikinya dengan begitu santai. Yah, membicarakan teman tak akan terlalu banyak mengisi tulisan ini, saya ingin kau mengenal saya lebih jauh, lebih dalam dan langka. Langka karena tak seorang pun yang akan mengenal siapa saya sesungguhnya, apa yang kufikirkan, apa yang kurasa dan apa yang kuinginkan, kecuali kamu yang sempat dan senang membaca hingga dilembaran ini (tulisan ini adalah satu dari sekian banyak suara yang kutulis tapi tetap kusimpan dan tidak ingin orang lain membacanya).

Jika kau membaca hingga semua, saya yakin kau sedang tidak ingin mencari teori, atau tambahan ilmu pengetahuan dari konsentrasi keilmuan yang ujung-ujungnya menjadi title sarjana dan seterusnya, yang menambah panjang namamu, yang rela dibayarkan oleh kedua orang tuamu, atau entah siapa yang mebayarknanmu hingga ahirnya kau dapat merakayakan keberhasilan mu dalam sebuah acara wisudah. Saya hanya mempersepsikan, menikmati subjektifitas, memanjakan hayalan ku untuk menguliti apa yang sebenarnya bukan sebenarnya. Tapi aku tetap menikmati, hayalan hayalan, atau apa yang tidak dirasakan oleh orang lain yang sama-sama denganku melakukan sebuah kegiatan, atau apa yang sama sekali tak terfikirkan oleh orang yang sedang duduk disampingku. Karena kita Manusia, saya merasa saya manusia, kali ini saya memang manusia. Allah membedakan kita dengan begitu banyak ciptaan lainnya hanya dengan akal, dengan fikiran, yang bisa menerka, yang bisa melihat sisi lain dari apa yang ada didepan mata kita. Allah memberikan potensi untuk kita menikmati semua, menjadi kuat, menjadi senang, dan memunculkan banyak pilihan dari sebuah masalah, sejak dari dalam, sejak dari fikiran kita. Itulah kita dan itulah saya. Saya begitu senang membuat semua yang ada diluar diriku menjadi milikku, menjadi anugrah, karena akal kita bisa melakukan itu.

Mungkin kamu mulai berfikir bahwa saya ini penghayal, malas dan apatis, saya ini tidak realistis. Yah itulah hal yang kamu hasilkan karena kamu memiliki akal, karena kamu bisa menilai saya. Itu adalah hak kamu, tapi itu tidak sepenuhnya aku. Jika kamu menilai saya terlalu penghayal dan tidak realistis, maka kamu sedang menjadi kamu dan meminjam beberapa diriku. Penilaian adalah milik kita, dan sebenarnya kita, bukan objek. Dan itulah yang saya lakukan dengan anugrah Allah, saya sedang menjadi begitu banyak hal yang kunilai, menjadi mereka dalam diriku, dan ini sangat mengasyikkan. Inilah dunia yang menghidupkan saya seuhtuhnya ahir-ahir ini, tidak terlalu berumus, tidak ada perkalian atau pembagaian nomor-nomor yang ahirnya akan menyimpulkan bahwa saya sedang sedih atau senang. Jika barang mu hilang, barang yang sangat berharga, barang yang mahal, maka jika kau menggunakan angka, jika kau mempertimbahngkan perasaan mu berdasakan harga, maka hasilnya kau akan sedih, akan marah, akan tidak bersyukur. Lalu mengapa Tuhan terus bertanya “fabi ayyi alaa irabbi kumatu kazziban” maka nikmat Rabb mu yang mana yang akan kau ingkari ?. mungkin kamu akan menjawab saya tidak merasakan kenikmatan Rabb karena teman sekampusku menggunakan mobil smentara saya naik motor, teman ku menggunakan motor dan saya berjalan kaki, atau temanku mampu berkuliah ditempat impiannya sedangkan saya hanya berkuliah di tempat biasa yang bukan impian ku, dan semua itu akan terus berlanjut, kamu tidak akan bersyukur karena kamu menggunakan angka. Mungkin kamu terlalu membandingkan harga dan seberapa mahal. Dan itulah mungkin jawaban mu kepada Tuhan mu, “inilah yang membuat saya tidak bersyukur”.

Tapi cobalah untuk sedikit merelakan angka-angka itu, cobalah berprasangka baik, cobalah menghayal, dan menerka, cobalah nikmati Anugrah Allah yang tidak dimiliki oleh malaikat yang terlalu suci, cobalah menikmati itu yang membedakan kita dengan hewan, tumbuhan atau semuanya selain manusia. Cobalah untuk menganggap kita sedang diuji ketika musibah melanda. Karena jika angka, maka kita akan selalu tidak bersyukur, apakah kamu  yakin bahwa mereka yang sedang tertiup AC, yang sedang terhalangi debu dan polusi jalan dalam sebuah mobil mewah, sementara kamu menggunakan motor butut dibelakangnya dengan bensin yang hampir habis dan sisa uang dikantongmu kau persiapkan untuk membeli makanan, apakah kau benar2 yakin mereka sedang bahagia ?. kamu bisa lebih bahagia dari mereka jika kau menyingkirkan angka itu dan menggunakan fikiran mu untuk menyalurkan semangat ke seluruh penjuru organ tubuh mu. Maka kamu akan senang, kamu akan menggila dengan kesenangan yang bersumber dari dalam dirimu, kamu akan tertawa, lalu bersyukur, lalu merasakan dunia yang begitu ramah dan sangat luas, karena kita ber Akal.

Hahahah, kamu mulai menilaiku sebagai penceramah, sebagai mahasiswa yang idealis, atau sok tau, mungkin yang sedikit lebih ekstrim, arif itu gila. Yah maka jadilah itu, jadilah dirimu yang menilaiku, itu hak mu, otak mu ada dalam ragamu sejak lahir, maka tak mungkin saya memaksamu untuk menyesuaikan dengan apa yang diinginkan otakku yang berada dalam ragaku sejak lahir. Saya tidak sedang menceramahimu, saya hanya mengganti kata “aku” menjadi “kamu” diparagraf atas. Karena itu beberapa kudapat dari apa yang kulihat, dan beberapa sudah kualami, lalu beberapa saya ingin menjadi seperti itu. Karena kita hidup dan terus dipaksa untuk melihat angka. Mmmmmm... mungkin saya akan menggunakan kata “saya” bukan “kita” atau “kamu”. Karena semua ini adalah apa yang saya lihat dan nikmati. Yah lanjutt..... saya sedang berada didunia yang penuh angka. Saya sedang berada dilingkungan yang menganggap bagus sebuah barang jika itu berharga mahal, padahal apa yang kugunakan dengan harga yang jauh lebih murah sangat membuat saya nyaman. Yah,, saya selalu terpengaruh kedalam semua itu, kedalam angka, dan selalu tidak bersyukur. Tapi ketika saya kembali ke Akal ku, hayalanku, ke sugesti dalam diriku, maka saya akan bahagia, sangat bahagia memarkir motorku yang setengah mati kubeli dengan mangumpulkan uang dibawah matahari, disamping motor besar yang kuimpikan.

Ketika Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk dapat menghayalkan saya mengendarai sebuah mobil berharga triliunan, dengan perasaan senang, disampingku ada orang yang sangat kusayangi, mengapa saya harus membeli nya sementra angka yang kumiliki tak sanggup untuk semua itu. Mensyukuri angka yang kumiliki dan menghayalkan angka yang dimiliki orang adalah obat penawar. Adalah caraku menjawab pertanyaan Allah “tidak ada Tuhan, semua yang kau beri dan ciptakan adalah hal yang kusyukuri”. Yah
Semua itu sangat sulit, jika kau menilaiku munafik, yah kau benar. Saya munafik jika mengatakan saya sebersyukur itu. Saya tidak agamais, masih terlalu banyak perintah yang kubaiakan meskipun kufikirkan. Saya sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk memberitaumu seperti apa seharusnya kau hidup. Karena kita semua sudah memiliki Al-Quran dan Hadis, namun karena saling menasehati dalam kebaikan adalah hal yang terpuji maka itulah yang sedang kucoba.

Nah, mungkin saya akan menympulkan apa yang saya sebut-sebut diatas, soalnya sebentar lagi solat jum’at.
Realistis, adalah hal yang sangat penting, saya tidak ingin egois dengan terlalu menikmati hayalan. saya tidak ingin beronani dengan fikiranku yang didalamnya aku sedang menjadi raja, sementra kenyataannya saya tertinggal, saya sedang tidak mengetahui hal-hal baru yang diketahui orang disampingku. Saya tidak ingin tidur dalam hayalanku dengan kasur yang sangat empuk, sementara realitanya beribu anak sedang kepanasan, haus dan lapar lalu mereka sangat sulit untuk mengobati itu, sementara wakil-wakil mereka sedang berada diruangan ber Ac dan membuat proposal permintaan dana untuk mereka yang kelaparan tadi seperti yang ia lakukan sejak puluhan tahun lalu. Saya tidak mau menggunakan mobil berharga triliun sementara nyatanya kemiskinan disekitarku masih sangat gamblang oleh mataku.


Fikiran adalah sumber dari apa yang saya lakukan, asal semua senyum, dan tawa yang menggila. Fikiran menurutku adalah milik setiap kita, ia memiliki sisi yang mustinya dipadukan dengan begitu kompak, Hati. Fikiran dan Hati lah yang menurutku harus mengandung angka, bukan barang. Mereka (akal dan hati) yang akan kucoba memberikan angka, seberapa peka orang disekitarku terhadap sosial, seberapa cerdas mereka, seberapa bijak kah mereka, seberapa toleran kah mereka, maka hasilnya adalah motivasi untuk terus maju. Saya tidak mau menjadi apatis ditengah dunia yang terus maju. Saya hanya mencoba memperbaiki semua dari dalam, dari fikiran dan perasaan, untuk mengeluarkan sensasi baik kepada setiap orang yang coba menilaiku. Tapi satu hal yang saya camkan adalah bahwa saya adalah mahluk sosial yang akan terus dinilai, namun bukan berarti saya tak memiliki paradigma sendiri yang akan saya gunakan untuk menjalani hidup. Artinya, saya menjalani apa yang membuatku nyaman, sejauh itu tak melanggar norma agama, budaya, nilai, dan hal-hal lain yang mendatangkan kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar