Kamis, 02 April 2015

Dimanakah Hari Kemarin

Dimanakah Hari Kemarin

Garis baru, hari yang baru, gelap kini ada disekelilingku, kecuali dibawah atap rumah yang ada beberapa lampu dibawahnya. Hari ini adalah aliran dari jutaan hari yang telah kulalui (Rabu 25 februari 2015). Sempat aku berfikir, kemana jutaan waktu yang telah kulalui itu, yang dilalui manusia. Betapa banyak kejadian yang sangat spesifik yang pernah benar-benar dihargai atau yang tidak terpedulikan, kemana semua itu. Mungkinkah sebenarnya ada semacam arsip raksasa dari semua itu ? dimana semuanya tersimpan rapi, bukan hanya beberapa kejadian yang berkesan, tapi kejadian yang mungkin sangat berarti tapi hanya sekilas berlalu, semuanya. Tapi dimana ?. jika kita menjawab semua itu ada didalam otak kita, dimana otak itu ada didalam raga kita, sehingga kapanpun dapat terakses, lalu bisakah kita mengingat semuanya secara terinci, kira-kira sandal apa yang kita gunakan tepat 250 hari yang lalu, hari apa pada saat itu, kita sedang bersama siapa, apa yang sedang kita lakukan. Bisakah kita mengingatnya , jika semboyan “semua tersimpan dalam memori” menjadi landasan kita menjawab semua pertanyaan yang mungkin tidak penting diatas ?.

Lalu jika kita menjawab bahwa waktu waktu itu terseleksi dan hanya beberapa waktu dan peristiwa yang berkesan saja yang bisa kita ingat, lalu bagaimana dengan Firman Allah yang mengatakan “barang siapa yang melakukan sebesar biji zara pun kebaikan maka dia akan melihatnya, dan barang siapa yang melakukan sebesar biji zara pun keburukan maka ia akan melihatnya”, yang berarti segalanya akan kita pertanggung jawabkan. Sebab mari kita melihat, atau mari kita cari, dari sekian banyak kelakuan sehari-hari kita, aktifitas apa yang sengaja kita lakukan dan itu tidak memiliki muatan sebuah kebaikan atau keburukan, mari kita mencari aktifitas apa yang bebas dari hal yang baik atau buruk. Menrut saya, jika sesuatu bukan kebaikan, maka itu adalah keburukan, begitu pula sebaliknya. Kita mengenal sebuah istilah “subhat” yang defenisinya dimetaforakan sebagai sebuah pohon milik orang lain yang buahnya jatuh ditanah kita. Atau seorang yang menemukan uang yang ia tak tau siapa pemiliknya. Bukankah keduanya itu meskipun berada di area abu-abu tapi kita tetap diberikan petunjuk untuk bagaimana untuk bertindak. Dan membicarakan petunjuk, maka membicarakan pengharapan atas apa yang harus dilakukan, melanggarnya hanya akan memberikan konsekuensi yang diganjar dengan dosa. Lalu apa yang telah kita lakukan, semuanya dimasa lalu, apakah semuanya hanya akan tersimpan dalam catatan malaikat ?

Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya “Psikologi Komunikasi” telah menjelaskan tentang penyimpan peristiwa yang disebut memori, namun ini sungguh sangat rumit untuk menganalogikan proses kerja pengingatan seperti sebuah mesin yang harus melalui Short Term Memori (pengingat jangka pendek) lalu jika itu sangat berarti maka ia akan masuk kedalam Long Term Memori (memori jangka panjang), yang keduanya mengindikasikan bahwa akal kita meskipun luas, tapi saat bersamaan ia juga tidak luas.

Nah itu lah yang terfikirkan olehku sepanjang hari ini, dimana semalaman saya tidak tidur lalu tertidur jam tujuh pagi dan baru bangun jam tiga sore ( saya Cuma bangun solat baru lanjut tidur). Saat saya mengambil wudhu solat duhur, dimana terasa tekanan pada kepala bagian belakangku, aku terfikir tentang kejadian beberapa jam lalu dimana saya sedang beramai-ramai di kantor Meditatif lalu tiba-tiba saja saya sendiri didalam wc ini, lalu kemana semua orang tadi. Mengingatnya seakan-akan saya sedang berhayal, persis sama dengan perasaan saat saya membayangkan hal yang tak pernah benar-benar terjadi.

Ok, lalu mari kita bertanya lagi, jika masa lalu itu entah tersimpan dimana, lalu masa depan itu juga dimana, apakah semua yang akan terjadi nanti itu adalah hal yang tiba-tiba, sebab pernahkah kamu berencana dan apa yang kamu rencanakan persis sama dengan apa yang terjadi, jika tidak kurang, maka ia akan lebih, itu yang akan terjadi. Lalu mengapa hal itu bisa terjadi, apakah secara otomatis atau kebetulan ?


Ahirnya aku baru saja sadar, bahwa aku sebagai manusia memang benar-benar lemah. Meskipun saya sadar bahwa semua yang telah, sedang dan yang akan terjadi itu telah tercatat dalam Lauhil Mahfudz, telah digariskan oleh Zat yang menciptakanku, tapi saat ini dan mungkin akan bertahan dengan anggapa seperti ini, bahwa kita adalah “saat ini”. Dengan jumlah jam yang saya lalui hingga saat ini saya berumur 22 tahun yang sangat banyak, dengan berbagai rencana yang mungkin ketinggian dimasa depan, kita hanya memiliki kesempatan “saat ini”. Kendali kita adalah apa yang sedang kita lakukan, dan akan berdampak pada masa depan, sekecil apapun itu, seperti firman Allah yang berjanji akan memperlihatkan kepada kita semua yang telah kita lakukan. Lalu saya yakin, bahwa kau setuju, masa lalu tidak akan tersentuh lagi , ia akan menjadi seperti yang telah kita lalui dengan jutaan rahasia disana. Dan tak satupun dari kita yang masih mamiliki “iman” yang dapat menebak apa yang akan terjadi beberapa menit kedepan. Kita tidak ingin mendahului yang kebanyakan berisi kekeliruan dari apa yang telah diatur oleh Allah. Lalu ternyata kita sangat tidak berdaya dihadapan Allah tanpa bantuannya. Ternyata inilah yang terjadi dari apa yang tadi siang ku hayalkan didalam wc saat berwudhu, saya sedang ingin menarik kesimpulan, bahwa waktu itu teramat pendek, karena kita adalah kita “saat ini”. Maka jangan menunda-nunda, lakukan kebaikan yang bisa dilakukan SEKARANG. Ok saya solat isya dulu paeng, karena belumpaka solat ini bro. Hhahaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar