Dimanakah Hari Kemarin
Garis baru, hari yang baru, gelap kini ada
disekelilingku, kecuali dibawah atap rumah yang ada beberapa lampu dibawahnya.
Hari ini adalah aliran dari jutaan hari yang telah kulalui (Rabu 25 februari
2015). Sempat aku berfikir, kemana jutaan waktu yang telah kulalui itu, yang
dilalui manusia. Betapa banyak kejadian yang sangat spesifik yang pernah
benar-benar dihargai atau yang tidak terpedulikan, kemana semua itu. Mungkinkah
sebenarnya ada semacam arsip raksasa dari semua itu ? dimana semuanya tersimpan
rapi, bukan hanya beberapa kejadian yang berkesan, tapi kejadian yang mungkin
sangat berarti tapi hanya sekilas berlalu, semuanya. Tapi dimana ?. jika kita
menjawab semua itu ada didalam otak kita, dimana otak itu ada didalam raga
kita, sehingga kapanpun dapat terakses, lalu bisakah kita mengingat semuanya
secara terinci, kira-kira sandal apa yang kita gunakan tepat 250 hari yang
lalu, hari apa pada saat itu, kita sedang bersama siapa, apa yang sedang kita
lakukan. Bisakah kita mengingatnya , jika semboyan “semua tersimpan dalam
memori” menjadi landasan kita menjawab semua pertanyaan yang mungkin tidak
penting diatas ?.
Lalu jika kita menjawab bahwa waktu waktu itu
terseleksi dan hanya beberapa waktu dan peristiwa yang berkesan saja yang bisa
kita ingat, lalu bagaimana dengan Firman Allah yang mengatakan “barang siapa
yang melakukan sebesar biji zara pun kebaikan maka dia akan melihatnya, dan
barang siapa yang melakukan sebesar biji zara pun keburukan maka ia akan
melihatnya”, yang berarti segalanya akan kita pertanggung jawabkan. Sebab mari
kita melihat, atau mari kita cari, dari sekian banyak kelakuan sehari-hari
kita, aktifitas apa yang sengaja kita lakukan dan itu tidak memiliki muatan
sebuah kebaikan atau keburukan, mari kita mencari aktifitas apa yang bebas dari
hal yang baik atau buruk. Menrut saya, jika sesuatu bukan kebaikan, maka itu
adalah keburukan, begitu pula sebaliknya. Kita mengenal sebuah istilah “subhat”
yang defenisinya dimetaforakan sebagai sebuah pohon milik orang lain yang buahnya
jatuh ditanah kita. Atau seorang yang menemukan uang yang ia tak tau siapa
pemiliknya. Bukankah keduanya itu meskipun berada di area abu-abu tapi kita
tetap diberikan petunjuk untuk bagaimana untuk bertindak. Dan membicarakan
petunjuk, maka membicarakan pengharapan atas apa yang harus dilakukan,
melanggarnya hanya akan memberikan konsekuensi yang diganjar dengan dosa. Lalu
apa yang telah kita lakukan, semuanya dimasa lalu, apakah semuanya hanya akan
tersimpan dalam catatan malaikat ?
Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya “Psikologi
Komunikasi” telah menjelaskan tentang penyimpan peristiwa yang disebut memori,
namun ini sungguh sangat rumit untuk menganalogikan proses kerja pengingatan
seperti sebuah mesin yang harus melalui Short Term Memori (pengingat jangka
pendek) lalu jika itu sangat berarti maka ia akan masuk kedalam Long Term
Memori (memori jangka panjang), yang keduanya mengindikasikan bahwa akal kita
meskipun luas, tapi saat bersamaan ia juga tidak luas.
Nah itu lah yang terfikirkan olehku sepanjang hari
ini, dimana semalaman saya tidak tidur lalu tertidur jam tujuh pagi dan baru
bangun jam tiga sore ( saya Cuma bangun solat baru lanjut tidur). Saat saya
mengambil wudhu solat duhur, dimana terasa tekanan pada kepala bagian
belakangku, aku terfikir tentang kejadian beberapa jam lalu dimana saya sedang
beramai-ramai di kantor Meditatif lalu tiba-tiba saja saya sendiri didalam wc
ini, lalu kemana semua orang tadi. Mengingatnya seakan-akan saya sedang
berhayal, persis sama dengan perasaan saat saya membayangkan hal yang tak
pernah benar-benar terjadi.
Ok, lalu mari kita bertanya lagi, jika masa
lalu itu entah tersimpan dimana, lalu masa depan itu juga dimana, apakah semua
yang akan terjadi nanti itu adalah hal yang tiba-tiba, sebab pernahkah kamu
berencana dan apa yang kamu rencanakan persis sama dengan apa yang terjadi,
jika tidak kurang, maka ia akan lebih, itu yang akan terjadi. Lalu mengapa hal
itu bisa terjadi, apakah secara otomatis atau kebetulan ?
Ahirnya aku baru saja sadar, bahwa aku sebagai
manusia memang benar-benar lemah. Meskipun saya sadar bahwa semua yang telah,
sedang dan yang akan terjadi itu telah tercatat dalam Lauhil Mahfudz, telah
digariskan oleh Zat yang menciptakanku, tapi saat ini dan mungkin akan bertahan
dengan anggapa seperti ini, bahwa kita adalah “saat ini”. Dengan jumlah jam
yang saya lalui hingga saat ini saya berumur 22 tahun yang sangat banyak,
dengan berbagai rencana yang mungkin ketinggian dimasa depan, kita hanya
memiliki kesempatan “saat ini”. Kendali kita adalah apa yang sedang kita
lakukan, dan akan berdampak pada masa depan, sekecil apapun itu, seperti firman
Allah yang berjanji akan memperlihatkan kepada kita semua yang telah kita
lakukan. Lalu saya yakin, bahwa kau setuju, masa lalu tidak akan tersentuh lagi
, ia akan menjadi seperti yang telah kita lalui dengan jutaan rahasia disana.
Dan tak satupun dari kita yang masih mamiliki “iman” yang dapat menebak apa
yang akan terjadi beberapa menit kedepan. Kita tidak ingin mendahului yang
kebanyakan berisi kekeliruan dari apa yang telah diatur oleh Allah. Lalu
ternyata kita sangat tidak berdaya dihadapan Allah tanpa bantuannya. Ternyata
inilah yang terjadi dari apa yang tadi siang ku hayalkan didalam wc saat
berwudhu, saya sedang ingin menarik kesimpulan, bahwa waktu itu teramat pendek,
karena kita adalah kita “saat ini”. Maka jangan menunda-nunda, lakukan kebaikan
yang bisa dilakukan SEKARANG. Ok saya solat isya dulu paeng, karena belumpaka
solat ini bro. Hhahaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar