Mencoba TAU Diri
Selamat membaca dengan siang atau malam, atau
apapun waktu dan makna yang kau berikan padanya saat sedang membaca ini.
Siapapun kamu yang sedang membaca ini, saya sedang tidak berbicara kepadmu.
Sebab terlalu mengurung rasanya jika harus ku bayangkan siapa yang akan membaca
ini, lalu aku menyesuaikan segala bentuk komunikasi ku, itu akan benar-benar
merenggut fokusku untu membicarakan diriku, ya, AKU. Sejak sedari atas lembaran
ini, hingga ketikan diahir ini, aku terus berubah, caraku memaknai dan yang pada
gilirannya mempengaruhi sifat dan tingkah ku. Ahir-ahir ini, saat berkendara,
entah mengapa aku selalu terpaut dibidang putih yang berisikan hal-hal tentang
beberapa bagian pemikiranku, lalu aku tersadar, ternyata aku hanya terlalu
sering menceritakan orang lain, menceritakan kejadian lain dengan
subjektifitasku. Aku membicarakan kepergian Nanna dan silih bergantinya
orang-orang yang rela kusayangi, membicarakan sifat dan karakter orang lain,
lalu ya.. aku belum menceritakan diriku, aku belum memberi subjektifitas
terhadap diriku.
Lalu biarkan kuceritakan tentang apa yang
kufikirkan tentang diriku saat ini, saat aku meminta bantuan musik agar aku
yakin bahwa aku sedang menilai diriku.
Entah ingin memulai dari mana, untuk
membicarakan sesuatu yang informasinya sangat banyak dikepalaku, entah seperti
apa ketika tumpukan informasi itu berlomba ingin diceritakan olehku, ternyata
sangat sulit menceritakan diri sendiri daripada menceritakan orang lain, apakah
ini karena aku terlalu mengenal dan menghimpun terlalu banyak informasi tentang
diriku, atau justru aku sebenarnya tak mengenal siapa aku sebenarnya.
Oke ini benar-benar sulit untuk menceritakan
siapa aku secara sistematis, tapi yang paling aku sadari saat ini, aku sedang
melawan rasa EGOIS ku. Telah banyak waktu yang kubiarkan untuk membuat diriku
senang sendiri, memaksa orang lain untuk mengikuti apa yang kuyakini benar,
merasa kalah saat pendapat orang lain ternyata lebih dapat diterima. Aku sering
berbohong kepada orang-orang yang menyayangiku hanya untuk mencuri kenikmatan
lalu menghabiskannya sendiri. Aku selalu bersikap pura-pura tidak mengetahui
sesuatu, derita orang lain disekitarku jika aku hawatir hal itu akan menganggu
kenikmatanku. Hingga keegoisanku itu menjadi
rahasia umum, bahkan menjadi hal yang terlebih dulu diketahui oleh banyak orang
lain dari pada diriku sendiri. Ya, lalu seiring dengan evolusi yang terus
berkecamuk didalam diriku, berkat bantuan-bantuan dari buku, dari keperihan,
dari kekecewaan, dari sadisme yang merupakan dampak dari ego itu, aku mulai
belajar untuk merubahnya, mungkin menguranginya tapi bukan menghilangkannya.
Aku hanya berusaha bersifat tidak mementingkan diri sendiri, saat aku sedang
sadar bahwa aku sedang belajar untuk tidak terlalu egois. Lalu aku rela lebih
menderita untuk membuat orang lain bahagia, aku rela bersusah untuk membuat
orang lain nyaman, aku rela meluangkan waktu untuk kepentingan orang lain.
Meski terkadang aku merasa menjadi menganak tirikan diriku, tapi aku sedang
mendarah dagingkan sosial dalam setiap gerakku. Konsekuensi kuserahkan
seutuhnya ke Allah, entah apakah ini bernilai pahala atau tidak, yang jelas aku
sedang mereduksi kekurangan ku.
Menyadari bahwa sebelumnya kita terlalu egois,
lalu ingin merubahnya, ternyata tak semudah memahami kalimat-kalimat Mario
Teguh. Kecamuk iri saat melihat orang lain tersenyum dari buah perih yang kita
persembahkan kadang menjadi petaka, ketika orang tersebut nampak beranggapan
bahwa kita tak melakukan apa-apa untuknya. Yah meski terkadang itu terjadi,
tapi aku berusaha membujuk diriku, bahwa belajar itu tak akan pernah mudah
untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Aku ingin sikap sosialku menjadi
tinggi dan mendarah daging, hingga ahirnya suatu saat nanti, aku terbiasa
menolong dan berkorban untuk orang lain, bertindak secara otomatis, dan
berfikir aku sedang tidak melakukan tindakan yang mengharap diberi nama oleh
orang lain sebagai sebuah kebaikan, tapi aku bertindak karena itu membuatku
senang.
TERIMA KASIH. Kau tau, mungkin aku sedang
mendapatkan beberapa hasil belajarku. Kata terimakasih benar-benar lebih sering
terasa mengganggu bagiku. Menolong orang lain dan dibalas dengan perkataan itu
serasa mengurangi esensi nya, membuatku menyadari bahwa aku telah berbuat
sesuatu yang membuat orang lain bahagia. Mungkin balasan yang lebih tepat dari
seorang yang telah berbuat baik, adalah membalasnya dengan perlakuan yang lebih
baik. Bukan melulu berterimakasih dan mempermasalahkan bantuan orang lain
dengan kata-kata, yah mungkin ini hanya anggapanku saja, tapi saya benar-benar
sering merasa terganggu ketika seseorang membuatku sadar bahwa aku telah
melakukan sebuah bantuan padanya. Mungkin aku dengan pemikiranku bahwa kebaikan
adalah dibalas kebaikan bukan ucapan, harus merealisasikan itu. Sembari juga
berprasangka baik dengan ucapan terimakasih, dan tak menganggapnya sebagai
sebuah kebiasaan atau basa basi belaka.
Saat ini, setelah meluangkan waktu, fikiran,
tempat dan uang sebagai pengurus HIMIKOM, saya kembali diangkat menjadi Dewan
Pertimbangan Organisasi. hal yang paling baru kukenali dari diriku adalah,
ternyata aku tak berbakat dan mungkin benar-benar tak berbakat menduduki posisi
sebagai seseorang yang dengan pemikirirannya memaksa atau setidaknya mengharap
orang lain secara resmi untuk mengikutinya. Mungkin ke egoisanku telah
bercampur dengan rasa tidak enak, dan terlalu menghargai pemikiran orang lain
saat ini. Dan aku merasa tidak tepat lagi untuk menduduki posisi itu. Hal ini
berbeda saat menjadi pengurus, sebab aku berusaha meyakinkan orang lain dengan
fikiranku yang yakin bisa ku realisasikan. Konteksanya saat ini adalah, saya
harus membuat orang lain berfikir seperti caraku, dimana aku hanya cukup
bicara, mungkin buah fikirku itu akan membuat orang lain sebagai pengurus yang
tak digaji akan merasa kesulitan. Ini benar-benar terasa setelah dua kali aku
mengadakan pertemuan dengan pengurus sebagai DPO. Terlalu berat bagi saya
menuangkan gagasan. Ada beberapa gagasan yang berhasil kukeluarkan dengan berusaha menggunakan jembatan kata yang
menurutku ramah. Apakah aku sedang secara otomatis lagi masuk dalam “sekolah
dari Allah” yang baru ? atau tingkatan yang baru.
Dalam dua kali pertemuan itu, saya memiliki
gagasan yang kuyakini dapat kulakukan jika aku berada diposisi mereka, tapi itu
selalu tertahan. Ini benar-benar terasa menyiksa untuk menahan sebuah gagasan
dengan terlalu banyak pemikiran bahwa akan membuat orang lain susah, sebab saat
bersamaan mereka pun memiliki pemikiran sendiri yang menurut mereka dapat
mereka lakukan. Mungkin sebenarnya aku telah benar sejauh ini, namun adaptasi
belum berjalan dengan sukses secepat ini.
Hal
yang lain dariku adalah bahwa saya benar-benar lemah dalam berpolitik, Usman
mengatakan bahwa pemahaman ku tentang politik praktis saat ini adalah
pemahamana yang berbahaya, mengingat berpolitik sudah bukan tontonan di tv dan
bacaan buku saja, tapi dengan umurku saat ini, politik sebenarnya telah sedang
ada di sekelilingku, diperankan oleh orang orang yang mungkin sangat dekat
denganku. Mengatakan bahwa aku tidak berminat mengetahui politik adalah bukan
jawaban yang tepat dari ku, mungkin aku terlalu lugu, tidak peka, dan yang
paling menonjol adalah, aku benar-benar menganggap semua orang adalah baik.
Saya tidak yakin akan digelincirkan oleh orang lain demi kepentingan mereka,
seperti konsep politik yang ada di televisi. Selain itu, saya merasa bersalah
jika ingin mengangkat kepentinganku bersamaan dengan mengorabankan orang lain.
Secara harfiah, aku lemah untuk melakukan ini baik dalam kehidupan nonformal
maupun tatanan formal semacam organisasi. tapi dilain hal, saya ingin menjadi
seorang pemimpin, paling tidak mengepalai sektor yang memayungi film dibawah
birokrasi negara. Aku ingin memenangkan mereka yang sama-sama memiliki hobby
dengan ku dan telah lama bertarung melawan pendeskriminasian, pandangan sebelah
mata, atau penganak tirian dari pemerintah hingga saat ini. Namun untuk masuk
dipemerintahan, politik adalah jalan yang paling memungkinkan. So mungkin
terlalu dini untuk mengatakan akau lemah, aku harus belajar mengurangi kelemahan
diriku yang telah kuketahui, seperti Ke EGOISAN ku. G nihgt . Sabtu 7 Maret jam
12.33 di Antang)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar