Sabtu, 28 Maret 2015

Cara Kampusku Berkenalan Dengan ku



Cara Kampusku Berkenalan Dengan ku

Selamat sore, jika saat membaca ini kau sedang bersama perginya mentari dari langitmu. Aku baru saja makan, entah apakah ini breakfast, lunch atau dinner, tapi rasa-rasanya ini adalah ketiganya. Menjadi anak laki-laki seperti saya, mengatur kesehatan menjadi tabu, kurang tidur, terkadang kelaamaan dan sangat sedikit, sama halnya dengan makan, hanya sesekali berolahraga, kebanyakan merokok dan nongkrong. Untungnya ini ketidak beraturan ini adalah hal yang kusadari, sehingga say bisa mengendalikan untuk melakukannya dan tidak melakukan hal yang lain, yang mungkin lebih parah. Saya bangga dengan bagian diriku yang sangat senang mengetahui dan mendiskusikan hal-hal bermanfaat yang kusenangi, budaya dan film. Saya pula senang dari bagian lain dari diriku yang selalu ceria, selalu merasa senang dimana dan dengan kebanyakan siapapun. Selalu ada kebahagiaan yang dimiliki oleh bukan hanya manusai tapi benda, yang selalu kulumati untuk meraih tawa bahagia. Saya senang karena ibu dan ayak ku memiliki anak seperti saya dan ternyata wajahnya kebetulan oleh “sosial” dianggap tidak terlalu jelek, wajah dan penampilan secara alamiah memberikan keprecayaan diri kepadaku dalam kebanyakan kesempatan bergaul. Saya mencintai cara berfikirku yang tidak terlalu mempermasalhkan perbedaan bahkan menyenangi perbedaan itu, mendapatkan hal baru dari hal yang berbeda memang sangat membahagiakan. Meskipun keluargaku berada dalam kategori kelas ekonomi menengah, tapi saya sangat senang dengan sifat ibu ku yang sangat pandai memberikan apa yang kubutuhkan daripada yang kuinginkan.
Berlebihankah paragraf diatas ? mungkin aku telah membagakan diri tanpa memunculkan kelemahan ku, kekurangan dan kebobrokanku. Tapi untungnya membanggakan diri bagi saya tak perlu selalu diucapkan secara ferbal, apalagi menghancurkan hal lain yang sama-sama indah dengan apa yang kita miliki. Mari bercerita tentang apa yang kufikirkan....

Saya berkuliah di Universitas Muslim Indonesia Makassar. Sebuah kampus swasta yang luas dan besar, juga memiliki sebuah sisi yang sangat RASIS. Kau tau kesan yang pertama saat aku baru saja masuk dikampus yang sebenarnya objek “ketersasatan” ku itu ?. Keras, tak ramah, dan pembenci. Bagaimana tidak, hari pertama sebagai mahasiswa baru ditahun 2011, kami langsung dihadapkan dengan kekerasan, kericuhan dan pengerusakan. Sekelompok mahasiswa merusaki dan melempari beberapa ruangan dilantai satu gedung tempat kami mulai mencoba mengenal dunia baru ini. saya tak habis fikir hingga di penghujung masa kuliah ditahun 2015 ini, mengapa hal yang demikian yang harus pertama kali mencuri sebagian besar perhatian kami. Bahkan yang lebih mengherankan, mereka yang merusak itu adalah orang-orang yang berasal dari daerah yang sama dengan ku. Apakah mereka secara bersam-sama telah dan sedang membanggakan apa yang mereka miliki, seperti yang kulakukan sendiri pada paragraf pertama. Lalu mereka dengan kekuatan yang katanya “persaudaraan” rela meluangkan waktu untuk menghancurkan orang yang entah bagaimana prosesnya mereka saling menganggap bermusuhan. Yang lucu adalah, bahkan saat pengerusakan itu masih berlangsung, para senior menganggap itu adalah hal yang biasa dikampus ini, itu lumrah dan kamu akan terbiasa dengan situasi seperti ini.

Dan benar, itu tepat. Seiring berjalannya waktu, kekerasan dan permusuhan yang kuberi nama “entosentrisme” itu semakin menjadi, bahkan pelemparan diawal saya sebagai mahasiswa itu adalah yang paling biasa. Pemukulan, pengeroyokan, bahkan beberapa kali pembunuhan terjadi dalam rentan yang tak terlalu lama. Beginilah cara lingkungan dikampusku memperkenalkan dirinya. Terlalu banyak warna disana, organisasi menjamur, mulai dari keilmuan , teknis dan daerah. Dan organisasi daerah lah yang paling sering membuat resah di kampus ini, dan yang lebih parahnya, organisasi dari kampungku lah yang terkesan rajin melakukannya, mereka memiliki katanya musuh bebuyutan yang juga dari organisasi daerah lain. Lalu kampus menjadi semacam daerah teksas bagiku, banyak kelompok perusak disana yang sangat membanggakan diri dan permusuhan.
Saya benar-benar heran saat melihat seorang MAHASISWA mengajak seniorku untuk berkelahi hanya karena orang itu menganggap seniorku menghalangi jalannya. Ia begitu marah dan berkoar, lalu mengajak temannya menghakimi orang yang tak ia senangi secara pribadi itu, ini benar-benar tak masuk akal saat seseorang terlalu gampang marah bahkan kepada hal yang sebenarnya tidak terjadi tapi ia seperti menciptakan sendiri hal yang bisa membuatnya marah. Yah sebab itu terjadi tepat beberapa sentimeter dihadapanku, saya sangat heran bahkan hingga saat ini.

Lalu saya terbiasa, benar-benar terbiasa dengan hal semacam ini, dimana sekelompok mahasiswa yang mengatas namakan dirinya organisasi, ternyata memiliki musuh dan sangat sering berkelahi secara fisik, tak pernah secara “mahasiswa” yang beberapa diantara mereka meyakini bahwa mereka adalah Maha= sangat tinggi dan Siswa= pelajar. Sebuah etimologi yang sangat sering dipermasalahkan pada kajian-kajian, namun cerminannya lebih sering tak nampak bahkan kontradikitif. “mahasiswa mati karena ditikam” , adalah berita yang sangat akrab jika ia kembali muncul pada media massa, lalu akan menjadi pembicaraan beberapa waktu, dan digantikan oleh kasus pembunuhan mahasiswa yang lain lagi. Sayang sekali nyawa yang ia harus akhiri hanya karena kebencian yang mungkin mereka tak tau mengapa seoarang anak merantau ke daerah orang lain, lalu tiba-tiba rela membunuh dan atau dibunuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar