Cara Kampusku Berkenalan Dengan ku
Selamat sore, jika saat
membaca ini kau sedang bersama perginya mentari dari langitmu. Aku baru saja
makan, entah apakah ini breakfast, lunch atau dinner, tapi rasa-rasanya ini
adalah ketiganya. Menjadi anak laki-laki seperti saya, mengatur kesehatan menjadi
tabu, kurang tidur, terkadang kelaamaan dan sangat sedikit, sama halnya dengan
makan, hanya sesekali berolahraga, kebanyakan merokok dan nongkrong. Untungnya
ini ketidak beraturan ini adalah hal yang kusadari, sehingga say bisa
mengendalikan untuk melakukannya dan tidak melakukan hal yang lain, yang
mungkin lebih parah. Saya bangga dengan bagian diriku yang sangat senang
mengetahui dan mendiskusikan hal-hal bermanfaat yang kusenangi, budaya dan
film. Saya pula senang dari bagian lain dari diriku yang selalu ceria, selalu
merasa senang dimana dan dengan kebanyakan siapapun. Selalu ada kebahagiaan
yang dimiliki oleh bukan hanya manusai tapi benda, yang selalu kulumati untuk
meraih tawa bahagia. Saya senang karena ibu dan ayak ku memiliki anak seperti saya
dan ternyata wajahnya kebetulan oleh “sosial” dianggap tidak terlalu jelek,
wajah dan penampilan secara alamiah memberikan keprecayaan diri kepadaku dalam
kebanyakan kesempatan bergaul. Saya mencintai cara berfikirku yang tidak
terlalu mempermasalhkan perbedaan bahkan menyenangi perbedaan itu, mendapatkan
hal baru dari hal yang berbeda memang sangat membahagiakan. Meskipun keluargaku
berada dalam kategori kelas ekonomi menengah, tapi saya sangat senang dengan
sifat ibu ku yang sangat pandai memberikan apa yang kubutuhkan daripada yang
kuinginkan.
Berlebihankah paragraf
diatas ? mungkin aku telah membagakan diri tanpa memunculkan kelemahan ku,
kekurangan dan kebobrokanku. Tapi untungnya membanggakan diri bagi saya tak
perlu selalu diucapkan secara ferbal, apalagi menghancurkan hal lain yang
sama-sama indah dengan apa yang kita miliki. Mari bercerita tentang apa yang
kufikirkan....
Saya berkuliah di
Universitas Muslim Indonesia Makassar. Sebuah kampus swasta yang luas dan
besar, juga memiliki sebuah sisi yang sangat RASIS. Kau tau kesan yang pertama
saat aku baru saja masuk dikampus yang sebenarnya objek “ketersasatan” ku itu
?. Keras, tak ramah, dan pembenci. Bagaimana tidak, hari pertama sebagai
mahasiswa baru ditahun 2011, kami langsung dihadapkan dengan kekerasan, kericuhan dan
pengerusakan. Sekelompok mahasiswa merusaki dan melempari beberapa ruangan
dilantai satu gedung tempat kami mulai mencoba mengenal dunia baru ini. saya
tak habis fikir hingga di penghujung masa kuliah ditahun 2015 ini, mengapa hal yang demikian
yang harus pertama kali mencuri sebagian besar perhatian kami. Bahkan yang
lebih mengherankan, mereka yang merusak itu adalah orang-orang yang berasal
dari daerah yang sama dengan ku. Apakah mereka secara bersam-sama telah dan
sedang membanggakan apa yang mereka miliki, seperti yang kulakukan sendiri pada
paragraf pertama. Lalu mereka dengan kekuatan yang katanya “persaudaraan” rela
meluangkan waktu untuk menghancurkan orang yang entah bagaimana prosesnya
mereka saling menganggap bermusuhan. Yang lucu adalah, bahkan saat pengerusakan
itu masih berlangsung, para senior menganggap itu adalah hal yang biasa
dikampus ini, itu lumrah dan kamu akan terbiasa dengan situasi seperti ini.
Dan benar, itu tepat.
Seiring berjalannya waktu, kekerasan dan permusuhan yang kuberi nama
“entosentrisme” itu semakin menjadi, bahkan pelemparan diawal saya sebagai
mahasiswa itu adalah yang paling biasa. Pemukulan, pengeroyokan, bahkan
beberapa kali pembunuhan terjadi dalam rentan yang tak terlalu lama. Beginilah
cara lingkungan dikampusku memperkenalkan dirinya. Terlalu banyak warna disana,
organisasi menjamur, mulai dari keilmuan , teknis dan daerah. Dan organisasi
daerah lah yang paling sering membuat resah di kampus ini, dan yang lebih
parahnya, organisasi dari kampungku lah yang terkesan rajin melakukannya,
mereka memiliki katanya musuh bebuyutan yang juga dari organisasi daerah lain.
Lalu kampus menjadi semacam daerah teksas bagiku, banyak kelompok perusak
disana yang sangat membanggakan diri dan permusuhan.
Saya benar-benar heran
saat melihat seorang MAHASISWA mengajak seniorku untuk berkelahi hanya karena
orang itu menganggap seniorku menghalangi jalannya. Ia begitu marah dan
berkoar, lalu mengajak temannya menghakimi orang yang tak ia senangi secara
pribadi itu, ini benar-benar tak masuk akal saat seseorang terlalu gampang
marah bahkan kepada hal yang sebenarnya tidak terjadi tapi ia seperti
menciptakan sendiri hal yang bisa membuatnya marah. Yah sebab itu terjadi tepat
beberapa sentimeter dihadapanku, saya sangat heran bahkan hingga saat ini.
Lalu saya terbiasa,
benar-benar terbiasa dengan hal semacam ini, dimana sekelompok mahasiswa yang
mengatas namakan dirinya organisasi, ternyata memiliki musuh dan sangat sering
berkelahi secara fisik, tak pernah secara “mahasiswa” yang beberapa diantara
mereka meyakini bahwa mereka adalah Maha= sangat tinggi dan Siswa= pelajar.
Sebuah etimologi yang sangat sering dipermasalahkan pada kajian-kajian, namun
cerminannya lebih sering tak nampak bahkan kontradikitif. “mahasiswa mati
karena ditikam” , adalah berita yang sangat akrab jika ia kembali muncul pada
media massa, lalu akan menjadi pembicaraan beberapa waktu, dan digantikan oleh
kasus pembunuhan mahasiswa yang lain lagi. Sayang sekali nyawa yang ia harus akhiri
hanya karena kebencian yang mungkin mereka tak tau mengapa seoarang anak
merantau ke daerah orang lain, lalu tiba-tiba rela membunuh dan atau dibunuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar