Kamis, 02 April 2015

Tumbuh dalam Film Mulai Dari Secercah Cerita ini

Tumbuh dalam Film Mulai Dari Secercah Cerita ini
Sabtu 26 juli 2014

Masih dihari yang sama, saya hanya ingin beribacara lebih banyak lagi, atau mungkin lebih sedikit. Apa yang kutulis saat ini sebenarnya aku sedang berkomunikasi dengan aku yang ada dimasa depan. Aku sedang memberi tau tentang aku saat ini, yang mungkin akan terlupa dengan aku yang ada dimasa depan. Tentang yang kufikir, kurasa. Mungkin aku akan tertawa takjub dan sedih ketika membacanya kembali. Membaca kembali diri kita dimasa lalu adalah hal yang sangat menyenangkan. Terkadang ada sebuah kalimat yang kembali kita tanyakan “ia tawwa fikirannya kok bisa sampe disitu ?”. ternyat saya dulu terlalu melankolik, alay dan lebay ketika berhadapan dengan cewe.. waduhh malue, tapi itu adalah sejarah saya, nd mungkinlah mau dihapus. Inilah enaknya menulis, akan terlalu banyak sisi dari diri kita yang akan kita tertawai sendiri, kasihani dan mungkin cemooh. tentu saja saya sedang tidak hanya berencana berbicara dengan arif yang ada dimasa depan, tapi juga kamu,,, ya kamu ,,, (ketawa hahahah). Seriuska, kalau kamu membaca tulisan ini dari awal hingga lembar ini, dan kau cewe, bukan muhrim ku, bukan keluargaku, berarti kau benar2 ingin tau siapa saya. Dan mungkin sayang sama saya, Hahahah “basiii”.

Sebenarnya terlalu banyak hal yang ingin ku ikat agar aku tak terlalu sulit jika ingin mengingat detail2nya. Tapi untuk mendapatkan waktu tengah malam seperti sekarang ini, berhadapan dengan laptop yang siap menampung semua ceritaku sepanjang hari yang jika kuceritakan ke orang atau manusia, mungkin ia akan menjadikan hal ini sebagai bahan ejekan atau lelucon saja. Pengalaman mengikuti kelas Makassar in Cinema, belajar mengenai film, lolos hinggggggg.. ok saya akan menceritakan Makassar in cinema, tidak sependek rencanaku diawal.

Garis baru.  Makassar In Cinema adalah sebuah kelas belajar yang sangat spektakuler (subjektifitasku/objektifnya akan ko ingat ji terus itu). Sejak awal ternyata rentetan kesempatan langka itu telah bergantian menyapaku, mengajakku, dan membawaku. Sejak awal, info ini hanya angin lalu, tak ada niat yang istimewa untuk ini. Yah saya hanya mengikuti arus karena banyak ternyata ingin mempartisipasikan dirinya. Diluar dugaan, saya ternyata termasuk di dalam 10 orang yang terpilih menjadi kelas utama, menyingkirkan 9 orang lainnya. Sampai disini kesyukran itu sudah ada, keberuntungan itu sudah sangat bikin terharu bagi orang yang  jarang berkompetisi seperti saya. Tapi Allah tidak memberhentikan sampai pada tahap penerimaan. Setelah kelas dimulai, sangat banyak pengetahuan baru, teknik maupun ide yang kami dapatkan. Lanjut,  dari 9 orang (1 eliminasi), setiap kami diberikan hak untuk membuat cerita sendiri. tapi dengan tema keutamaan atau keindahan Makassar. Entah apa, mungkin karena masih Mahasiswa, saya terlalu sering mengkritik, apalagi pemerintah. Kubuatlah cerita tentang anak-anak yang tak bisa bersekolah, yang menggunakan waktunya lebih banyak dijalan raya ketika anak sebayanya sedang duduk dibangku sekolah, saat terik mereka masih tak berhenti melawan panas, ketika anak sebayanya dijemput oleh orang tua mereka, mungkin bermobil, tertawa bebas, lalu sampai dirumah dengan hidangan makan siang, tidur siang, lalu sorenya bermain, sementara anak yang tadi masih saja ditempatnya sedari pagi. Terlau banyak yang ingin ku ceritakan dalam alokasi waktu hanya maksimal 15 menit, terlebih lagi biaya produksi yang indie. Hal-hal yang menurutku kontradiksi, tidak selaras, hal yang sangat jelas salah tapi didiamkan. Ahahah terlalu banyak, ternyata menulis skenario film sama sekali tidak sama dengan kebiasaan ku menulis cerpen, skenario itu realistis, spesifkasinya realistis dari segi dana dan pengadegangan dan itu indie, biayanya harus seminimal mungkin. Tapi dari perdebatan, diskusi dan undingan yang sangat cukup panjang dan menguras tenaga, ahirnya ceritaku terpilih diantara 5 cerita yang dipilih oleh mentor. Tapi ternyata, 5 cerita tidak memungkinkan untuk diproduksi oleh kuantitas kami yang hanya 19 orang jika digabung dengan kelompok 2. Akhirnya diputuskan untuk memproduksi 3 cerita saja dengan persyaratan harus mempersempit cerita, dan sesuai dengan tema MIC, merekam keindahan kota Makassar. Tiba-tiba saja hati saya terlau cepat berdetaknya, pertama, saya sangat ingin mendapatkan kesempatan menjadi sutradara dari ide ceritaku, kedua saya sedang tidak menceritakan keindahan tapi kekurangan. Tiga, kita sudah diberikan kisi-kisi pembuatan cerita yaitu tentang mitos atau identitas Makassar, tapi saya tidak tau hingga kedasar-dasar itu, sampai kepada mitos dan pamali, saya hanya mengetahui hal yang formal saja dari Makassar. Pengumuman dimulai tiga mentor, k.arman, k.adin dan k.sinta  mulai menyebutkan cerita pertama. Itu ceritanya Barka, tentang larangan bersiul dimalam hari, mitos itu baru saja saya ketahui ditempat itu, memang saya merasa tak pernah diajar tentang pamali, sehingga untuk mengetahui hal-hal semacam itu sangat sulit bagi saya. Sebenarnya saya ingin juga mengangkat cerita semacam itu tapi mungkin saya akan sulit untuk mempertanggung jawabkannya jika saya tidak pernah mengalaminya (ide cerita yang baik adalah apa yang pernah kau alami, karena kau tau bagaimana persisnya). Hati semakin rajin beregerak cepat, “ eh hati atau jantung ?, entahlah yang jelas dibagian dada “, judul kedua akan diucapkan dan saya berharap itu adalah 15 ribu, judul ceritaku. Ternyata “4 alpabet depan namaku” itu ide cerita Ayu, Mahasiswa unhas fak HI smester ahkhir. Lagi-lagi ini adalah cerita lokal, yang menjenakakan kisah seoarang wanita yang merasa tersiksa dengan nama Andi didepan namanya. Yah mungkin memang MIC hanya akan memberikan kesempatan kepada cerita yang lokal, sesuai tema kegiatan dan sesuai pula dengan arahan mereka. Saya mulai pasrah dan merelakan kesempatan bagi siapa saja yang akan mendapatkannya. Tapi masih ada sedikit adrenalin yang kencang kurasa.  Entah apakah ketiga mentor itu tau kalau saya sangat menginginkan kesempatan yang sedang mereka bicarakan, sehingga untuk meceritakannya kembalipun seakan-akan ini didramatisasi. Cerita ketiga disebutkan, k.sinta langsung menyebutkan judul ceritanya. “15 ribu” wah, meleleh sudah detakan galeter didadaku tadi, tegang mencair. Saya sangat senang mendapatkan kesempatan sebagai penulis sekaligus sutradara dari apa yang berawal dari pemikiran sendiri. tapi jagan salah, anugrah dan tantangan itu tak terhenti disini. Masih ada yang lebih parah, klimaksnya masih jauh. Tapi berhubung sekarang sudah jam 1 lewat 5 dinihari, dan saya sedang tidak di kos atau makassar, makanya saya harus tidur untuk beradaptasi dan menghargai keluarga lain yang sudah tidur sejak jam 9 tadi. Besok saya akan melanjutkan tulisan ini. Dada kau yang membaca tulisanku.
_-_-_-

Minggu 27 juli 2014, suara takbir silih berganti dengan suara yang berbeda, setiap muslim mungkin akan tau jika mendengar suara takbir jenis ini, “ini adalah simbol dari lebaran, baik lebaran idul fitri maupun idul adha. Entah mungkin aku sudah terlalu angkuh atau apalah, menganggap ini formalitas atau semacam budaya belaka. Padahal sudah jelas-jelas suara itu berarti “Allah Maha Besar” tapi itu terdengar samar, sepasang hedaset menutupi telingaku, dialiri lagu2 lagu kesukaan, terkadang aku terhanyut didalamnya, menggoyangkan kepala dan serasa ingin teriak mengikuti lagu, tapi tentu saja teriakan itu tak akan lulakukan disini layaknya saat saya benar-benar menikmati lagu “somebody that i used to know” miliknya gotye.
Oh iya, sebelum lupa. Saya akan mengukir lagi buah fikir saya yang masih tersisa mengenai makassar ini cinema, sebuah sejarah, sebuah awal, dan sebuah penemuan. Setelah cerita kami terpilih, begini, karena ini adalah catatan ku maka saya akan menceritakan subjektifitas saya saja, apa yang saya alami untuk menceritakan apa yang saya lihat pada diri saya. Itu artinya biarlah Barca dan Ayu menulis sendiri apa yang ia rasakan, kalaupun mereka tidak ingin menulisnya, itu berarti saya masih tetap tidak musti menceritakan mereka. Takut suudzon atau gosip, yah gosip dengan laptop. Hahahaha. Setelah cerita ku terpilih, maka setiap kami harus mempersempit lagi cerita ini, begitu banyak tips, masukan dari kepala yang berbeda, dan semua harus tertampung dimulut corong otakku, yang kemudian harus kupilih, harus kupertimbangkan. Sungguh aktifitas menguras otak yang sangat menyenangkan. Seingat ku film yang akhirnya berjudul “Takut Denda” ini berganti-ganti judul dari “15 ribu”, “hanya ingin tau (tugas negara)”, “Rak-rak Imaji, dan akhrinya sampai pada judul Takut Denda. Kembali ke alur, sebagai pemilik ide awal atau dasar cerita, beban ini terus mengekori, memborgol fikiranku, mengurung konsentrasiku, saya harus benar-benar bertanggung jawab untuk dapat menghasilkan sebuah cerita. Kemudian hari berganti dimana ada aku yang terus menghayal, memilah-milah masukan teman2 yang bisa saya tambalkan kedalam ceritaku yang bisa menyampaikan ide dalam otakku. Begitu pula dengan ilmu pengetahuan yang benar-benar baru, terlalu banyak pengalaman dalam menulis saja, konsultasi dengan mentor, hingga ahirnya cerita itu sampai pada draf 5, yang berarti cerita yang awalnya kuusung mengalami perombakan sampai 5 kali, hanya alur yang berubah, untuk menyesuaikan dengan kemampuan produksi, tapi ide atau gagasan yang ingin disampaikan semua bebas saya otak atik model penyampaian pesannya.

Yah seperti biasanya, sebuah hasil yang baik pasti telah melalui likaliku, tanjakan, dan tangga yang seakan tak berujung. Begitu pula bagi saya. Saya bekerja selaku sutradara dan pembuat cerita, dimana saya harus mampu bekerja sama dengan 5 orang teman timku, saya harus mampu membuat mereka yakin bahwa saya tidak memerintahkan mereka ketika saya meminta sesuatu yang musti ada didalam cerita. Sebab mereka juga adalah siswa worksop seperti saya, mereka tidak digaji untuk bisa mengikuti mau ku, tak ada yang membayar mereka. Alhamdulillah 90% mereka ternyata kooperatif dengan apa yang ada dalam cerita, mereka mau bekerja sama, karena memang tugas mereka adalah untuk itu. Namun sekali lagi, bukan hidup kalau tak ada ujiannya, ternyata yang selalu kontra dan berlawanan dengan ide-ide ku adalah produserku sendri, Ima. Seharusnya produser dan sutradara adalah pasangan tugas yang harus mampu berkolaborasi karena mereka berdualah yang menjadi kepala dari sebuah produksi. Berbagai macam ketidak cocokan terpampang jelas, bisa dibaca oleh orang lain. Sebenarnya saya tidak ada masalah dengan bertolak belakangnya cara berfikirku, proses produksi semakin dekat, kami bekerja secara tim untuk mencari lokasi, pemain, dan perlengkapan lain syuting. Yah ternyata ima sudah tidak mampu menahan ketidaksukaannya terhadap saya, menurutku dia itu cemburu, dia tidak senang dengan terpilihnya cerita saya, karena dialah yang ingin dipilih ceritanya sekaligus menjadi sutradara, mungkin harapannya juga terlalu tinggi, sehingga kekecewaannya juga sangat tampak dan berapi-api membakar disekelilingnya, karena dia harus menuruti keinginanku, itu wajar, karena saya yang paling tau ceritaku, mereka boleh dan wajar memeberi saran, tapi wajar pula jika saya menolak. Kesimpulan bahwa ia cembutu bukanlah suudzonyang tiba-tiba muncul, saya tidak pernah berfikir tentang hal seperti ini sejak awal saya berkelompok dengan dia, saya baru berani ketika saya memasang2kan hasil cerita ku dengan dia, dan inilah kesimpulannya, dia cemburu, dan tak sebatas dalam hatinya, ia berkoar mengeluarkannya. Menceritakan saya ke mentor dan teman2 lain, tentunya keburukanku. Sejak awal time dan nana mengkonfirmasi kepada diri saya yang dibalut dalam kata-katanya ima kemudian ia lontarkan ke mereka. Saya sontak heran, kaget. Oh ternyata ada yang menaruh perhatian lebih, mengkritik, dan menjelekkan kenormalan sikapku dibelakang.

Seperti biasa pula, menurutku ini adalah kewajaran hidup, tak semua orang akan senang dengan kita, saya tentunya seperti biasa, akan bersikap normal, tidak mungkin saya bersandiwara menjadi baik untuk mengemis penilaian baik seseorang, saya sudah melakukan ini pada beberapa situasi, bersikap normal, dimana orang-oramg disekitar ku menuntut saya menjadi orang yang baik sesuai standar yang ada dalam fikiran mereka. Yah saya bersikap normal. Tak kubalas rasa bencinya itu, untuk apa coba, saya tidak akan mendapat hadiah uang jika mampu membalas benci dengan benci yang lebih besar. Dia terus bercerita debelakangnku. Arif itu nda becus, tdk ontime, tidak memperhatikan pekerjaan, kurang fokus, main-main terus. Hahaha yah itulah saya, yang diceritakan, itulah saya yang ada didalam otak entah orang dari mana berasal itu, yang tiba-tiba muncul dan memasifkan keburukanku, mungkin ia berharap mendapat dukungan dari orang yang telah ia perdengarkan, mendukung untuk menjatuhkan saya. Yah arif yang busuk itu ada disampingku, ia berlalu lalang dalam fikiran beberapa orang yang selalu kutemani bercanda.

Lucu, entah sikap apa yang memang telah dijadikan sebagai standar perlakuan baik jika seseorang memperlakukan kita seakan-akan kita pernah membunuh orang tuanya. Tapi bagi saya, orang yang terlalu sering bercerita tentang orang lain tanpa dia tau dirinya siapa, adalah tindakan yang amat sangat lucu. Luculah, bagaiaman bisa dia menjadikan standar baik dan buruk tentang perlakuan seseorang berdasarkan apa yang ada didalam kepalanya. Bagaiman bisa seseorang sangat ingin agar orang lain berkelakuan seperti apa yang ia inginkan. Hahahah. Maka ceritalah saya sepuas anda yang ingin menceritakan saya, karena itu adalah bahan lelucon yang amat sangat menghibur. Saya tau siapa yang layak mengkritik, dan menghina saya, yah, siapa saja yang mampu mengkritik saya dengan cara yang sopan dan telah melakukan apa yang ia sarankan. Selain itu alam bawah sadarku akan dengan sendirinya  menerima apapun yang bahkan yang hanya sekilas terlintas sebagai hal yang baik. Tak perlu terlalu meniru cacing yang kepanasan, karena saya pun tidak tertarik menaruh perhatian yang tinggi terhadap semua orang, beberapa orang atau bahkan satu orang untuk mencari kekurangannya, memakan kekurangan itu, lalu membagikannya ke orang lain. Mungkin produser itu tak tau bawha setiap manusia dicipatakan dengan keunikan masing-masing,  diciptakan sama caranya seperti ia diciptakan, jadi ia tak perlu memaksa orang lain mengikuti buah fikirannya, yang jelas-jelas fikiran itu digodok sejak kecil dengan cara yang berbeda hingga ahirnya saya dan dia ketemu di kelas belajar MIC.
Ahirnya suatu hari, akumulasi bencinya menggunung. Kronologisnya begini, kami telah menemukan lokasi syuting yang pas, diantang , Nipa-nipa. Saya dan dia janjian jam 2 untuk ketemu di lorong masuk antang karena dia hanya menggunakan angkot dan dia akan menjadikan dirinya beban supaya saya mau rela mengantarnya. Bukan Arif kalau tepat waktu, saya lambat mungkin 15 menit ketika saya sampai ditempat janjian dan saya belum solat duhur. Tapi ternyata dia juga belum ada dilokasi, seharusnya dialah yang tepat waktu karena dia yang membutuhkan saya, kira-kira kira itulah hukum yang berlaku secra universal, dimana yang membutuhkan seharusnya lebih ngotot, tapi saat tidak membutuhkan lagi, bolehlah pergi, hahahahah. Saya telpon dia, katanya ban pete-pete nya kempes, dan dia masih ada di pintu 1, itu artinya dia akan masih sangat lama, sementara dia tidak tepat waktu, saya belum solat dan menunggu ditempat yang panas, tentu saja saya tidak akan menunggu lebih lama layaknya saya menunggu pacar saya. Saya langsung pergi mencari masjid untuk solat duhur sekalian untuk beristirahat menunggu. Yah ... ternyata dia marah, katanya sih marah besar, dia tidak mau berkelakuan normal, bahwa dia sangat membutuhkan tumpangan, kita sudah janji dan dia tidak tepat waktu, dia malah bertingkah layaknya dialah yang paling sibuk, yang bekerja sendiri, yang memikirkan kami semua, yang siang malam mengerjakan film ini. Jadi ekspresi marah itu ia benarkan, ia berhak marah. Hahah ini semaakin lucu saja, dia semakin hobby menceritakan kejelekanku, sekan-akan ia memuntahkan semua kebencian terhadapku yang entah dari mana asalnya. Dia bahkan bbm an sama nana yang ada bersama saya, nana lalu menunjukkan bbm itu ke saya, Astagfirullah. Kenapa ada orang yang baru beberapa minggu lalu saya kenal, tapi sudah sangat membenci ku, bahkan dia menggunakan nama orang lain untuk melegitimasikan sikap nya itu. Saya hanya tertawa, semacam ada perasaan senang, tapi sesekali terpancing. Untung Una dan Nana selalu menahan dan membei pengertian. Mungkin itu bisa jadi berandil tapi juga tidak.

Malam itu kami ada pertemuan kelompok, ada K.ammank yang bertindak sebagai pembimbing, tapi saat ini lebih nyaman dijadikan teman. Suasananya memang sangat tidak nyaman, cuma ode yang tidak hadir, kami dipersilahkan bercerita tentang masalah yang kami hadapi. Ia, si produser kemudian mengambil kesempatan pertama, menurutku kejadian disiang tadi sudah menjadi sebatas lelucon saja, ternyata tidak bagi dia, dia menceritakan semua, hal yang sama sekali tak kusangka, dia langsung menghujam ku, menembakiku dengan wajah menyebalkannya, dengan kata-kata yang tidak terkontrol, ia mengulitiku dengan subjektifitas pendeknya, saya sangat heran mengapa Arif menjadi seburuk yang ia fikir, Arif itu kemudian menari telanjang dimeja pertemuan, menanggalkan pakaiannya dan berkelakuan seakan tak ada orang, sangat memalukan Arif yang ada diotak anak itu. Sementara saya terus tertawa, saya pura-pura tidak mendengar kata-kata kotor yang ia alamatkan tepat ke saya, “sudala.... setang...” ya saya mendengarnya jelas, tapi samar darimana sumbernya, apakah itu mulut wanita ?, ataukah orang gila ?, mulut orang terdidik ?, yang jelas itu adalah pertama kalinya ucapan kotor mencumbuiku didepan umum, didepan team, didepan ammank yang saat itu masih saya segani. Saya terus mendengarnya berharap ia akan segera mengehentikan sampah-sampah yang tumpah dari mulutnya yang mulai berbusa. Tapi ternyata dia semakin menjadi, mungkin Arif di otaknya bukan lagi anak yang tidak beratnggung jawab, tidak becus, dan tidak serius, tapi juga Arif ternyata dungu, bodoh, tak berdaya dan autis yang mau menerima semua kemarahan tanpa perlawanan, mau mendengar semua tuduhan dengan senyuman. Jajajajhahahahah, makanya ia semakin menjadi, sangat jelas ada semacam darah yang sangat panas mengalir dari bawah menuju kepalaku, saya mulai terpancing. Tapi untungnya saya masih menganggap ini lelucon. Saya berusaha menghindari ini, saya turun ke lantai dua dan lalu menyapu-nyapu, tapi saya meminta izin untuk pulang, padahal bote ja, saya Cuma mau membuat ia terus bicara tanpa harus saya dengar, sama sekali tak ada manfaat, mungkin saya akan berdosa bila mendengr kata-kata yang sangat tidak bermanfaat itu.

Setelah merasa cukup, dan saya telah mendapat telfon darai ammank untuk segera kembali ke forum dan menyelesaikan masalah. Ya .. sembari menahan tawa, saya kembali kelantai 3, astagggaaaa,, ternyata dia masih bicara, bahkan mulai menangis sambil bicara kotor. Melihat itu, terus apakah saya akan merelakan diri menjadi kambing hitam ? what the*tiiiiitttt...* saya mulai membalas kata-katanya, tentunya yang berwibawah lah, sedikit ilmiah dan teori. Saya heran dengan rasa benci yang menjadi-jadi dalam dirinya, sumpah saya sangat heran, entah apa yang telah ia lalui hingga mampu tiba pada titik semacam itu, aneh. Saya terpancing, seperti biasa, perkataan akan sedikit keras tapi berbobot jika dipelumasi oleh sedikit rasa marah , sedikit pembenaran.
Malam itu, kemudian menjadi malam yang menjadi buah bibir diantara kami, menjadi perbincangan bagi mereka, dan bagi saya ini benar-benar sangat menganggu, semenjak awal kujalani, menggati ide cerita, memutar balikkan imajinasi, menghayal-hayal hingga sampai draft 5, semua itu bukanlah maslah, itu sangat menyenangkan. Hingga ahirnya klimaksnya ternyata malam itu, itulah ujiannya, saya harus berhadapan dengan orang semacam itu, berhadapan dengan manusia semacam itu yang menjadi produser ku. Seandainya forum malam itu berjalan normal, dan setiap kami bisa dengan leluasa menyampaikan isi hati seleluasa si produser, maka saya akan mengatakan “masalah saya dari awal dan mungkin sampai akhir Cuma 1, harus berurusan dengan si produser itu”. Dan jika itu didengarkan entah apalah jadinya, untung saja itu hanya niat, niat yang masih ada sampai saat ini.

Masalah lain selanjuttnya cuma jadi rentetan yang mengikuti klimaks dimalam itu, saya mulai membalas rasa bencinya, saya sangat tak nayaman jika harus bicara atau bahkan hanya sekedar melihat mukanya jika berbicara, itu bertahan sampai saat ini. Entah itu dendam atau apa, yang jelas saya sangat merasa tidak nyaman. Terlalu banyak perdebatan selanjutnya, perdebatan yang timbul karena ia terus merasa dia lah yang paling memikirkan film ini, yang paling all out. Apa ? secara indie, dia tidak benar2 melakukan tugasnya sebagai produser film, yang membiayai semua produksi, sama sekali tidak, dia hanya berlatih, dan latihan itu biasa saja saya lakukan jika harus merangkap sebagai sutradara sekaligus produser, sebenarnya dialah yang dangat tidak terlalu penting dalam tim ini jika dibandingkan dengan Una kameramen, Ode soundrecordis, Nana costum dan Adil set, bahkan Usman yang bertugas membantu kami itu lebih penting jika dibandingkan apa yang dilakukan produser itu. Dia hanya mepersulit dan membuat buah fikiran yang sangat memusingkan yang seharusnya tidak perlu ada. Yahh, dia sangat kreatif membuat orang pusing.

Kemudian, selanjutnya adalah masa2 pemutaran film yang sangat membanggakan bagi saya, terharu, sesekali airmata hampir jatuh, tapi saya akan menceritakan besok malam. Insyallah. Berhubung besok pagi2 lebaran dan sekarang sudah jam stngah 12, saya akan mencari2 makan ulu didapur baru tidur,, asslamualaikum


Tidak ada komentar:

Posting Komentar