Tumbuh dalam Film Mulai Dari Secercah Cerita ini
Sabtu 26 juli 2014
Masih dihari yang sama, saya hanya ingin beribacara lebih
banyak lagi, atau mungkin lebih sedikit. Apa yang kutulis saat ini sebenarnya
aku sedang berkomunikasi dengan aku yang ada dimasa depan. Aku sedang memberi
tau tentang aku saat ini, yang mungkin akan terlupa dengan aku yang ada dimasa
depan. Tentang yang kufikir, kurasa. Mungkin aku akan tertawa takjub dan sedih
ketika membacanya kembali. Membaca kembali diri kita dimasa lalu adalah hal
yang sangat menyenangkan. Terkadang ada sebuah kalimat yang kembali kita
tanyakan “ia tawwa fikirannya kok bisa sampe disitu ?”. ternyat saya dulu
terlalu melankolik, alay dan lebay ketika berhadapan dengan cewe.. waduhh
malue, tapi itu adalah sejarah saya, nd mungkinlah mau dihapus. Inilah enaknya
menulis, akan terlalu banyak sisi dari diri kita yang akan kita tertawai
sendiri, kasihani dan mungkin cemooh. tentu saja saya sedang tidak hanya
berencana berbicara dengan arif yang ada dimasa depan, tapi juga kamu,,, ya
kamu ,,, (ketawa hahahah). Seriuska, kalau kamu membaca tulisan ini dari awal
hingga lembar ini, dan kau cewe, bukan muhrim ku, bukan keluargaku, berarti kau
benar2 ingin tau siapa saya. Dan mungkin sayang sama saya, Hahahah “basiii”.
Sebenarnya terlalu banyak hal yang ingin ku ikat agar aku
tak terlalu sulit jika ingin mengingat detail2nya. Tapi untuk mendapatkan waktu
tengah malam seperti sekarang ini, berhadapan dengan laptop yang siap menampung
semua ceritaku sepanjang hari yang jika kuceritakan ke orang atau manusia,
mungkin ia akan menjadikan hal ini sebagai bahan ejekan atau lelucon saja.
Pengalaman mengikuti kelas Makassar in Cinema, belajar mengenai film, lolos
hinggggggg.. ok saya akan menceritakan Makassar in cinema, tidak sependek
rencanaku diawal.
Garis baru.
Makassar In Cinema adalah sebuah kelas belajar yang sangat spektakuler
(subjektifitasku/objektifnya akan ko ingat ji terus itu). Sejak awal ternyata
rentetan kesempatan langka itu telah bergantian menyapaku, mengajakku, dan
membawaku. Sejak awal, info ini hanya angin lalu, tak ada niat yang istimewa
untuk ini. Yah saya hanya mengikuti arus karena banyak ternyata ingin
mempartisipasikan dirinya. Diluar dugaan, saya ternyata termasuk di dalam 10
orang yang terpilih menjadi kelas utama, menyingkirkan 9 orang lainnya. Sampai
disini kesyukran itu sudah ada, keberuntungan itu sudah sangat bikin terharu
bagi orang yang jarang berkompetisi
seperti saya. Tapi Allah tidak memberhentikan sampai pada tahap penerimaan.
Setelah kelas dimulai, sangat banyak pengetahuan baru, teknik maupun ide yang
kami dapatkan. Lanjut, dari 9 orang (1
eliminasi), setiap kami diberikan hak untuk membuat cerita sendiri. tapi dengan
tema keutamaan atau keindahan Makassar. Entah apa, mungkin karena masih
Mahasiswa, saya terlalu sering mengkritik, apalagi pemerintah. Kubuatlah cerita
tentang anak-anak yang tak bisa bersekolah, yang menggunakan waktunya lebih
banyak dijalan raya ketika anak sebayanya sedang duduk dibangku sekolah, saat
terik mereka masih tak berhenti melawan panas, ketika anak sebayanya dijemput
oleh orang tua mereka, mungkin bermobil, tertawa bebas, lalu sampai dirumah
dengan hidangan makan siang, tidur siang, lalu sorenya bermain, sementara anak
yang tadi masih saja ditempatnya sedari pagi. Terlau banyak yang ingin ku
ceritakan dalam alokasi waktu hanya maksimal 15 menit, terlebih lagi biaya
produksi yang indie. Hal-hal yang menurutku kontradiksi, tidak selaras, hal
yang sangat jelas salah tapi didiamkan. Ahahah terlalu banyak, ternyata menulis
skenario film sama sekali tidak sama dengan kebiasaan ku menulis cerpen,
skenario itu realistis, spesifkasinya realistis dari segi dana dan
pengadegangan dan itu indie, biayanya harus seminimal mungkin. Tapi dari
perdebatan, diskusi dan undingan yang sangat cukup panjang dan menguras tenaga,
ahirnya ceritaku terpilih diantara 5 cerita yang dipilih oleh mentor. Tapi
ternyata, 5 cerita tidak memungkinkan untuk diproduksi oleh kuantitas kami yang
hanya 19 orang jika digabung dengan kelompok 2. Akhirnya diputuskan untuk
memproduksi 3 cerita saja dengan persyaratan harus mempersempit cerita, dan
sesuai dengan tema MIC, merekam keindahan kota Makassar. Tiba-tiba saja hati
saya terlau cepat berdetaknya, pertama, saya sangat ingin mendapatkan
kesempatan menjadi sutradara dari ide ceritaku, kedua saya sedang tidak
menceritakan keindahan tapi kekurangan. Tiga, kita sudah diberikan kisi-kisi
pembuatan cerita yaitu tentang mitos atau identitas Makassar, tapi saya tidak
tau hingga kedasar-dasar itu, sampai kepada mitos dan pamali, saya hanya
mengetahui hal yang formal saja dari Makassar. Pengumuman dimulai tiga mentor,
k.arman, k.adin dan k.sinta mulai
menyebutkan cerita pertama. Itu ceritanya Barka, tentang larangan bersiul
dimalam hari, mitos itu baru saja saya ketahui ditempat itu, memang saya merasa
tak pernah diajar tentang pamali, sehingga untuk mengetahui hal-hal semacam itu
sangat sulit bagi saya. Sebenarnya saya ingin juga mengangkat cerita semacam
itu tapi mungkin saya akan sulit untuk mempertanggung jawabkannya jika saya
tidak pernah mengalaminya (ide cerita yang baik adalah apa yang pernah kau
alami, karena kau tau bagaimana persisnya). Hati semakin rajin beregerak cepat,
“ eh hati atau jantung ?, entahlah yang jelas dibagian dada “, judul
kedua akan diucapkan dan saya berharap itu adalah 15 ribu, judul ceritaku.
Ternyata “4 alpabet depan namaku” itu ide cerita Ayu, Mahasiswa unhas fak HI
smester ahkhir. Lagi-lagi ini adalah cerita lokal, yang menjenakakan kisah
seoarang wanita yang merasa tersiksa dengan nama Andi didepan namanya. Yah
mungkin memang MIC hanya akan memberikan kesempatan kepada cerita yang lokal,
sesuai tema kegiatan dan sesuai pula dengan arahan mereka. Saya mulai pasrah
dan merelakan kesempatan bagi siapa saja yang akan mendapatkannya. Tapi masih
ada sedikit adrenalin yang kencang kurasa.
Entah apakah ketiga mentor itu tau kalau saya sangat menginginkan
kesempatan yang sedang mereka bicarakan, sehingga untuk meceritakannya
kembalipun seakan-akan ini didramatisasi. Cerita ketiga disebutkan, k.sinta
langsung menyebutkan judul ceritanya. “15 ribu” wah, meleleh sudah detakan
galeter didadaku tadi, tegang mencair. Saya sangat senang mendapatkan
kesempatan sebagai penulis sekaligus sutradara dari apa yang berawal dari
pemikiran sendiri. tapi jagan salah, anugrah dan tantangan itu tak terhenti
disini. Masih ada yang lebih parah, klimaksnya masih jauh. Tapi berhubung
sekarang sudah jam 1 lewat 5 dinihari, dan saya sedang tidak di kos atau
makassar, makanya saya harus tidur untuk beradaptasi dan menghargai keluarga
lain yang sudah tidur sejak jam 9 tadi. Besok saya akan melanjutkan tulisan
ini. Dada kau yang membaca tulisanku.
_-_-_-
Minggu 27 juli 2014, suara takbir silih berganti dengan
suara yang berbeda, setiap muslim mungkin akan tau jika mendengar suara takbir
jenis ini, “ini adalah simbol dari lebaran, baik lebaran idul fitri maupun idul
adha. Entah mungkin aku sudah terlalu angkuh atau apalah, menganggap ini
formalitas atau semacam budaya belaka. Padahal sudah jelas-jelas suara itu
berarti “Allah Maha Besar” tapi itu terdengar samar, sepasang hedaset menutupi
telingaku, dialiri lagu2 lagu kesukaan, terkadang aku terhanyut didalamnya,
menggoyangkan kepala dan serasa ingin teriak mengikuti lagu, tapi tentu saja
teriakan itu tak akan lulakukan disini layaknya saat saya benar-benar menikmati
lagu “somebody that i used to know” miliknya gotye.
Oh iya, sebelum lupa. Saya akan mengukir lagi buah fikir
saya yang masih tersisa mengenai makassar ini cinema, sebuah sejarah, sebuah
awal, dan sebuah penemuan. Setelah cerita kami terpilih, begini, karena ini
adalah catatan ku maka saya akan menceritakan subjektifitas saya saja, apa yang
saya alami untuk menceritakan apa yang saya lihat pada diri saya. Itu artinya
biarlah Barca dan Ayu menulis sendiri apa yang ia rasakan, kalaupun mereka
tidak ingin menulisnya, itu berarti saya masih tetap tidak musti menceritakan
mereka. Takut suudzon atau gosip, yah gosip dengan laptop. Hahahaha. Setelah
cerita ku terpilih, maka setiap kami harus mempersempit lagi cerita ini, begitu
banyak tips, masukan dari kepala yang berbeda, dan semua harus tertampung
dimulut corong otakku, yang kemudian harus kupilih, harus kupertimbangkan.
Sungguh aktifitas menguras otak yang sangat menyenangkan. Seingat ku film yang
akhirnya berjudul “Takut Denda” ini berganti-ganti judul dari “15 ribu”, “hanya
ingin tau (tugas negara)”, “Rak-rak Imaji, dan akhrinya sampai pada judul Takut
Denda. Kembali ke alur, sebagai pemilik ide awal atau dasar cerita, beban ini
terus mengekori, memborgol fikiranku, mengurung konsentrasiku, saya harus
benar-benar bertanggung jawab untuk dapat menghasilkan sebuah cerita. Kemudian
hari berganti dimana ada aku yang terus menghayal, memilah-milah masukan teman2
yang bisa saya tambalkan kedalam ceritaku yang bisa menyampaikan ide dalam
otakku. Begitu pula dengan ilmu pengetahuan yang benar-benar baru, terlalu
banyak pengalaman dalam menulis saja, konsultasi dengan mentor, hingga ahirnya
cerita itu sampai pada draf 5, yang berarti cerita yang awalnya kuusung
mengalami perombakan sampai 5 kali, hanya alur yang berubah, untuk menyesuaikan
dengan kemampuan produksi, tapi ide atau gagasan yang ingin disampaikan semua
bebas saya otak atik model penyampaian pesannya.
Yah seperti biasanya, sebuah hasil yang baik pasti telah
melalui likaliku, tanjakan, dan tangga yang seakan tak berujung. Begitu pula
bagi saya. Saya bekerja selaku sutradara dan pembuat cerita, dimana saya harus
mampu bekerja sama dengan 5 orang teman timku, saya harus mampu membuat mereka
yakin bahwa saya tidak memerintahkan mereka ketika saya meminta sesuatu yang
musti ada didalam cerita. Sebab mereka juga adalah siswa worksop seperti saya,
mereka tidak digaji untuk bisa mengikuti mau ku, tak ada yang membayar mereka.
Alhamdulillah 90% mereka ternyata kooperatif dengan apa yang ada dalam cerita,
mereka mau bekerja sama, karena memang tugas mereka adalah untuk itu. Namun
sekali lagi, bukan hidup kalau tak ada ujiannya, ternyata yang selalu kontra
dan berlawanan dengan ide-ide ku adalah produserku sendri, Ima. Seharusnya
produser dan sutradara adalah pasangan tugas yang harus mampu berkolaborasi karena
mereka berdualah yang menjadi kepala dari sebuah produksi. Berbagai macam
ketidak cocokan terpampang jelas, bisa dibaca oleh orang lain. Sebenarnya saya
tidak ada masalah dengan bertolak belakangnya cara berfikirku, proses produksi
semakin dekat, kami bekerja secara tim untuk mencari lokasi, pemain, dan
perlengkapan lain syuting. Yah ternyata ima sudah tidak mampu menahan
ketidaksukaannya terhadap saya, menurutku dia itu cemburu, dia tidak senang
dengan terpilihnya cerita saya, karena dialah yang ingin dipilih ceritanya
sekaligus menjadi sutradara, mungkin harapannya juga terlalu tinggi, sehingga
kekecewaannya juga sangat tampak dan berapi-api membakar disekelilingnya,
karena dia harus menuruti keinginanku, itu wajar, karena saya yang paling tau
ceritaku, mereka boleh dan wajar memeberi saran, tapi wajar pula jika saya
menolak. Kesimpulan bahwa ia cembutu bukanlah suudzonyang tiba-tiba muncul,
saya tidak pernah berfikir tentang hal seperti ini sejak awal saya berkelompok
dengan dia, saya baru berani ketika saya memasang2kan hasil cerita ku dengan
dia, dan inilah kesimpulannya, dia cemburu, dan tak sebatas dalam hatinya, ia
berkoar mengeluarkannya. Menceritakan saya ke mentor dan teman2 lain, tentunya
keburukanku. Sejak awal time dan nana mengkonfirmasi kepada diri saya yang
dibalut dalam kata-katanya ima kemudian ia lontarkan ke mereka. Saya sontak
heran, kaget. Oh ternyata ada yang menaruh perhatian lebih, mengkritik, dan
menjelekkan kenormalan sikapku dibelakang.
Seperti biasa pula, menurutku ini adalah kewajaran hidup,
tak semua orang akan senang dengan kita, saya tentunya seperti biasa, akan
bersikap normal, tidak mungkin saya bersandiwara menjadi baik untuk mengemis
penilaian baik seseorang, saya sudah melakukan ini pada beberapa situasi,
bersikap normal, dimana orang-oramg disekitar ku menuntut saya menjadi orang
yang baik sesuai standar yang ada dalam fikiran mereka. Yah saya bersikap
normal. Tak kubalas rasa bencinya itu, untuk apa coba, saya tidak akan mendapat
hadiah uang jika mampu membalas benci dengan benci yang lebih besar. Dia terus
bercerita debelakangnku. Arif itu nda becus, tdk ontime, tidak memperhatikan
pekerjaan, kurang fokus, main-main terus. Hahaha yah itulah saya, yang
diceritakan, itulah saya yang ada didalam otak entah orang dari mana berasal
itu, yang tiba-tiba muncul dan memasifkan keburukanku, mungkin ia berharap
mendapat dukungan dari orang yang telah ia perdengarkan, mendukung untuk
menjatuhkan saya. Yah arif yang busuk itu ada disampingku, ia berlalu lalang
dalam fikiran beberapa orang yang selalu kutemani bercanda.
Lucu, entah sikap apa yang memang telah dijadikan sebagai
standar perlakuan baik jika seseorang memperlakukan kita seakan-akan kita
pernah membunuh orang tuanya. Tapi bagi saya, orang yang terlalu sering
bercerita tentang orang lain tanpa dia tau dirinya siapa, adalah tindakan yang
amat sangat lucu. Luculah, bagaiaman bisa dia menjadikan standar baik dan buruk
tentang perlakuan seseorang berdasarkan apa yang ada didalam kepalanya.
Bagaiman bisa seseorang sangat ingin agar orang lain berkelakuan seperti apa
yang ia inginkan. Hahahah. Maka ceritalah saya sepuas anda yang ingin
menceritakan saya, karena itu adalah bahan lelucon yang amat sangat menghibur.
Saya tau siapa yang layak mengkritik, dan menghina saya, yah, siapa saja yang
mampu mengkritik saya dengan cara yang sopan dan telah melakukan apa yang ia
sarankan. Selain itu alam bawah sadarku akan dengan sendirinya menerima apapun yang bahkan yang hanya
sekilas terlintas sebagai hal yang baik. Tak perlu terlalu meniru cacing yang
kepanasan, karena saya pun tidak tertarik menaruh perhatian yang tinggi
terhadap semua orang, beberapa orang atau bahkan satu orang untuk mencari
kekurangannya, memakan kekurangan itu, lalu membagikannya ke orang lain.
Mungkin produser itu tak tau bawha setiap manusia dicipatakan dengan keunikan
masing-masing, diciptakan sama caranya
seperti ia diciptakan, jadi ia tak perlu memaksa orang lain mengikuti buah
fikirannya, yang jelas-jelas fikiran itu digodok sejak kecil dengan cara yang
berbeda hingga ahirnya saya dan dia ketemu di kelas belajar MIC.
Ahirnya suatu hari, akumulasi bencinya menggunung.
Kronologisnya begini, kami telah menemukan lokasi syuting yang pas, diantang ,
Nipa-nipa. Saya dan dia janjian jam 2 untuk ketemu di lorong masuk antang
karena dia hanya menggunakan angkot dan dia akan menjadikan dirinya beban
supaya saya mau rela mengantarnya. Bukan Arif kalau tepat waktu, saya lambat
mungkin 15 menit ketika saya sampai ditempat janjian dan saya belum solat
duhur. Tapi ternyata dia juga belum ada dilokasi, seharusnya dialah yang tepat
waktu karena dia yang membutuhkan saya, kira-kira kira itulah hukum yang
berlaku secra universal, dimana yang membutuhkan seharusnya lebih ngotot, tapi
saat tidak membutuhkan lagi, bolehlah pergi, hahahahah. Saya telpon dia,
katanya ban pete-pete nya kempes, dan dia masih ada di pintu 1, itu artinya dia
akan masih sangat lama, sementara dia tidak tepat waktu, saya belum solat dan
menunggu ditempat yang panas, tentu saja saya tidak akan menunggu lebih lama layaknya
saya menunggu pacar saya. Saya langsung pergi mencari masjid untuk solat duhur
sekalian untuk beristirahat menunggu. Yah ... ternyata dia marah, katanya sih
marah besar, dia tidak mau berkelakuan normal, bahwa dia sangat membutuhkan
tumpangan, kita sudah janji dan dia tidak tepat waktu, dia malah bertingkah
layaknya dialah yang paling sibuk, yang bekerja sendiri, yang memikirkan kami
semua, yang siang malam mengerjakan film ini. Jadi ekspresi marah itu ia
benarkan, ia berhak marah. Hahah ini semaakin lucu saja, dia semakin hobby
menceritakan kejelekanku, sekan-akan ia memuntahkan semua kebencian terhadapku
yang entah dari mana asalnya. Dia bahkan bbm an sama nana yang ada bersama
saya, nana lalu menunjukkan bbm itu ke saya, Astagfirullah. Kenapa ada orang
yang baru beberapa minggu lalu saya kenal, tapi sudah sangat membenci ku,
bahkan dia menggunakan nama orang lain untuk melegitimasikan sikap nya itu.
Saya hanya tertawa, semacam ada perasaan senang, tapi sesekali terpancing.
Untung Una dan Nana selalu menahan dan membei pengertian. Mungkin itu bisa jadi
berandil tapi juga tidak.
Malam itu kami ada pertemuan kelompok, ada K.ammank yang
bertindak sebagai pembimbing, tapi saat ini lebih nyaman dijadikan teman.
Suasananya memang sangat tidak nyaman, cuma ode yang tidak hadir, kami
dipersilahkan bercerita tentang masalah yang kami hadapi. Ia, si produser
kemudian mengambil kesempatan pertama, menurutku kejadian disiang tadi sudah
menjadi sebatas lelucon saja, ternyata tidak bagi dia, dia menceritakan semua,
hal yang sama sekali tak kusangka, dia langsung menghujam ku, menembakiku
dengan wajah menyebalkannya, dengan kata-kata yang tidak terkontrol, ia
mengulitiku dengan subjektifitas pendeknya, saya sangat heran mengapa Arif
menjadi seburuk yang ia fikir, Arif itu kemudian menari telanjang dimeja
pertemuan, menanggalkan pakaiannya dan berkelakuan seakan tak ada orang, sangat
memalukan Arif yang ada diotak anak itu. Sementara saya terus tertawa, saya
pura-pura tidak mendengar kata-kata kotor yang ia alamatkan tepat ke saya,
“sudala.... setang...” ya saya mendengarnya jelas, tapi samar darimana
sumbernya, apakah itu mulut wanita ?, ataukah orang gila ?, mulut orang
terdidik ?, yang jelas itu adalah pertama kalinya ucapan kotor mencumbuiku
didepan umum, didepan team, didepan ammank yang saat itu masih saya segani.
Saya terus mendengarnya berharap ia akan segera mengehentikan sampah-sampah
yang tumpah dari mulutnya yang mulai berbusa. Tapi ternyata dia semakin
menjadi, mungkin Arif di otaknya bukan lagi anak yang tidak beratnggung jawab,
tidak becus, dan tidak serius, tapi juga Arif ternyata dungu, bodoh, tak
berdaya dan autis yang mau menerima semua kemarahan tanpa perlawanan, mau
mendengar semua tuduhan dengan senyuman. Jajajajhahahahah, makanya ia semakin
menjadi, sangat jelas ada semacam darah yang sangat panas mengalir dari bawah
menuju kepalaku, saya mulai terpancing. Tapi untungnya saya masih menganggap
ini lelucon. Saya berusaha menghindari ini, saya turun ke lantai dua dan lalu
menyapu-nyapu, tapi saya meminta izin untuk pulang, padahal bote ja, saya Cuma
mau membuat ia terus bicara tanpa harus saya dengar, sama sekali tak ada
manfaat, mungkin saya akan berdosa bila mendengr kata-kata yang sangat tidak
bermanfaat itu.
Setelah merasa cukup, dan saya telah mendapat telfon
darai ammank untuk segera kembali ke forum dan menyelesaikan masalah. Ya ..
sembari menahan tawa, saya kembali kelantai 3, astagggaaaa,, ternyata dia masih
bicara, bahkan mulai menangis sambil bicara kotor. Melihat itu, terus apakah
saya akan merelakan diri menjadi kambing hitam ? what the*tiiiiitttt...* saya
mulai membalas kata-katanya, tentunya yang berwibawah lah, sedikit ilmiah dan
teori. Saya heran dengan rasa benci yang menjadi-jadi dalam dirinya, sumpah
saya sangat heran, entah apa yang telah ia lalui hingga mampu tiba pada titik
semacam itu, aneh. Saya terpancing, seperti biasa, perkataan akan sedikit keras
tapi berbobot jika dipelumasi oleh sedikit rasa marah , sedikit pembenaran.
Malam itu, kemudian menjadi malam yang menjadi buah bibir
diantara kami, menjadi perbincangan bagi mereka, dan bagi saya ini benar-benar
sangat menganggu, semenjak awal kujalani, menggati ide cerita, memutar balikkan
imajinasi, menghayal-hayal hingga sampai draft 5, semua itu bukanlah maslah,
itu sangat menyenangkan. Hingga ahirnya klimaksnya ternyata malam itu, itulah
ujiannya, saya harus berhadapan dengan orang semacam itu, berhadapan dengan
manusia semacam itu yang menjadi produser ku. Seandainya forum malam itu
berjalan normal, dan setiap kami bisa dengan leluasa menyampaikan isi hati
seleluasa si produser, maka saya akan mengatakan “masalah saya dari awal dan mungkin sampai akhir Cuma 1, harus berurusan
dengan si produser itu”. Dan jika itu didengarkan entah apalah jadinya,
untung saja itu hanya niat, niat yang masih ada sampai saat ini.
Masalah lain selanjuttnya cuma jadi rentetan yang
mengikuti klimaks dimalam itu, saya mulai membalas rasa bencinya, saya sangat
tak nayaman jika harus bicara atau bahkan hanya sekedar melihat mukanya jika
berbicara, itu bertahan sampai saat ini. Entah itu dendam atau apa, yang jelas
saya sangat merasa tidak nyaman. Terlalu banyak perdebatan selanjutnya,
perdebatan yang timbul karena ia terus merasa dia lah yang paling memikirkan
film ini, yang paling all out. Apa ? secara indie, dia tidak benar2 melakukan
tugasnya sebagai produser film, yang membiayai semua produksi, sama sekali
tidak, dia hanya berlatih, dan latihan itu biasa saja saya lakukan jika harus
merangkap sebagai sutradara sekaligus produser, sebenarnya dialah yang dangat
tidak terlalu penting dalam tim ini jika dibandingkan dengan Una kameramen, Ode
soundrecordis, Nana costum dan Adil set, bahkan Usman yang bertugas membantu
kami itu lebih penting jika dibandingkan apa yang dilakukan produser itu. Dia
hanya mepersulit dan membuat buah fikiran yang sangat memusingkan yang
seharusnya tidak perlu ada. Yahh, dia sangat kreatif membuat orang pusing.
Kemudian, selanjutnya adalah masa2 pemutaran film yang
sangat membanggakan bagi saya, terharu, sesekali airmata hampir jatuh, tapi
saya akan menceritakan besok malam. Insyallah. Berhubung besok pagi2 lebaran
dan sekarang sudah jam stngah 12, saya akan mencari2 makan ulu didapur baru
tidur,, asslamualaikum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar