Kamis, 02 April 2015

Apakah ini permasalahan karena “Mencari Uang” ? (HIMIKOM UMI)

Apakah ini permasalahan karena “Mencari Uang” ?

Rabu, 1 April 2015 jam 12.44 dinihari. Berkali-kali sudah saya berjumpa dengan tengah malam, menyebrang dari satu angka ke angka lainnya dalam kalender. Jika ingin menjadi orang yang sehat jasmani, seharusnya saya sudah tidur saat ini, tidak merokok dan minum kopi, untungnya tidak lapar Hahahah.... beberapa hari belakangan, motivasi untuk menulis semakin menjadi. Semenjak saya memiliki blog dan telah membaca sebuah blog yang berjudul “tips untuk menulis”. Saya telah membaca tulisan itu, dan saya berfikir bahwa, jika ia menamai tulisannya tips menulis, itu berarti ia telah menulis juga dengan baik, atau setidaknya penulis itu telah mendapatkan berbagai ilmu tentang penulisan. Dan ketika saya membaca tulisan itu, saya merasa seperti membaca tulisan yang mirip dengan kerangkaku menulis, jadi, ini memberikan sedikit motivasi bahwa sebenarnya tulisankupun juga tidak terlalu jelek. Saya mulai meminta orang untuk membaca tulisan ku, mengkopi link blog lalu membaginya di twetter dan facebook, berharap semoga ada yang memiliki waktu luang untuk membacanya dan memberikan masukan.

Menulis, menyatukan berbagai kata untuk merefleksikan fikiran dalam hamparan halaman. Banyak yang melakukannya untuk mencari uang, mempengaruhi orang, mencitrakan diri dan entahlah apa lagi, saya belum pernah menjadi orang lain dan memiliki hobby menulis. Saya hanya benar-benar tau mengapa saya menulis dan apa yang saya tulis. Saya tidak mencari uang dari tulisan saya, saat ini. saya merasa tidak menikmati caraku menulis jika harus membahas sesuatu dengan terlalu banyak mengutip pendapat para ahli dan teori mereka seperti saat menulis proposal penelitian dan sekarang skripsi. Saya hanya berusaha merekam apa yang telah kulalui dengan pemaknaan sesuai cara berfikirku saat menulis, jika secara kebetulan pendapatku didukung oleh teori yang ku ingat maka saya akan menguatkannya, tak perlu menulis sambil membuka berbagai judul buku di sekelililng sisiku. Cara berfikir dan perbendaharaan kata yang secara otomatis mempengaruhi tulisan, membuat saya mengenal siapa dan bagaimana saya yang dulu. Saat memutuskan untuk membuat blog dan memposting tulisanku, saya secara sadar akan membagikan buah fikiran dan perasaan ku, saya mulai lagi untuk mengetahui bagaimana agar tulisan enak dibaca, dan sekarang tulisan-tulisan ku bukan hanya untuk diriku sendiri yang kupersiapkan dimasa depan untuk mengenal kembali siapa aku yang telah hidup dimasa lalu ini.

Meskipun saya tidak tau bagaiana cara agar orang mengunjungi blog dan tulisan saya di internet, setidaknya saya sadar bahwa akan ada orang lain yang membacanya, yang kukenal dan tidak kukenal. Sehingga saya mulai mengurangi muatan self disclosure (membuka diri), memilih apa yang boleh diketahu dan tidak diketahu oleh orang lain dari diriku, saya tidak terlalu memikirkan bahwa sebenarnya dengan menuliskan perasaan dan fikiran ku, orang akan memberikan makna padanya dan mereka akan mengenal saya dengan pemaknaan itu. Mungkin makna yang mereka sematkan bisa saja telah ku antisipasi saat menulis, tapi mungkin saja tidak sama sekali kuketahui, sehingga ahirnya sebenarnya saya tidak memiliki power secara penuh untuk memilih apa yang seharusnya kutampakkan dengan harapan agar seperti demikian orang mengenalku. Manusia berkembang dengan cara mereka memaknai apa yang menstimulasi perhatian dan persepsi mereka. Saya berfikir lagi, jika saya akan terus menerus menghawatirkan orang lain akan memaknai saya dengan hal yang tidak kusangka-sangka dan mungkin dengan hal yang tak kusenangi, saya akan takut menulis dan saya akan berhenti menulis, artinya saya membuang satu hobby ku. Dan begini saja, saya tidak akan memperdulikan bagaimana orang akan menilaiku dari apa yang kutulis hingga serinci mungkin, biarlah mereka merdeka dengan itu.

Garis baru.. saya sebenarnya ingin membicarakan ini sedari awal, namun mungkin intermesso diatas terlalu banyak mengambil porsi sadar ku, sehingga mungkin pula saya akan hanya sedikit membicarakan ini sekarang sebab saya mulai merasa kantuk hampir menguasai.

HIMIKOM, Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMI. Kasihan organisasi ini sekarang. Sudah beberapa bulan junior-juniorku stuk melegalisasi kepengurusan. Ketua terpilih pada MUBES bulan Desember 2014 lalu, Sayful Rania atau Ipul, telah terlebih dahulu mengambil sangat banyak porsi subjektifitas pengisi jabatan di fakultasku, mulai dari dosen, kajur hingga wakil dekan III sebagai mahasiswa pembangkang yangkurang memilioki sopan santun (ini adalah info yang saya dengar dan merupakan alasan dosen-dosen menolak ipul) sebelum akhirnya ia terpilih menjadi ketua. Sehingga dengan sedikit saja alasan objektif bahwa nilai perkuliahannya tak sesuai standar untuk menjadi seorang ketua Himpunan, para birokrat kampus dengan angkuh mematahkan dan mengubur dalam-dalam niat ipul memimpin organisasi non provit ini. Agar lebih menarik, mungkin saya akan menulis ini seperti menulis cerpen, sedikit hyperbola, tapi mengutamakan objektifitas dari yang memang benar-benar telah terjadi.

MUBES yang telah kami lakukan pada Desember 2014 kala itu, ternyata menurut beberapa orang merupakan hal yang kontroversial. Dari sekitar 150 an anggota Himpunan, kegiatan itu hanya diikuti hingga selesai oleh 21 orang dari awalnya diikuti oleh 35 orang. Menurut versi kajur kami, itu sangat tidak quorum, namun jika alasan itu memang terlegitimasi, saya sebagai mantan anggota HIMIKOM selama 2 tahun tidak pernah mendapatkan undang-undang yang disepakati bersama oleh semua akademika di fakultas sastra mengenai quorum atau tidaknya sebuah MUBES HMJ, jikalaupun ada, hal itu tidak pernah disosialisasikan, mungkin aturan itu jika ada, ia tersimpan di rak-rak lemari ruangan ber Ac tempat “orang tua” kami duduk mengerjakan tugas mereka yang akan diganjar rupiah di awal bulan. Standarisasi quorum yang mengikat HMJ versi Kajur tidak ada, itu hanya verbalisasi ketidaksetujuan oknum, yang jika tidak tertulis dan disahkan maka tentu itu tidak dapat dipertanggug jawabkan. Namun jika kau yang membaca ini dan ingin menyalahkan kami, maka kami memiliki alasan dalam tata tertib mubes yang disepakati dan telah dilegalisasi pada kepengurusan 2011/2012 sekaligus manjadi landasan hukum dijalankannya MUBES kepengurusan 2013/2014:
BAB VI
Quorum dan Keputusan
Pasal 1
1
Quorum

1.      Sidang pleno dinyatakan sah apabila di hadiri sekurang-kurangnya 1/2 +1  jumlah peserta yang hadir saat Musyawarah Besar Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasin Universitas Muslim Indonesia IV MUBES HIMIKOM UMI IV
2.      Apabila sampai pada wakunya sidang pleno mencapai quorum, maka sidang ditunda selama 2x5 menit, setelah itu sidang dianggap sah

Pasal 12
Keputusan
1.         Bentuk-bentuk Keputusan Musyawarah Besar Hipunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muslim Indonesia IV MUBES HIMIKOM UMI IV adalah keputusan yang memliki kekuatan hukum mengikat dalam lingkup penyelenggaraan organisasi HIMIKOM UMI.
2.         Keputusan Musyawarsh Besar Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi MUBES HIMIKOM adalah putusan yang memiliki kekuatan hukum yang mengikat kedalam dan keluar organisasi HIMIKOM UMI IV.

Dasar hukum inilah yang menjadi alasan kami melakukan Mubes saat itu, dimana kegiatan perkuliahan begitu cepat diliburkan oleh kampus, seingatku satu semseter awal saat itu hanya sekitar 4 bulan. Kami tak memiliki hak setidaknya secara moril jika tidak ingin mengucapkan secara legitimatif untuk menahan teman-teman kami pulang kampung atau mengurusi urusan pribadi mereka, mereka beralasan ingin membantu orang tua dikampung dan alasan-alasan yang lain. Sehingga jika ingin mengatakan yang tetap ingin mengikuti MUBES adalah mereka yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap organisasi secara proporsional, maka itulah jumlah kami yang sadar, 31 orang dari 150 anggota, dan hanyaa 21 orang yang ikut dalam menyaksikan ketukan hingga palu terakhir pada mubes itu, tapi tentu disini atau dimanapun saya berada, saya pula tak memiliki hak untuk menjudge kepribadian anggota lain terhadap HIMIKOM. Secara moril dan legitimatif, kami telah menjalankan mubes itu dan Ipul adalah ketua yang resmi dan disepakati, meskipun hanya beda 1 sauara dengan Yunus dalam pemilihan, tapi itulah demokrasi atau musyawarah dan mufakat yang telah dijadikan pula sebagai salah satu landasan asas organisasi kami.  Itulah quorum versi kami, dan sekali lagi dasar hukum itu kuat karena telah disahkan pada kepungurusan sebelumnya.

Namun organisasi provit yang menaungi organisasi non provit tempat kami meluangkan waktu dan minat kami ini terlalu besar kekuatannya, maka mereka dengan arogan mengintervensi hal ini, mereka memberikan terlalu banyak alibi untuk mendukung subjektifitas yang berbuah ketidaksetujuan itu, ini menjadi sangat rancu menurutku. Birokrasi di kampus yang secara garis koordinasi juga memasukkan HMJ dalam alurnya, berjalan dengan kurang proporsional. Jika ingin mencari kambing hitam disini, entah siapa yang paling tepat. Disatau sisi, junior-juinior ku akan memulai bekerja tanpa gaji, saat bersamaan mereka yang bergaji mengintervensinya. Namun disisi yang lain, HMJ memang merupakan sub unit dari birokrasi kampus yang mau tak mau harus taat pada aturan yang diterbitkan pimpinan tertinggi dalam hal ini rektor. Yang salah disini mungkin adalah kurangnya perhatian para pimpinan dalam keorganisasian, hal ini semacam kami dibebaskan tapi saat bersamaan kami ternyata juga dipenjarakan. Ini beralasan, saat ingin mubes, kami membritahukan hal ini setidaknya kepada Kajur, meskipun terkesan peberitahuan yang prematur, tapi saat itu kegiatan ini ternyata di izinkan. Tapi setelah hasilnya ternyata tak sesuai dengan harapan pimpinan kami, yah.. disitulah kami mulai melihat lagi jaring-jaring besi disekeliling kami, penjara.

Hingga hari ini, bulan ke empat setelah ketua telah terpilih, kepengurusan belum saja dilantik, bahkan tak ada tanda-tanda akan diadakannya pelegalisasian oleh pihak jurusan maupun wd III. Benturan ke atas dari buah hasil ketidak seriusan organisasi kemahasiswaan diperhatikan pimpinan ini terus saja berlanjut. Hingga akhirnya para pengurus yang menuggu legitimasi dengan Ipul berada dipuncaknya itu disarankan untuk melakukan Musyawarah Luar biasa. Mereka dipaksa untuk melakukan perbaikan dari apa yang tidak pernah salah secara prosedural dan hukum dalam AD/ART HIMIKOM. Namun sekali lagi, idealnya menurutku adalah memang HMJ harus beriringan dengan sub unit birokrasi yang ada diatasnya, dan itu sangat banyak dan kuat. Ya kuat, mereka yang juga dosen, bisa menskorsing kami karena kesalahan, dan kami sebagai mahasiswa sama sekali bahkan menegur yang jika kami juga secara subjektif menganggapnya salah adalah berlebihan , maka menegur yang sudah jelas salah pun dianggap tidak etis.

Jika melihat rantai yang sangat panjang pada birokrasi kampus, dimana ada rektor di langit dan Himpunan di kerak bumi, itu memang sangat lah rumit. Tapi bahkan serumit apapun itu, maka seorang pimpinan tetap memiliki tanggung jawab kebawah. Makanya jabatan-jabatan spesialisasi dibuat untuk mengisi birorkasi, ada Wakil Rektor III dan Wakil Dekan III yang menangani kemahasiswaan, artinya mereka yang mengisi ini semestinya bukan karena alasan hanya karena orang itu adalah orang dekat rektor sehingga akan mengisi jabatan dengan gaji yang beda, sebab ada legitimasi dan kekuasaan diposisi itu yang harus mengurus mahasiswa. Ada kata “mengurus” bukan berarti saya berpandangan bahwa mahsiswa atau sedtidaknya HIMIKOM itu tidak mandiri, namun konsekuensi dari keterikatan dan kebertanggung jawaban keatas itu harus berdasarkan peraturan kampus, maka kata “mengurus” disini lebih kepada mereka atasan kami untuk melakukan pekerjaan mereka secara ideal.

Sudah beberapa bulan fakum kegiatan kreatif pun tak terlaksana, energi mahasiswa entah dilarikan kemana, semoga saja bukan pada perkelahian fisik atau anomali yang lain. Sebab Himpunan diadakan karena kesadaran akan energi muda yang harus dicurahkan pada kegiatan yang bermanfaat. Melihat iklim organisasi birokrasi kampus semacam ini sangat menjengkelkan. Kegiatan-kegiatan besar harus mendapatkan izin kampus dan itu boleh dilakukan oleh organisasi yang diakui, jika tidak diakui, maka ia menggandeng organisasi yang diakui dalam penyuksesan kegiatan tersebut. Melihat kenyataan itu lagi, akan sangat sering muncul pesimistis diadakannya kegiatan besar dihimpunan ini jika kepengurusan belum dilantik dan legal.

Lucunya lagi, pak kajur yang meskipun tetap memiliki sisi baik, ia juga memiliki kekurangan, bagaiamana bisa ia menginginkan taat aturan jika dia saja tidak taat. Pada tanggal 20 April, akan diadakan kegiatan Pekan Film Makassar yang rencananya akan digelar oleh HIMIKOM di kampus UMI, entah apa dasarnya, ia menyuruh untuk melakukan kegiatan itu tapi pada setiap persuratan –dengan alasan tidak ada ketua himpunan- maka yang ia mandatkan untuk bertanda tangan adalah Usman Warwefubun. Dari mana asalnya hingga Usman yang dimandatkan, itu aturan darimana. Persuratan adalah hal yang sangat penting pada organisasi semacam ini, semuanya harus tertulis dan bertanda tangan, dan oleh sebab itu pula Surat Keputusan Pengurus yang selalu diusahakan Ipul menjadi sangat penting. Namun saat bersamaan ternyata persuratan itu pun dipermainkan, disepelekan, benar-benar pendidikan keorganisasian yang miris.

Apa gunanya teori-teori Max Webber tentang organisasi di ajarkan dan dijadikan soal final yang akan membuat kami mendapatkan nilai jelek jika tidak mengetahuinya, jika itu tidak diaplikasikan. Ada struktur yang  jelas disana, ada sifat-sifat organisasi birokrasi disana, masa persuratan dipermainkan. Hal ini miris, semoga hal semacam ini, tidak menjadi kebiasaan dan membudaya. Atau jika memang (tapi saya rasa tidak) birokrasi kampus dijalankan beradasarkan pandangan subjektifisme seperti anggapan Karl Weick, mengapa Ipul benar-benar diragukan disini, mengapa tak ada peluang yang diberikan, mengapa pimpinan tidak percaya bahwa Ipul adalah manusia yang akan terus berkembang, yang akan mencari tau tentang tugas yang ia emban dan menjadi lebih baik lagi dalam memaknai dan bertindak, padahal kita semua tau, Himpunan Mahasiswa Jurusan bukan organisasi pencari uang tapi wadah pembelajaran, pendewasaan menghadapi dinamika, pemandirian, dan silahkan tambahkan sisi positif yang kalian harapkan dari HMJ dan atau kebaikan yang telah kalian dapatkan disana.

Secara pribadi, masalah berkepanjangan dalam diam pimpinan ini bukan karena uang atau gaji, itu adalah hak yang telah pula diatur oleh birokrasi kampus yang layak mereka dapatkan. Namun yang jadi permasalahan disini adalah, sejauh mana mereka yang terlegitimasi untuk memerintah, mampu berkompeten pada jabatan yang mereka terima. Saya tidak ingin membicarakan bagian keuangan yang tiba-tiba menaikkan biaya KKN 1,3 juta dari sebelumnya 850 ribu , atau mengapa mereka menaikkan SPP setiap tahunnya, tanpa sentuhan pengembangan SDM mahasiswa secara merata pada setiap fakultas dan jurusan, yang tampak hanya pembangunan infrastruktur umum seperti jalan, pagar dan halaman kampus (hahaha, saya ternyata juga membicarakannya). Namun karena tulisan ini adalah mengenai kemahasiswaan bukan pembayaran, maka mereka yang telah mengisi jabatan dan mendapatkan tugas dibidang ini haruslah kompeten, lebih profesional. Masa pendidikan keorganisasian cuma di ulangankan dikertas, bukan di kehidupan nyata yang memang tujuannya belajar adalah untuk hal kontekstual, bukan melulu konseptual.


Tumbuh dalam Film Mulai Dari Secercah Cerita ini

Tumbuh dalam Film Mulai Dari Secercah Cerita ini
Sabtu 26 juli 2014

Masih dihari yang sama, saya hanya ingin beribacara lebih banyak lagi, atau mungkin lebih sedikit. Apa yang kutulis saat ini sebenarnya aku sedang berkomunikasi dengan aku yang ada dimasa depan. Aku sedang memberi tau tentang aku saat ini, yang mungkin akan terlupa dengan aku yang ada dimasa depan. Tentang yang kufikir, kurasa. Mungkin aku akan tertawa takjub dan sedih ketika membacanya kembali. Membaca kembali diri kita dimasa lalu adalah hal yang sangat menyenangkan. Terkadang ada sebuah kalimat yang kembali kita tanyakan “ia tawwa fikirannya kok bisa sampe disitu ?”. ternyat saya dulu terlalu melankolik, alay dan lebay ketika berhadapan dengan cewe.. waduhh malue, tapi itu adalah sejarah saya, nd mungkinlah mau dihapus. Inilah enaknya menulis, akan terlalu banyak sisi dari diri kita yang akan kita tertawai sendiri, kasihani dan mungkin cemooh. tentu saja saya sedang tidak hanya berencana berbicara dengan arif yang ada dimasa depan, tapi juga kamu,,, ya kamu ,,, (ketawa hahahah). Seriuska, kalau kamu membaca tulisan ini dari awal hingga lembar ini, dan kau cewe, bukan muhrim ku, bukan keluargaku, berarti kau benar2 ingin tau siapa saya. Dan mungkin sayang sama saya, Hahahah “basiii”.

Sebenarnya terlalu banyak hal yang ingin ku ikat agar aku tak terlalu sulit jika ingin mengingat detail2nya. Tapi untuk mendapatkan waktu tengah malam seperti sekarang ini, berhadapan dengan laptop yang siap menampung semua ceritaku sepanjang hari yang jika kuceritakan ke orang atau manusia, mungkin ia akan menjadikan hal ini sebagai bahan ejekan atau lelucon saja. Pengalaman mengikuti kelas Makassar in Cinema, belajar mengenai film, lolos hinggggggg.. ok saya akan menceritakan Makassar in cinema, tidak sependek rencanaku diawal.

Garis baru.  Makassar In Cinema adalah sebuah kelas belajar yang sangat spektakuler (subjektifitasku/objektifnya akan ko ingat ji terus itu). Sejak awal ternyata rentetan kesempatan langka itu telah bergantian menyapaku, mengajakku, dan membawaku. Sejak awal, info ini hanya angin lalu, tak ada niat yang istimewa untuk ini. Yah saya hanya mengikuti arus karena banyak ternyata ingin mempartisipasikan dirinya. Diluar dugaan, saya ternyata termasuk di dalam 10 orang yang terpilih menjadi kelas utama, menyingkirkan 9 orang lainnya. Sampai disini kesyukran itu sudah ada, keberuntungan itu sudah sangat bikin terharu bagi orang yang  jarang berkompetisi seperti saya. Tapi Allah tidak memberhentikan sampai pada tahap penerimaan. Setelah kelas dimulai, sangat banyak pengetahuan baru, teknik maupun ide yang kami dapatkan. Lanjut,  dari 9 orang (1 eliminasi), setiap kami diberikan hak untuk membuat cerita sendiri. tapi dengan tema keutamaan atau keindahan Makassar. Entah apa, mungkin karena masih Mahasiswa, saya terlalu sering mengkritik, apalagi pemerintah. Kubuatlah cerita tentang anak-anak yang tak bisa bersekolah, yang menggunakan waktunya lebih banyak dijalan raya ketika anak sebayanya sedang duduk dibangku sekolah, saat terik mereka masih tak berhenti melawan panas, ketika anak sebayanya dijemput oleh orang tua mereka, mungkin bermobil, tertawa bebas, lalu sampai dirumah dengan hidangan makan siang, tidur siang, lalu sorenya bermain, sementara anak yang tadi masih saja ditempatnya sedari pagi. Terlau banyak yang ingin ku ceritakan dalam alokasi waktu hanya maksimal 15 menit, terlebih lagi biaya produksi yang indie. Hal-hal yang menurutku kontradiksi, tidak selaras, hal yang sangat jelas salah tapi didiamkan. Ahahah terlalu banyak, ternyata menulis skenario film sama sekali tidak sama dengan kebiasaan ku menulis cerpen, skenario itu realistis, spesifkasinya realistis dari segi dana dan pengadegangan dan itu indie, biayanya harus seminimal mungkin. Tapi dari perdebatan, diskusi dan undingan yang sangat cukup panjang dan menguras tenaga, ahirnya ceritaku terpilih diantara 5 cerita yang dipilih oleh mentor. Tapi ternyata, 5 cerita tidak memungkinkan untuk diproduksi oleh kuantitas kami yang hanya 19 orang jika digabung dengan kelompok 2. Akhirnya diputuskan untuk memproduksi 3 cerita saja dengan persyaratan harus mempersempit cerita, dan sesuai dengan tema MIC, merekam keindahan kota Makassar. Tiba-tiba saja hati saya terlau cepat berdetaknya, pertama, saya sangat ingin mendapatkan kesempatan menjadi sutradara dari ide ceritaku, kedua saya sedang tidak menceritakan keindahan tapi kekurangan. Tiga, kita sudah diberikan kisi-kisi pembuatan cerita yaitu tentang mitos atau identitas Makassar, tapi saya tidak tau hingga kedasar-dasar itu, sampai kepada mitos dan pamali, saya hanya mengetahui hal yang formal saja dari Makassar. Pengumuman dimulai tiga mentor, k.arman, k.adin dan k.sinta  mulai menyebutkan cerita pertama. Itu ceritanya Barka, tentang larangan bersiul dimalam hari, mitos itu baru saja saya ketahui ditempat itu, memang saya merasa tak pernah diajar tentang pamali, sehingga untuk mengetahui hal-hal semacam itu sangat sulit bagi saya. Sebenarnya saya ingin juga mengangkat cerita semacam itu tapi mungkin saya akan sulit untuk mempertanggung jawabkannya jika saya tidak pernah mengalaminya (ide cerita yang baik adalah apa yang pernah kau alami, karena kau tau bagaimana persisnya). Hati semakin rajin beregerak cepat, “ eh hati atau jantung ?, entahlah yang jelas dibagian dada “, judul kedua akan diucapkan dan saya berharap itu adalah 15 ribu, judul ceritaku. Ternyata “4 alpabet depan namaku” itu ide cerita Ayu, Mahasiswa unhas fak HI smester ahkhir. Lagi-lagi ini adalah cerita lokal, yang menjenakakan kisah seoarang wanita yang merasa tersiksa dengan nama Andi didepan namanya. Yah mungkin memang MIC hanya akan memberikan kesempatan kepada cerita yang lokal, sesuai tema kegiatan dan sesuai pula dengan arahan mereka. Saya mulai pasrah dan merelakan kesempatan bagi siapa saja yang akan mendapatkannya. Tapi masih ada sedikit adrenalin yang kencang kurasa.  Entah apakah ketiga mentor itu tau kalau saya sangat menginginkan kesempatan yang sedang mereka bicarakan, sehingga untuk meceritakannya kembalipun seakan-akan ini didramatisasi. Cerita ketiga disebutkan, k.sinta langsung menyebutkan judul ceritanya. “15 ribu” wah, meleleh sudah detakan galeter didadaku tadi, tegang mencair. Saya sangat senang mendapatkan kesempatan sebagai penulis sekaligus sutradara dari apa yang berawal dari pemikiran sendiri. tapi jagan salah, anugrah dan tantangan itu tak terhenti disini. Masih ada yang lebih parah, klimaksnya masih jauh. Tapi berhubung sekarang sudah jam 1 lewat 5 dinihari, dan saya sedang tidak di kos atau makassar, makanya saya harus tidur untuk beradaptasi dan menghargai keluarga lain yang sudah tidur sejak jam 9 tadi. Besok saya akan melanjutkan tulisan ini. Dada kau yang membaca tulisanku.
_-_-_-

Minggu 27 juli 2014, suara takbir silih berganti dengan suara yang berbeda, setiap muslim mungkin akan tau jika mendengar suara takbir jenis ini, “ini adalah simbol dari lebaran, baik lebaran idul fitri maupun idul adha. Entah mungkin aku sudah terlalu angkuh atau apalah, menganggap ini formalitas atau semacam budaya belaka. Padahal sudah jelas-jelas suara itu berarti “Allah Maha Besar” tapi itu terdengar samar, sepasang hedaset menutupi telingaku, dialiri lagu2 lagu kesukaan, terkadang aku terhanyut didalamnya, menggoyangkan kepala dan serasa ingin teriak mengikuti lagu, tapi tentu saja teriakan itu tak akan lulakukan disini layaknya saat saya benar-benar menikmati lagu “somebody that i used to know” miliknya gotye.
Oh iya, sebelum lupa. Saya akan mengukir lagi buah fikir saya yang masih tersisa mengenai makassar ini cinema, sebuah sejarah, sebuah awal, dan sebuah penemuan. Setelah cerita kami terpilih, begini, karena ini adalah catatan ku maka saya akan menceritakan subjektifitas saya saja, apa yang saya alami untuk menceritakan apa yang saya lihat pada diri saya. Itu artinya biarlah Barca dan Ayu menulis sendiri apa yang ia rasakan, kalaupun mereka tidak ingin menulisnya, itu berarti saya masih tetap tidak musti menceritakan mereka. Takut suudzon atau gosip, yah gosip dengan laptop. Hahahaha. Setelah cerita ku terpilih, maka setiap kami harus mempersempit lagi cerita ini, begitu banyak tips, masukan dari kepala yang berbeda, dan semua harus tertampung dimulut corong otakku, yang kemudian harus kupilih, harus kupertimbangkan. Sungguh aktifitas menguras otak yang sangat menyenangkan. Seingat ku film yang akhirnya berjudul “Takut Denda” ini berganti-ganti judul dari “15 ribu”, “hanya ingin tau (tugas negara)”, “Rak-rak Imaji, dan akhrinya sampai pada judul Takut Denda. Kembali ke alur, sebagai pemilik ide awal atau dasar cerita, beban ini terus mengekori, memborgol fikiranku, mengurung konsentrasiku, saya harus benar-benar bertanggung jawab untuk dapat menghasilkan sebuah cerita. Kemudian hari berganti dimana ada aku yang terus menghayal, memilah-milah masukan teman2 yang bisa saya tambalkan kedalam ceritaku yang bisa menyampaikan ide dalam otakku. Begitu pula dengan ilmu pengetahuan yang benar-benar baru, terlalu banyak pengalaman dalam menulis saja, konsultasi dengan mentor, hingga ahirnya cerita itu sampai pada draf 5, yang berarti cerita yang awalnya kuusung mengalami perombakan sampai 5 kali, hanya alur yang berubah, untuk menyesuaikan dengan kemampuan produksi, tapi ide atau gagasan yang ingin disampaikan semua bebas saya otak atik model penyampaian pesannya.

Yah seperti biasanya, sebuah hasil yang baik pasti telah melalui likaliku, tanjakan, dan tangga yang seakan tak berujung. Begitu pula bagi saya. Saya bekerja selaku sutradara dan pembuat cerita, dimana saya harus mampu bekerja sama dengan 5 orang teman timku, saya harus mampu membuat mereka yakin bahwa saya tidak memerintahkan mereka ketika saya meminta sesuatu yang musti ada didalam cerita. Sebab mereka juga adalah siswa worksop seperti saya, mereka tidak digaji untuk bisa mengikuti mau ku, tak ada yang membayar mereka. Alhamdulillah 90% mereka ternyata kooperatif dengan apa yang ada dalam cerita, mereka mau bekerja sama, karena memang tugas mereka adalah untuk itu. Namun sekali lagi, bukan hidup kalau tak ada ujiannya, ternyata yang selalu kontra dan berlawanan dengan ide-ide ku adalah produserku sendri, Ima. Seharusnya produser dan sutradara adalah pasangan tugas yang harus mampu berkolaborasi karena mereka berdualah yang menjadi kepala dari sebuah produksi. Berbagai macam ketidak cocokan terpampang jelas, bisa dibaca oleh orang lain. Sebenarnya saya tidak ada masalah dengan bertolak belakangnya cara berfikirku, proses produksi semakin dekat, kami bekerja secara tim untuk mencari lokasi, pemain, dan perlengkapan lain syuting. Yah ternyata ima sudah tidak mampu menahan ketidaksukaannya terhadap saya, menurutku dia itu cemburu, dia tidak senang dengan terpilihnya cerita saya, karena dialah yang ingin dipilih ceritanya sekaligus menjadi sutradara, mungkin harapannya juga terlalu tinggi, sehingga kekecewaannya juga sangat tampak dan berapi-api membakar disekelilingnya, karena dia harus menuruti keinginanku, itu wajar, karena saya yang paling tau ceritaku, mereka boleh dan wajar memeberi saran, tapi wajar pula jika saya menolak. Kesimpulan bahwa ia cembutu bukanlah suudzonyang tiba-tiba muncul, saya tidak pernah berfikir tentang hal seperti ini sejak awal saya berkelompok dengan dia, saya baru berani ketika saya memasang2kan hasil cerita ku dengan dia, dan inilah kesimpulannya, dia cemburu, dan tak sebatas dalam hatinya, ia berkoar mengeluarkannya. Menceritakan saya ke mentor dan teman2 lain, tentunya keburukanku. Sejak awal time dan nana mengkonfirmasi kepada diri saya yang dibalut dalam kata-katanya ima kemudian ia lontarkan ke mereka. Saya sontak heran, kaget. Oh ternyata ada yang menaruh perhatian lebih, mengkritik, dan menjelekkan kenormalan sikapku dibelakang.

Seperti biasa pula, menurutku ini adalah kewajaran hidup, tak semua orang akan senang dengan kita, saya tentunya seperti biasa, akan bersikap normal, tidak mungkin saya bersandiwara menjadi baik untuk mengemis penilaian baik seseorang, saya sudah melakukan ini pada beberapa situasi, bersikap normal, dimana orang-oramg disekitar ku menuntut saya menjadi orang yang baik sesuai standar yang ada dalam fikiran mereka. Yah saya bersikap normal. Tak kubalas rasa bencinya itu, untuk apa coba, saya tidak akan mendapat hadiah uang jika mampu membalas benci dengan benci yang lebih besar. Dia terus bercerita debelakangnku. Arif itu nda becus, tdk ontime, tidak memperhatikan pekerjaan, kurang fokus, main-main terus. Hahaha yah itulah saya, yang diceritakan, itulah saya yang ada didalam otak entah orang dari mana berasal itu, yang tiba-tiba muncul dan memasifkan keburukanku, mungkin ia berharap mendapat dukungan dari orang yang telah ia perdengarkan, mendukung untuk menjatuhkan saya. Yah arif yang busuk itu ada disampingku, ia berlalu lalang dalam fikiran beberapa orang yang selalu kutemani bercanda.

Lucu, entah sikap apa yang memang telah dijadikan sebagai standar perlakuan baik jika seseorang memperlakukan kita seakan-akan kita pernah membunuh orang tuanya. Tapi bagi saya, orang yang terlalu sering bercerita tentang orang lain tanpa dia tau dirinya siapa, adalah tindakan yang amat sangat lucu. Luculah, bagaiaman bisa dia menjadikan standar baik dan buruk tentang perlakuan seseorang berdasarkan apa yang ada didalam kepalanya. Bagaiman bisa seseorang sangat ingin agar orang lain berkelakuan seperti apa yang ia inginkan. Hahahah. Maka ceritalah saya sepuas anda yang ingin menceritakan saya, karena itu adalah bahan lelucon yang amat sangat menghibur. Saya tau siapa yang layak mengkritik, dan menghina saya, yah, siapa saja yang mampu mengkritik saya dengan cara yang sopan dan telah melakukan apa yang ia sarankan. Selain itu alam bawah sadarku akan dengan sendirinya  menerima apapun yang bahkan yang hanya sekilas terlintas sebagai hal yang baik. Tak perlu terlalu meniru cacing yang kepanasan, karena saya pun tidak tertarik menaruh perhatian yang tinggi terhadap semua orang, beberapa orang atau bahkan satu orang untuk mencari kekurangannya, memakan kekurangan itu, lalu membagikannya ke orang lain. Mungkin produser itu tak tau bawha setiap manusia dicipatakan dengan keunikan masing-masing,  diciptakan sama caranya seperti ia diciptakan, jadi ia tak perlu memaksa orang lain mengikuti buah fikirannya, yang jelas-jelas fikiran itu digodok sejak kecil dengan cara yang berbeda hingga ahirnya saya dan dia ketemu di kelas belajar MIC.
Ahirnya suatu hari, akumulasi bencinya menggunung. Kronologisnya begini, kami telah menemukan lokasi syuting yang pas, diantang , Nipa-nipa. Saya dan dia janjian jam 2 untuk ketemu di lorong masuk antang karena dia hanya menggunakan angkot dan dia akan menjadikan dirinya beban supaya saya mau rela mengantarnya. Bukan Arif kalau tepat waktu, saya lambat mungkin 15 menit ketika saya sampai ditempat janjian dan saya belum solat duhur. Tapi ternyata dia juga belum ada dilokasi, seharusnya dialah yang tepat waktu karena dia yang membutuhkan saya, kira-kira kira itulah hukum yang berlaku secra universal, dimana yang membutuhkan seharusnya lebih ngotot, tapi saat tidak membutuhkan lagi, bolehlah pergi, hahahahah. Saya telpon dia, katanya ban pete-pete nya kempes, dan dia masih ada di pintu 1, itu artinya dia akan masih sangat lama, sementara dia tidak tepat waktu, saya belum solat dan menunggu ditempat yang panas, tentu saja saya tidak akan menunggu lebih lama layaknya saya menunggu pacar saya. Saya langsung pergi mencari masjid untuk solat duhur sekalian untuk beristirahat menunggu. Yah ... ternyata dia marah, katanya sih marah besar, dia tidak mau berkelakuan normal, bahwa dia sangat membutuhkan tumpangan, kita sudah janji dan dia tidak tepat waktu, dia malah bertingkah layaknya dialah yang paling sibuk, yang bekerja sendiri, yang memikirkan kami semua, yang siang malam mengerjakan film ini. Jadi ekspresi marah itu ia benarkan, ia berhak marah. Hahah ini semaakin lucu saja, dia semakin hobby menceritakan kejelekanku, sekan-akan ia memuntahkan semua kebencian terhadapku yang entah dari mana asalnya. Dia bahkan bbm an sama nana yang ada bersama saya, nana lalu menunjukkan bbm itu ke saya, Astagfirullah. Kenapa ada orang yang baru beberapa minggu lalu saya kenal, tapi sudah sangat membenci ku, bahkan dia menggunakan nama orang lain untuk melegitimasikan sikap nya itu. Saya hanya tertawa, semacam ada perasaan senang, tapi sesekali terpancing. Untung Una dan Nana selalu menahan dan membei pengertian. Mungkin itu bisa jadi berandil tapi juga tidak.

Malam itu kami ada pertemuan kelompok, ada K.ammank yang bertindak sebagai pembimbing, tapi saat ini lebih nyaman dijadikan teman. Suasananya memang sangat tidak nyaman, cuma ode yang tidak hadir, kami dipersilahkan bercerita tentang masalah yang kami hadapi. Ia, si produser kemudian mengambil kesempatan pertama, menurutku kejadian disiang tadi sudah menjadi sebatas lelucon saja, ternyata tidak bagi dia, dia menceritakan semua, hal yang sama sekali tak kusangka, dia langsung menghujam ku, menembakiku dengan wajah menyebalkannya, dengan kata-kata yang tidak terkontrol, ia mengulitiku dengan subjektifitas pendeknya, saya sangat heran mengapa Arif menjadi seburuk yang ia fikir, Arif itu kemudian menari telanjang dimeja pertemuan, menanggalkan pakaiannya dan berkelakuan seakan tak ada orang, sangat memalukan Arif yang ada diotak anak itu. Sementara saya terus tertawa, saya pura-pura tidak mendengar kata-kata kotor yang ia alamatkan tepat ke saya, “sudala.... setang...” ya saya mendengarnya jelas, tapi samar darimana sumbernya, apakah itu mulut wanita ?, ataukah orang gila ?, mulut orang terdidik ?, yang jelas itu adalah pertama kalinya ucapan kotor mencumbuiku didepan umum, didepan team, didepan ammank yang saat itu masih saya segani. Saya terus mendengarnya berharap ia akan segera mengehentikan sampah-sampah yang tumpah dari mulutnya yang mulai berbusa. Tapi ternyata dia semakin menjadi, mungkin Arif di otaknya bukan lagi anak yang tidak beratnggung jawab, tidak becus, dan tidak serius, tapi juga Arif ternyata dungu, bodoh, tak berdaya dan autis yang mau menerima semua kemarahan tanpa perlawanan, mau mendengar semua tuduhan dengan senyuman. Jajajajhahahahah, makanya ia semakin menjadi, sangat jelas ada semacam darah yang sangat panas mengalir dari bawah menuju kepalaku, saya mulai terpancing. Tapi untungnya saya masih menganggap ini lelucon. Saya berusaha menghindari ini, saya turun ke lantai dua dan lalu menyapu-nyapu, tapi saya meminta izin untuk pulang, padahal bote ja, saya Cuma mau membuat ia terus bicara tanpa harus saya dengar, sama sekali tak ada manfaat, mungkin saya akan berdosa bila mendengr kata-kata yang sangat tidak bermanfaat itu.

Setelah merasa cukup, dan saya telah mendapat telfon darai ammank untuk segera kembali ke forum dan menyelesaikan masalah. Ya .. sembari menahan tawa, saya kembali kelantai 3, astagggaaaa,, ternyata dia masih bicara, bahkan mulai menangis sambil bicara kotor. Melihat itu, terus apakah saya akan merelakan diri menjadi kambing hitam ? what the*tiiiiitttt...* saya mulai membalas kata-katanya, tentunya yang berwibawah lah, sedikit ilmiah dan teori. Saya heran dengan rasa benci yang menjadi-jadi dalam dirinya, sumpah saya sangat heran, entah apa yang telah ia lalui hingga mampu tiba pada titik semacam itu, aneh. Saya terpancing, seperti biasa, perkataan akan sedikit keras tapi berbobot jika dipelumasi oleh sedikit rasa marah , sedikit pembenaran.
Malam itu, kemudian menjadi malam yang menjadi buah bibir diantara kami, menjadi perbincangan bagi mereka, dan bagi saya ini benar-benar sangat menganggu, semenjak awal kujalani, menggati ide cerita, memutar balikkan imajinasi, menghayal-hayal hingga sampai draft 5, semua itu bukanlah maslah, itu sangat menyenangkan. Hingga ahirnya klimaksnya ternyata malam itu, itulah ujiannya, saya harus berhadapan dengan orang semacam itu, berhadapan dengan manusia semacam itu yang menjadi produser ku. Seandainya forum malam itu berjalan normal, dan setiap kami bisa dengan leluasa menyampaikan isi hati seleluasa si produser, maka saya akan mengatakan “masalah saya dari awal dan mungkin sampai akhir Cuma 1, harus berurusan dengan si produser itu”. Dan jika itu didengarkan entah apalah jadinya, untung saja itu hanya niat, niat yang masih ada sampai saat ini.

Masalah lain selanjuttnya cuma jadi rentetan yang mengikuti klimaks dimalam itu, saya mulai membalas rasa bencinya, saya sangat tak nayaman jika harus bicara atau bahkan hanya sekedar melihat mukanya jika berbicara, itu bertahan sampai saat ini. Entah itu dendam atau apa, yang jelas saya sangat merasa tidak nyaman. Terlalu banyak perdebatan selanjutnya, perdebatan yang timbul karena ia terus merasa dia lah yang paling memikirkan film ini, yang paling all out. Apa ? secara indie, dia tidak benar2 melakukan tugasnya sebagai produser film, yang membiayai semua produksi, sama sekali tidak, dia hanya berlatih, dan latihan itu biasa saja saya lakukan jika harus merangkap sebagai sutradara sekaligus produser, sebenarnya dialah yang dangat tidak terlalu penting dalam tim ini jika dibandingkan dengan Una kameramen, Ode soundrecordis, Nana costum dan Adil set, bahkan Usman yang bertugas membantu kami itu lebih penting jika dibandingkan apa yang dilakukan produser itu. Dia hanya mepersulit dan membuat buah fikiran yang sangat memusingkan yang seharusnya tidak perlu ada. Yahh, dia sangat kreatif membuat orang pusing.

Kemudian, selanjutnya adalah masa2 pemutaran film yang sangat membanggakan bagi saya, terharu, sesekali airmata hampir jatuh, tapi saya akan menceritakan besok malam. Insyallah. Berhubung besok pagi2 lebaran dan sekarang sudah jam stngah 12, saya akan mencari2 makan ulu didapur baru tidur,, asslamualaikum


Mencoba TAU Diri

Mencoba TAU Diri

Selamat membaca dengan siang atau malam, atau apapun waktu dan makna yang kau berikan padanya saat sedang membaca ini. Siapapun kamu yang sedang membaca ini, saya sedang tidak berbicara kepadmu. Sebab terlalu mengurung rasanya jika harus ku bayangkan siapa yang akan membaca ini, lalu aku menyesuaikan segala bentuk komunikasi ku, itu akan benar-benar merenggut fokusku untu membicarakan diriku, ya, AKU. Sejak sedari atas lembaran ini, hingga ketikan diahir ini, aku terus berubah, caraku memaknai dan yang pada gilirannya mempengaruhi sifat dan tingkah ku. Ahir-ahir ini, saat berkendara, entah mengapa aku selalu terpaut dibidang putih yang berisikan hal-hal tentang beberapa bagian pemikiranku, lalu aku tersadar, ternyata aku hanya terlalu sering menceritakan orang lain, menceritakan kejadian lain dengan subjektifitasku. Aku membicarakan kepergian Nanna dan silih bergantinya orang-orang yang rela kusayangi, membicarakan sifat dan karakter orang lain, lalu ya.. aku belum menceritakan diriku, aku belum memberi subjektifitas terhadap diriku.

Lalu biarkan kuceritakan tentang apa yang kufikirkan tentang diriku saat ini, saat aku meminta bantuan musik agar aku yakin bahwa aku sedang menilai diriku.
Entah ingin memulai dari mana, untuk membicarakan sesuatu yang informasinya sangat banyak dikepalaku, entah seperti apa ketika tumpukan informasi itu berlomba ingin diceritakan olehku, ternyata sangat sulit menceritakan diri sendiri daripada menceritakan orang lain, apakah ini karena aku terlalu mengenal dan menghimpun terlalu banyak informasi tentang diriku, atau justru aku sebenarnya tak mengenal siapa aku sebenarnya.

Oke ini benar-benar sulit untuk menceritakan siapa aku secara sistematis, tapi yang paling aku sadari saat ini, aku sedang melawan rasa EGOIS ku. Telah banyak waktu yang kubiarkan untuk membuat diriku senang sendiri, memaksa orang lain untuk mengikuti apa yang kuyakini benar, merasa kalah saat pendapat orang lain ternyata lebih dapat diterima. Aku sering berbohong kepada orang-orang yang menyayangiku hanya untuk mencuri kenikmatan lalu menghabiskannya sendiri. Aku selalu bersikap pura-pura tidak mengetahui sesuatu, derita orang lain disekitarku jika aku hawatir hal itu akan menganggu kenikmatanku.  Hingga keegoisanku itu menjadi rahasia umum, bahkan menjadi hal yang terlebih dulu diketahui oleh banyak orang lain dari pada diriku sendiri. Ya, lalu seiring dengan evolusi yang terus berkecamuk didalam diriku, berkat bantuan-bantuan dari buku, dari keperihan, dari kekecewaan, dari sadisme yang merupakan dampak dari ego itu, aku mulai belajar untuk merubahnya, mungkin menguranginya tapi bukan menghilangkannya. Aku hanya berusaha bersifat tidak mementingkan diri sendiri, saat aku sedang sadar bahwa aku sedang belajar untuk tidak terlalu egois. Lalu aku rela lebih menderita untuk membuat orang lain bahagia, aku rela bersusah untuk membuat orang lain nyaman, aku rela meluangkan waktu untuk kepentingan orang lain. Meski terkadang aku merasa menjadi menganak tirikan diriku, tapi aku sedang mendarah dagingkan sosial dalam setiap gerakku. Konsekuensi kuserahkan seutuhnya ke Allah, entah apakah ini bernilai pahala atau tidak, yang jelas aku sedang mereduksi kekurangan ku.

Menyadari bahwa sebelumnya kita terlalu egois, lalu ingin merubahnya, ternyata tak semudah memahami kalimat-kalimat Mario Teguh. Kecamuk iri saat melihat orang lain tersenyum dari buah perih yang kita persembahkan kadang menjadi petaka, ketika orang tersebut nampak beranggapan bahwa kita tak melakukan apa-apa untuknya. Yah meski terkadang itu terjadi, tapi aku berusaha membujuk diriku, bahwa belajar itu tak akan pernah mudah untuk menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Aku ingin sikap sosialku menjadi tinggi dan mendarah daging, hingga ahirnya suatu saat nanti, aku terbiasa menolong dan berkorban untuk orang lain, bertindak secara otomatis, dan berfikir aku sedang tidak melakukan tindakan yang mengharap diberi nama oleh orang lain sebagai sebuah kebaikan, tapi aku bertindak karena itu membuatku senang.

TERIMA KASIH. Kau tau, mungkin aku sedang mendapatkan beberapa hasil belajarku. Kata terimakasih benar-benar lebih sering terasa mengganggu bagiku. Menolong orang lain dan dibalas dengan perkataan itu serasa mengurangi esensi nya, membuatku menyadari bahwa aku telah berbuat sesuatu yang membuat orang lain bahagia. Mungkin balasan yang lebih tepat dari seorang yang telah berbuat baik, adalah membalasnya dengan perlakuan yang lebih baik. Bukan melulu berterimakasih dan mempermasalahkan bantuan orang lain dengan kata-kata, yah mungkin ini hanya anggapanku saja, tapi saya benar-benar sering merasa terganggu ketika seseorang membuatku sadar bahwa aku telah melakukan sebuah bantuan padanya. Mungkin aku dengan pemikiranku bahwa kebaikan adalah dibalas kebaikan bukan ucapan, harus merealisasikan itu. Sembari juga berprasangka baik dengan ucapan terimakasih, dan tak menganggapnya sebagai sebuah kebiasaan atau basa basi belaka.

Saat ini, setelah meluangkan waktu, fikiran, tempat dan uang sebagai pengurus HIMIKOM, saya kembali diangkat menjadi Dewan Pertimbangan Organisasi. hal yang paling baru kukenali dari diriku adalah, ternyata aku tak berbakat dan mungkin benar-benar tak berbakat menduduki posisi sebagai seseorang yang dengan pemikirirannya memaksa atau setidaknya mengharap orang lain secara resmi untuk mengikutinya. Mungkin ke egoisanku telah bercampur dengan rasa tidak enak, dan terlalu menghargai pemikiran orang lain saat ini. Dan aku merasa tidak tepat lagi untuk menduduki posisi itu. Hal ini berbeda saat menjadi pengurus, sebab aku berusaha meyakinkan orang lain dengan fikiranku yang yakin bisa ku realisasikan. Konteksanya saat ini adalah, saya harus membuat orang lain berfikir seperti caraku, dimana aku hanya cukup bicara, mungkin buah fikirku itu akan membuat orang lain sebagai pengurus yang tak digaji akan merasa kesulitan. Ini benar-benar terasa setelah dua kali aku mengadakan pertemuan dengan pengurus sebagai DPO. Terlalu berat bagi saya menuangkan gagasan. Ada beberapa gagasan yang berhasil kukeluarkan dengan  berusaha menggunakan jembatan kata yang menurutku ramah. Apakah aku sedang secara otomatis lagi masuk dalam “sekolah dari Allah” yang baru ? atau tingkatan yang baru.

Dalam dua kali pertemuan itu, saya memiliki gagasan yang kuyakini dapat kulakukan jika aku berada diposisi mereka, tapi itu selalu tertahan. Ini benar-benar terasa menyiksa untuk menahan sebuah gagasan dengan terlalu banyak pemikiran bahwa akan membuat orang lain susah, sebab saat bersamaan mereka pun memiliki pemikiran sendiri yang menurut mereka dapat mereka lakukan. Mungkin sebenarnya aku telah benar sejauh ini, namun adaptasi belum berjalan dengan sukses secepat ini.

Hal yang lain dariku adalah bahwa saya benar-benar lemah dalam berpolitik, Usman mengatakan bahwa pemahaman ku tentang politik praktis saat ini adalah pemahamana yang berbahaya, mengingat berpolitik sudah bukan tontonan di tv dan bacaan buku saja, tapi dengan umurku saat ini, politik sebenarnya telah sedang ada di sekelilingku, diperankan oleh orang orang yang mungkin sangat dekat denganku. Mengatakan bahwa aku tidak berminat mengetahui politik adalah bukan jawaban yang tepat dari ku, mungkin aku terlalu lugu, tidak peka, dan yang paling menonjol adalah, aku benar-benar menganggap semua orang adalah baik. Saya tidak yakin akan digelincirkan oleh orang lain demi kepentingan mereka, seperti konsep politik yang ada di televisi. Selain itu, saya merasa bersalah jika ingin mengangkat kepentinganku bersamaan dengan mengorabankan orang lain. Secara harfiah, aku lemah untuk melakukan ini baik dalam kehidupan nonformal maupun tatanan formal semacam organisasi. tapi dilain hal, saya ingin menjadi seorang pemimpin, paling tidak mengepalai sektor yang memayungi film dibawah birokrasi negara. Aku ingin memenangkan mereka yang sama-sama memiliki hobby dengan ku dan telah lama bertarung melawan pendeskriminasian, pandangan sebelah mata, atau penganak tirian dari pemerintah hingga saat ini. Namun untuk masuk dipemerintahan, politik adalah jalan yang paling memungkinkan. So mungkin terlalu dini untuk mengatakan akau lemah, aku harus belajar mengurangi kelemahan diriku yang telah kuketahui, seperti Ke EGOISAN ku. G nihgt . Sabtu 7 Maret jam 12.33 di Antang)

Dimanakah Hari Kemarin

Dimanakah Hari Kemarin

Garis baru, hari yang baru, gelap kini ada disekelilingku, kecuali dibawah atap rumah yang ada beberapa lampu dibawahnya. Hari ini adalah aliran dari jutaan hari yang telah kulalui (Rabu 25 februari 2015). Sempat aku berfikir, kemana jutaan waktu yang telah kulalui itu, yang dilalui manusia. Betapa banyak kejadian yang sangat spesifik yang pernah benar-benar dihargai atau yang tidak terpedulikan, kemana semua itu. Mungkinkah sebenarnya ada semacam arsip raksasa dari semua itu ? dimana semuanya tersimpan rapi, bukan hanya beberapa kejadian yang berkesan, tapi kejadian yang mungkin sangat berarti tapi hanya sekilas berlalu, semuanya. Tapi dimana ?. jika kita menjawab semua itu ada didalam otak kita, dimana otak itu ada didalam raga kita, sehingga kapanpun dapat terakses, lalu bisakah kita mengingat semuanya secara terinci, kira-kira sandal apa yang kita gunakan tepat 250 hari yang lalu, hari apa pada saat itu, kita sedang bersama siapa, apa yang sedang kita lakukan. Bisakah kita mengingatnya , jika semboyan “semua tersimpan dalam memori” menjadi landasan kita menjawab semua pertanyaan yang mungkin tidak penting diatas ?.

Lalu jika kita menjawab bahwa waktu waktu itu terseleksi dan hanya beberapa waktu dan peristiwa yang berkesan saja yang bisa kita ingat, lalu bagaimana dengan Firman Allah yang mengatakan “barang siapa yang melakukan sebesar biji zara pun kebaikan maka dia akan melihatnya, dan barang siapa yang melakukan sebesar biji zara pun keburukan maka ia akan melihatnya”, yang berarti segalanya akan kita pertanggung jawabkan. Sebab mari kita melihat, atau mari kita cari, dari sekian banyak kelakuan sehari-hari kita, aktifitas apa yang sengaja kita lakukan dan itu tidak memiliki muatan sebuah kebaikan atau keburukan, mari kita mencari aktifitas apa yang bebas dari hal yang baik atau buruk. Menrut saya, jika sesuatu bukan kebaikan, maka itu adalah keburukan, begitu pula sebaliknya. Kita mengenal sebuah istilah “subhat” yang defenisinya dimetaforakan sebagai sebuah pohon milik orang lain yang buahnya jatuh ditanah kita. Atau seorang yang menemukan uang yang ia tak tau siapa pemiliknya. Bukankah keduanya itu meskipun berada di area abu-abu tapi kita tetap diberikan petunjuk untuk bagaimana untuk bertindak. Dan membicarakan petunjuk, maka membicarakan pengharapan atas apa yang harus dilakukan, melanggarnya hanya akan memberikan konsekuensi yang diganjar dengan dosa. Lalu apa yang telah kita lakukan, semuanya dimasa lalu, apakah semuanya hanya akan tersimpan dalam catatan malaikat ?

Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya “Psikologi Komunikasi” telah menjelaskan tentang penyimpan peristiwa yang disebut memori, namun ini sungguh sangat rumit untuk menganalogikan proses kerja pengingatan seperti sebuah mesin yang harus melalui Short Term Memori (pengingat jangka pendek) lalu jika itu sangat berarti maka ia akan masuk kedalam Long Term Memori (memori jangka panjang), yang keduanya mengindikasikan bahwa akal kita meskipun luas, tapi saat bersamaan ia juga tidak luas.

Nah itu lah yang terfikirkan olehku sepanjang hari ini, dimana semalaman saya tidak tidur lalu tertidur jam tujuh pagi dan baru bangun jam tiga sore ( saya Cuma bangun solat baru lanjut tidur). Saat saya mengambil wudhu solat duhur, dimana terasa tekanan pada kepala bagian belakangku, aku terfikir tentang kejadian beberapa jam lalu dimana saya sedang beramai-ramai di kantor Meditatif lalu tiba-tiba saja saya sendiri didalam wc ini, lalu kemana semua orang tadi. Mengingatnya seakan-akan saya sedang berhayal, persis sama dengan perasaan saat saya membayangkan hal yang tak pernah benar-benar terjadi.

Ok, lalu mari kita bertanya lagi, jika masa lalu itu entah tersimpan dimana, lalu masa depan itu juga dimana, apakah semua yang akan terjadi nanti itu adalah hal yang tiba-tiba, sebab pernahkah kamu berencana dan apa yang kamu rencanakan persis sama dengan apa yang terjadi, jika tidak kurang, maka ia akan lebih, itu yang akan terjadi. Lalu mengapa hal itu bisa terjadi, apakah secara otomatis atau kebetulan ?


Ahirnya aku baru saja sadar, bahwa aku sebagai manusia memang benar-benar lemah. Meskipun saya sadar bahwa semua yang telah, sedang dan yang akan terjadi itu telah tercatat dalam Lauhil Mahfudz, telah digariskan oleh Zat yang menciptakanku, tapi saat ini dan mungkin akan bertahan dengan anggapa seperti ini, bahwa kita adalah “saat ini”. Dengan jumlah jam yang saya lalui hingga saat ini saya berumur 22 tahun yang sangat banyak, dengan berbagai rencana yang mungkin ketinggian dimasa depan, kita hanya memiliki kesempatan “saat ini”. Kendali kita adalah apa yang sedang kita lakukan, dan akan berdampak pada masa depan, sekecil apapun itu, seperti firman Allah yang berjanji akan memperlihatkan kepada kita semua yang telah kita lakukan. Lalu saya yakin, bahwa kau setuju, masa lalu tidak akan tersentuh lagi , ia akan menjadi seperti yang telah kita lalui dengan jutaan rahasia disana. Dan tak satupun dari kita yang masih mamiliki “iman” yang dapat menebak apa yang akan terjadi beberapa menit kedepan. Kita tidak ingin mendahului yang kebanyakan berisi kekeliruan dari apa yang telah diatur oleh Allah. Lalu ternyata kita sangat tidak berdaya dihadapan Allah tanpa bantuannya. Ternyata inilah yang terjadi dari apa yang tadi siang ku hayalkan didalam wc saat berwudhu, saya sedang ingin menarik kesimpulan, bahwa waktu itu teramat pendek, karena kita adalah kita “saat ini”. Maka jangan menunda-nunda, lakukan kebaikan yang bisa dilakukan SEKARANG. Ok saya solat isya dulu paeng, karena belumpaka solat ini bro. Hhahaha.

Penghayal Realistis

Penghayal Realistis

Jum’at 8 agustus 2014. Sudah 5 hari saya di Makassar, di sekret HIMIKOM tapi belum ada tanda-tanda teman2 yang di kampung akan segera kembali ketempat ini. Hanya Usman disini, dia tidak pulang kampung, entah pertimbangannya apa sehingga ia mau melewatkan hari penuh suka cita yang biasanya dibayar mahal oleh beberapa orang agar mampu menikmatinya bersama keluarga, merakyakan kemenangan lebaran Idul Fitri. Usman, ia sedang tidur beberapa meter diseblah kiriku saat kutulis tentang dia, ku gosipi dia bersama jejeran tombol dan huruf laptopku yang beberapa  waktu lalu ku sangka rusak, tapi Usman memperbaikinya dengan begitu santai. Yah, membicarakan teman tak akan terlalu banyak mengisi tulisan ini, saya ingin kau mengenal saya lebih jauh, lebih dalam dan langka. Langka karena tak seorang pun yang akan mengenal siapa saya sesungguhnya, apa yang kufikirkan, apa yang kurasa dan apa yang kuinginkan, kecuali kamu yang sempat dan senang membaca hingga dilembaran ini (tulisan ini adalah satu dari sekian banyak suara yang kutulis tapi tetap kusimpan dan tidak ingin orang lain membacanya).

Jika kau membaca hingga semua, saya yakin kau sedang tidak ingin mencari teori, atau tambahan ilmu pengetahuan dari konsentrasi keilmuan yang ujung-ujungnya menjadi title sarjana dan seterusnya, yang menambah panjang namamu, yang rela dibayarkan oleh kedua orang tuamu, atau entah siapa yang mebayarknanmu hingga ahirnya kau dapat merakayakan keberhasilan mu dalam sebuah acara wisudah. Saya hanya mempersepsikan, menikmati subjektifitas, memanjakan hayalan ku untuk menguliti apa yang sebenarnya bukan sebenarnya. Tapi aku tetap menikmati, hayalan hayalan, atau apa yang tidak dirasakan oleh orang lain yang sama-sama denganku melakukan sebuah kegiatan, atau apa yang sama sekali tak terfikirkan oleh orang yang sedang duduk disampingku. Karena kita Manusia, saya merasa saya manusia, kali ini saya memang manusia. Allah membedakan kita dengan begitu banyak ciptaan lainnya hanya dengan akal, dengan fikiran, yang bisa menerka, yang bisa melihat sisi lain dari apa yang ada didepan mata kita. Allah memberikan potensi untuk kita menikmati semua, menjadi kuat, menjadi senang, dan memunculkan banyak pilihan dari sebuah masalah, sejak dari dalam, sejak dari fikiran kita. Itulah kita dan itulah saya. Saya begitu senang membuat semua yang ada diluar diriku menjadi milikku, menjadi anugrah, karena akal kita bisa melakukan itu.

Mungkin kamu mulai berfikir bahwa saya ini penghayal, malas dan apatis, saya ini tidak realistis. Yah itulah hal yang kamu hasilkan karena kamu memiliki akal, karena kamu bisa menilai saya. Itu adalah hak kamu, tapi itu tidak sepenuhnya aku. Jika kamu menilai saya terlalu penghayal dan tidak realistis, maka kamu sedang menjadi kamu dan meminjam beberapa diriku. Penilaian adalah milik kita, dan sebenarnya kita, bukan objek. Dan itulah yang saya lakukan dengan anugrah Allah, saya sedang menjadi begitu banyak hal yang kunilai, menjadi mereka dalam diriku, dan ini sangat mengasyikkan. Inilah dunia yang menghidupkan saya seuhtuhnya ahir-ahir ini, tidak terlalu berumus, tidak ada perkalian atau pembagaian nomor-nomor yang ahirnya akan menyimpulkan bahwa saya sedang sedih atau senang. Jika barang mu hilang, barang yang sangat berharga, barang yang mahal, maka jika kau menggunakan angka, jika kau mempertimbahngkan perasaan mu berdasakan harga, maka hasilnya kau akan sedih, akan marah, akan tidak bersyukur. Lalu mengapa Tuhan terus bertanya “fabi ayyi alaa irabbi kumatu kazziban” maka nikmat Rabb mu yang mana yang akan kau ingkari ?. mungkin kamu akan menjawab saya tidak merasakan kenikmatan Rabb karena teman sekampusku menggunakan mobil smentara saya naik motor, teman ku menggunakan motor dan saya berjalan kaki, atau temanku mampu berkuliah ditempat impiannya sedangkan saya hanya berkuliah di tempat biasa yang bukan impian ku, dan semua itu akan terus berlanjut, kamu tidak akan bersyukur karena kamu menggunakan angka. Mungkin kamu terlalu membandingkan harga dan seberapa mahal. Dan itulah mungkin jawaban mu kepada Tuhan mu, “inilah yang membuat saya tidak bersyukur”.

Tapi cobalah untuk sedikit merelakan angka-angka itu, cobalah berprasangka baik, cobalah menghayal, dan menerka, cobalah nikmati Anugrah Allah yang tidak dimiliki oleh malaikat yang terlalu suci, cobalah menikmati itu yang membedakan kita dengan hewan, tumbuhan atau semuanya selain manusia. Cobalah untuk menganggap kita sedang diuji ketika musibah melanda. Karena jika angka, maka kita akan selalu tidak bersyukur, apakah kamu  yakin bahwa mereka yang sedang tertiup AC, yang sedang terhalangi debu dan polusi jalan dalam sebuah mobil mewah, sementara kamu menggunakan motor butut dibelakangnya dengan bensin yang hampir habis dan sisa uang dikantongmu kau persiapkan untuk membeli makanan, apakah kau benar2 yakin mereka sedang bahagia ?. kamu bisa lebih bahagia dari mereka jika kau menyingkirkan angka itu dan menggunakan fikiran mu untuk menyalurkan semangat ke seluruh penjuru organ tubuh mu. Maka kamu akan senang, kamu akan menggila dengan kesenangan yang bersumber dari dalam dirimu, kamu akan tertawa, lalu bersyukur, lalu merasakan dunia yang begitu ramah dan sangat luas, karena kita ber Akal.

Hahahah, kamu mulai menilaiku sebagai penceramah, sebagai mahasiswa yang idealis, atau sok tau, mungkin yang sedikit lebih ekstrim, arif itu gila. Yah maka jadilah itu, jadilah dirimu yang menilaiku, itu hak mu, otak mu ada dalam ragamu sejak lahir, maka tak mungkin saya memaksamu untuk menyesuaikan dengan apa yang diinginkan otakku yang berada dalam ragaku sejak lahir. Saya tidak sedang menceramahimu, saya hanya mengganti kata “aku” menjadi “kamu” diparagraf atas. Karena itu beberapa kudapat dari apa yang kulihat, dan beberapa sudah kualami, lalu beberapa saya ingin menjadi seperti itu. Karena kita hidup dan terus dipaksa untuk melihat angka. Mmmmmm... mungkin saya akan menggunakan kata “saya” bukan “kita” atau “kamu”. Karena semua ini adalah apa yang saya lihat dan nikmati. Yah lanjutt..... saya sedang berada didunia yang penuh angka. Saya sedang berada dilingkungan yang menganggap bagus sebuah barang jika itu berharga mahal, padahal apa yang kugunakan dengan harga yang jauh lebih murah sangat membuat saya nyaman. Yah,, saya selalu terpengaruh kedalam semua itu, kedalam angka, dan selalu tidak bersyukur. Tapi ketika saya kembali ke Akal ku, hayalanku, ke sugesti dalam diriku, maka saya akan bahagia, sangat bahagia memarkir motorku yang setengah mati kubeli dengan mangumpulkan uang dibawah matahari, disamping motor besar yang kuimpikan.

Ketika Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk dapat menghayalkan saya mengendarai sebuah mobil berharga triliunan, dengan perasaan senang, disampingku ada orang yang sangat kusayangi, mengapa saya harus membeli nya sementra angka yang kumiliki tak sanggup untuk semua itu. Mensyukuri angka yang kumiliki dan menghayalkan angka yang dimiliki orang adalah obat penawar. Adalah caraku menjawab pertanyaan Allah “tidak ada Tuhan, semua yang kau beri dan ciptakan adalah hal yang kusyukuri”. Yah
Semua itu sangat sulit, jika kau menilaiku munafik, yah kau benar. Saya munafik jika mengatakan saya sebersyukur itu. Saya tidak agamais, masih terlalu banyak perintah yang kubaiakan meskipun kufikirkan. Saya sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk memberitaumu seperti apa seharusnya kau hidup. Karena kita semua sudah memiliki Al-Quran dan Hadis, namun karena saling menasehati dalam kebaikan adalah hal yang terpuji maka itulah yang sedang kucoba.

Nah, mungkin saya akan menympulkan apa yang saya sebut-sebut diatas, soalnya sebentar lagi solat jum’at.
Realistis, adalah hal yang sangat penting, saya tidak ingin egois dengan terlalu menikmati hayalan. saya tidak ingin beronani dengan fikiranku yang didalamnya aku sedang menjadi raja, sementra kenyataannya saya tertinggal, saya sedang tidak mengetahui hal-hal baru yang diketahui orang disampingku. Saya tidak ingin tidur dalam hayalanku dengan kasur yang sangat empuk, sementara realitanya beribu anak sedang kepanasan, haus dan lapar lalu mereka sangat sulit untuk mengobati itu, sementara wakil-wakil mereka sedang berada diruangan ber Ac dan membuat proposal permintaan dana untuk mereka yang kelaparan tadi seperti yang ia lakukan sejak puluhan tahun lalu. Saya tidak mau menggunakan mobil berharga triliun sementara nyatanya kemiskinan disekitarku masih sangat gamblang oleh mataku.


Fikiran adalah sumber dari apa yang saya lakukan, asal semua senyum, dan tawa yang menggila. Fikiran menurutku adalah milik setiap kita, ia memiliki sisi yang mustinya dipadukan dengan begitu kompak, Hati. Fikiran dan Hati lah yang menurutku harus mengandung angka, bukan barang. Mereka (akal dan hati) yang akan kucoba memberikan angka, seberapa peka orang disekitarku terhadap sosial, seberapa cerdas mereka, seberapa bijak kah mereka, seberapa toleran kah mereka, maka hasilnya adalah motivasi untuk terus maju. Saya tidak mau menjadi apatis ditengah dunia yang terus maju. Saya hanya mencoba memperbaiki semua dari dalam, dari fikiran dan perasaan, untuk mengeluarkan sensasi baik kepada setiap orang yang coba menilaiku. Tapi satu hal yang saya camkan adalah bahwa saya adalah mahluk sosial yang akan terus dinilai, namun bukan berarti saya tak memiliki paradigma sendiri yang akan saya gunakan untuk menjalani hidup. Artinya, saya menjalani apa yang membuatku nyaman, sejauh itu tak melanggar norma agama, budaya, nilai, dan hal-hal lain yang mendatangkan kebaikan.