Sabtu, 28 Maret 2015

Cerpen : PENERIAK di BALIK TOA yang MELANKOLI



PENERIAK di BALIK TOA yang MELANKOLI
 Malam terus mendaki, tak henti berjalan memasuki sepi yang teramat nampak. Gelap dengan rakus menguasai anak-anak cahaya yang tak berani terlalu lama menantang. Mendung menghitam dan menghalangi rembulan ditanggal empat juni. Hanya satu-satu lirih bunyi kendaraan coba memecah sepi. Malam tak lama lagi berlalu, namun saat inilah ia menunjukkan klimaks dari keberadaannya, hening.
Setidaknya itulah yang terasa oleh Haikal, ketika waktu menunjukkan jam tiga dinihari. Ia masih terjaga dalam kurungan sebuah kamar kos. Tetangga kamarnya sedari tadi seperti hilang bersama waktu-waktu yang terlahap malam. Suasana inilah yang selalu ditunggu Haikal untuk membaca beberapa buku sosial dan sesekali menulis kisah hidupnya yang selalu ditempa oleh buku dan organisasi, ia menggores pandangan hidupnya.
Secangkir kopi hitam sudah menampakkan permukaan ampasnya. Asap rokok memenuhi ruangan itu. Jendela dan pintu kamar sudah tertutup sejak jam duabelas malam saat Haikal pulang dari kampus. Ia seharian mengadakan konsolidasi untuk aksi demonstrasi esok lusa yang mengatas namakan aliansi seluruh organisasi kampus menuntut salah satu kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Lagi-lagi ia ditunjuk sebagai jendral lapangan. Baginya bertindak sebagai Kordinator Lapangan dan Jendral Lapangan adalah peran yang sudah sangat lumrah, bahkan hampir seluruh aksi besar kampus ia turut serta dan sering menjalani peran itu. Sudah sejak dua tahun lalu ia dilirik oleh senior-senior yang mendeklarasikan diri sebagai aktivis, ketika Haikal pertamakali berorasi dengan mata merah dan suara yang lantang saat semester tiga mewakili organisasi fakultasnya. Sejak saat itu ia sering diajak ketika ada kajian keilmuan ataupun konsolidasi aksi. Bahkan beberapa temannya menjuluki Haikal sebagai “junior emas” layaknya “anak emas” karena seringnya ia mengikuti para senior.
Tak sedikit pun wajah kelelahan atau kantuk terpancar dari wajahnya. Rambut gondrongnya terurai lepas menutupi punggung dan cambang dipipinya. Tubuh kurusnya dibiarkan tak terbalut. Sementara sepasang bibir yang dipayungi kumis tebal terus menghisap rokok. Ia sedang serius mengembara dalam pemikiran-pemikiran filsuf, ia sedang bercumbu dengan huruf-huruf dan menjamah lembaran-lembaran buku tebal ditangannya. Nampaknya Haikal sedang tak ingin berhenti, meski kopinya telah habis, biasanya dia membuat ulang jika sudah benar-benar ditaklukkan bacaan.
Berbagai macam judul buku bertumpuk disisi kasurnya yang melantai. Ada juga yang tersusun di meja kecil yang saat ini sedang ia hadapi. Buku itu adalah pemberian dan milik sendiri, Haikal tidak terbiasa meminjam buku orang. Kalau tertarik pada sebuah isu ia akan menanyakan judul yang bersangkuta, lalu memotong uang bulanan dari kampung untuk membeli buku tersebut. Tapi ia sangat senang jika ada teman atau juniornya yang ingin meminjam buku dan mengajaknya diskusi tentang buku yang telah ia baca.
Namun dari sekian ratus buku yang mewarna-warnikan kamarnya, ada sebuah buku yang selalu ia sembunyikan, ia menutupnya rapat, tak ada seorang pun yang tau tentang buku itu kecuali ia, buku yang keramat baginya, rahasia dan sangat privasi. Saat ini pun ia mulai lupa dengan buku itu. Tak pernah dijamahi lagi ditengah-tengah kesibukannya sebagai aktivis. Mengadvokasi rakyat yang menurutnya tertindas, aksi, diskusi, ataupun membawakan materi menjadi penghapus kebiasaannya dulu menulis atau membaca kembali isi buku itu. Ia sudah terlalu sibuk jika harus mengurus buku itu. Buku yang tak sekalipun ia disukusikan kepada siapapun selain Tuhan. Tapi ia tak sedikitpun lupa apa isi buku itu, ia tau persis apa maksud dari hamparan kata yang berlembar-lembar itu.
Buku yang berisi dirinya dan Fara yang harus terpisah setelah hampir enam tahun berpacaran. Fara menikah di usia mudah karena perjodohan orang tua. Haikal dengan hati yang sangat hancur kemudian melukis kembali tiap-tiap yang telah terliaht olehnya dari Fara dalam alunan huruf. Dengan sedih ia beronani dengan kata untuk menghadirkan kembali masa-masa bersama. Dengan harapan, ia terus bertanya mengapa semua itu harus terjadi padanya, bertanya kepada Fara yang tak mungkin menjawab. Ia berkali kali menuntut Tuhan untuk membuat kejadian itu tak terjadi. Semua ia tulis, hanya satu harapannya, Fara akan membaca buku itu. Karena untuk memiliki nya lagi tak mungkin. Sebab meski beratus bahkan jutaan lembar tertulis, kejadian itu tak akan mundur, dan memulai lagi dengan tidak seperti yang telah terjadi. Buku itu benar-benar tau Haikal sedang mengubur dirinya dengan aktifitas, ia sedang lari bersama pengetahuan-pengetahuan baru. Ia sedang berusaha lupa, dengan buku-buku bacaan. Hanya buku itu yang tau bagaimana Haikal memulai dirinya yang baru hingga kini ia menjadi orang yang disegani di kampus dan lupa dengan buku itu sendiri. Buku itulah yang tau persis transformasi Haikal hingga ia menjadi Mahasiswa keras yang selalu mempertahankan idealismenya.
Haikal terus membaca buku diantara dua tangannya, ia baru saja membuat kopi baru yang lebih hangat. Rupanya ia kembali larut dalam bacaan. Itulah sebabnya tubuhnya begitu kurus dibanding saat Maba dulu. Kamar pun semakin pengap dengan sudut-sudutnya yang dipenuhi asap. Tapi tidak bagi Haikal yang sedang gila dengan bukunya.
Hari aksi telah tiba. Sejak jam sembilan pagi, Haikal serta beberapa senior dan peserta berkumpul untuk konsolidasi ahir, sudah banyak polisi yang berjaga didepan kampus. Selaku jendral lapangan, ia bertanggung jawab penuh atas aksi ini, Haikal telah benar-benar paham akan peran dan konsekuensinya. Mereka kemudian berjalan menuju depan kampus yang memang menjadi langganan  lokasi penyampai aspirasi Mahasiswa di kampus itu.
Warna almamter kampus membanjiri jalan raya, tumpah ruah dengan motivasi yang mungkin seragam. Puluhan spanduk protes terbentang, bendera-beberapa organisasi yang bergabung dalam aliansi melambai-lambai. Jalan  mulai macet. Api dan asap hitam menggumpal tebal keudara dari tumpukan ban yang terbakar. Suara sumpritan polisi yang mengatur lalu lintas tenggelam dalam nyanyi-nyaian mahasiswa. Jalan pun semakin macet, jalur dua arah di jadikan satu arah karena yang satu menjadi lokasi aksi mereka. Mereka pun menahan sebuah mobil kontainer untuk dijadikan panggung orasi.
Panas membakar, bunyi dan asap kendaraan membuat hari terasa sempit sekali. Tapi tidak bagi mereka yang sedang riuh berteriak-teriak, “hidup rakyat !”. Korlap memulai orasi berteriak seperti tak ada lagi suara yang paling tinggi yang bisa ia keluarkan dari kerongkongannya. Haikal sedang berbincang dengan kepala satuan polisi yang mengawasi aksi mereka, ia membagi senyum simpul, sesekali tawa lepas. Sudah wajar jika ia dikenal oleh beberpa polisi, karena aksi besar ini entah sudah keberapa kalinya memunculkan batang hidung Haikal. Ia kemudian bersalam-salaman dengan beberapa polisi dan senior-seniornya lalu bergegas naik ke mimbar orasi.
“Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat”. Haikal memulai orasinya. Suara lantang pecah-kalahkan panas. Toa yang ia genggam erat menambah keras lagi suara yang berisi kalimat-kalimat retoris. Satu tangannya lagi menunjuk-nunjuk keatas, mata nya memerah. Urat-urat dilehernya bermunculan. Rambut gondrongnya terurai, sesekali tertiup angin dan melamba seperti bendera-bendera yang ada dihadapannya. Polisi, dosen dan peserta mendongahinya. Tak ada dari mereka yang berbincang satu sama lain, anak mata mereka sekalipun terpanah tepat ke sosok Haikal yang seperti kesetanan. Ia berbicara panjang lebar tentang pembelaan, hukum, dan celaan. Sesekali pula ia meneriaki dan mengarahkan mata nya yang melotot ke kumpulan Polisi yang baru saja tadi ia salami. Haikal kemudian menutup orasinya, tapi tidak dengan kata-katanya yang terus membakar semanagat para demonstran.
“hauska ini kanda, mau beli air dulu” . ujar Haikal kepada Aksal, senior yang sedari dulu membimbingnya, namun kini sudah lebih sering menjadi lawan debatnya. Tapi ia tak sedikitpun melunturkan rasa hormat kepada sosok yang telah “menemukannnya” yang baru.
“astaga, suruh ade-ademu itu banyaknya”, balas Aksal.
“biarmi kanda mereka dengar dulu orasinya teman-teman, lagipula adaji Pak.Korlap jaga dulu, na sebentar ja juga, ngapamie kanda, takutnya kehilangan”. Respon Haikal bercanda  kemudian berlalu tanpa menunggu lagi perkataan Aksal yang masih tertawa.
            Haikal melewati para pengendara yang sedang bermacetan, wajah murka dan ramah bergantian mereka lemparkan kepada Haikal yang baru saja mereka lihat berorasi. Tiba-tiba pintu sebuah mobil terbuka dihadapannya, seorang ibu-ibu turun menghadang Haikal. Ibu-ibu itu tergesa-gesa dan menangis, ada tetesan air mata yang jelas terlihat oleh Haikal di sepermukaan pipinya.
“nak.. nak.. minta tolong sai ka kodong, kasih lewat mobil ku nak” . ia masih ingin melajutkan permintaannya, tapi Haikal segera memotong
“waduh, minta maaf bu, nd bisa ka bu, ada aksi didepan, tunggu maki sebentar ,polisi atur ji lalu lintas, atau putar maki saja”. Haikal tersenyum ramah
“kasianika kasian nak, Polisi masih jauh disana. Menantuku mau melahirkan, na sudah 30 menit disini karena macet”.
“kenapaki tidak pake Ambulance, kalo ambulans pasti di kasih lewat ki bu”. balas Haikal lagi dengan wajah yang mulai khawatir dan ikut dalam arus kegelisahan ibu itu. Tiba-tiba tangan Haikal di tarik oleh ibu untuk melihat menantunya, berharap Haikal membantu nya dan memberikannya jalan diantara mahasiswa dan ban serta mobil kontainer yang menghalang didepan. Haikal terkejut, tapi tak melawan ibu iyang terus menangis itu.
            Haikal menyempatkan berkaca melihat dan merapikan rambutnya sebelum kaca pintu mobil bagian belakang itu perlahan terbuka. Nampak seorang laki-laki sedang menidurkan perempuan hamil dipahanya, ia pengusap-usap jidad perempuan itu dan membasuh cucuran keringatnya, sesekali mencium dan saling berbisik. Tangan mereka saling menggenggam erat. Wanita itulah menantu sang ibu yang masih merengek-rengek disamping Haikal, dan laki-laki itu anaknya atau suami si wanita.
            Haikal terpaku melihat pasangan suami istri itu, tak mendengar lagi ocehan si Ibu. tak ingat lagi membeli air minum, tak peduli lagi dengan aksinya beberapa meter didepan. Ia tenggelam, jauh. Matanya tak berkedip memandangi dua manusia didepannya. Lalu tiba-tiba perih mengiris-iris hatinya, sakit mengejek-ejek idealismenya, ia dengan lemah menikmati luka yang ternyata masih basah selama empat tahun. Ada butiran air yang tertahan sedari tadi diujung matanya, kali ini matanya memerah bukan karena marah atau orasi.  Mereka yang ada di hadapannya adalah orang yang ia kenal, laki-laki itu sedikit, tapi tidak dengan yang wanita. Wanita yang namanya selalu ia tulis di antara jutaan puisi dalam bukunya. Wanita yang ia harap menjawab semua pertanyaan dan membaca tulisan dalam bukunya. Wanita itulah yang membuatnya seperti sekarang, menjadi tak dikenali lagi karena rambut, kumis dan cambang yang memenuhi wajahnya. Entah wanita itu memang tak kenal lagi, berpura-pura atau memang karena kondisinya yang sementara ingin melahirkan.
            Haikal kemudian berlari ke titik aksi, meninggalkan ibu yang tak henti mengoceh dan mobil itu. Tak terasa air matanya terjatuh, untung saja hanya beberapa tetes, dan tak seorang pun melihat hingga ia mengusapnya. Tanpa permisi ia mengambil toa dan menyuruh adik-adiknya membuka jalan untuk mobil itu. Ia tak peduli lagi dengan idelismenya seperti beberapa menit yang lalu.
            Ahirnya mobil itu lewat tepat didepannya, namun kali ini semua kacanya tertutup. Haikal sempat merekam bayang samar dibalik kaca dua sejoli yang terus berpegangan. Ia melihat hingga mobil hilang dari ujung penglihatan. Aksi kembali berlanjut. Tapi tidak dengan Haikal, ia terus melihat kearah jalan yang ditinggalkan Fara bersama suaminya, tanpa peduli dengan kawan-kawan nya yang terus bertanya siapa yang sedang ingin melahirkan didalam mobil itu. Ia mengingat semua kembali, partikel-partikel tentang ia dan Fara, ia mengingat kembali buku rahasia itu, serta isinya yang bercerita tentang sisi melankoli nya saat ini yang selalu berteriak dibalik toa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar