PENERIAK di BALIK TOA yang MELANKOLI
Malam
terus mendaki, tak henti berjalan memasuki sepi yang teramat nampak. Gelap
dengan rakus menguasai anak-anak cahaya yang tak berani terlalu lama menantang.
Mendung menghitam dan menghalangi rembulan ditanggal empat juni. Hanya
satu-satu lirih bunyi kendaraan coba memecah sepi. Malam tak lama lagi berlalu,
namun saat inilah ia menunjukkan klimaks dari keberadaannya, hening.
Setidaknya itulah yang terasa oleh Haikal, ketika waktu menunjukkan
jam tiga dinihari. Ia masih terjaga dalam kurungan sebuah kamar kos. Tetangga
kamarnya sedari tadi seperti hilang bersama waktu-waktu yang terlahap malam.
Suasana inilah yang selalu ditunggu Haikal untuk membaca beberapa buku sosial
dan sesekali menulis kisah hidupnya yang selalu ditempa oleh buku dan
organisasi, ia menggores pandangan hidupnya.
Secangkir kopi hitam sudah menampakkan permukaan ampasnya. Asap
rokok memenuhi ruangan itu. Jendela dan pintu kamar sudah tertutup sejak jam
duabelas malam saat Haikal pulang dari kampus. Ia seharian mengadakan
konsolidasi untuk aksi demonstrasi esok lusa yang mengatas namakan aliansi
seluruh organisasi kampus menuntut salah satu kebijakan yang dianggap tidak
berpihak kepada rakyat. Lagi-lagi ia ditunjuk sebagai jendral lapangan. Baginya
bertindak sebagai Kordinator Lapangan dan Jendral Lapangan adalah peran yang
sudah sangat lumrah, bahkan hampir seluruh aksi besar kampus ia turut serta dan
sering menjalani peran itu. Sudah sejak dua tahun lalu ia dilirik oleh
senior-senior yang mendeklarasikan diri sebagai aktivis, ketika Haikal
pertamakali berorasi dengan mata merah dan suara yang lantang saat semester
tiga mewakili organisasi fakultasnya. Sejak saat itu ia sering diajak ketika
ada kajian keilmuan ataupun konsolidasi aksi. Bahkan beberapa temannya
menjuluki Haikal sebagai “junior emas” layaknya “anak emas” karena seringnya ia
mengikuti para senior.
Tak sedikit pun wajah kelelahan atau kantuk terpancar dari wajahnya.
Rambut gondrongnya terurai lepas menutupi punggung dan cambang dipipinya. Tubuh
kurusnya dibiarkan tak terbalut. Sementara sepasang bibir yang dipayungi kumis
tebal terus menghisap rokok. Ia sedang serius mengembara dalam
pemikiran-pemikiran filsuf, ia sedang bercumbu dengan huruf-huruf dan menjamah
lembaran-lembaran buku tebal ditangannya. Nampaknya Haikal sedang tak ingin
berhenti, meski kopinya telah habis, biasanya dia membuat ulang jika sudah
benar-benar ditaklukkan bacaan.
Berbagai macam judul buku bertumpuk disisi kasurnya yang melantai.
Ada juga yang tersusun di meja kecil yang saat ini sedang ia hadapi. Buku itu
adalah pemberian dan milik sendiri, Haikal tidak terbiasa meminjam buku orang.
Kalau tertarik pada sebuah isu ia akan menanyakan judul yang bersangkuta, lalu
memotong uang bulanan dari kampung untuk membeli buku tersebut. Tapi ia sangat
senang jika ada teman atau juniornya yang ingin meminjam buku dan mengajaknya
diskusi tentang buku yang telah ia baca.
Namun dari sekian ratus buku yang mewarna-warnikan kamarnya, ada sebuah
buku yang selalu ia sembunyikan, ia menutupnya rapat, tak ada seorang pun yang
tau tentang buku itu kecuali ia, buku yang keramat baginya, rahasia dan sangat
privasi. Saat ini pun ia mulai lupa dengan buku itu. Tak pernah dijamahi lagi
ditengah-tengah kesibukannya sebagai aktivis. Mengadvokasi rakyat yang
menurutnya tertindas, aksi, diskusi, ataupun membawakan materi menjadi
penghapus kebiasaannya dulu menulis atau membaca kembali isi buku itu. Ia sudah
terlalu sibuk jika harus mengurus buku itu. Buku yang tak sekalipun ia
disukusikan kepada siapapun selain Tuhan. Tapi ia tak sedikitpun lupa apa isi
buku itu, ia tau persis apa maksud dari hamparan kata yang berlembar-lembar itu.
Buku yang berisi dirinya dan Fara yang harus terpisah setelah
hampir enam tahun berpacaran. Fara menikah di usia mudah karena perjodohan
orang tua. Haikal dengan hati yang sangat hancur kemudian melukis kembali
tiap-tiap yang telah terliaht olehnya dari Fara dalam alunan huruf. Dengan
sedih ia beronani dengan kata untuk menghadirkan kembali masa-masa bersama.
Dengan harapan, ia terus bertanya mengapa semua itu harus terjadi padanya,
bertanya kepada Fara yang tak mungkin menjawab. Ia berkali kali menuntut Tuhan
untuk membuat kejadian itu tak terjadi. Semua ia tulis, hanya satu harapannya, Fara
akan membaca buku itu. Karena untuk memiliki nya lagi tak mungkin. Sebab meski
beratus bahkan jutaan lembar tertulis, kejadian itu tak akan mundur, dan
memulai lagi dengan tidak seperti yang telah terjadi. Buku itu benar-benar tau Haikal
sedang mengubur dirinya dengan aktifitas, ia sedang lari bersama
pengetahuan-pengetahuan baru. Ia sedang berusaha lupa, dengan buku-buku bacaan.
Hanya buku itu yang tau bagaimana Haikal memulai dirinya yang baru hingga kini
ia menjadi orang yang disegani di kampus dan lupa dengan buku itu sendiri. Buku
itulah yang tau persis transformasi Haikal hingga ia menjadi Mahasiswa keras
yang selalu mempertahankan idealismenya.
Haikal terus membaca buku diantara dua tangannya, ia baru saja
membuat kopi baru yang lebih hangat. Rupanya ia kembali larut dalam bacaan. Itulah
sebabnya tubuhnya begitu kurus dibanding saat Maba dulu. Kamar pun semakin
pengap dengan sudut-sudutnya yang dipenuhi asap. Tapi tidak bagi Haikal yang
sedang gila dengan bukunya.
Hari aksi telah tiba. Sejak jam sembilan pagi, Haikal serta
beberapa senior dan peserta berkumpul untuk konsolidasi ahir, sudah banyak
polisi yang berjaga didepan kampus. Selaku jendral lapangan, ia bertanggung
jawab penuh atas aksi ini, Haikal telah benar-benar paham akan peran dan
konsekuensinya. Mereka kemudian berjalan menuju depan kampus yang memang
menjadi langganan lokasi penyampai aspirasi
Mahasiswa di kampus itu.
Warna almamter kampus membanjiri jalan raya, tumpah ruah dengan
motivasi yang mungkin seragam. Puluhan spanduk protes terbentang, bendera-beberapa
organisasi yang bergabung dalam aliansi melambai-lambai. Jalan mulai macet. Api dan asap hitam menggumpal tebal
keudara dari tumpukan ban yang terbakar. Suara sumpritan polisi yang mengatur
lalu lintas tenggelam dalam nyanyi-nyaian mahasiswa. Jalan pun semakin macet,
jalur dua arah di jadikan satu arah karena yang satu menjadi lokasi aksi
mereka. Mereka pun menahan sebuah mobil kontainer untuk dijadikan panggung
orasi.
Panas membakar, bunyi dan asap kendaraan membuat hari terasa sempit
sekali. Tapi tidak bagi mereka yang sedang riuh berteriak-teriak, “hidup rakyat
!”. Korlap memulai orasi berteriak seperti tak ada lagi suara yang paling
tinggi yang bisa ia keluarkan dari kerongkongannya. Haikal sedang berbincang
dengan kepala satuan polisi yang mengawasi aksi mereka, ia membagi senyum
simpul, sesekali tawa lepas. Sudah wajar jika ia dikenal oleh beberpa polisi, karena
aksi besar ini entah sudah keberapa kalinya memunculkan batang hidung Haikal.
Ia kemudian bersalam-salaman dengan beberapa polisi dan senior-seniornya lalu
bergegas naik ke mimbar orasi.
“Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat”. Haikal memulai orasinya. Suara lantang
pecah-kalahkan panas. Toa yang ia genggam erat menambah keras lagi suara yang
berisi kalimat-kalimat retoris. Satu tangannya lagi menunjuk-nunjuk keatas,
mata nya memerah. Urat-urat dilehernya bermunculan. Rambut gondrongnya terurai,
sesekali tertiup angin dan melamba seperti bendera-bendera yang ada
dihadapannya. Polisi, dosen dan peserta mendongahinya. Tak ada dari mereka yang
berbincang satu sama lain, anak mata mereka sekalipun terpanah tepat ke sosok Haikal
yang seperti kesetanan. Ia berbicara panjang lebar tentang pembelaan, hukum,
dan celaan. Sesekali pula ia meneriaki dan mengarahkan mata nya yang melotot ke
kumpulan Polisi yang baru saja tadi ia salami. Haikal kemudian menutup
orasinya, tapi tidak dengan kata-katanya yang terus membakar semanagat para
demonstran.
“hauska ini kanda, mau beli air dulu” . ujar Haikal kepada Aksal, senior yang sedari dulu membimbingnya,
namun kini sudah lebih sering menjadi lawan debatnya. Tapi ia tak sedikitpun
melunturkan rasa hormat kepada sosok yang telah “menemukannnya” yang baru.
“astaga, suruh ade-ademu itu banyaknya”, balas Aksal.
“biarmi kanda mereka dengar dulu orasinya teman-teman, lagipula
adaji Pak.Korlap jaga dulu, na sebentar ja juga, ngapamie kanda, takutnya
kehilangan”. Respon Haikal
bercanda kemudian berlalu tanpa menunggu
lagi perkataan Aksal yang masih tertawa.
Haikal melewati
para pengendara yang sedang bermacetan, wajah murka dan ramah bergantian mereka
lemparkan kepada Haikal yang baru saja mereka lihat berorasi. Tiba-tiba pintu
sebuah mobil terbuka dihadapannya, seorang ibu-ibu turun menghadang Haikal.
Ibu-ibu itu tergesa-gesa dan menangis, ada tetesan air mata yang jelas terlihat
oleh Haikal di sepermukaan pipinya.
“nak.. nak.. minta tolong sai ka kodong, kasih lewat mobil ku nak” . ia masih ingin melajutkan permintaannya, tapi Haikal segera
memotong
“waduh, minta maaf bu, nd bisa ka bu, ada aksi didepan, tunggu maki
sebentar ,polisi atur ji lalu lintas, atau putar maki saja”. Haikal tersenyum ramah
“kasianika kasian nak, Polisi masih jauh disana. Menantuku mau
melahirkan, na sudah 30 menit disini karena macet”.
“kenapaki tidak pake Ambulance, kalo ambulans pasti di kasih lewat
ki bu”. balas Haikal lagi dengan wajah yang
mulai khawatir dan ikut dalam arus kegelisahan ibu itu. Tiba-tiba tangan Haikal
di tarik oleh ibu untuk melihat menantunya, berharap Haikal membantu nya dan
memberikannya jalan diantara mahasiswa dan ban serta mobil kontainer yang
menghalang didepan. Haikal terkejut, tapi tak melawan ibu iyang terus menangis
itu.
Haikal
menyempatkan berkaca melihat dan merapikan rambutnya sebelum kaca pintu mobil
bagian belakang itu perlahan terbuka. Nampak seorang laki-laki sedang
menidurkan perempuan hamil dipahanya, ia pengusap-usap jidad perempuan itu dan
membasuh cucuran keringatnya, sesekali mencium dan saling berbisik. Tangan
mereka saling menggenggam erat. Wanita itulah menantu sang ibu yang masih
merengek-rengek disamping Haikal, dan laki-laki itu anaknya atau suami si
wanita.
Haikal terpaku
melihat pasangan suami istri itu, tak mendengar lagi ocehan si Ibu. tak ingat
lagi membeli air minum, tak peduli lagi dengan aksinya beberapa meter didepan.
Ia tenggelam, jauh. Matanya tak berkedip memandangi dua manusia didepannya.
Lalu tiba-tiba perih mengiris-iris hatinya, sakit mengejek-ejek idealismenya,
ia dengan lemah menikmati luka yang ternyata masih basah selama empat tahun.
Ada butiran air yang tertahan sedari tadi diujung matanya, kali ini matanya
memerah bukan karena marah atau orasi.
Mereka yang ada di hadapannya adalah orang yang ia kenal, laki-laki itu
sedikit, tapi tidak dengan yang wanita. Wanita yang namanya selalu ia tulis di
antara jutaan puisi dalam bukunya. Wanita yang ia harap menjawab semua
pertanyaan dan membaca tulisan dalam bukunya. Wanita itulah yang membuatnya seperti
sekarang, menjadi tak dikenali lagi karena rambut, kumis dan cambang yang
memenuhi wajahnya. Entah wanita itu memang tak kenal lagi, berpura-pura atau
memang karena kondisinya yang sementara ingin melahirkan.
Haikal kemudian
berlari ke titik aksi, meninggalkan ibu yang tak henti mengoceh dan mobil itu.
Tak terasa air matanya terjatuh, untung saja hanya beberapa tetes, dan tak
seorang pun melihat hingga ia mengusapnya. Tanpa permisi ia mengambil toa dan
menyuruh adik-adiknya membuka jalan untuk mobil itu. Ia tak peduli lagi dengan
idelismenya seperti beberapa menit yang lalu.
Ahirnya mobil itu
lewat tepat didepannya, namun kali ini semua kacanya tertutup. Haikal sempat
merekam bayang samar dibalik kaca dua sejoli yang terus berpegangan. Ia melihat
hingga mobil hilang dari ujung penglihatan. Aksi kembali berlanjut. Tapi tidak
dengan Haikal, ia terus melihat kearah jalan yang ditinggalkan Fara bersama suaminya,
tanpa peduli dengan kawan-kawan nya yang terus bertanya siapa yang sedang ingin
melahirkan didalam mobil itu. Ia mengingat semua kembali, partikel-partikel
tentang ia dan Fara, ia mengingat kembali buku rahasia itu, serta isinya yang
bercerita tentang sisi melankoli nya saat ini yang selalu berteriak dibalik
toa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar