Sabtu, 28 Maret 2015

CERPEN : Badut Sombong



Badut Sombong 

Raganya tak karuan, kekacauan hati dan fikirannya membuat tangannnya nampak memegang sana sini, ia menutup dan menggosok gosok matanya hingga tak terhitung, ia menggaruk seperti mengelupas kepalanya.  Alam runtuh disekelilingnya, angin berhembus mengejek dengan gelap langit yang diam-diam saja. Ia sangat merindukan pagi, berharap itu adalah hari yang baru baginya. Ia merindukan terang untuk mencuri beberapa cahaya yang bisa ia sembunyikan dalam kelam rasanya. Ia benar-benar kacau. Bagaiana tidak, setelah beribu bahkan jutaan langkah tertatih ia lakukan, ia telah merayap dan jatuh bangun berusaha meninggalkan lubang yang sangat serakah perenggut semua keceriaannya, tapi pada titik ini, ia dengan tanpa belas kasih terbawa kembali ke lubang yang serupa. Ia bingung, ia tak tau harus bertanya kepada siapa, mengapa semua kepedihan benar-benar mengurungnya saat ini, ia hanya ingin mendengar suara Tuhan, zat yang sedang coba ia salahkan, ia ingin mendengar suara dan jawaban langsung dari Tuhannya, ia benar-benar lemah sekarang, ia tak tau atau mungkin sudah merasa sangat letih jika harus mengulang semua perjuangannya, sebuah perjuangan yang panjang hingga ahirnya ia yakin bahwa ia telah menjadi sosok yang kuat, tapi ternyata anggapan itu salah.
Arham, merapatkan sepasang earphone dalam-dalam ke telinganya, ia tak ingin merasa berada ditengah tengah orang yang tak merasakan apa-apa seperti perasaannya. Ia menyendiri disalah satu kursi di sebuah kafe, untungnya jaringan wifi kafe itu tak bergabung dalam rombongan objek yang ia anggap musuh, sehingga ia bisa membuka vidio-vidio lucu di youtube untuk setidaknya membuatnya tambah murka menikmati perihnnya. Ya.. dia tau bahwa dia sedang perih dengan topeng yang sedang ia kenakan untuk menyembunyikan keperihan itu dari pengunjung kafe lain.
Lima tahun lalu, ia merasa telah gila saat wanita yang ia cintai seketika dinikahkan oleh kebudayaan yang dipercayai keluarganya dari suku Bugis. Arham tak ingin mengingat lagi semua itu, meski kenangan bersama pacarnya dulu masih tertata rapi disalah satu bilik asanya. Kala itu, ia sudah bisa berbicara dengan benda-benda, ia tersenyum dan tertawa hanya karena ia menganggap bantal dan kasurnya sedang bercengkrama dengan dirinya. Lalu ia menangis ketika tumpukan pakaian dikamarnya ia nilai sedang mengingatkannya pada mantan pacarnya yang telah menikah.
Waktu berlalu, lima tahun adalah saksi yang mengetahui siapa Arham, ia berjuang, mati-matian, ia tau bahakan jika hanya untuk berharap adalah hal yang sia-sia yang akan membuang-buang waktu. Lalu dia menjadi keras, ia menjadi periang, ia melihat benda dan manusia adalah teman, ia melihat dunia menjadi sangat luas. Ia berhasil keluar dari zona yang membuatnya remuk. Lalu ia merasa berkuasa atas dirinya, ia sesuka hati melakukan kehendaknya dan berani mempertanggung jawabkannya bahkan kepada Tuhan. Ia menjadi terpandang karena pemikiran-pemikiran dan lelucuannya yang selalu riang dalam situasi sulit disekitarnya. Mungkin ia benar-benar gila, atau mungkin telah tau bagaimana rasanya perih dan tak ingin lagi melihat kesana.
Hingga saat ini, saat ia masih merasa benar-benar kuat, saat ia masih sedang merasa bisa mengendalikan situasi, ia terpecundangi. Baru saja dikafe itu, Vara meninggalkannya, wanita yang beberapa minggu lalu membalas semua perasaannya, menjinakkan semua kekerasannya, mereka melakukan sangat banyak hal menggemibrakan beberapa hari. Mereka terpeluk asmara yang sangat menyenangkan, Arham semakin lupa bahwa ia pernah menjadi gila, dan semakin yakin bahwa ia telah berhasil menjadi orang yang kuat. Vara membongkar semua resah dalam sanubarinya, dalam relung-relung yang ia sembunyikan, dan beberapa senti didepannya Arham meratap, mendengar semuanya dan membayangkan semuanya. Ia luluh seketika, merasa sangat lemah tanpa daya, bahkan hampir terjatuh dan mungkin akan menarik perhatian pengunjung kafe. Vara akan menikah beberapa bulan lagi, dan perjodohan itu telah jauh disepakati oleh keluarganya bahkan saat Arham masih menikmati cinta dengan orang lain, ditinggalkan dan lalu ketemu Vara.
Dua minggu yang lalu, Arham sebenarnya telah tau secuil cerita tentang Vara dan perjodohan itu, tapi ia tak ingin mempermasalahkannya lebih jauh, ia merasa telah mencintai Vara dan akan mempertahankannya dalam situasi sesulit masa perjodohan pacarnya lima tahun lalu, ya.. Arham menikmati kesombongan anggapan tentang dirinya yang kuat dan intelektual. Tapi tidak sama sekali, Arham masih ingin menikmati cinta dengan Vara saat Vara mengucapkan semuanya secara tiba-tiba dan tak ingin melanjutkan percintaan yang ia anggap salah itu. Vara telah lebih dulu pasrah dengan budaya dan keluarganya, ia pasarah dengan laki-laki yang duduk manis menunggu urusan perjodohan selesai dilakukan oleh orang tuanya., dan mengacuhkan laki-laki yang sedang berusaha memilikinya dengan cara sendiri yang duduk tepat dihadapan tubuhnya.
Arham berjuang, meyakinkan Vara dengan beribu alasan yang terdengar jelas oleh pengunjung kafe yang duduk dibelakangnya. Luapan emosi meledak-ledak dan sangat terasa mencengkram hatinya, ia menyalakan rokok dan mengisapnya sangat dalam, ia benar-benar tak menyangka dan percaya ini terjadi. Lalu Arham menahan tawa di tengah-tengah lehernya, saat bersamaan ia berusah menjinakkan air mata yang tersa ingin meluncur di kedua matanya yang kini terus melihat lantai. Lucu dan sangat menyedihkan, itulah makna yang Arham sematkan pada kejadian yang tak ia sangka-sangka ini.
Bagi Vara, ini juga adalah hal yang menyesakkan, ia mencintai Arham, tapi ia merasa akan menjadi sedikit longgar jika menyisihkan Arham dan menunggu pernikahan itu terlaksana. Namun bagi Arham, anggapan Vara yang terus terucap itu benar-benar tak sama, ia kembali kedalam lumpur yang berusaha menggelamkannya dengan semua ucapan itu.
Arham lelah berucap dengan sikap Vara yang juga bertahan dengan anggapan akan ada hari cerah setelah ini, bagi dia dan Arham dengan pasangan masing-masing. Lalu Vara meminta maaf dan mengatakan ini adalah pertemuan terahir, dan tidak berhubungan setelah ini adalah jalan yang benar bagi mereka berdua, jalan yang akan dilalui Arham dengan ribuan pertanyaan entah kepada siapa, jalan yang membuatnya merasa seperti badut penghibur yang hanya berusaha menghibur orang lain agar mendapat perhatian, tapi saat hiburan itu mulai terasa biasa dan dia letih untuk terus bergerak, orang kan meninggalkannya dan mencari penghibur lain. Yah.. inilah Arham, si badut yang sombong dengan segala kekuatan yang telah ia raih saat melarikan diri dari luka lima tahun lalu, dan dihadapkan dengan luka yang sama dan lebih memalukan yang mau tak mau harus ia terima..
                                                                                                                                Makassa Sabtu 28 Maret 2015
                                                                                                                                                Arief Rcm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar