Badut Sombong
Raganya tak karuan, kekacauan
hati dan fikirannya membuat tangannnya nampak memegang sana sini, ia menutup
dan menggosok gosok matanya hingga tak terhitung, ia menggaruk seperti
mengelupas kepalanya. Alam runtuh
disekelilingnya, angin berhembus mengejek dengan gelap langit yang diam-diam
saja. Ia sangat merindukan pagi, berharap itu adalah hari yang baru baginya. Ia
merindukan terang untuk mencuri beberapa cahaya yang bisa ia sembunyikan dalam
kelam rasanya. Ia benar-benar kacau. Bagaiana tidak, setelah beribu bahkan
jutaan langkah tertatih ia lakukan, ia telah merayap dan jatuh bangun berusaha
meninggalkan lubang yang sangat serakah perenggut semua keceriaannya, tapi pada
titik ini, ia dengan tanpa belas kasih terbawa kembali ke lubang yang serupa. Ia
bingung, ia tak tau harus bertanya kepada siapa, mengapa semua kepedihan
benar-benar mengurungnya saat ini, ia hanya ingin mendengar suara Tuhan, zat
yang sedang coba ia salahkan, ia ingin mendengar suara dan jawaban langsung
dari Tuhannya, ia benar-benar lemah sekarang, ia tak tau atau mungkin sudah
merasa sangat letih jika harus mengulang semua perjuangannya, sebuah perjuangan
yang panjang hingga ahirnya ia yakin bahwa ia telah menjadi sosok yang kuat,
tapi ternyata anggapan itu salah.
Arham, merapatkan sepasang
earphone dalam-dalam ke telinganya, ia tak ingin merasa berada ditengah tengah
orang yang tak merasakan apa-apa seperti perasaannya. Ia menyendiri disalah
satu kursi di sebuah kafe, untungnya jaringan wifi kafe itu tak bergabung dalam
rombongan objek yang ia anggap musuh, sehingga ia bisa membuka vidio-vidio lucu
di youtube untuk setidaknya membuatnya tambah murka menikmati perihnnya. Ya..
dia tau bahwa dia sedang perih dengan topeng yang sedang ia kenakan untuk
menyembunyikan keperihan itu dari pengunjung kafe lain.
Lima tahun lalu, ia merasa telah
gila saat wanita yang ia cintai seketika dinikahkan oleh kebudayaan yang dipercayai
keluarganya dari suku Bugis. Arham tak ingin mengingat lagi semua itu, meski
kenangan bersama pacarnya dulu masih tertata rapi disalah satu bilik asanya. Kala
itu, ia sudah bisa berbicara dengan benda-benda, ia tersenyum dan tertawa hanya
karena ia menganggap bantal dan kasurnya sedang bercengkrama dengan dirinya. Lalu
ia menangis ketika tumpukan pakaian dikamarnya ia nilai sedang mengingatkannya
pada mantan pacarnya yang telah menikah.
Waktu berlalu, lima tahun adalah
saksi yang mengetahui siapa Arham, ia berjuang, mati-matian, ia tau bahakan
jika hanya untuk berharap adalah hal yang sia-sia yang akan membuang-buang
waktu. Lalu dia menjadi keras, ia menjadi periang, ia melihat benda dan manusia
adalah teman, ia melihat dunia menjadi sangat luas. Ia berhasil keluar dari
zona yang membuatnya remuk. Lalu ia merasa berkuasa atas dirinya, ia sesuka
hati melakukan kehendaknya dan berani mempertanggung jawabkannya bahkan kepada
Tuhan. Ia menjadi terpandang karena pemikiran-pemikiran dan lelucuannya yang
selalu riang dalam situasi sulit disekitarnya. Mungkin ia benar-benar gila, atau
mungkin telah tau bagaimana rasanya perih dan tak ingin lagi melihat kesana.
Hingga saat ini, saat ia masih
merasa benar-benar kuat, saat ia masih sedang merasa bisa mengendalikan
situasi, ia terpecundangi. Baru saja dikafe itu, Vara meninggalkannya, wanita
yang beberapa minggu lalu membalas semua perasaannya, menjinakkan semua
kekerasannya, mereka melakukan sangat banyak hal menggemibrakan beberapa hari. Mereka
terpeluk asmara yang sangat menyenangkan, Arham semakin lupa bahwa ia pernah
menjadi gila, dan semakin yakin bahwa ia telah berhasil menjadi orang yang
kuat. Vara membongkar semua resah dalam sanubarinya, dalam relung-relung yang
ia sembunyikan, dan beberapa senti didepannya Arham meratap, mendengar semuanya
dan membayangkan semuanya. Ia luluh seketika, merasa sangat lemah tanpa daya,
bahkan hampir terjatuh dan mungkin akan menarik perhatian pengunjung kafe. Vara
akan menikah beberapa bulan lagi, dan perjodohan itu telah jauh disepakati oleh
keluarganya bahkan saat Arham masih menikmati cinta dengan orang lain,
ditinggalkan dan lalu ketemu Vara.
Dua minggu yang lalu, Arham
sebenarnya telah tau secuil cerita tentang Vara dan perjodohan itu, tapi ia tak
ingin mempermasalahkannya lebih jauh, ia merasa telah mencintai Vara dan akan
mempertahankannya dalam situasi sesulit masa perjodohan pacarnya lima tahun
lalu, ya.. Arham menikmati kesombongan anggapan tentang dirinya yang kuat dan
intelektual. Tapi tidak sama sekali, Arham masih ingin menikmati cinta dengan
Vara saat Vara mengucapkan semuanya secara tiba-tiba dan tak ingin melanjutkan
percintaan yang ia anggap salah itu. Vara telah lebih dulu pasrah dengan budaya
dan keluarganya, ia pasarah dengan laki-laki yang duduk manis menunggu urusan
perjodohan selesai dilakukan oleh orang tuanya., dan mengacuhkan laki-laki yang
sedang berusaha memilikinya dengan cara sendiri yang duduk tepat dihadapan
tubuhnya.
Arham berjuang, meyakinkan Vara
dengan beribu alasan yang terdengar jelas oleh pengunjung kafe yang duduk
dibelakangnya. Luapan emosi meledak-ledak dan sangat terasa mencengkram
hatinya, ia menyalakan rokok dan mengisapnya sangat dalam, ia benar-benar tak
menyangka dan percaya ini terjadi. Lalu Arham menahan tawa di tengah-tengah
lehernya, saat bersamaan ia berusah menjinakkan air mata yang tersa ingin
meluncur di kedua matanya yang kini terus melihat lantai. Lucu dan sangat
menyedihkan, itulah makna yang Arham sematkan pada kejadian yang tak ia
sangka-sangka ini.
Bagi Vara, ini juga adalah hal
yang menyesakkan, ia mencintai Arham, tapi ia merasa akan menjadi sedikit
longgar jika menyisihkan Arham dan menunggu pernikahan itu terlaksana. Namun bagi
Arham, anggapan Vara yang terus terucap itu benar-benar tak sama, ia kembali
kedalam lumpur yang berusaha menggelamkannya dengan semua ucapan itu.
Arham lelah berucap dengan sikap
Vara yang juga bertahan dengan anggapan akan ada hari cerah setelah ini, bagi
dia dan Arham dengan pasangan masing-masing. Lalu Vara meminta maaf dan
mengatakan ini adalah pertemuan terahir, dan tidak berhubungan setelah ini
adalah jalan yang benar bagi mereka berdua, jalan yang akan dilalui Arham
dengan ribuan pertanyaan entah kepada siapa, jalan yang membuatnya merasa
seperti badut penghibur yang hanya berusaha menghibur orang lain agar mendapat
perhatian, tapi saat hiburan itu mulai terasa biasa dan dia letih untuk terus
bergerak, orang kan meninggalkannya dan mencari penghibur lain. Yah.. inilah
Arham, si badut yang sombong dengan segala kekuatan yang telah ia raih saat
melarikan diri dari luka lima tahun lalu, dan dihadapkan dengan luka yang sama
dan lebih memalukan yang mau tak mau harus ia terima..
Makassa
Sabtu 28 Maret 2015
Arief
Rcm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar