Jauh,
Merantau ke Dalam Fikiran Orang Lain.
Tangan Andi menjabat erat telapak ibunya, ia
melihat jabatan itu beberapa lama, haru mulai menderu, ada yang tertahan
diujung matanya. Ia bertahan dalam tatapan itu lagi lebih lama, ia menikmati
biru emosinya, ia mulai mencoba merayakan perpisahan itu dalam kelabu
langit-langit hatinya. Andi tak tahu, apakah ibu merasa hal yang sama. Tapi ia
yakin ibu merasakan hal yang mungkin lebih dalam dari apa yang ia fikirkan.
Sedari tadi ibu bercucuran air mata. Memberi nasihat yang tak sanggup lagi
didengarkan oleh Andi dengan baik, ia hanya mengangguk untuk menunjukkan bahwa
ia telah mengerti mengapa kali ini ia harus pergi jauh, sangat jauh
meninggalkan ibunya dan ayah yang sedang sakit-sakitnya karena usia. Ibu
melepas genggaman Andi, mengusap-usap rambutnya, lalu menghujani ciuman
diwajahnya. Tak puas dengan itu, ibu merangkul erat Andi yang nampak tak
sanggup lagi menahan air mata.
Anak berusia tujuhbelas tahun itu pun menggila
dengan tangisannya. Ia tak benar-benar mengerti seperti cara ibu mengerti. Tapi
Andi sangat mengerti bahwa ibu akan semakin perih jika ia tak mengikuti kemauan
ibu nya. Andi harus berkuliah di tempat yang sangat jauh. Tempat yang tak
pernah ia pijaki, tak ada gambaran sedikitpun tentang tempat itu dalam
benaknya. Dan nampaknya Andi tak lagi peduli seberapa pun rupa kota itu, ia
sedang menikmati pelukan hangat ibunya. Pelukan itulah yang menguasai semua
imajinasi Andi. Pelukan yang menambah rentetean alasan untuk membuatnya mesti ikhlas.
Lalu ibu menyudahi pelukan itu, ia tak ingin
berlama menunjukkan pertempuran rasa dalam hatinya, ia tak mau Andi
terperangkap dalam rasa sedihnya sehingga membuat bias maksud yang
sesungguhnya. Atau mungkin Ibu sendiri yang mulai terperangkap di rasa yang ia
hawatirkan menimpa anaknya.
Andi terkaget oleh teriakan teman bahwa ada
dosen. Ia merapikan sikapnya. Ini bukan kali pertama ia begitu jauh menjelajahi
masa lalunya. Mencumbui dengan sangat bebas masa kala ia terahir kali melihat
dan mendengar sosok ibunya. Hari ini tepat tujuh bulan ia berkuliah di tempat
yang dulu sama sekali tak pernah ia sangka begini suasananya. Terlalu
individualis, terlalu hedonis, terlalu etnosentris. Ia merasa benar-benar asing
sampai saat ini. Ia terus merasa dihujam oleh hal-hal baru dalam hidupnya. Tapi
ia tak tau harus berbuat apa, karena
memang ia tak begitu tertarik kepada semua itu. Satu yang sangat ia tanam dalam
keluguan sikap itu, bahwa ia harus kuliah saja dengan baik. Karena itu
perkataan yang paling sering Ibu ucapkan. Ia hanya mengingat suara dan wajah
ibu saat mengucap itu. Tak ada alat komunikasi yang dapat menghubungkan lagi ia
dengan orang tuanya yang tinggal di tempat yang sangat terpencil disalah satu
daratan Indonesia.
Perkuliahan dimulai. Andi nampaknya telah
beradaptasi dengan “kuliah” di kampusnya. Ia telah bisa melebur dengan ragam
cara Dosen mengajarkan sesuatu kepadanya. Tak seperti saat awal-awal, ia
benar-benar bingung kepada banyak karakter yang harus ia ikuti, patuhi agar
mendapatkan nilai yang bagus. Ia mulai sedikit merdeka dalam hal mengikuti
karakter-karakter tersebut. Tanpa ia sadari, dirinya pun turut menghilang
didalam kelas. Tak ada lagi ia didalam setiap kelas, hanya sebentuk raga yang
dikendalikan oleh seseorang dengan cara tertentu, dan cara yang lain oleh orang
yang lain. Namun bagi Andi itu sama sekali bukan masalah, ia mencari cara agar
bisa menikmati ketidak-adaan dirinya itu, ketidak-adaan yang setiap hari ia
harus hadapai. Karena baginya inilah cara untuk belajar, inilah cara untuk
memenuhi wasiat Ibu. Ia tak menemukan kata lain untuk menggambarkan diri dan
situasinya melainkan kata “normal”. Semua baginya hal yang wajar, sehingga tak
satupun orang yang berhak menganggunya untuk tidak seperti itu. Andi menutup
diri dari teman-temannya, dari senior yang mengajaknya untuk menjelajahi hal
baru, hal yang tak pernah ia dapatkan dalam ruangan kelas. Ia sangat takut jika
harus menodai keinginan Ibunya. Ia menutup rapat telinganya dari semua ajakan
selain kuliah.
Kemudian waktu berlalu semakin jauh. Ada Andi
dan cara berfikirnya yang natural ikut dalam pusaran maha dahsyat itu. Masa perkuliahan akan berakhir, tak lama lagi
ia akan menyelesaikan studinya. Dan ia bangga sebab ia bisa menyelesaikan
perkuliahan dalam waktu yang sangat singkat, dengan nilai yang sangat baik. Ia
benar-benar puas, karena ia telah benar-benar mahir mengikuti keinginan setiap
Dosennya. Ia tumbuh dewasa sebagai Mahasiswa yang tekun. Menghafal keinginan
setiap dosen, lalu menyelesaikannya dengan hal yang yang sudah diluar kepala.
Tapi ia terhenti dalam sebuah malam, ia ragu.
Ia tak tau harus berbuat apa lagi setelah perkuliahan ini. Ia cemas jika harus
masuk ke lingkungan dimana semakin banyak lagi orang yang harus ia ikuti, harus
dia buat senang dengan menjadi orang tersebut. Cita-cita yang sebelumnya sudah
terasa sangat dekat, sekejap luruh. ia kembali dalam fikirannya, mengamati
teman-temannya yang terlihat sangat bergairah, bersemangat meskipun nilai
perkuliahannya tak sebagus nilai Andi. Bahkan beberapa yang lain sudah bisa menghasilkan
uang sendiri.
Andi tertuduk sangat lama, dihadapan wajahnya
sudah ada skripsi yang berisi judul pemberian dosen nya, ia telah menyelesaikan
itu dengan cara-cara yang di inginkan oleh dosen. sebenarnya ia dulu sempat
menyangka bahwa ia sangat dimanjakan oleh perlakuan itu. Tapi kali ini ia mulai
berfikir siapa sebenarnya dirinya yang sesungguhnya. Ia mulai merasa bahwa
semenjak dulu ia telah mati, sejak ia benar-benar telah menghafal karakter
beberapa dosen dan mengerjakan sesuatu sesuai kainginan setiap karakter
tersebut.
Andi terpaku, ia menyadari bahwa satu-satunya
keahlian yang ia miliki adalah mengikuti dan membuat senang orang lain untuk
mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Lalu ia bertanya, inikah yang di inginkan
oleh sang Ibu yang jauh disana, merantau sangat jauh, jauh kedalam fikiran
orang-orang lain.
By : a.RIP
cerita yang sepertinya terinspirasi berat dari kehidupan nyata, ya.
BalasHapus