Kutipan Bermakna
Besar Yang Tak Bisa Dipertanggung Jawabkan
“Jadi orang gede enak, tapi susah
jalaninnya”, itu adalah sebuah kutipan dari sebuah
iklan keren di TV. Menulis, mungkin mengawali sebuah paragraf bahkan sebuah
tulisan yang cukup panjang dengan sebuah kutipan adalah sebuah kesalahan dalam
penulisan yang pakemnya ilmiah. Ya.. saya sudah mencoba melakukan itu,
mengawali kata pengantar dengan bahasa “tutur” di skripsiku, dan saya baru tau
ternyata itu salah ketika saya menghadapkan skripsi itu pada pembimbing. Saya sama
sekali tak pernah berfikir bahwa saya mengawali skripsi itu dengan sesuatu yang
salah, dengan sesuatu yang dianggap “menulis
sebuah percakapan” bukan “menulis
sebuah tulisan”. Saya benar-benar yakin bahwa itu adalah sebuah kata yang
sangat menarik untuk mengawali objek yang akan saya bahas di dalam skripsiku. Tapi
ternyata itu tidak ilmiah, sayang sekali. Berikut saya mengutip tulisan saya
sendiri dalam pembukaan kata pengantar skripsi. Ingat ini adalah tulisan yang
salah (hahaha,, berharap mendapat pembelaan)
“Pace dan Faelus memulai
elaborasinya tentang organisasi dalam buku mereka yang berjudul Komunikasi
Organisasi (2013) dengan menekankan term Subyektif dan Obyektif. Dua term yang
akrab disandingkan ini mengawali pembahasan mereka tentang organisasi yang
terhampar lebih dari limaratus halaman”
Tepatnya
itu bukan kutipan, kemarin saya sudah menghapus tulisan asli ku yang terekam
beberapa waktu lalu diawal skripsiku itu. Lalu menggantinya dengan keinginan
orang lain yang kurekam dalam tulisan ku. Tulisan yang kusebut “kutipan” diatas
adalah rekaman tentang hal yang kufikirkan saat ini, tentang fikiranku mengenai
tulisanku yang beberapa waktu lalu dianggap tidak ilmiah. Lalu saya
menggantinya dengan fikiran orang lain yang telah mempelajari bagaimana “seharusnya”
sebuah tulisan disebut ilmiah.
Nah
lalu kenapa dalam fikiran ku yang hendak kurekam dalam tulisan ini diawali
dengan sebuah kutipan. Parahnya itu
adalah kutipan dari perkataan seorang anak kecil dalam sebuah iklan kartu
telepon, entah siapa penulis skenario iklan itu, entah siapa nama anak kecil
yang mengatakan itu, entah siapa sutradara iklan itu, dan entah apa maksudnya. Sangat
jelas bukan merupakan tulisan ilmiah. Dan jika hal yang jelas ini saya bawa
kedalam hyperbola, maka saya akan mengatakan “tulisan ku ini benar-benar tidak ilmiah, tak bisa dipertanggung
jawabkan, dan jika ini adalah sebuah kata pengantar skripsiku, pembimbingku
akan melemparkan skripsi itu kawajahku setelah ia membakarnya dan apinya masih
menyala. Sehingga skripsi itu akan membakar wajah ku, akan merusak tubuhku, dan
saya dianggap wajar mendapatkan
perlakuan itu karena saya adalah orang yang sangat bodoh dan tidak bisa
mengaplikasikan teori-teori penulisan ilmiah yang menurut orang yang melempar
skripsi terbakar kewajahku itu telah ia ajarkan kepada saya”.
Siapa
sebenarnya yang membuat standar penulisan ilmiah itu ? apakah kira-kira ia
masih hidup saat ini ? mengapa ia menganggap pakem yang ia buat adalah hal yang
harus diikuti seluruh manusia agar tulisan mereka dianggap ilmiah ?. mengapa
setiap orang harus mengikuti fikiran orang itu ? mengapa fikiran orang itu
adalah syarat yang harus saya ikuti agar saya bisa menjadi seorang sarjana ?
apakah fikiran ku ini adalah hal yang sangat lemah yang tidak benar dan tidak
bisa dipertanggung jawabkan ? lalu mengapa saya disuruh meniliti ? mengapa saya
disuruh mengamati ? jika pada ahirnya saya menyerahkan hasil pemikiran itu
kedalam pakem yang telah dibuat seseorang yang mengatakan bahwa yang ia buat
adalah pakem ilmiah ? bukankah saat bersamaan saya dikekang ? tidak boleh
mengatakan apa yang saya fikirkan jika itu tidak sesuai dengan fikiran orang
yang berfikir telah menemukan standar penulisan ilmiah itu ?
Memang
benar, menjadi orang gede enak, tapi susah jalaninya. Terlalu banyak benturan,
terlalu banyak hal yang harus dikurangi muatannya agar dapat diterima oleh
orang lain. Terlalu banyak kepura-puraan yang harus ditunjukkan. Terlalu banyak
kamuflase yang harus dicitrakan. Terlalu dipaksa menjadi pengekor. Terlalu disuruh
menjadi pereaksi, bukan pengkreasi. Terlalu sering disuruh belajar saat sedang
disuruh menjadi pelagiat. Terlalu perkasa sistem yang disepakati sosial untuk
mewajarkan orang lain menganggap apa yang kita fikirkan adalah fikiran bodoh. Terlalu
diliumrahkan orang tua menganggap anak muda sebagai orang yang belajar, belajar
berarti belum paham, dan harus benar-benar diarahkan. Lalu jika begini, kapan
hal baru diperkenankan muncul dalam hidup ini. Kapan siklus pendidikan yang
membuat indonesia menjadi negara biasa-biasa saja ini terputus ?, padahal ia termasuk
negara dengan manusia paling banyak ini.
Kapan
kira-kira saya bisa bicara sesuai dengan pandangan saya, sesuai dengan
kontruksi hidup yang mempengaruhi caraku melihat sesuatu. Kapan saya bisa
melakukan itu dan saya tidak dianggap sebagai orang yang tidak pernah belajar
karena tak bisa mengaplikasikan teori dari seseorang yang entah bagaimana
prosesnya fikiran/teori orang itu terlegitimasi menjadi hal yang harus saya
ikuti ?
Memang
benar, jadi orang gede enak, tapi susah jalaninya. kita harus menjadi pendengar
peluh orang lain dan menunjukkan sikap bahwa kita sebenarnya tak punya masalah.
Padahal dalam hati kita sedang terlalu banyak hal yang menjanggal, termasuk
saat mendengar peluh orang yang menurut budaya harus dihargai itu. Kita harus
mengganti beberapa kali orang lain dalam pandangan kita yang kita anggap
sebagai panutan. Saya harus yakin bahwa saya adalah Arief, sebelum Arief lain datang dan kuyakini bahwa Arief inilah
yang Arief sesungguhnya, dan lalu Arief yang lain datang lagi, terlalu banyak
Arief datang dan ahirnya saya tidak tau Arief yang mana yang merupakan diriku.
Memang
benar, jadi orang gede enak, tapi susah jalaninya. Kita bisa menjadi perkasa
dan perangkai suasana, tapi tak terlalu lama kemudian tiba-tiba ada orang lain
yang membunuh kita. Dengan perjalanan hidup, kita tertempa dan memiliki
pandangan yang labil sampai pada suatu saat kita meyakini sebuah pandangan yang
harus kita perjuangkan. Tapi ternyata ada orang lain yang di beri kekuasaan oleh
alam yang jika pandangan yang kita
perjuangkan itu salah menurutnya, maka itu tidak boleh dihidupkan, harus
dimatikan.
Memang
benar, jadi orang gede enak, tapi susah jalaninya. Kita tidak boleh menangis
saat tersakiti, terpecundangi dan tersebelahmatakan. Sebab itu hanya akan
membuat orang lain lebih meremehkan kita. Beda dengan anak kecil, hanya butuh
menangis agar diberi susu. Seorang ibu atau siapapun mungkin akan sangat
hawatir saat melihat anak kecil yang menangis. tapi bagi orang “gede” jangan sekali-kali menangis untuk
mengharapkan bantuan orang lain. Menangis adalah pengharapan tertulus yang
hanya boleh dilihat oleh Tuhan.
“Jadi orang gede enak, tapi susah
jalaninnya”. Sebuah kutipan yang sangat dalam menurut
saya. Sebuah pemantik yang akan menyalakan terlalu banyak perbandingan antara
kita yang merasa “gede” dengan anak
kecil. Sebuah kata yang memaksa saya untuk merenung, “siapa saya sekarang ?”
apakah saya sudah “gede” ?. Sebuah konklusi dari iklan yang akan menimbulakan
perbincangan besar jika didiskusikan dengan orang-orang yang telah saling merasa
“gede”. Tapi sayang, kutipan itu adalah kutipan dari sebuah iklan, diucapkan
dengan bahasa daerah. Meskipun dia adalah sebuah kutipan besar menurut saya,
tapi ada sudut pandang yang akan membunuhnya. Yaitu sudut pandang penulisan
ilmiah, diyakini oleh beberapa orang yang terlegitimasi untuk menganggap kutipan
itu buruk secara generalisir jika secara
subyektif ia menganggapnya buruk. Kasihan, Kutipan Bermakna Besar Yang Tak Bisa
Dipertanggung Jawabkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar