Sabtu, 26 September 2015

Kutipan Bermakna Besar Yang Tak Bisa Dipertanggung Jawabkan

Kutipan Bermakna Besar Yang Tak Bisa Dipertanggung Jawabkan

“Jadi orang gede enak, tapi susah jalaninnya”, itu adalah sebuah kutipan dari sebuah iklan keren di TV. Menulis, mungkin mengawali sebuah paragraf bahkan sebuah tulisan yang cukup panjang dengan sebuah kutipan adalah sebuah kesalahan dalam penulisan yang pakemnya ilmiah. Ya.. saya sudah mencoba melakukan itu, mengawali kata pengantar dengan bahasa “tutur” di skripsiku, dan saya baru tau ternyata itu salah ketika saya menghadapkan skripsi itu pada pembimbing. Saya sama sekali tak pernah berfikir bahwa saya mengawali skripsi itu dengan sesuatu yang salah, dengan sesuatu yang dianggap “menulis sebuah percakapan” bukan “menulis sebuah tulisan”. Saya benar-benar yakin bahwa itu adalah sebuah kata yang sangat menarik untuk mengawali objek yang akan saya bahas di dalam skripsiku. Tapi ternyata itu tidak ilmiah, sayang sekali. Berikut saya mengutip tulisan saya sendiri dalam pembukaan kata pengantar skripsi. Ingat ini adalah tulisan yang salah (hahaha,, berharap mendapat pembelaan)

“Pace dan Faelus memulai elaborasinya tentang organisasi dalam buku mereka yang berjudul Komunikasi Organisasi (2013) dengan menekankan term Subyektif dan Obyektif. Dua term yang akrab disandingkan ini mengawali pembahasan mereka tentang organisasi yang terhampar lebih dari limaratus halaman”

Tepatnya itu bukan kutipan, kemarin saya sudah menghapus tulisan asli ku yang terekam beberapa waktu lalu diawal skripsiku itu. Lalu menggantinya dengan keinginan orang lain yang kurekam dalam tulisan ku. Tulisan yang kusebut “kutipan” diatas adalah rekaman tentang hal yang kufikirkan saat ini, tentang fikiranku mengenai tulisanku yang beberapa waktu lalu dianggap tidak ilmiah. Lalu saya menggantinya dengan fikiran orang lain yang telah mempelajari bagaimana “seharusnya” sebuah tulisan disebut ilmiah.

Nah lalu kenapa dalam fikiran ku yang hendak kurekam dalam tulisan ini diawali dengan sebuah kutipan.  Parahnya itu adalah kutipan dari perkataan seorang anak kecil dalam sebuah iklan kartu telepon, entah siapa penulis skenario iklan itu, entah siapa nama anak kecil yang mengatakan itu, entah siapa sutradara iklan itu, dan entah apa maksudnya. Sangat jelas bukan merupakan tulisan ilmiah. Dan jika hal yang jelas ini saya bawa kedalam hyperbola, maka saya akan mengatakan “tulisan ku ini benar-benar tidak ilmiah, tak bisa dipertanggung jawabkan, dan jika ini adalah sebuah kata pengantar skripsiku, pembimbingku akan melemparkan skripsi itu kawajahku setelah ia membakarnya dan apinya masih menyala. Sehingga skripsi itu akan membakar wajah ku, akan merusak tubuhku, dan saya dianggap wajar  mendapatkan perlakuan itu karena saya adalah orang yang sangat bodoh dan tidak bisa mengaplikasikan teori-teori penulisan ilmiah yang menurut orang yang melempar skripsi terbakar kewajahku itu telah ia ajarkan kepada saya”.

Siapa sebenarnya yang membuat standar penulisan ilmiah itu ? apakah kira-kira ia masih hidup saat ini ? mengapa ia menganggap pakem yang ia buat adalah hal yang harus diikuti seluruh manusia agar tulisan mereka dianggap ilmiah ?. mengapa setiap orang harus mengikuti fikiran orang itu ? mengapa fikiran orang itu adalah syarat yang harus saya ikuti agar saya bisa menjadi seorang sarjana ? apakah fikiran ku ini adalah hal yang sangat lemah yang tidak benar dan tidak bisa dipertanggung jawabkan ? lalu mengapa saya disuruh meniliti ? mengapa saya disuruh mengamati ? jika pada ahirnya saya menyerahkan hasil pemikiran itu kedalam pakem yang telah dibuat seseorang yang mengatakan bahwa yang ia buat adalah pakem ilmiah ? bukankah saat bersamaan saya dikekang ? tidak boleh mengatakan apa yang saya fikirkan jika itu tidak sesuai dengan fikiran orang yang berfikir telah menemukan standar penulisan ilmiah itu ?

Memang benar, menjadi orang gede enak, tapi susah jalaninya. Terlalu banyak benturan, terlalu banyak hal yang harus dikurangi muatannya agar dapat diterima oleh orang lain. Terlalu banyak kepura-puraan yang harus ditunjukkan. Terlalu banyak kamuflase yang harus dicitrakan. Terlalu dipaksa menjadi pengekor. Terlalu disuruh menjadi pereaksi, bukan pengkreasi. Terlalu sering disuruh belajar saat sedang disuruh menjadi pelagiat. Terlalu perkasa sistem yang disepakati sosial untuk mewajarkan orang lain menganggap apa yang kita fikirkan adalah fikiran bodoh. Terlalu diliumrahkan orang tua menganggap anak muda sebagai orang yang belajar, belajar berarti belum paham, dan harus benar-benar diarahkan. Lalu jika begini, kapan hal baru diperkenankan muncul dalam hidup ini. Kapan siklus pendidikan yang membuat indonesia menjadi negara biasa-biasa saja ini terputus ?, padahal ia termasuk negara dengan manusia paling banyak ini.

Kapan kira-kira saya bisa bicara sesuai dengan pandangan saya, sesuai dengan kontruksi hidup yang mempengaruhi caraku melihat sesuatu. Kapan saya bisa melakukan itu dan saya tidak dianggap sebagai orang yang tidak pernah belajar karena tak bisa mengaplikasikan teori dari seseorang yang entah bagaimana prosesnya fikiran/teori orang itu terlegitimasi menjadi hal yang harus saya ikuti ?

Memang benar, jadi orang gede enak, tapi susah jalaninya. kita harus menjadi pendengar peluh orang lain dan menunjukkan sikap bahwa kita sebenarnya tak punya masalah. Padahal dalam hati kita sedang terlalu banyak hal yang menjanggal, termasuk saat mendengar peluh orang yang menurut budaya harus dihargai itu. Kita harus mengganti beberapa kali orang lain dalam pandangan kita yang kita anggap sebagai panutan. Saya harus yakin bahwa saya adalah Arief, sebelum Arief  lain datang dan kuyakini bahwa Arief inilah yang Arief sesungguhnya, dan lalu Arief yang lain datang lagi, terlalu banyak Arief datang dan ahirnya saya tidak tau Arief yang mana yang merupakan diriku.

Memang benar, jadi orang gede enak, tapi susah jalaninya. Kita bisa menjadi perkasa dan perangkai suasana, tapi tak terlalu lama kemudian tiba-tiba ada orang lain yang membunuh kita. Dengan perjalanan hidup, kita tertempa dan memiliki pandangan yang labil sampai pada suatu saat kita meyakini sebuah pandangan yang harus kita perjuangkan. Tapi ternyata ada orang lain yang di beri kekuasaan oleh alam yang  jika pandangan yang kita perjuangkan itu salah menurutnya, maka itu tidak boleh dihidupkan, harus dimatikan.

Memang benar, jadi orang gede enak, tapi susah jalaninya. Kita tidak boleh menangis saat tersakiti, terpecundangi dan tersebelahmatakan. Sebab itu hanya akan membuat orang lain lebih meremehkan kita. Beda dengan anak kecil, hanya butuh menangis agar diberi susu. Seorang ibu atau siapapun mungkin akan sangat hawatir saat melihat anak kecil yang menangis. tapi bagi orang “gede” jangan sekali-kali menangis untuk mengharapkan bantuan orang lain. Menangis adalah pengharapan tertulus yang hanya boleh dilihat oleh Tuhan.

“Jadi orang gede enak, tapi susah jalaninnya”. Sebuah kutipan yang sangat dalam menurut saya. Sebuah pemantik yang akan menyalakan terlalu banyak perbandingan antara kita yang merasa “gede” dengan anak kecil. Sebuah kata yang memaksa saya untuk merenung, “siapa saya sekarang ?” apakah saya sudah “gede” ?. Sebuah konklusi dari iklan yang akan menimbulakan perbincangan besar jika didiskusikan dengan orang-orang yang telah saling merasa “gede”. Tapi sayang, kutipan itu adalah kutipan dari sebuah iklan, diucapkan dengan bahasa daerah. Meskipun dia adalah sebuah kutipan besar menurut saya, tapi ada sudut pandang yang akan membunuhnya. Yaitu sudut pandang penulisan ilmiah, diyakini oleh beberapa orang yang terlegitimasi untuk menganggap kutipan itu buruk secara generalisir  jika secara subyektif ia menganggapnya buruk. Kasihan, Kutipan Bermakna Besar Yang Tak Bisa Dipertanggung Jawabkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar