Jumat, 14 Agustus 2015

Kesamaan Internet dan Demokrasi



Selamat malam. Oke, saya akan menceritakan alasan saya dengan ucapan “selamat malam” pada pembuka kata ini. saat menulis ini saya sedang memikirkan beberapa hal yang muncul dari perjalanan panjang kesendirianku hari ini, dan saat ini adalah malam, mungkin anda sedang membaca ini pada saat siang atau pagi, mungkin juga subuh, entahlah. Tulisan yang saya posting untuk mengisi blog ku yang kekurangan tulisan, adalah tulisan yang kutulis dengan membayangkan saya sedang berbicara dengan orang-orang yang sedang online, meskipun saya sendiri tidak online, saya menyimpannya beberapa lama dan kadang-kadang tidak terlalu lama dilaptop, lalu mempostingnya ke blog saat saya mendapat jaringan wifi yang bisa membantu saya mengaploadnya, yah.. kasus tulisan ini sama dengan kasus semua tulisan yang ada di blog ku.

Menjadi blogger (ciyee blogger) yang sangat kesusahan mendapatkan jaringan internet memang sedikit merepotkan. Kita menulis sesuatu untuk diposting di blog, tapi saat bersamaan kita tak tau kapan akan mempostingnya. Sebelum melanjutkan dengan kalimat lain, saya mungkin tidak akan menggunakan kata “kita” lagi yang berarti keribetan ini adalah keribetan anda juga, ini adalah masalah saya. mungkin bagi anda yang memiliki wifi di rumah atau dikantor anda, atau mungkin bukan wifi milik anda tapi anda bisa terus mengaksesnya kapanpun anda mau seperti teman saya yang tinggal bertetangga dengan warkop, tidak perlu merasakan seperti saya. anda bisa langsung memposting tulisan anda, atau bahkan anda tak perlu lagi menulis di word tapi langung dilaman kosong blog anda, lalu mempublishnya. Mungkin anda memiliki waktu yang sangat berlebihan bercengkrama dengan blog anda dan bisa mempercantik tampilan blog anda, seperti yang kemarin kulakukan di kantor Jendela yang mempunyai wifi pribadi.

Seandainya saja ini adalah negara yang membebaskan biaya internet, seperti Cina atau Jepang (kalau saya tidak salah ingat, saya pernah membaca berita ini dan sedikit lupa dengan nama negaranya saat sedang mengetik, mungkin nanti saya akan memperjelas negara mana, saat saya mendapat kan jaringan internet, mungkin juga tidak), kita akan melihat anak-anak muda seperti saya menjadi lebih kreatif, lebih rajin menulis, lebih memiliki wawasan yang luas dengan bantuan google. Saya tidak leluasa membuka dan mencari manfaat apa yang sebenarnya dari internet, yang jelas mereka yang saat ini berbisnis online punya pengetahuan jauh lebih baik daripada saya. sebut saja GO JEK, yang beberapa karyawannya terintimidasi dari tukang ojek tradisional. Entahlah, saya tidak sedang ingin memberikan perspektif tentang hal itu dari orang yang juga tidak tau dunia cyber seperti saya. 

Saya akan sedikit membagikan perspektif dari “kaum gaptek yang coba berkembang sesuai zaman” tentang internet. Globalisasi adalah mengkampungkan dunia, membuat dunia menjadi lebih kecil, membuat batasan geografis punah, membuat jarak waktu semakin pendek, yah itu adalah hal yang terakomodasi oleh internet. Dengan internet kita hanya perlu melakukan hal yeng penting saja, sekarang saya sedang menunggu pertandingan tim idola saya Chlesea vs Arsenal yang tayang jam 10.00 wib, tapi karena kouta BB saya habis sejak tiga hari lalu, makanya saya menyalakan tv sejak jam 09.51 wib dan ternyata acara komentatornya sudah mulai, mungkin yang posting jadwal itu telat atau entahlah dia menggunakan waktu apa, yang jelas saya tidak ingin melewatkan kick off, jadi saya menyalakan tv dan mengeraskan suaranya lebih awal, tapi karena saya tidak senang dengan komantar-komentar orang indonesia yang seperti lebih jago dari Jose Morinho, maka saya tetap memutar musik juga sambil mengetik. Coba anda bayangkan, seandainya pak Jokowi menggratiskan biaya internet, saya bisa saja hanya online dan mendapat peringatan dari akun-akun chelsea bahwa pertandingan sisa lima menit lagi akan mulai, tak perlu terlalu boros listrik, saya bisa fokus bercerita hal tentang hal yang tadi ingin kubicarakan, dan mungkin lebih bermanfaat daripada membicarakan tentang klub bola. Saya bisa saja mencari hal-hal baru, revrensi tentang bagaimana membuat film yang baik. Entahlah...

Namun saya pesimis dengan terwujudnya internet gratis dirumah kita masing-masing, mungkin ini sangat berlebihan berharap seperti itu. Setidaknya berharap saja untuk agar wifi gratis di kampus ku bisa digunakn tidak hanya untuk membuka  www.umi.co.id, hanya untuk mendaftar KRS online yang tetap diprint lalu meminta tanda tangan pembimbing akademik dan melakukan proses pendaftaran online selayaknya tidak online, bedanya hanya kita print kertas sendiri bukan pihak kampus. Selain itu internet adalah hal yang sangat menyenangkan bagi banyak orang, karena sangat menyenangkan wajar jika semakin hari masyarakat rela membayarnya dengan mahal, mereka rela membeli hp yang lebih cepat mengakses internet, mereka rela gonta-ganti kartu hape jika yang satu dianggap lamban, banyak yang rela mengeluarkan usaha agar bisa terkoneksi dengan internet, mustahil ini digratiskan secara umum, banyak keuntungan yang mengisi kantong-kantong kapitalis disini.

Atau mungkin pertimbangan lain yang tidak memungkinkan internet gratis adalah justru kebebasan dunia didalam internet itu sendiri, banyak yang hawatir dengan dampak negatif internet, lihat saja bagaiman situs-situs Islam tiba-tiba diblokir oleh orang yang merasa dirinya berwenang, atau lihat saja Vimeo.com diblokir oleh keminfo, yang membuat saya kesusahan mendaftarkan film Takut Denda di festival film internasional, tapi untunglah sekarang sudah tidak susah mendaftar karena saya sudah tau caranya. Orang kreatif lain ternyata bisa menerobos banyak hal yang diblokir di internet, yang dianggap berbahaya oleh orang-orang yang diberi kewenangan untuk beranggapan seperti itu. Mungkin juga beberapa pemerhati sosial beranggapan bahwa bila internet gratis diseluruh indonesia akan membuat masyarakat apatis, lihat saja bagaimana apatisnya orang-orang disekitar kita karena sosial media, karena kehidupan didalam internet, padahal sekarang masih berbayar loh, mahal pula. Atau mungkin juga ada pihak yang sangat hawatir dengan semakin narsisnya masyarakat nanti, lihat saja bagaimana demam selfie, atau video-video instagram yang katanya jangan mencap dengan cover, video yang menunjukkan perbandingan orang yang sama saat menggunakan make up secara amburadul dengan secara benar. 

Padahal masih banyak aktivitas yang begitu potensial, lihat saja mereka yang semakin rajin memposting hasil foto mereka, lihat juga bagaimana media-media elktronik dan cetak mempersilahkan warga melaporkan kejadian yang ia lihat yang disebut citizen jurnalism, atau lihat saja saya yang bisa menuliskan apa yang saya fikirkan lalu membaginya, mungkin saja ada beberapa kata didalam tulisan-tulisan saya yang bisa merubah orang menjadi lebih baik, ini hanya sebagian kecil, sebagaimana sebagian kecilnya dampak negatif yang saya sebutkan juga.

Lalu apakah kita akan menuntut internet agar ia menjadi seutuhnya sempurnah atau seutuhnya salah agar kita bisa leluasa dan mudah memberi cap salah atau benar terhadapnya. Bukankah hanya tuhan yang maha sempurnah, selain Dia pasti memiliki sisi baik dan buruk. Internet, sama halnya dengan demokrasi dari perspektif cara kita memperlakukannya, semua benda adalah benda itu sendiri, yang harus membawanya lebih bermanfaat adalah manusianya, rugi dong akal kita jika melulu hal-hal yang sangat baik selalu dibawah kedalam lingkaran kemaksiatan. Kita diberi kesempatan memilih orang yang akan memimpin kita dengan demokrasi, tapi karena beberapa faktor pragmatis kita menyia-nyiakannya dan menghianati diri kita sendiri, padahal kita menggaji mereka dari uang-uang yang susah payah kita dapatkan lalu dimintaki pajak. Kita diberi kesempatan untuk menggunakan internet untuk menjadi masyarakat global, tapi beberapa orang menggunakannya hanya untuk narsisme, hanya menggunakannya untuk memuaskan keinginan sesaat. Entahlah.. saya tidak berhak memberikan beberapa daftar dampak negatif atau positif dari betapa berharganya akal kita, betapa kita diberikan banyak anugrah dan kesempatan untuk menjadikan banyak hal didunia ini bermanfaat.

Menurut saya, lagi-lagi ini faktor pendidikan, entah itu pendidikan agama atau formal. Agar kita bisa memperlakukan internet dan demokrasi menjadi objek yang bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar