Ada
baiknya untuk tidak saling mengenal. Ada baiknya yang sebenarnya tak perlu
dicari tau. Ada baiknya kita cukup tau ada hal yang tidak kita ketahui. Ada
baiknya mengambil sedikit saja seperlunya, lalu membiarkan yang banyak tetap
pada tempatnya. Ada baiknya membujuk diri untuk tidak terlalu seraka akan
sesuatu yang sangat menarik. Ada baiknya membiarkan diri tertipu citra sesaat.
Ada baiknya untuk tidak terlalu pintar. Ada baiknya menjadi bodoh.
Sebab
terkadang kita sangat bahagia, dan terlalu berhasrat untuk segera melumat
sisi-sisi lain yang seharusnya tidak perlu diketahui, meskipun sudut pandang
yang lain mengatakan hal itu adalah hal yang harus diketahui. Sangat mubazzir
rasanya, saat terkadang sebuah fikiran yang sangat indah lalu dilumuri sinis hanya
karena kita saling mengenal. Sangat sayang rasanya, saat terkadang alam materi
memamerkan nyata lalu mengejek-ejek imaji. Sangat miris rasanya, ketika
terkadang warni-warna dalam ide menjadi kelabu, saat materi menunjukkan
eksistensi.
Lalu
terkadang maenstrim “tak kenal maka tak sayang” benar-benar tak sepaham dengan
ku. Karena terkadang mengenal adalah satu-satunya musibah yang membuat hayal
membusuk-terlupa. Lalu terkadang menutup mata dan telinga adalah satu-satunya
pilihan, dan membiarkan diri menjadi gila, tragis mengandalkan bayang-bayang.
Lalu terkadang memilih untuk percaya takhayul adalah yang paling tepat, dan
membiarkan raga terkulai-lemah tanpa daya tersenyum mencintai ilusi.
Lalu
mengapa membenci fatamorgana, jika kepalsuan bayang itulah yang membuatmu terus
berjalan dan meninggalkan hamparan pasir yang terik. Lalu mengapa
menganaktirikan mimpi, jika kehampaan itulah yang membuat ragamu bergerak maju.
Lalu mengapa menuduh buruk si “gila” jika ternyata kita yang paham tentang alam
materi adalah orang gila yang merasa waras.
Dan
biarlah eksistensi nyata menjadi apa yang sebenarnya tidak ada. Dan biarkan
maya meraja, hal yang dianggap tidak ada dan tak mungkin tersentu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar