Selasa, 01 September 2015

Jauh, Merantau ke Dalam Fikiran Orang Lain.


Jauh, Merantau ke Dalam Fikiran Orang Lain.

Tangan Andi menjabat erat telapak ibunya, ia melihat jabatan itu beberapa lama, haru mulai menderu, ada yang tertahan diujung matanya. Ia bertahan dalam tatapan itu lagi lebih lama, ia menikmati biru emosinya, ia mulai mencoba merayakan perpisahan itu dalam kelabu langit-langit hatinya. Andi tak tahu, apakah ibu merasa hal yang sama. Tapi ia yakin ibu merasakan hal yang mungkin lebih dalam dari apa yang ia fikirkan. Sedari tadi ibu bercucuran air mata. Memberi nasihat yang tak sanggup lagi didengarkan oleh Andi dengan baik, ia hanya mengangguk untuk menunjukkan bahwa ia telah mengerti mengapa kali ini ia harus pergi jauh, sangat jauh meninggalkan ibunya dan ayah yang sedang sakit-sakitnya karena usia. Ibu melepas genggaman Andi, mengusap-usap rambutnya, lalu menghujani ciuman diwajahnya. Tak puas dengan itu, ibu merangkul erat Andi yang nampak tak sanggup lagi menahan air mata.

Anak berusia tujuhbelas tahun itu pun menggila dengan tangisannya. Ia tak benar-benar mengerti seperti cara ibu mengerti. Tapi Andi sangat mengerti bahwa ibu akan semakin perih jika ia tak mengikuti kemauan ibu nya. Andi harus berkuliah di tempat yang sangat jauh. Tempat yang tak pernah ia pijaki, tak ada gambaran sedikitpun tentang tempat itu dalam benaknya. Dan nampaknya Andi tak lagi peduli seberapa pun rupa kota itu, ia sedang menikmati pelukan hangat ibunya. Pelukan itulah yang menguasai semua imajinasi Andi. Pelukan yang menambah rentetean alasan untuk membuatnya mesti ikhlas.

Lalu ibu menyudahi pelukan itu, ia tak ingin berlama menunjukkan pertempuran rasa dalam hatinya, ia tak mau Andi terperangkap dalam rasa sedihnya sehingga membuat bias maksud yang sesungguhnya. Atau mungkin Ibu sendiri yang mulai terperangkap di rasa yang ia hawatirkan menimpa anaknya.

Andi terkaget oleh teriakan teman bahwa ada dosen. Ia merapikan sikapnya. Ini bukan kali pertama ia begitu jauh menjelajahi masa lalunya. Mencumbui dengan sangat bebas masa kala ia terahir kali melihat dan mendengar sosok ibunya. Hari ini tepat tujuh bulan ia berkuliah di tempat yang dulu sama sekali tak pernah ia sangka begini suasananya. Terlalu individualis, terlalu hedonis, terlalu etnosentris. Ia merasa benar-benar asing sampai saat ini. Ia terus merasa dihujam oleh hal-hal baru dalam hidupnya. Tapi ia tak  tau harus berbuat apa, karena memang ia tak begitu tertarik kepada semua itu. Satu yang sangat ia tanam dalam keluguan sikap itu, bahwa ia harus kuliah saja dengan baik. Karena itu perkataan yang paling sering Ibu ucapkan. Ia hanya mengingat suara dan wajah ibu saat mengucap itu. Tak ada alat komunikasi yang dapat menghubungkan lagi ia dengan orang tuanya yang tinggal di tempat yang sangat terpencil disalah satu daratan Indonesia.

Perkuliahan dimulai. Andi nampaknya telah beradaptasi dengan “kuliah” di kampusnya. Ia telah bisa melebur dengan ragam cara Dosen mengajarkan sesuatu kepadanya. Tak seperti saat awal-awal, ia benar-benar bingung kepada banyak karakter yang harus ia ikuti, patuhi agar mendapatkan nilai yang bagus. Ia mulai sedikit merdeka dalam hal mengikuti karakter-karakter tersebut. Tanpa ia sadari, dirinya pun turut menghilang didalam kelas. Tak ada lagi ia didalam setiap kelas, hanya sebentuk raga yang dikendalikan oleh seseorang dengan cara tertentu, dan cara yang lain oleh orang yang lain. Namun bagi Andi itu sama sekali bukan masalah, ia mencari cara agar bisa menikmati ketidak-adaan dirinya itu, ketidak-adaan yang setiap hari ia harus hadapai. Karena baginya inilah cara untuk belajar, inilah cara untuk memenuhi wasiat Ibu. Ia tak menemukan kata lain untuk menggambarkan diri dan situasinya melainkan kata “normal”. Semua baginya hal yang wajar, sehingga tak satupun orang yang berhak menganggunya untuk tidak seperti itu. Andi menutup diri dari teman-temannya, dari senior yang mengajaknya untuk menjelajahi hal baru, hal yang tak pernah ia dapatkan dalam ruangan kelas. Ia sangat takut jika harus menodai keinginan Ibunya. Ia menutup rapat telinganya dari semua ajakan selain kuliah.

Kemudian waktu berlalu semakin jauh. Ada Andi dan cara berfikirnya yang natural ikut dalam pusaran maha dahsyat itu.  Masa perkuliahan akan berakhir, tak lama lagi ia akan menyelesaikan studinya. Dan ia bangga sebab ia bisa menyelesaikan perkuliahan dalam waktu yang sangat singkat, dengan nilai yang sangat baik. Ia benar-benar puas, karena ia telah benar-benar mahir mengikuti keinginan setiap Dosennya. Ia tumbuh dewasa sebagai Mahasiswa yang tekun. Menghafal keinginan setiap dosen, lalu menyelesaikannya dengan hal yang yang sudah diluar kepala.

Tapi ia terhenti dalam sebuah malam, ia ragu. Ia tak tau harus berbuat apa lagi setelah perkuliahan ini. Ia cemas jika harus masuk ke lingkungan dimana semakin banyak lagi orang yang harus ia ikuti, harus dia buat senang dengan menjadi orang tersebut. Cita-cita yang sebelumnya sudah terasa sangat dekat, sekejap luruh. ia kembali dalam fikirannya, mengamati teman-temannya yang terlihat sangat bergairah, bersemangat meskipun nilai perkuliahannya tak sebagus nilai Andi. Bahkan beberapa yang lain sudah bisa menghasilkan uang sendiri.

Andi tertuduk sangat lama, dihadapan wajahnya sudah ada skripsi yang berisi judul pemberian dosen nya, ia telah menyelesaikan itu dengan cara-cara yang di inginkan oleh dosen. sebenarnya ia dulu sempat menyangka bahwa ia sangat dimanjakan oleh perlakuan itu. Tapi kali ini ia mulai berfikir siapa sebenarnya dirinya yang sesungguhnya. Ia mulai merasa bahwa semenjak dulu ia telah mati, sejak ia benar-benar telah menghafal karakter beberapa dosen dan mengerjakan sesuatu sesuai kainginan setiap karakter tersebut.

Andi terpaku, ia menyadari bahwa satu-satunya keahlian yang ia miliki adalah mengikuti dan membuat senang orang lain untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Lalu ia bertanya, inikah yang di inginkan oleh sang Ibu yang jauh disana, merantau sangat jauh, jauh kedalam fikiran orang-orang lain.


By : a.RIP

1 komentar:

  1. cerita yang sepertinya terinspirasi berat dari kehidupan nyata, ya.

    BalasHapus