Sabtu, 28 Maret 2015

Cara Kampusku Berkenalan Dengan ku



Cara Kampusku Berkenalan Dengan ku

Selamat sore, jika saat membaca ini kau sedang bersama perginya mentari dari langitmu. Aku baru saja makan, entah apakah ini breakfast, lunch atau dinner, tapi rasa-rasanya ini adalah ketiganya. Menjadi anak laki-laki seperti saya, mengatur kesehatan menjadi tabu, kurang tidur, terkadang kelaamaan dan sangat sedikit, sama halnya dengan makan, hanya sesekali berolahraga, kebanyakan merokok dan nongkrong. Untungnya ini ketidak beraturan ini adalah hal yang kusadari, sehingga say bisa mengendalikan untuk melakukannya dan tidak melakukan hal yang lain, yang mungkin lebih parah. Saya bangga dengan bagian diriku yang sangat senang mengetahui dan mendiskusikan hal-hal bermanfaat yang kusenangi, budaya dan film. Saya pula senang dari bagian lain dari diriku yang selalu ceria, selalu merasa senang dimana dan dengan kebanyakan siapapun. Selalu ada kebahagiaan yang dimiliki oleh bukan hanya manusai tapi benda, yang selalu kulumati untuk meraih tawa bahagia. Saya senang karena ibu dan ayak ku memiliki anak seperti saya dan ternyata wajahnya kebetulan oleh “sosial” dianggap tidak terlalu jelek, wajah dan penampilan secara alamiah memberikan keprecayaan diri kepadaku dalam kebanyakan kesempatan bergaul. Saya mencintai cara berfikirku yang tidak terlalu mempermasalhkan perbedaan bahkan menyenangi perbedaan itu, mendapatkan hal baru dari hal yang berbeda memang sangat membahagiakan. Meskipun keluargaku berada dalam kategori kelas ekonomi menengah, tapi saya sangat senang dengan sifat ibu ku yang sangat pandai memberikan apa yang kubutuhkan daripada yang kuinginkan.
Berlebihankah paragraf diatas ? mungkin aku telah membagakan diri tanpa memunculkan kelemahan ku, kekurangan dan kebobrokanku. Tapi untungnya membanggakan diri bagi saya tak perlu selalu diucapkan secara ferbal, apalagi menghancurkan hal lain yang sama-sama indah dengan apa yang kita miliki. Mari bercerita tentang apa yang kufikirkan....

Saya berkuliah di Universitas Muslim Indonesia Makassar. Sebuah kampus swasta yang luas dan besar, juga memiliki sebuah sisi yang sangat RASIS. Kau tau kesan yang pertama saat aku baru saja masuk dikampus yang sebenarnya objek “ketersasatan” ku itu ?. Keras, tak ramah, dan pembenci. Bagaimana tidak, hari pertama sebagai mahasiswa baru ditahun 2011, kami langsung dihadapkan dengan kekerasan, kericuhan dan pengerusakan. Sekelompok mahasiswa merusaki dan melempari beberapa ruangan dilantai satu gedung tempat kami mulai mencoba mengenal dunia baru ini. saya tak habis fikir hingga di penghujung masa kuliah ditahun 2015 ini, mengapa hal yang demikian yang harus pertama kali mencuri sebagian besar perhatian kami. Bahkan yang lebih mengherankan, mereka yang merusak itu adalah orang-orang yang berasal dari daerah yang sama dengan ku. Apakah mereka secara bersam-sama telah dan sedang membanggakan apa yang mereka miliki, seperti yang kulakukan sendiri pada paragraf pertama. Lalu mereka dengan kekuatan yang katanya “persaudaraan” rela meluangkan waktu untuk menghancurkan orang yang entah bagaimana prosesnya mereka saling menganggap bermusuhan. Yang lucu adalah, bahkan saat pengerusakan itu masih berlangsung, para senior menganggap itu adalah hal yang biasa dikampus ini, itu lumrah dan kamu akan terbiasa dengan situasi seperti ini.

Dan benar, itu tepat. Seiring berjalannya waktu, kekerasan dan permusuhan yang kuberi nama “entosentrisme” itu semakin menjadi, bahkan pelemparan diawal saya sebagai mahasiswa itu adalah yang paling biasa. Pemukulan, pengeroyokan, bahkan beberapa kali pembunuhan terjadi dalam rentan yang tak terlalu lama. Beginilah cara lingkungan dikampusku memperkenalkan dirinya. Terlalu banyak warna disana, organisasi menjamur, mulai dari keilmuan , teknis dan daerah. Dan organisasi daerah lah yang paling sering membuat resah di kampus ini, dan yang lebih parahnya, organisasi dari kampungku lah yang terkesan rajin melakukannya, mereka memiliki katanya musuh bebuyutan yang juga dari organisasi daerah lain. Lalu kampus menjadi semacam daerah teksas bagiku, banyak kelompok perusak disana yang sangat membanggakan diri dan permusuhan.
Saya benar-benar heran saat melihat seorang MAHASISWA mengajak seniorku untuk berkelahi hanya karena orang itu menganggap seniorku menghalangi jalannya. Ia begitu marah dan berkoar, lalu mengajak temannya menghakimi orang yang tak ia senangi secara pribadi itu, ini benar-benar tak masuk akal saat seseorang terlalu gampang marah bahkan kepada hal yang sebenarnya tidak terjadi tapi ia seperti menciptakan sendiri hal yang bisa membuatnya marah. Yah sebab itu terjadi tepat beberapa sentimeter dihadapanku, saya sangat heran bahkan hingga saat ini.

Lalu saya terbiasa, benar-benar terbiasa dengan hal semacam ini, dimana sekelompok mahasiswa yang mengatas namakan dirinya organisasi, ternyata memiliki musuh dan sangat sering berkelahi secara fisik, tak pernah secara “mahasiswa” yang beberapa diantara mereka meyakini bahwa mereka adalah Maha= sangat tinggi dan Siswa= pelajar. Sebuah etimologi yang sangat sering dipermasalahkan pada kajian-kajian, namun cerminannya lebih sering tak nampak bahkan kontradikitif. “mahasiswa mati karena ditikam” , adalah berita yang sangat akrab jika ia kembali muncul pada media massa, lalu akan menjadi pembicaraan beberapa waktu, dan digantikan oleh kasus pembunuhan mahasiswa yang lain lagi. Sayang sekali nyawa yang ia harus akhiri hanya karena kebencian yang mungkin mereka tak tau mengapa seoarang anak merantau ke daerah orang lain, lalu tiba-tiba rela membunuh dan atau dibunuh.

Bercerita Indah dimasa Sulit Bersama Kanda Fatir



Bercerita Indah dimasa Sulit Bersama Kanda Fatir

Siang tanggal 26 maret 2015, saya sedang duduk dan menikmati sepoi hembusan angin dari AC ruangan Ketua Jurusan Fak.Sastra. Banyak tawa dan kelucuan yang bisa kuraih diluar bersama beberapa teman, tapi keinginan untuk menulis terasa lebih menggoda. Jadilah saya duduk disini, mendengarkan lagu The Script yang berjudul Superhero sembari memangku notebook ku. Mungkin beberpa menit lagi keinginan untuk menceritakan kejadian barusan dengan tulisan ini akan terkalahkan, namun saya tidak ingin berfikir kesana dulu.
Beberapa menit yang lalu, sebuah atau mungkin sebenarnya bukan sebuah tapi sangat banyak motivasi yang kudapatkan, bukan dari buku atau renungan berkepanjangan dalam kamar. Saya duduk berdampingan dengan Faisal Tahir, senior angkatan pertama jurusan ku yang lebih enak dipanggil Kak Fatir. Saya sudah bertemu dan tak dapat dihitung lagi pertemuan itu bersamanya, namun kali ini pertemuan kami bertabur cerita yang benar-benar bermakna bagi saya. ok, biar saya menceritakan lagi apa yang kudengar dengan makna subjektivitasku yang secara otomatis kusematkan pada setiap kalimatnya.
Jika tidak ingin menggeneralisasikan dengan kata “setiap”, maka cukuplah dengan kata “banyak”, ya.. kebanyakan dari kita menginginkan hal yang tinggi, kita semua bisa berhayal dengan diri kita sedang sukses dan sejahtera disana, tapi seberapa banyak dari kita yang ingin mewujudkan impian itu. Mungkin hayalan kita tidak seharusnya kita impikan dengan kemampuan kita yang ada, namun siapa yang tau kemampuan kita ?. apakah memang kita hanya diberikan kemampuan untuk berhayal ?. lalu bagaimana dengan fikiran, tenaga, energi teman dan waktu yang diberikan Tuhan kepada kita, apakah kita benar-benar yakin jika kesemuanya itu hanya dapat digunakan untuk berhayal ?. tentu saja tidak, mereka yang sukses juga memiliki apa yang kita miliki, namun kita kebanyakan takut dan menawar-nawar impian kita, atau bahkan memasrahkan impian itu kedalam lingkungan kita.
Seberapa sering kita memiliki tekad atau kemauan ?, seberapa sering kita menyusun strategi untuk meraih apa yang kita impikan. Atau mungkin saja mimpi itu memang berlebihan sebab kita menghasilkan mimpi saat kita benar-benar tak tau siapa sebenarnya diri kita. Mungkin untuk merih mimpi, kita seharusnya setidaknya mengenal sedikit saja potensi kita, lalu mengeksplorasinya habis-habisan untuk meraih mimpi itu. Yah itu adalah apa yang dikatakan dan telah dilakukan oleh k.fatir. dari sekian banyak yang telah kita lakukan, yang kita minati, carilah yang paling membuatmu nyaman lalu letakkan mimpi setinggi-tingginya disana. Lakukan semuanya setelah kau menyusun rencana secara sistematis mungkin dengan tambahan yang matematis, seperti rencana jangka pendek, menengah , dan panjang.
Terjebak dalam zona nyaman dengan sangat lama, atau juga berorientasi kepada hasil saat kita melihat orang-orang yang sukses mungkin adalah cara yang salah. Ayo kita melihat apa yang dilakukan oleh Mark Zukkerberg, pemuda tekaya didunia saat ini, apakah ia tiba-tiba saja menjadi orang kaya yang terkenal ?, tentu saja tidak. Dia harus di Drop Out dari kampusnya, ia harus menyendiri sangat lama dan menuangkan sangat banyak waktu, fikiran dan tenaganya didalam kamar untuk merancang dan merealisasikan apa yang terbayang-bayang dalam impiannya, ia harus menerima semua cemoohan yang menyasarnya. Lalu lihat siapa dia sekarang, apakah seakarangpun ia berhenti belajar ?. ternyata tidak.
Apakah dalam berimpian, seseorang telah ada disana lebih dulu mencapainya ?, apakah kita mengidolakan orang itu ?, lalu mengapa kita tidak mencari tahu apa yang telah ia lakukan ?, menurut k.fatir itu adalah cara yang paling sederhana, meskipun kita tidak akan menjadi sama persis dengan idola itu dan alangkah baiknya jika kita mampu melampauinya.
Lalu lihat diri kita sekarang, apakah kita telah mengalami perkembangan dari beberapa tahun lalu ?, dan jika kau telah mengalami perkembangan, dan kau merasa yakin bisa melakukan hal yang lebih besar lagi, yaa.. jangan terjebak dalam zona nyaman mu. Kau harus mensyukuri karunia yang Tuhan berikan, jangan mubazzir, jangan sia-siakan potensi itu, keluar dari zona nyaman dan susun lagi rencana agar kau bisa meraih mimpi yang lebih besar itu.
Setidaknya beberapa paragraf diatas adalah interpretasi atas apa yang dikatakan Kak.Fatir tepat kepadaku, saya Cuma berdua saat bercerita tentang kebingunganku diujung-ujung masa mahasiswa, menurutnya itu adalah hal yang rawan jika harus terjadi kepada mahasiswa yang telah lama ditempa didunia kampus. Cerita siang ini benar-benar beda, ini adalah kalimat-kalimat yang tepat untukku, dan mungkin juga untuk kalian yang tak tau bagaimana harus bermimpi, atau memiliki mimpi indah yang selalu tersimpan, atau bermimpi dan tak mengenal siapa diri kita. Mungkin cerita diatas dan lagu Superhero milik The Scritp bisa menginspirasi.

CERPEN : Badut Sombong



Badut Sombong 

Raganya tak karuan, kekacauan hati dan fikirannya membuat tangannnya nampak memegang sana sini, ia menutup dan menggosok gosok matanya hingga tak terhitung, ia menggaruk seperti mengelupas kepalanya.  Alam runtuh disekelilingnya, angin berhembus mengejek dengan gelap langit yang diam-diam saja. Ia sangat merindukan pagi, berharap itu adalah hari yang baru baginya. Ia merindukan terang untuk mencuri beberapa cahaya yang bisa ia sembunyikan dalam kelam rasanya. Ia benar-benar kacau. Bagaiana tidak, setelah beribu bahkan jutaan langkah tertatih ia lakukan, ia telah merayap dan jatuh bangun berusaha meninggalkan lubang yang sangat serakah perenggut semua keceriaannya, tapi pada titik ini, ia dengan tanpa belas kasih terbawa kembali ke lubang yang serupa. Ia bingung, ia tak tau harus bertanya kepada siapa, mengapa semua kepedihan benar-benar mengurungnya saat ini, ia hanya ingin mendengar suara Tuhan, zat yang sedang coba ia salahkan, ia ingin mendengar suara dan jawaban langsung dari Tuhannya, ia benar-benar lemah sekarang, ia tak tau atau mungkin sudah merasa sangat letih jika harus mengulang semua perjuangannya, sebuah perjuangan yang panjang hingga ahirnya ia yakin bahwa ia telah menjadi sosok yang kuat, tapi ternyata anggapan itu salah.
Arham, merapatkan sepasang earphone dalam-dalam ke telinganya, ia tak ingin merasa berada ditengah tengah orang yang tak merasakan apa-apa seperti perasaannya. Ia menyendiri disalah satu kursi di sebuah kafe, untungnya jaringan wifi kafe itu tak bergabung dalam rombongan objek yang ia anggap musuh, sehingga ia bisa membuka vidio-vidio lucu di youtube untuk setidaknya membuatnya tambah murka menikmati perihnnya. Ya.. dia tau bahwa dia sedang perih dengan topeng yang sedang ia kenakan untuk menyembunyikan keperihan itu dari pengunjung kafe lain.
Lima tahun lalu, ia merasa telah gila saat wanita yang ia cintai seketika dinikahkan oleh kebudayaan yang dipercayai keluarganya dari suku Bugis. Arham tak ingin mengingat lagi semua itu, meski kenangan bersama pacarnya dulu masih tertata rapi disalah satu bilik asanya. Kala itu, ia sudah bisa berbicara dengan benda-benda, ia tersenyum dan tertawa hanya karena ia menganggap bantal dan kasurnya sedang bercengkrama dengan dirinya. Lalu ia menangis ketika tumpukan pakaian dikamarnya ia nilai sedang mengingatkannya pada mantan pacarnya yang telah menikah.
Waktu berlalu, lima tahun adalah saksi yang mengetahui siapa Arham, ia berjuang, mati-matian, ia tau bahakan jika hanya untuk berharap adalah hal yang sia-sia yang akan membuang-buang waktu. Lalu dia menjadi keras, ia menjadi periang, ia melihat benda dan manusia adalah teman, ia melihat dunia menjadi sangat luas. Ia berhasil keluar dari zona yang membuatnya remuk. Lalu ia merasa berkuasa atas dirinya, ia sesuka hati melakukan kehendaknya dan berani mempertanggung jawabkannya bahkan kepada Tuhan. Ia menjadi terpandang karena pemikiran-pemikiran dan lelucuannya yang selalu riang dalam situasi sulit disekitarnya. Mungkin ia benar-benar gila, atau mungkin telah tau bagaimana rasanya perih dan tak ingin lagi melihat kesana.
Hingga saat ini, saat ia masih merasa benar-benar kuat, saat ia masih sedang merasa bisa mengendalikan situasi, ia terpecundangi. Baru saja dikafe itu, Vara meninggalkannya, wanita yang beberapa minggu lalu membalas semua perasaannya, menjinakkan semua kekerasannya, mereka melakukan sangat banyak hal menggemibrakan beberapa hari. Mereka terpeluk asmara yang sangat menyenangkan, Arham semakin lupa bahwa ia pernah menjadi gila, dan semakin yakin bahwa ia telah berhasil menjadi orang yang kuat. Vara membongkar semua resah dalam sanubarinya, dalam relung-relung yang ia sembunyikan, dan beberapa senti didepannya Arham meratap, mendengar semuanya dan membayangkan semuanya. Ia luluh seketika, merasa sangat lemah tanpa daya, bahkan hampir terjatuh dan mungkin akan menarik perhatian pengunjung kafe. Vara akan menikah beberapa bulan lagi, dan perjodohan itu telah jauh disepakati oleh keluarganya bahkan saat Arham masih menikmati cinta dengan orang lain, ditinggalkan dan lalu ketemu Vara.
Dua minggu yang lalu, Arham sebenarnya telah tau secuil cerita tentang Vara dan perjodohan itu, tapi ia tak ingin mempermasalahkannya lebih jauh, ia merasa telah mencintai Vara dan akan mempertahankannya dalam situasi sesulit masa perjodohan pacarnya lima tahun lalu, ya.. Arham menikmati kesombongan anggapan tentang dirinya yang kuat dan intelektual. Tapi tidak sama sekali, Arham masih ingin menikmati cinta dengan Vara saat Vara mengucapkan semuanya secara tiba-tiba dan tak ingin melanjutkan percintaan yang ia anggap salah itu. Vara telah lebih dulu pasrah dengan budaya dan keluarganya, ia pasarah dengan laki-laki yang duduk manis menunggu urusan perjodohan selesai dilakukan oleh orang tuanya., dan mengacuhkan laki-laki yang sedang berusaha memilikinya dengan cara sendiri yang duduk tepat dihadapan tubuhnya.
Arham berjuang, meyakinkan Vara dengan beribu alasan yang terdengar jelas oleh pengunjung kafe yang duduk dibelakangnya. Luapan emosi meledak-ledak dan sangat terasa mencengkram hatinya, ia menyalakan rokok dan mengisapnya sangat dalam, ia benar-benar tak menyangka dan percaya ini terjadi. Lalu Arham menahan tawa di tengah-tengah lehernya, saat bersamaan ia berusah menjinakkan air mata yang tersa ingin meluncur di kedua matanya yang kini terus melihat lantai. Lucu dan sangat menyedihkan, itulah makna yang Arham sematkan pada kejadian yang tak ia sangka-sangka ini.
Bagi Vara, ini juga adalah hal yang menyesakkan, ia mencintai Arham, tapi ia merasa akan menjadi sedikit longgar jika menyisihkan Arham dan menunggu pernikahan itu terlaksana. Namun bagi Arham, anggapan Vara yang terus terucap itu benar-benar tak sama, ia kembali kedalam lumpur yang berusaha menggelamkannya dengan semua ucapan itu.
Arham lelah berucap dengan sikap Vara yang juga bertahan dengan anggapan akan ada hari cerah setelah ini, bagi dia dan Arham dengan pasangan masing-masing. Lalu Vara meminta maaf dan mengatakan ini adalah pertemuan terahir, dan tidak berhubungan setelah ini adalah jalan yang benar bagi mereka berdua, jalan yang akan dilalui Arham dengan ribuan pertanyaan entah kepada siapa, jalan yang membuatnya merasa seperti badut penghibur yang hanya berusaha menghibur orang lain agar mendapat perhatian, tapi saat hiburan itu mulai terasa biasa dan dia letih untuk terus bergerak, orang kan meninggalkannya dan mencari penghibur lain. Yah.. inilah Arham, si badut yang sombong dengan segala kekuatan yang telah ia raih saat melarikan diri dari luka lima tahun lalu, dan dihadapkan dengan luka yang sama dan lebih memalukan yang mau tak mau harus ia terima..
                                                                                                                                Makassa Sabtu 28 Maret 2015
                                                                                                                                                Arief Rcm

Cerpen : PENERIAK di BALIK TOA yang MELANKOLI



PENERIAK di BALIK TOA yang MELANKOLI
 Malam terus mendaki, tak henti berjalan memasuki sepi yang teramat nampak. Gelap dengan rakus menguasai anak-anak cahaya yang tak berani terlalu lama menantang. Mendung menghitam dan menghalangi rembulan ditanggal empat juni. Hanya satu-satu lirih bunyi kendaraan coba memecah sepi. Malam tak lama lagi berlalu, namun saat inilah ia menunjukkan klimaks dari keberadaannya, hening.
Setidaknya itulah yang terasa oleh Haikal, ketika waktu menunjukkan jam tiga dinihari. Ia masih terjaga dalam kurungan sebuah kamar kos. Tetangga kamarnya sedari tadi seperti hilang bersama waktu-waktu yang terlahap malam. Suasana inilah yang selalu ditunggu Haikal untuk membaca beberapa buku sosial dan sesekali menulis kisah hidupnya yang selalu ditempa oleh buku dan organisasi, ia menggores pandangan hidupnya.
Secangkir kopi hitam sudah menampakkan permukaan ampasnya. Asap rokok memenuhi ruangan itu. Jendela dan pintu kamar sudah tertutup sejak jam duabelas malam saat Haikal pulang dari kampus. Ia seharian mengadakan konsolidasi untuk aksi demonstrasi esok lusa yang mengatas namakan aliansi seluruh organisasi kampus menuntut salah satu kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat. Lagi-lagi ia ditunjuk sebagai jendral lapangan. Baginya bertindak sebagai Kordinator Lapangan dan Jendral Lapangan adalah peran yang sudah sangat lumrah, bahkan hampir seluruh aksi besar kampus ia turut serta dan sering menjalani peran itu. Sudah sejak dua tahun lalu ia dilirik oleh senior-senior yang mendeklarasikan diri sebagai aktivis, ketika Haikal pertamakali berorasi dengan mata merah dan suara yang lantang saat semester tiga mewakili organisasi fakultasnya. Sejak saat itu ia sering diajak ketika ada kajian keilmuan ataupun konsolidasi aksi. Bahkan beberapa temannya menjuluki Haikal sebagai “junior emas” layaknya “anak emas” karena seringnya ia mengikuti para senior.
Tak sedikit pun wajah kelelahan atau kantuk terpancar dari wajahnya. Rambut gondrongnya terurai lepas menutupi punggung dan cambang dipipinya. Tubuh kurusnya dibiarkan tak terbalut. Sementara sepasang bibir yang dipayungi kumis tebal terus menghisap rokok. Ia sedang serius mengembara dalam pemikiran-pemikiran filsuf, ia sedang bercumbu dengan huruf-huruf dan menjamah lembaran-lembaran buku tebal ditangannya. Nampaknya Haikal sedang tak ingin berhenti, meski kopinya telah habis, biasanya dia membuat ulang jika sudah benar-benar ditaklukkan bacaan.
Berbagai macam judul buku bertumpuk disisi kasurnya yang melantai. Ada juga yang tersusun di meja kecil yang saat ini sedang ia hadapi. Buku itu adalah pemberian dan milik sendiri, Haikal tidak terbiasa meminjam buku orang. Kalau tertarik pada sebuah isu ia akan menanyakan judul yang bersangkuta, lalu memotong uang bulanan dari kampung untuk membeli buku tersebut. Tapi ia sangat senang jika ada teman atau juniornya yang ingin meminjam buku dan mengajaknya diskusi tentang buku yang telah ia baca.
Namun dari sekian ratus buku yang mewarna-warnikan kamarnya, ada sebuah buku yang selalu ia sembunyikan, ia menutupnya rapat, tak ada seorang pun yang tau tentang buku itu kecuali ia, buku yang keramat baginya, rahasia dan sangat privasi. Saat ini pun ia mulai lupa dengan buku itu. Tak pernah dijamahi lagi ditengah-tengah kesibukannya sebagai aktivis. Mengadvokasi rakyat yang menurutnya tertindas, aksi, diskusi, ataupun membawakan materi menjadi penghapus kebiasaannya dulu menulis atau membaca kembali isi buku itu. Ia sudah terlalu sibuk jika harus mengurus buku itu. Buku yang tak sekalipun ia disukusikan kepada siapapun selain Tuhan. Tapi ia tak sedikitpun lupa apa isi buku itu, ia tau persis apa maksud dari hamparan kata yang berlembar-lembar itu.
Buku yang berisi dirinya dan Fara yang harus terpisah setelah hampir enam tahun berpacaran. Fara menikah di usia mudah karena perjodohan orang tua. Haikal dengan hati yang sangat hancur kemudian melukis kembali tiap-tiap yang telah terliaht olehnya dari Fara dalam alunan huruf. Dengan sedih ia beronani dengan kata untuk menghadirkan kembali masa-masa bersama. Dengan harapan, ia terus bertanya mengapa semua itu harus terjadi padanya, bertanya kepada Fara yang tak mungkin menjawab. Ia berkali kali menuntut Tuhan untuk membuat kejadian itu tak terjadi. Semua ia tulis, hanya satu harapannya, Fara akan membaca buku itu. Karena untuk memiliki nya lagi tak mungkin. Sebab meski beratus bahkan jutaan lembar tertulis, kejadian itu tak akan mundur, dan memulai lagi dengan tidak seperti yang telah terjadi. Buku itu benar-benar tau Haikal sedang mengubur dirinya dengan aktifitas, ia sedang lari bersama pengetahuan-pengetahuan baru. Ia sedang berusaha lupa, dengan buku-buku bacaan. Hanya buku itu yang tau bagaimana Haikal memulai dirinya yang baru hingga kini ia menjadi orang yang disegani di kampus dan lupa dengan buku itu sendiri. Buku itulah yang tau persis transformasi Haikal hingga ia menjadi Mahasiswa keras yang selalu mempertahankan idealismenya.
Haikal terus membaca buku diantara dua tangannya, ia baru saja membuat kopi baru yang lebih hangat. Rupanya ia kembali larut dalam bacaan. Itulah sebabnya tubuhnya begitu kurus dibanding saat Maba dulu. Kamar pun semakin pengap dengan sudut-sudutnya yang dipenuhi asap. Tapi tidak bagi Haikal yang sedang gila dengan bukunya.
Hari aksi telah tiba. Sejak jam sembilan pagi, Haikal serta beberapa senior dan peserta berkumpul untuk konsolidasi ahir, sudah banyak polisi yang berjaga didepan kampus. Selaku jendral lapangan, ia bertanggung jawab penuh atas aksi ini, Haikal telah benar-benar paham akan peran dan konsekuensinya. Mereka kemudian berjalan menuju depan kampus yang memang menjadi langganan  lokasi penyampai aspirasi Mahasiswa di kampus itu.
Warna almamter kampus membanjiri jalan raya, tumpah ruah dengan motivasi yang mungkin seragam. Puluhan spanduk protes terbentang, bendera-beberapa organisasi yang bergabung dalam aliansi melambai-lambai. Jalan  mulai macet. Api dan asap hitam menggumpal tebal keudara dari tumpukan ban yang terbakar. Suara sumpritan polisi yang mengatur lalu lintas tenggelam dalam nyanyi-nyaian mahasiswa. Jalan pun semakin macet, jalur dua arah di jadikan satu arah karena yang satu menjadi lokasi aksi mereka. Mereka pun menahan sebuah mobil kontainer untuk dijadikan panggung orasi.
Panas membakar, bunyi dan asap kendaraan membuat hari terasa sempit sekali. Tapi tidak bagi mereka yang sedang riuh berteriak-teriak, “hidup rakyat !”. Korlap memulai orasi berteriak seperti tak ada lagi suara yang paling tinggi yang bisa ia keluarkan dari kerongkongannya. Haikal sedang berbincang dengan kepala satuan polisi yang mengawasi aksi mereka, ia membagi senyum simpul, sesekali tawa lepas. Sudah wajar jika ia dikenal oleh beberpa polisi, karena aksi besar ini entah sudah keberapa kalinya memunculkan batang hidung Haikal. Ia kemudian bersalam-salaman dengan beberapa polisi dan senior-seniornya lalu bergegas naik ke mimbar orasi.
“Hidup Mahasiswa, Hidup Rakyat”. Haikal memulai orasinya. Suara lantang pecah-kalahkan panas. Toa yang ia genggam erat menambah keras lagi suara yang berisi kalimat-kalimat retoris. Satu tangannya lagi menunjuk-nunjuk keatas, mata nya memerah. Urat-urat dilehernya bermunculan. Rambut gondrongnya terurai, sesekali tertiup angin dan melamba seperti bendera-bendera yang ada dihadapannya. Polisi, dosen dan peserta mendongahinya. Tak ada dari mereka yang berbincang satu sama lain, anak mata mereka sekalipun terpanah tepat ke sosok Haikal yang seperti kesetanan. Ia berbicara panjang lebar tentang pembelaan, hukum, dan celaan. Sesekali pula ia meneriaki dan mengarahkan mata nya yang melotot ke kumpulan Polisi yang baru saja tadi ia salami. Haikal kemudian menutup orasinya, tapi tidak dengan kata-katanya yang terus membakar semanagat para demonstran.
“hauska ini kanda, mau beli air dulu” . ujar Haikal kepada Aksal, senior yang sedari dulu membimbingnya, namun kini sudah lebih sering menjadi lawan debatnya. Tapi ia tak sedikitpun melunturkan rasa hormat kepada sosok yang telah “menemukannnya” yang baru.
“astaga, suruh ade-ademu itu banyaknya”, balas Aksal.
“biarmi kanda mereka dengar dulu orasinya teman-teman, lagipula adaji Pak.Korlap jaga dulu, na sebentar ja juga, ngapamie kanda, takutnya kehilangan”. Respon Haikal bercanda  kemudian berlalu tanpa menunggu lagi perkataan Aksal yang masih tertawa.
            Haikal melewati para pengendara yang sedang bermacetan, wajah murka dan ramah bergantian mereka lemparkan kepada Haikal yang baru saja mereka lihat berorasi. Tiba-tiba pintu sebuah mobil terbuka dihadapannya, seorang ibu-ibu turun menghadang Haikal. Ibu-ibu itu tergesa-gesa dan menangis, ada tetesan air mata yang jelas terlihat oleh Haikal di sepermukaan pipinya.
“nak.. nak.. minta tolong sai ka kodong, kasih lewat mobil ku nak” . ia masih ingin melajutkan permintaannya, tapi Haikal segera memotong
“waduh, minta maaf bu, nd bisa ka bu, ada aksi didepan, tunggu maki sebentar ,polisi atur ji lalu lintas, atau putar maki saja”. Haikal tersenyum ramah
“kasianika kasian nak, Polisi masih jauh disana. Menantuku mau melahirkan, na sudah 30 menit disini karena macet”.
“kenapaki tidak pake Ambulance, kalo ambulans pasti di kasih lewat ki bu”. balas Haikal lagi dengan wajah yang mulai khawatir dan ikut dalam arus kegelisahan ibu itu. Tiba-tiba tangan Haikal di tarik oleh ibu untuk melihat menantunya, berharap Haikal membantu nya dan memberikannya jalan diantara mahasiswa dan ban serta mobil kontainer yang menghalang didepan. Haikal terkejut, tapi tak melawan ibu iyang terus menangis itu.
            Haikal menyempatkan berkaca melihat dan merapikan rambutnya sebelum kaca pintu mobil bagian belakang itu perlahan terbuka. Nampak seorang laki-laki sedang menidurkan perempuan hamil dipahanya, ia pengusap-usap jidad perempuan itu dan membasuh cucuran keringatnya, sesekali mencium dan saling berbisik. Tangan mereka saling menggenggam erat. Wanita itulah menantu sang ibu yang masih merengek-rengek disamping Haikal, dan laki-laki itu anaknya atau suami si wanita.
            Haikal terpaku melihat pasangan suami istri itu, tak mendengar lagi ocehan si Ibu. tak ingat lagi membeli air minum, tak peduli lagi dengan aksinya beberapa meter didepan. Ia tenggelam, jauh. Matanya tak berkedip memandangi dua manusia didepannya. Lalu tiba-tiba perih mengiris-iris hatinya, sakit mengejek-ejek idealismenya, ia dengan lemah menikmati luka yang ternyata masih basah selama empat tahun. Ada butiran air yang tertahan sedari tadi diujung matanya, kali ini matanya memerah bukan karena marah atau orasi.  Mereka yang ada di hadapannya adalah orang yang ia kenal, laki-laki itu sedikit, tapi tidak dengan yang wanita. Wanita yang namanya selalu ia tulis di antara jutaan puisi dalam bukunya. Wanita yang ia harap menjawab semua pertanyaan dan membaca tulisan dalam bukunya. Wanita itulah yang membuatnya seperti sekarang, menjadi tak dikenali lagi karena rambut, kumis dan cambang yang memenuhi wajahnya. Entah wanita itu memang tak kenal lagi, berpura-pura atau memang karena kondisinya yang sementara ingin melahirkan.
            Haikal kemudian berlari ke titik aksi, meninggalkan ibu yang tak henti mengoceh dan mobil itu. Tak terasa air matanya terjatuh, untung saja hanya beberapa tetes, dan tak seorang pun melihat hingga ia mengusapnya. Tanpa permisi ia mengambil toa dan menyuruh adik-adiknya membuka jalan untuk mobil itu. Ia tak peduli lagi dengan idelismenya seperti beberapa menit yang lalu.
            Ahirnya mobil itu lewat tepat didepannya, namun kali ini semua kacanya tertutup. Haikal sempat merekam bayang samar dibalik kaca dua sejoli yang terus berpegangan. Ia melihat hingga mobil hilang dari ujung penglihatan. Aksi kembali berlanjut. Tapi tidak dengan Haikal, ia terus melihat kearah jalan yang ditinggalkan Fara bersama suaminya, tanpa peduli dengan kawan-kawan nya yang terus bertanya siapa yang sedang ingin melahirkan didalam mobil itu. Ia mengingat semua kembali, partikel-partikel tentang ia dan Fara, ia mengingat kembali buku rahasia itu, serta isinya yang bercerita tentang sisi melankoli nya saat ini yang selalu berteriak dibalik toa.