FASE
MENJILAT LUDAH
Tabu
rasanya. Membicarakan masalah pacaran dengan orang yang jauh sebelumnya
merupakan teman perjuangan dalam memerdekakan sebuah fikiran yang kami sebut
idealisme. Dulu, saya dan temanku ini adalah sepasang pembicara yang bergantian
membahas tentang hal-hal yang kami fikir seharusnya dilakukan oleh mahasiswa.
Kami sangat tidak sepakat dengan seorang mahasiswa yang tenggelam dalam rasa
yang mereka sebut ada diantara ia dan pacarnya, kami menjadikan orang yang seperti
itu menjadi bahan lelucon.
Aneh
rasanya. Topik pembicaraan kami bukan lagi mengenai demo dan melawan kebijakan
yang kami anggap mengekang kreatifitas kami. Kali ini kami membicarakan bahan
lelucon kami beberapa waktu lalu, membicarakan sesuatu yang sangat tabu,
membicarakan pacaran. Membicarakan sesuatu yang dulu kami anggap sangat
kekanak-kanakan dan sedikit memalukan. Kali ini kami membicarakan sesuatu yang
dulu kami anggap layak dicela, karena kami merasa mahasiswa yang terlalu
mengurus perasaan adalah mahasiswa yang belum tamat SMA.
Sangat
beda rasanya. Kami tak lagi memperdebatkan tentang agen of change, social control, iron stock ataupun moral force, tapi kami membicarakan dan
saling berbagi, bagaiamana seharusnya kami menyenangkan cewe yang kami sukai.
Kami membicarakan sesuatu yang mungkin bisa membuat kami kecewa dan sakit hati,
pembicaraan yang dulu tak pernah ada, dan jika ada, itu adalah pembicaraan
tentang orang lain yang kami jadikan intermesso untuk tertawa terbahak. Kami menyisikan
materi tentang logika kali ini, saat dulu kami marah-marah membahas apa itu
“ada” dan apa itu “tidak ada”. Kami mengesampingkan untuk memerintahkan salaing
berfikir lalu memperdebatkan apakah warna merah pada bungkus rokok Marlboro itu
ada pada bungkus itu atau hanya ada dikepala kami. Sebuah pembahasan yang tak
berujung.
Sangat
asing rasanya. Membicarakan pacaran, sebuah kata yang teralienasi dari sudut
pandang wajar kami. Membicarakan sebuah hubungan yang kami anggap buang-buang
waktu, penghambat, dan pembodohan.
Tapi
mengapa saat membicarakan ini, saya dan teman ku itu merasa lepas, meski
terkadang kami saling menertawai dan saling menganggap kami telah berlebihan
dan tak wajar. Tapi kami lalu saling mentolerir beberapa saat kemudian, bahwa
hal “bodoh” yang kami lakukan untuk membuat orang yang kami sukai senang itu
adalah sebuah kewajaran.
Lalu
kenapa begini ?. apakah karena kami sudah tak lagi menjadi mahasiswa yang aktif
kuliah dan setiap hari ke kampus. Atau bahkan mungkin kami sudah mulai apatis
dan lupa idealis. Apakah kami sudah menganggap wajar sesuatu yang dulu kami
tampar. Apakah kami sudah merasa bahwa kami memang tak akan pernah mengalahkan
sistem yang dulu sangat kami benci. Apakah kami pura-pura untuk menutup salah
satu mata kami yang melihat sebuah ketidak wajaran, lalu beronani dengan imaji.
Mengapa pembahasan kami berubah ?, padahal kami tau negara ini kacau. Mengapa
kami terlalu egois sekarang, padahal kami tau organisasi kami sedang rapuh.
Mengapa kami kekanak-kanakan sekarang, padahal kami paham beberapa esensi terlupakan
oleh orang yang harusnya kami bimbing.
Saya
tau, bahwa temanku itu tidak amnesia, begitupun saya. Kami tak pernah lupa
bahwa kami pernah terinjak kuasa para manusia biasa yang bertahta saat kami
berbicara lantang di hadapan mereka tentang ketidak setujuan dan hal-hal yang
seharusnya mereka lakukan. Kami tak sedang lupa bahwa kami pernah benar-benar
sombong dan mencibir apa yang kami bicarakan saat ini. Tapi mengapa kami merasa
wajar sekarang dan saling mentolerir. Benar-benar aneh. Atau apakah kami sebenarnya
memahami sesuatu yang disebut fase kehidupan, dan sekarang kami berada pada
fase menjilat ludah kami. Mungkin kami sebenarnya paham tentang sesuatu yang
lebih rileks dan tidak terlalu memusingkan, jadi wajar jika saat ini kami
memuji celaan kami dulu, dan lalu berpusing mengenai diri kami sendiri,
berfikir bagaimana cara kami bahagia sendiri dan lari dari pembahasan mengenai
derita para marjinal.
Lucu
rasanya, tapi dari sudut pandang lain miris rasanya. Apakah hal yang kami
lakukan sekarang ini adalah wajar. Dan jika itu wajar, berarti pembahasan
mengenai sosial dan idealisme hanya menjadi kajian kajian mahasiswa didalam
kampus, idelaisme itu akan memudar di bibir sistem yang sangat kuat, saat kami
mulai memasuki dunia yang nyata, dunia diamana kami akan menjadi pengekor, di
dunia saat kami akan menjadi seorang sarjana dan akan mencari pekerjaan. Atau
apakah kami sebenarnya sadar bahwa kami akan menikah dan butuh makanan, dan
jika kami terus bertolak belakang dengan tatanan yang dulu kami sangat benci
itu kami akan kelaparan dan sangat sulit untuk melamar anak orang lain. Hahaha.
Hal
yang baru kusadari saat kami berdiskusi dan mengenyampingkan ketabuan tentang
pembahasan kami mengenai pacaran, bahwa ternyata temanku itu sangat melankoli.
Dan dulu ia terkekang oleh statusnya sebagai mahasiswa yang sering membaca buku
jika harus memancarkan sisi perasa nya itu, mmmm.... dan begitupun saya.