“mutau sendiriji nanti kalo kkn mako, nd bisa dicerita”
Mengawali pagi dengan
melakukan hal yang sama seperti beberapakali kemarin, seharian, sejak pagi
hingga sebelum tidur ditengah malam. Entah apa yang membuatku tak bosan
menyaksikannya, ada beberapa jawaban yang berlalu lalang di kepalaku, tapi
mungkin sebenarnya dibagian hatiku. Apakah mungkin karena susunan gambar
didalamnya adalah rangkaian yang kuinginkan, apakah karena itu adalah hasil
editanku, apakah karena itu adalah rekaman dari kameraku dan backsound
lagu-lagu kesukaanku, jika memang iya,
maka apakah wajar jika saya mengulang terus menerus vidio itu, tanpa henti,
lalu aku tersenyum dan merasakan ada beberapa irisan di hati yang bermuara pada
tertahannya air mata di sudut kedua mataku. Saya mulai yakin, hal yang
membuatku sangat emosional menonton vidio itu berkali-kali adalah suasana
didalamnya, bukan karena materi. Aku masih mengenang dan berharap semuanya tak
berakhir secepat ini, tapi sekali lagi, apakah waktu 30 hari adalah waktu yang
singkat, itu relatif, jika 30 hari saja aku harus merasakan suasana seperti itu
maka saya dengan yakin menjawab itu adalah waktu yang sangat singkat.
Haru biru menandai
usapan berkali-kali air mata ibu Jumanang sembari memeluk dan menciumi kami
satu-satu, ia tak lagi tersenyum dan menyuruh kami terus terusan makan seperti
sejak hari pertama hingga malam perpisahan peserta KKN semalam. Ia merunduk,
tak kuasa menahan dan membiarkan kami melihatnya menangis, ia tak bicara lagi
dengan bahasa Konjo yang menjadi komunikasinya kepada kami yang benar-benar tak
paham dengan itu. Lalu kecupannya mendarat dikanan kiri pipi kami, ia memelukku
setelah teman-teman yang lain, cukup erat tertahan beberapa detik. Aku meminta
maaf atas semua kesalahan yang mungkin kulakukan dan tak kuketahui, lalu ia
mengusap lagi air matanya yang terus mengalir, aku yakin bukan karena
permintaan maafku, saya berbahasa indonesia dan dia tak memahami bahasa itu. Ia
mungkin juga tak merelakan kami secepat ini, atau masih ingin merasakan
beberapa hari suasana didalam rumah bagai keluarga. Tapi memang beginilah,
perpisahan pasti akan menjemput, berapa hari pun kami KKN disana, semuanya akan
berahir, kami akan kembali pada angkuhnya kota, kami akan bersikukuh lagi
dengan kesombongan udara di Makassar, kami tetap akan meninggalkan asri nya
pagi di Desa itu.
Tak terasa, sepertinya
30 hari KKN kemarin adalah mimpi, mungkin sebenarnya hanya hayalan, yah..
semacam lamunan, bahkan mungkin sekedar bayangan. Saya kembali disini, di kontarakan,
duduk yang sama dengan 31 hari sebelumnya dan menghadap ke Laptop menulis
beberapa ingatan ku. Saya seperti baru saja terbangun dari tidur, setelah
memimpikan suasana yang sangat langka, aku kemudian mengenang mimpi itu dan menulisnya,
lalu menaburi emosi pada setiap langkahku memasuki kembali memori itu. Aku kemudian
melogikakan suasana itu, bahwa aku adalah orang desa yang mirip dengan
lingkungan di Posko ku, bahwa orang tua kandungku lebih menyayangiku, bahwa aku
memiliki teman yang lebih lama dibanding teman posko ku, ya.. aku membuat
diriku angkuh, dan coba bergegas meninggalkan kenangan itu, dan tak lagi
memutar vidio, aku sedang mencoba tuk menawar haru ibu Jumanang yang sedikit
demi sedikit dan lama kelaman menular kepadakau. Sebab ini sangat mengiris,
prestisius. Inilah mungkin yang menjawab kebingungan ku saat bertanya kepada
teman-teman yang terlebih dahulu KKN, tentang apa sebenarnya yang membuat
mereka sangat senang dengan program perkuliahan itu, yang kemudian beberapa
kali dengan orang yang berbeda menjawab “mutau sendiriji nanti kalo kkn mako,
nd bisa dicerita”.
Kuliah Kerja Nyata,
masing-masing kita pasti akan membawa cerita yang berbeda meskipun ada beberapa
kesamaan. Bahkan dengan satu posko pun, pasti ada yang beda, cerita yang saya
maksud bukan laporan harian dan laporan kelompok yang digandakan lalu
diserahkan ke supervisi. Tapi cara kita menikmati, cara kita melakukan
kesibukan, melihat dan menahan ketidak senangan terhadap teman agar tak nampak
lalu menunggunya membagi ceria untuk membuat kita lupa dengan ketidak senangan
itu. Ini akan beda, dengan cara kita melihat apa yang ada disekitar kita,
dengan cara kita melihat perlakuan tuan rumah dan warga sekitar. Dan berbeda
saat kita menyimpan cerita dan ingin menceritakan kembali.
Jika kau tanya aku, dan
tak perlulah sebenarnya kau bertanya lalu aku menjawab, saya memang ingin
menceritakan ini lagi, banyak hal, dan seperti biasa, manusia akan bosan
mendengarnya, maka biarlah saya bercerita dengan diriku, dengan laptop lagi
sembari mendengar lantunan musik yang ku jadikan backsound vidio KKN ku.
Lagipula saya tak tertarik menceritakan ini dengan orang-orang yang telah KKN,
sebab sebelumnya saya sering berada ditengah tengah teman-teman yang menceritakan
pengalaman KKN mereka, terasa lucu, mereka saling berlomba menceritakan
penggalan kesan mereka, bahkan lebih sering mereka beriringan bercerita satu
sama lain, saat yang lain masih bercerita yang lain lagi memotongnya dengan
cerita sendiri, lalu saya pun bingung mau mendengar yang mana, karena semuanya
memang terasa tak menarik bagiku. Dan setelah saya menjalaninya, saya mengerti
mengapa mereka begitu sangat antusias bercerita, tapi pengertianku itu tetap
tak membuatku terlalu bersemangat menemui mereka untuk bercerita dan lalu
berlomba dan beriringan menceritakan penggalan kesan.
Suasana sendiri ini
memang lebih nyaman, kubiarkan semua kesan saat pertama kali pemberangkatan
dengan bus tua kampus yang mogok di Jeneponto dan memaksa kami melanjutkan
lebih dari stengah perjalanan menggunakan pete-pete setelah sebelumnya kami
hampir terdampar karena tak ada yang ingin bertanggung jawab dengan sigap. Kami
disuruh menunggu bus lain dari kampus dengan beberapa jam perjalanan, dan
ongkos carter angkot yang menjadi tanggung jawab oporan antara supir bus dan
pihak kampus, ahh terasa menjengkelkan memang jika membandingkan pelayanan
kampus yang kami dapatkan dengan membayar 1,3 juta pembayaran KKN yang
sebelumnya hanya 850 rubu saja.
Lalu hari pertama menyambut,
dengan wajah-wajah mahasiswa dari fakultas lain dan tuan rumah yang seumuran
kakek nenek. Kami hanya enam orang dan
semua laki laki, Adi sang kordes dari elektro, Andi dan Ian dari FIKOM, Reza
dan Umar dari Perikanan dan Kelautan. Sebenarnya kami memiliki dua teman cewe,
tapi yang satu sedang partus sehingga yang satunya di opor ke posko lain. Ini
adalah hal rancu lain yang disebabkan “ketidakseriusan” pengurusan oleh pihak
kampus, yah itu yang nampak dari awal hingga penarikan yang asal-asalan, atau
mungkin sebenarnya jika saya pernah kkn sebelumnya hal ini adalah kejadian
biasa, entahlah.
Hari selanjutnya saya
mulai ingin menulis keseharian ku, ingin merekam semuanya secara rinci hari
demi hari, menggambarkan perasaan ku yang sempat sakit selama dua hari, tapi
ternyata itu sangat tidak memungkinkan bertingkah seakan saya sendiri,
teman-teman yang lain selalu ingin mengetahui apa yang sedang kukerjakan. Lalu
kubiarkan dulu semuanya kurasa tanpa satu barispun kutulis hingga semua
berahir. Biarlah kejadian yang sangat berkesan saja tertulis di ujung hari
nanti, tapi ternyata saya salah, saat ini saya tak mengerti bagaimana merangkum
semua kejadian yang sangat berkesan itu, terlalu banyak, menumpuk,
mengkategorikannya sebagai kejadian “sangat berkesan” lalu menulisnya seakan
membuat hal lain tidak berkesan. Untunglah saya mempunyai kamera dan merekam
beberapa kejadian itu, meski beberpa kejadian penting lain terlewatkan oleh
kamera, seperti suasana salaman kemarin dengan warga sekitar sebelum kami
pulang, suasana perjalanan pulang dengan rombongan motor dan hijau yang sangat
panjang, suasana pertemanan kami dengan cucu kecil tuan rumah saat ia menonton
kami seperti orang asing diawal-awal, lalu mengakrabi kami hanya beberapa hari
sebelum kami pulang, suasana pagi saat aku baru bangun dan mendapati teh
hangat, pisang goreng dan beberapa temanku yang sedang merokok sedang
bercerita. Suasana saat kami antrian mandi dan terlambat beberapa kali ke
mesjid untuk sholat Jumat, suasana sore saat bermain bola tanpa sepatu di
lapangan tembok dengan beberapa permukaan berbatu hingga kakiku bocor karena
menginjak salah satunya. Suasana saat kami tertawa lepas karena nama-nama desa
yang sebenarnya wajar tapi menjadi bahan lelucon bagi kami, Kalimporo,
Lolisang, Batu Lohe, Pantama dan setiap nama desa selain desa kami semuanya
terdengar lucu. Suasana saat kami bertanya ke ibu Jumanang dan dijawab dengan
hal yang lain dengan berbahasa daerah. Suasana saat kami mendengarkan cerita
panjang lebar dan tertawa lepas bersama Kanda Ummang, seorang warga yang
awalnya sangat menakutkan tapi ahirnya sangat bersahabat, menceritakan
batu-batu cincin. Suasana saat Kordes mengurus kepindahan cewe dari posko lain
yang ternyata menjadi masalah besar dan menjadi cerita yang “memalukan” diantara
posko-posko lain, atau suasana saat saya merekam suasana dunia di tanah dan
laut Bulukumba. Saya tak sempat merekamnya dengan kamera, meski semuanya
tersusun dalam ruhku jika harus mengingatnya lagi.
Semuanya sangat
prestisius, istimewa, dan membahagiakan jika saya tak menjadi pengkritik dan
tak mempermasalahkan beberapa kerancuan urusan kampus tadi. Saat kami dengan
sangat cepat akrab, bercanda dan menceritakan rahasia kesan kami saat awal-awal
baru melihat, terasa lucu ketika teman-temanku tertipu dengan janggut dan kumis
ku yang lebat, berbadan besar dan pendiam. Ternyata awalnya mereka segan dan
takut hingga ahirnya saya di juluki Puang karena katanya saya pelawak.
Sekali lagi, saya saat
ini paham, dan mungkin ketika junior-junior ku bertanya tentang kesan KKN, maka
saya akan menjawab “mutau sendiriji nanti kalo kkn mako, nd bisa dicerita”.
Sebab ingin meceritakan semuanyaa kembali bahkan sebebas saat inipun bersama
jajaran qwerty aku tak mampu merangkumnya, bukan karena aku telah melupakannya,
tapi karena terlalu banyak hal yang tersimpan dalam ingatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar