Minggu, 14 Februari 2016

Mendukung Taufik Ismail : Dunia Ini Panggung Sandiwara

Mendukung Taufik Ismail : Dunia Ini Panggung Sandiwara.

Malam tenggelam, tak lama lagi terbunuh mentari. Waktu seperti ini menjadi teman lamaku. Duduk menyendiri dan beramai-ramai dengan kenangan, memilahnya lalu menulis yang paling berkesan. Tapi entah apa yang berkesan kali ini selain kesempatan duduk ditempat yang sama beberapa bulan lalu saat saya menulis sekenario film “televisi bekas baru”. Tapi itu adalah sebuah fiksi, meski secara inplisit sebenarnya merupakan fakta yang direproduksi. Saya ingin menceritakan banyak hal yang berkesan, tapi saat bersamaan saya tak bisa menceritakan apa-apa. Mungkin saya tidak memiliki kesan apa-apa lagi terhadap kehidupan. Sudah beberapa lama bergandengan dengan pengulangan kejadian yang sama, membosankan. Tapi tunggu, ternyata ahir-ahir ini saya sedang dipaksa oleh otakku memikirkan suatu tindakan yang disebut “kepura-puraan”.

Siapa yang mengenal siapa sekarang ? beberapa orang merasa saling berkenalan. Saya beberapa kali mendengar orang dengan bangga mengatakan “saya kenal sekali itu anak”, sebuah prolog yang kemudian diikuti gunjingan dan sesekali pujian. Entah apa yang terjadi, saya melihat sebuah tindakan penghormatan terhadap sesorang hanya sebatas tindakan materil. Saya melihat teman saya sangat sopan dengan seseorang, tapi saat seseorang itu pergi temanku memelankan suaranya dan berbisik tentang kejelakan seseorang itu yang jika sedikit saja temanku itu mengencangkan suaranya maka seseorang itu pasti akan mendengar betapa ia sangat tidak dihormati. Saya selalu berada dalam posisi mendengar seseorang seperti itu. Dan benar, sekarang saya sedang melakukannya juga, menggunjing dibalik sebuah penghormatan materil terhadapa temanku.

Terlalu memikirkan cara yang sebaiknya dilakukan oleh setiap orang sama saja berharap batu mengapung dipermukaan air. Terlalu banyak formalitas berlalu lalang disekitar. Saya tidak tau siapa yang benar-benar mengenal saya siapa saya sekarang, jangankan IBU ku, diriku sendiripun tak tau siapa sebenarnya saya ini. Tapi anehnya, dalam keadaan “ketidaktahuan” diri kita, selalu saja bermunculan orang lain yang merasa mengenal siapa kita sebenarnya. Ada beberapa orang yang bahkan tidak terlalu akrab merasa mengenal lalu menceritakan siapa saya.

Saya pernah berfikir, bahwa penilaian kita terhadap sebuah objek sebenarnya adalah penilaian terhadap diri kita sendiri. Terlalu memandang sesuatu jelek menurut saya adalah sebuah indikasi bahwa fikiran kita hanya melihat sesuatu yang jelek-jelek saja, saat bersamaan justru kita sendiri yang jelek. Tapi terlalu memikirkan dan berharap agar semua orang menjadi baik rasa-rasanya mendekatkan diri kebibir kegilaan. Saya tidak bisa merubah siapapun kecuali diri saya sendiri. Jangankan saya, agama yang sangat sakaralpun sekarang beberapakali hanya menjadi bahan lelucon. Saya mungkin hanya akan mencoba untuk saling mengingatkan dalam kesabaran dan kebaikan.

Meskipun dalam beberapa situasi saya benar-benar tidak peduli lagi bagaimana sifat seseorang. Saya percaya Tuhan tidak pernah meninggalkan hambanya. Seseorang yang menurutku bersifat buruk biarlah Tuhan saja yang mengurusnya, yah meskipun keburukan sifat beberapa orang benar-benar terasa menyakitkan. Tapi kembali lagi, kita mempunyai sebuah tindakan “kepura-puraan”. Dalam buku psikologi komunikasi Jalaluddin Rahmat, kepura-puraan semacam itu disebut ego. Saya tidak lagi ingin menunjukkan ketidak sukaan ku terhadap seseorang secara gamblang, karena saya tau jika saya menunjukkannya, maka beberapa urusan dimasa depan menurutku akan lebih menyulitkan saya lagi, itu salah satu contoh ego.

Meskipun masing-masing kita memiliki keahlian untuk berpura pura, tapi ada kalanya kepura-puraan pun tak bisa lagi dilakoni. Tunggu, saya sedang tidak menganggap seluruh hidup adalah kepura-puraan. Menurut saya, sepandai apapun manusia berkamuflase, ia juga memiliki sisi lain yang tulus. Kepura-puraan hanya menjadi semacam pilihan dalam menghadapi sebuah masalah.

Kita mungkin masih mengingat Mikel Jackson, raja lagu pop dunia, ia populer dan banyak harta. Saya yakin kebanyakan dari penggemarnya mengenalnya sebatas apa yang mikel ingin tunjukkan di televisi. Hingga karakter yang lekat dengannya adalah dancing ala robot, seoarang penyanyi yang sangat energik. Tapi entah siapa yang mengenalnya secara menyeluruh hingga akhirnya dunia digegerkan dengan kematiannya di dalam kamar karena over dosis obat. Apa sebenarnya yang terjadi dengannya, apakah ia menyimpan sangat banyak beban fikiran, padahal ia selalu terlihat bergairah dilayar kaca dan poster-poster yang tertempel dikamar kita.

Berpura-pura memang manjur, agar kita diterima oleh sosial yang kita benci. Beberapa anak memaksa orang tuanya membelikan sesuatu yang dapat membuatnya masuk dalam sebuah strata sosial yang dianggap keren. Kita, atau saya, tak bisa menunjukkan segala sesuatunya sesuai apa yang saya inginkan, saya harus menyesuaikan dengan sistem dan budaya, hal yang selain itu harus saya tutup tak memprbolehkan siapapun tau kecuali Tuhanku yang tak perlu izin untuk mengetahui segalanya.

Tulisan ini adalah tulisan yang tiga kali kubaca hingga bisa mendapat apa sebenarnya yang sedang saya bicarakan agar bisa menyudahinya. Entah apa yang sebenarnya ingin kubicarakan. Menimbang kata demi kata, lalu menulisnya dan beberapakali menghapusnya kembali. Saya tau, meskipun saya sedang sendiri, tapi mungkin saja tulisan ini akan dibaca oleh beberapa orang yang akan merasa tersinggung dan membuat beberapa masalah yang sedang saya hadapi saat ini semakin kacau (saya sedang memikirkan beberapa nama). Sebab sayapun tau, ada beberapa orang yang saya benci saat bersamaan saya menunjukkan sebuah penghormatan, munafik ?, menurutku itu hanya sebatas kepura-puraan.

Kepura-puraan adalah tentang permukaan. Kepura-puraan mampu melihat celah panca indera yang kita miliki. Kita mungkin sangat akrab dengan ucapan “teman makan teman” atau “penghianat”. Menurut saya itu terjadi karena kelima indera kita tak mampu lagi menjangkau apa yang sedang dibicarakan oleh orang yang sangat kita percaya saat kita sedang tidak bersamanya. Mata kita tak bisa lagi melihat ekspresi wajah sesorang dibelakang kita yang baru saja mengangguk-angguk mendengar apa yang kita nasihatkan padanya.


Saya sedang tidak menjastifikasi kepura-puraan adalah materi yang busuk atau mewah. Saya hanya sedang berfikir tentang kita yang cenderung berfikir sebatas Materil, dan pada gilirannya berperilaku sebatas apa yang tampak. Kita terlalu pandai bersandiwara dipermukaan. Mungkin benar lagu tentang “panggung sandiwara” yang di tulis oleh Taufik Ismail, bahwa dunia ini hanya panggung sandiwara. Entahlah....

Senin, 08 Februari 2016

Bekerja Sebagai Pengangguran

Bismillah yang maha pengasih dan penyang. Memulai dengan nama Allah, saya  berharap bisa banyak mencurahkan hal-hal yang tak ku ketahui namanya, berharap banyak agar kepala mendapat sedikit ruang untuk bergerak ditumpukan tekanan. Lama sudah berlalu, saat terakhir kali saya memilih beberapa rahasia dan lalu menulisnya. Bertatapan dengan laptop kali ini serasa bertemu lagi dengan kawan lama yang sudah banyak berubah.

Hari ini, untuk sekedar menghindari tidur sore, saya ingin bercerita bagaimana kepala saya menanggapi situasi yang sedang kupijaki, PENGANGGURAN. Sebelum sampai pada situasi ini, saya ingat betul bagaimana sebuah kehidupan beberapa waktu lalu yang menghampiriku, sebuah kehidupan yang tak pernah terbayangkan saat saya masih kecil lalu bercerita tentang khayalan setinggi-tingginya bersama teman sebaya. Sebuah kehidupan yang sangat penting, berharga dan sangat istimewa bagi saya.

Hal itu dimulai dari kemenangan film Takut Denda di Apresiasi Film Indonesia. Sebuah penghargaan yang tersimpan jauh-jauh dalam harapanku. Saat menerima emile dari panitia bahwa film itu menjadi salah satu dari tiga nominasi, bayangan yang terus menggantung di ubun-ubun ku adalah bukan kemenangan, tapi tentang saya yang akan pertamakali keluar dari sulawesi dan akan pertamakali menaiki pesawat terbang. Saat menerima undangan dan tiket pesawat menuju Yogyakarta, yang paling kusibuki bukan tentang speech yang harus kubaca atau kuhafal ketika menerima piala, tapi bertanya kesana kemari tentang bagaimana proses dan tahapan saat saya tiba di bandara hingga bisa menemukan kursi yang akan kududuki. Lucu ketika mengingatnya. Sem yang mengantar saya ke bandara tak ku izinkan pulang hingga saya benar-benar mengerti kemana lagi saya harus menunggu setelah cek in. Untung saja Sem bukan saya, jika Sem adalah saya mungkin saya akan mengerjai temanku yang baru pertama kali akan terbang.

Setelah saya berhasil melakukan perjalanan pulang pergi pertama dengan pesawat terbang dan kembali ke kampus, ternyata banyak teman dan junior yang menyambut dengan bahagia, beberapa diantara mereka bahkan tampak sangat bahagia dibanding yang kurasakan. Bahkan mereka membuatkan baliho ucapan selamat berukuran besar lalu memajangnya di depan gerbang masuk kampus. Ada beberapa wawancara yang harus kulalui, dan namaku dengan gampang kutemui di beberapa media, bahkan di buku panduan wisudah diamana saya adalah salah satu dari peserta wisudah itu. Beberapa orang mengatakan ini akan benar-benar mempermudah saya dimasa depan, sebab saya adalah orang baru di film yang tiba-tiba bisa begini, waktu itu saya mempertimbangkan untuk menyepakati anggapan tersebut.

Tak lama berselang, saya mengakhiri masa kuliah dan mendapat gelar wisudawan terbaik ilmu Komunikasi. Ya.. lagi-lagi ini adalah sebuah kejadian yang sama sekali tak kusangka. Saya pernah di skorsing 1 semester dan ipk ku sangat jauh dibawah teman-teman angkatan yang terlebih dahulu wisudah. Ternyata kata “terbaik” yang kudapat waktu itu adalah karena lima orang lain yang wisudah dengan saya mendapat ipk sedikit lebih buruk daripada buruknya ipk ku. Dan akhirnya naik lah saya menerima piagam dan uang 200 ribu dalam amplop dengan Vanilla, pacar yang masih baru waktu yang ku jadikan pendamping rama tamah menggantikan ayah dan ibuku yang baru menuju makassar besoknya. Seandainya saja saya tau bahwa saya bisa menjadi yang “terbaik” pastilah tak ku izinkan mereka melewatkan apa yang terjadi saat saya disanjung oleh dosen bahkan rektor, pastilah mereka akan sangat bangga layaknya orang tua lain.

Dua kejadian yang sangat berdekatan sedekat paragraf yang kupisahkan untuk menceritakan sedikit tentang mereka, menjadi rentetan yang benar benar membahagiakan, dan saya tak tau harus bagaimana merayakannya kecuali bersyukur kepada sang Maha pemberi kejutan, Tuhan ku.


Dan kini, sampailah kita, atau tepatnya saya, pada paragraf yang akan menceritakan siapa saya setelah melewati keduanya saat ini, saat kembali dengan malu-malu meminjam kata untuk ku gunakan merasakan sedikit saja apa yang tidak bisa kuceritakan kepada siapapun seperti caraku bercerita kepada diriku sendiri. Saya pernah membaca buku tentang manusia adalah perangkai suasana alih-alih produk suasana. Dan saya yakin dengan itu dan beberapakali membuktikannya. Tapi entah saat ini suasana benar-benar memenjarakan saya, dan saya benar-benar takluk bersimbah harap didalamnya. Beberapa orang yang melihat permukaan ku akan dengan mudah menuduhku pengangguran dan dalam kata pengangguran itu ia menyelipkan tuduhan tuduhan lain seperti malas dan bodoh. Saya mungkin sependapat, bahwa saya malas, lagi lagi saya menunggu kejutan. Padahal saya tau kejutan-kejutan yang telah kudapatkan tidak begitu saja hadir, tidak dengan terus bermain PS dan COC, tidak dengan tidur sepanjang hari dan begadang sepanjang malam. Atau sebelum menyudahi cerita ini, saya akan membela diri, bahwa saya hanya sedang menikmati masa-masa dimana hanya ada satu tekanan, harus segera bekerja. Dan dibalik bekerja itu ada konsekuensi membiayai adik yang masih kuliah, melanjutkan s2, membelikan orang tua Rumah di Makassar, dan mungkin menikah, yah.. itu adalah permintaan IBU ku yang coba kutunaikan sebagai PENGANGGURAN.

Sabtu, 03 Oktober 2015

FASE MENJILAT LUDAH

FASE MENJILAT LUDAH
Tabu rasanya. Membicarakan masalah pacaran dengan orang yang jauh sebelumnya merupakan teman perjuangan dalam memerdekakan sebuah fikiran yang kami sebut idealisme. Dulu, saya dan temanku ini adalah sepasang pembicara yang bergantian membahas tentang hal-hal yang kami fikir seharusnya dilakukan oleh mahasiswa. Kami sangat tidak sepakat dengan seorang mahasiswa yang tenggelam dalam rasa yang mereka sebut ada diantara ia dan pacarnya, kami menjadikan orang yang seperti itu menjadi bahan lelucon.

Aneh rasanya. Topik pembicaraan kami bukan lagi mengenai demo dan melawan kebijakan yang kami anggap mengekang kreatifitas kami. Kali ini kami membicarakan bahan lelucon kami beberapa waktu lalu, membicarakan sesuatu yang sangat tabu, membicarakan pacaran. Membicarakan sesuatu yang dulu kami anggap sangat kekanak-kanakan dan sedikit memalukan. Kali ini kami membicarakan sesuatu yang dulu kami anggap layak dicela, karena kami merasa mahasiswa yang terlalu mengurus perasaan adalah mahasiswa yang belum tamat SMA.

Sangat beda rasanya. Kami tak lagi memperdebatkan tentang agen of change, social control, iron stock ataupun moral force, tapi kami membicarakan dan saling berbagi, bagaiamana seharusnya kami menyenangkan cewe yang kami sukai. Kami membicarakan sesuatu yang mungkin bisa membuat kami kecewa dan sakit hati, pembicaraan yang dulu tak pernah ada, dan jika ada, itu adalah pembicaraan tentang orang lain yang kami jadikan intermesso untuk tertawa terbahak. Kami menyisikan materi tentang logika kali ini, saat dulu kami marah-marah membahas apa itu “ada” dan apa itu “tidak ada”. Kami mengesampingkan untuk memerintahkan salaing berfikir lalu memperdebatkan apakah warna merah pada bungkus rokok Marlboro itu ada pada bungkus itu atau hanya ada dikepala kami. Sebuah pembahasan yang tak berujung.

Sangat asing rasanya. Membicarakan pacaran, sebuah kata yang teralienasi dari sudut pandang wajar kami. Membicarakan sebuah hubungan yang kami anggap buang-buang waktu, penghambat, dan pembodohan.

Tapi mengapa saat membicarakan ini, saya dan teman ku itu merasa lepas, meski terkadang kami saling menertawai dan saling menganggap kami telah berlebihan dan tak wajar. Tapi kami lalu saling mentolerir beberapa saat kemudian, bahwa hal “bodoh” yang kami lakukan untuk membuat orang yang kami sukai senang itu adalah sebuah kewajaran.

Lalu kenapa begini ?. apakah karena kami sudah tak lagi menjadi mahasiswa yang aktif kuliah dan setiap hari ke kampus. Atau bahkan mungkin kami sudah mulai apatis dan lupa idealis. Apakah kami sudah menganggap wajar sesuatu yang dulu kami tampar. Apakah kami sudah merasa bahwa kami memang tak akan pernah mengalahkan sistem yang dulu sangat kami benci. Apakah kami pura-pura untuk menutup salah satu mata kami yang melihat sebuah ketidak wajaran, lalu beronani dengan imaji. Mengapa pembahasan kami berubah ?, padahal kami tau negara ini kacau. Mengapa kami terlalu egois sekarang, padahal kami tau organisasi kami sedang rapuh. Mengapa kami kekanak-kanakan sekarang, padahal kami paham beberapa esensi terlupakan oleh orang yang harusnya kami bimbing.

Saya tau, bahwa temanku itu tidak amnesia, begitupun saya. Kami tak pernah lupa bahwa kami pernah terinjak kuasa para manusia biasa yang bertahta saat kami berbicara lantang di hadapan mereka tentang ketidak setujuan dan hal-hal yang seharusnya mereka lakukan. Kami tak sedang lupa bahwa kami pernah benar-benar sombong dan mencibir apa yang kami bicarakan saat ini. Tapi mengapa kami merasa wajar sekarang dan saling mentolerir. Benar-benar aneh. Atau apakah kami sebenarnya memahami sesuatu yang disebut fase kehidupan, dan sekarang kami berada pada fase menjilat ludah kami. Mungkin kami sebenarnya paham tentang sesuatu yang lebih rileks dan tidak terlalu memusingkan, jadi wajar jika saat ini kami memuji celaan kami dulu, dan lalu berpusing mengenai diri kami sendiri, berfikir bagaimana cara kami bahagia sendiri dan lari dari pembahasan mengenai derita para marjinal.

Lucu rasanya, tapi dari sudut pandang lain miris rasanya. Apakah hal yang kami lakukan sekarang ini adalah wajar. Dan jika itu wajar, berarti pembahasan mengenai sosial dan idealisme hanya menjadi kajian kajian mahasiswa didalam kampus, idelaisme itu akan memudar di bibir sistem yang sangat kuat, saat kami mulai memasuki dunia yang nyata, dunia diamana kami akan menjadi pengekor, di dunia saat kami akan menjadi seorang sarjana dan akan mencari pekerjaan. Atau apakah kami sebenarnya sadar bahwa kami akan menikah dan butuh makanan, dan jika kami terus bertolak belakang dengan tatanan yang dulu kami sangat benci itu kami akan kelaparan dan sangat sulit untuk melamar anak orang lain. Hahaha.


Hal yang baru kusadari saat kami berdiskusi dan mengenyampingkan ketabuan tentang pembahasan kami mengenai pacaran, bahwa ternyata temanku itu sangat melankoli. Dan dulu ia terkekang oleh statusnya sebagai mahasiswa yang sering membaca buku jika harus memancarkan sisi perasa nya itu, mmmm.... dan begitupun saya.

Selasa, 29 September 2015

Ada Baiknya Tidak Saling Mengenal




Ada baiknya untuk tidak saling mengenal. Ada baiknya yang sebenarnya tak perlu dicari tau. Ada baiknya kita cukup tau ada hal yang tidak kita ketahui. Ada baiknya mengambil sedikit saja seperlunya, lalu membiarkan yang banyak tetap pada tempatnya. Ada baiknya membujuk diri untuk tidak terlalu seraka akan sesuatu yang sangat menarik. Ada baiknya membiarkan diri tertipu citra sesaat. Ada baiknya untuk tidak terlalu pintar. Ada baiknya menjadi bodoh.

Sebab terkadang kita sangat bahagia, dan terlalu berhasrat untuk segera melumat sisi-sisi lain yang seharusnya tidak perlu diketahui, meskipun sudut pandang yang lain mengatakan hal itu adalah hal yang harus diketahui. Sangat mubazzir rasanya, saat terkadang sebuah fikiran yang sangat indah lalu dilumuri sinis hanya karena kita saling mengenal. Sangat sayang rasanya, saat terkadang alam materi memamerkan nyata lalu mengejek-ejek imaji. Sangat miris rasanya, ketika terkadang warni-warna dalam ide menjadi kelabu, saat materi menunjukkan eksistensi.

Lalu terkadang maenstrim “tak kenal maka tak sayang” benar-benar tak sepaham dengan ku. Karena terkadang mengenal adalah satu-satunya musibah yang membuat hayal membusuk-terlupa. Lalu terkadang menutup mata dan telinga adalah satu-satunya pilihan, dan membiarkan diri menjadi gila, tragis mengandalkan bayang-bayang. Lalu terkadang memilih untuk percaya takhayul adalah yang paling tepat, dan membiarkan raga terkulai-lemah tanpa daya tersenyum mencintai ilusi.

Lalu mengapa membenci fatamorgana, jika kepalsuan bayang itulah yang membuatmu terus berjalan dan meninggalkan hamparan pasir yang terik. Lalu mengapa menganaktirikan mimpi, jika kehampaan itulah yang membuat ragamu bergerak maju. Lalu mengapa menuduh buruk si “gila” jika ternyata kita yang paham tentang alam materi adalah orang gila yang merasa waras. 

Dan biarlah eksistensi nyata menjadi apa yang sebenarnya tidak ada. Dan biarkan maya meraja, hal yang dianggap tidak ada dan tak mungkin tersentu.

Sabtu, 26 September 2015

Kutipan Bermakna Besar Yang Tak Bisa Dipertanggung Jawabkan

Kutipan Bermakna Besar Yang Tak Bisa Dipertanggung Jawabkan

“Jadi orang gede enak, tapi susah jalaninnya”, itu adalah sebuah kutipan dari sebuah iklan keren di TV. Menulis, mungkin mengawali sebuah paragraf bahkan sebuah tulisan yang cukup panjang dengan sebuah kutipan adalah sebuah kesalahan dalam penulisan yang pakemnya ilmiah. Ya.. saya sudah mencoba melakukan itu, mengawali kata pengantar dengan bahasa “tutur” di skripsiku, dan saya baru tau ternyata itu salah ketika saya menghadapkan skripsi itu pada pembimbing. Saya sama sekali tak pernah berfikir bahwa saya mengawali skripsi itu dengan sesuatu yang salah, dengan sesuatu yang dianggap “menulis sebuah percakapan” bukan “menulis sebuah tulisan”. Saya benar-benar yakin bahwa itu adalah sebuah kata yang sangat menarik untuk mengawali objek yang akan saya bahas di dalam skripsiku. Tapi ternyata itu tidak ilmiah, sayang sekali. Berikut saya mengutip tulisan saya sendiri dalam pembukaan kata pengantar skripsi. Ingat ini adalah tulisan yang salah (hahaha,, berharap mendapat pembelaan)

“Pace dan Faelus memulai elaborasinya tentang organisasi dalam buku mereka yang berjudul Komunikasi Organisasi (2013) dengan menekankan term Subyektif dan Obyektif. Dua term yang akrab disandingkan ini mengawali pembahasan mereka tentang organisasi yang terhampar lebih dari limaratus halaman”

Tepatnya itu bukan kutipan, kemarin saya sudah menghapus tulisan asli ku yang terekam beberapa waktu lalu diawal skripsiku itu. Lalu menggantinya dengan keinginan orang lain yang kurekam dalam tulisan ku. Tulisan yang kusebut “kutipan” diatas adalah rekaman tentang hal yang kufikirkan saat ini, tentang fikiranku mengenai tulisanku yang beberapa waktu lalu dianggap tidak ilmiah. Lalu saya menggantinya dengan fikiran orang lain yang telah mempelajari bagaimana “seharusnya” sebuah tulisan disebut ilmiah.

Nah lalu kenapa dalam fikiran ku yang hendak kurekam dalam tulisan ini diawali dengan sebuah kutipan.  Parahnya itu adalah kutipan dari perkataan seorang anak kecil dalam sebuah iklan kartu telepon, entah siapa penulis skenario iklan itu, entah siapa nama anak kecil yang mengatakan itu, entah siapa sutradara iklan itu, dan entah apa maksudnya. Sangat jelas bukan merupakan tulisan ilmiah. Dan jika hal yang jelas ini saya bawa kedalam hyperbola, maka saya akan mengatakan “tulisan ku ini benar-benar tidak ilmiah, tak bisa dipertanggung jawabkan, dan jika ini adalah sebuah kata pengantar skripsiku, pembimbingku akan melemparkan skripsi itu kawajahku setelah ia membakarnya dan apinya masih menyala. Sehingga skripsi itu akan membakar wajah ku, akan merusak tubuhku, dan saya dianggap wajar  mendapatkan perlakuan itu karena saya adalah orang yang sangat bodoh dan tidak bisa mengaplikasikan teori-teori penulisan ilmiah yang menurut orang yang melempar skripsi terbakar kewajahku itu telah ia ajarkan kepada saya”.

Siapa sebenarnya yang membuat standar penulisan ilmiah itu ? apakah kira-kira ia masih hidup saat ini ? mengapa ia menganggap pakem yang ia buat adalah hal yang harus diikuti seluruh manusia agar tulisan mereka dianggap ilmiah ?. mengapa setiap orang harus mengikuti fikiran orang itu ? mengapa fikiran orang itu adalah syarat yang harus saya ikuti agar saya bisa menjadi seorang sarjana ? apakah fikiran ku ini adalah hal yang sangat lemah yang tidak benar dan tidak bisa dipertanggung jawabkan ? lalu mengapa saya disuruh meniliti ? mengapa saya disuruh mengamati ? jika pada ahirnya saya menyerahkan hasil pemikiran itu kedalam pakem yang telah dibuat seseorang yang mengatakan bahwa yang ia buat adalah pakem ilmiah ? bukankah saat bersamaan saya dikekang ? tidak boleh mengatakan apa yang saya fikirkan jika itu tidak sesuai dengan fikiran orang yang berfikir telah menemukan standar penulisan ilmiah itu ?

Memang benar, menjadi orang gede enak, tapi susah jalaninya. Terlalu banyak benturan, terlalu banyak hal yang harus dikurangi muatannya agar dapat diterima oleh orang lain. Terlalu banyak kepura-puraan yang harus ditunjukkan. Terlalu banyak kamuflase yang harus dicitrakan. Terlalu dipaksa menjadi pengekor. Terlalu disuruh menjadi pereaksi, bukan pengkreasi. Terlalu sering disuruh belajar saat sedang disuruh menjadi pelagiat. Terlalu perkasa sistem yang disepakati sosial untuk mewajarkan orang lain menganggap apa yang kita fikirkan adalah fikiran bodoh. Terlalu diliumrahkan orang tua menganggap anak muda sebagai orang yang belajar, belajar berarti belum paham, dan harus benar-benar diarahkan. Lalu jika begini, kapan hal baru diperkenankan muncul dalam hidup ini. Kapan siklus pendidikan yang membuat indonesia menjadi negara biasa-biasa saja ini terputus ?, padahal ia termasuk negara dengan manusia paling banyak ini.

Kapan kira-kira saya bisa bicara sesuai dengan pandangan saya, sesuai dengan kontruksi hidup yang mempengaruhi caraku melihat sesuatu. Kapan saya bisa melakukan itu dan saya tidak dianggap sebagai orang yang tidak pernah belajar karena tak bisa mengaplikasikan teori dari seseorang yang entah bagaimana prosesnya fikiran/teori orang itu terlegitimasi menjadi hal yang harus saya ikuti ?

Memang benar, jadi orang gede enak, tapi susah jalaninya. kita harus menjadi pendengar peluh orang lain dan menunjukkan sikap bahwa kita sebenarnya tak punya masalah. Padahal dalam hati kita sedang terlalu banyak hal yang menjanggal, termasuk saat mendengar peluh orang yang menurut budaya harus dihargai itu. Kita harus mengganti beberapa kali orang lain dalam pandangan kita yang kita anggap sebagai panutan. Saya harus yakin bahwa saya adalah Arief, sebelum Arief  lain datang dan kuyakini bahwa Arief inilah yang Arief sesungguhnya, dan lalu Arief yang lain datang lagi, terlalu banyak Arief datang dan ahirnya saya tidak tau Arief yang mana yang merupakan diriku.

Memang benar, jadi orang gede enak, tapi susah jalaninya. Kita bisa menjadi perkasa dan perangkai suasana, tapi tak terlalu lama kemudian tiba-tiba ada orang lain yang membunuh kita. Dengan perjalanan hidup, kita tertempa dan memiliki pandangan yang labil sampai pada suatu saat kita meyakini sebuah pandangan yang harus kita perjuangkan. Tapi ternyata ada orang lain yang di beri kekuasaan oleh alam yang  jika pandangan yang kita perjuangkan itu salah menurutnya, maka itu tidak boleh dihidupkan, harus dimatikan.

Memang benar, jadi orang gede enak, tapi susah jalaninya. Kita tidak boleh menangis saat tersakiti, terpecundangi dan tersebelahmatakan. Sebab itu hanya akan membuat orang lain lebih meremehkan kita. Beda dengan anak kecil, hanya butuh menangis agar diberi susu. Seorang ibu atau siapapun mungkin akan sangat hawatir saat melihat anak kecil yang menangis. tapi bagi orang “gede” jangan sekali-kali menangis untuk mengharapkan bantuan orang lain. Menangis adalah pengharapan tertulus yang hanya boleh dilihat oleh Tuhan.

“Jadi orang gede enak, tapi susah jalaninnya”. Sebuah kutipan yang sangat dalam menurut saya. Sebuah pemantik yang akan menyalakan terlalu banyak perbandingan antara kita yang merasa “gede” dengan anak kecil. Sebuah kata yang memaksa saya untuk merenung, “siapa saya sekarang ?” apakah saya sudah “gede” ?. Sebuah konklusi dari iklan yang akan menimbulakan perbincangan besar jika didiskusikan dengan orang-orang yang telah saling merasa “gede”. Tapi sayang, kutipan itu adalah kutipan dari sebuah iklan, diucapkan dengan bahasa daerah. Meskipun dia adalah sebuah kutipan besar menurut saya, tapi ada sudut pandang yang akan membunuhnya. Yaitu sudut pandang penulisan ilmiah, diyakini oleh beberapa orang yang terlegitimasi untuk menganggap kutipan itu buruk secara generalisir  jika secara subyektif ia menganggapnya buruk. Kasihan, Kutipan Bermakna Besar Yang Tak Bisa Dipertanggung Jawabkan.


Selasa, 01 September 2015

Jauh, Merantau ke Dalam Fikiran Orang Lain.


Jauh, Merantau ke Dalam Fikiran Orang Lain.

Tangan Andi menjabat erat telapak ibunya, ia melihat jabatan itu beberapa lama, haru mulai menderu, ada yang tertahan diujung matanya. Ia bertahan dalam tatapan itu lagi lebih lama, ia menikmati biru emosinya, ia mulai mencoba merayakan perpisahan itu dalam kelabu langit-langit hatinya. Andi tak tahu, apakah ibu merasa hal yang sama. Tapi ia yakin ibu merasakan hal yang mungkin lebih dalam dari apa yang ia fikirkan. Sedari tadi ibu bercucuran air mata. Memberi nasihat yang tak sanggup lagi didengarkan oleh Andi dengan baik, ia hanya mengangguk untuk menunjukkan bahwa ia telah mengerti mengapa kali ini ia harus pergi jauh, sangat jauh meninggalkan ibunya dan ayah yang sedang sakit-sakitnya karena usia. Ibu melepas genggaman Andi, mengusap-usap rambutnya, lalu menghujani ciuman diwajahnya. Tak puas dengan itu, ibu merangkul erat Andi yang nampak tak sanggup lagi menahan air mata.

Anak berusia tujuhbelas tahun itu pun menggila dengan tangisannya. Ia tak benar-benar mengerti seperti cara ibu mengerti. Tapi Andi sangat mengerti bahwa ibu akan semakin perih jika ia tak mengikuti kemauan ibu nya. Andi harus berkuliah di tempat yang sangat jauh. Tempat yang tak pernah ia pijaki, tak ada gambaran sedikitpun tentang tempat itu dalam benaknya. Dan nampaknya Andi tak lagi peduli seberapa pun rupa kota itu, ia sedang menikmati pelukan hangat ibunya. Pelukan itulah yang menguasai semua imajinasi Andi. Pelukan yang menambah rentetean alasan untuk membuatnya mesti ikhlas.

Lalu ibu menyudahi pelukan itu, ia tak ingin berlama menunjukkan pertempuran rasa dalam hatinya, ia tak mau Andi terperangkap dalam rasa sedihnya sehingga membuat bias maksud yang sesungguhnya. Atau mungkin Ibu sendiri yang mulai terperangkap di rasa yang ia hawatirkan menimpa anaknya.

Andi terkaget oleh teriakan teman bahwa ada dosen. Ia merapikan sikapnya. Ini bukan kali pertama ia begitu jauh menjelajahi masa lalunya. Mencumbui dengan sangat bebas masa kala ia terahir kali melihat dan mendengar sosok ibunya. Hari ini tepat tujuh bulan ia berkuliah di tempat yang dulu sama sekali tak pernah ia sangka begini suasananya. Terlalu individualis, terlalu hedonis, terlalu etnosentris. Ia merasa benar-benar asing sampai saat ini. Ia terus merasa dihujam oleh hal-hal baru dalam hidupnya. Tapi ia tak  tau harus berbuat apa, karena memang ia tak begitu tertarik kepada semua itu. Satu yang sangat ia tanam dalam keluguan sikap itu, bahwa ia harus kuliah saja dengan baik. Karena itu perkataan yang paling sering Ibu ucapkan. Ia hanya mengingat suara dan wajah ibu saat mengucap itu. Tak ada alat komunikasi yang dapat menghubungkan lagi ia dengan orang tuanya yang tinggal di tempat yang sangat terpencil disalah satu daratan Indonesia.

Perkuliahan dimulai. Andi nampaknya telah beradaptasi dengan “kuliah” di kampusnya. Ia telah bisa melebur dengan ragam cara Dosen mengajarkan sesuatu kepadanya. Tak seperti saat awal-awal, ia benar-benar bingung kepada banyak karakter yang harus ia ikuti, patuhi agar mendapatkan nilai yang bagus. Ia mulai sedikit merdeka dalam hal mengikuti karakter-karakter tersebut. Tanpa ia sadari, dirinya pun turut menghilang didalam kelas. Tak ada lagi ia didalam setiap kelas, hanya sebentuk raga yang dikendalikan oleh seseorang dengan cara tertentu, dan cara yang lain oleh orang yang lain. Namun bagi Andi itu sama sekali bukan masalah, ia mencari cara agar bisa menikmati ketidak-adaan dirinya itu, ketidak-adaan yang setiap hari ia harus hadapai. Karena baginya inilah cara untuk belajar, inilah cara untuk memenuhi wasiat Ibu. Ia tak menemukan kata lain untuk menggambarkan diri dan situasinya melainkan kata “normal”. Semua baginya hal yang wajar, sehingga tak satupun orang yang berhak menganggunya untuk tidak seperti itu. Andi menutup diri dari teman-temannya, dari senior yang mengajaknya untuk menjelajahi hal baru, hal yang tak pernah ia dapatkan dalam ruangan kelas. Ia sangat takut jika harus menodai keinginan Ibunya. Ia menutup rapat telinganya dari semua ajakan selain kuliah.

Kemudian waktu berlalu semakin jauh. Ada Andi dan cara berfikirnya yang natural ikut dalam pusaran maha dahsyat itu.  Masa perkuliahan akan berakhir, tak lama lagi ia akan menyelesaikan studinya. Dan ia bangga sebab ia bisa menyelesaikan perkuliahan dalam waktu yang sangat singkat, dengan nilai yang sangat baik. Ia benar-benar puas, karena ia telah benar-benar mahir mengikuti keinginan setiap Dosennya. Ia tumbuh dewasa sebagai Mahasiswa yang tekun. Menghafal keinginan setiap dosen, lalu menyelesaikannya dengan hal yang yang sudah diluar kepala.

Tapi ia terhenti dalam sebuah malam, ia ragu. Ia tak tau harus berbuat apa lagi setelah perkuliahan ini. Ia cemas jika harus masuk ke lingkungan dimana semakin banyak lagi orang yang harus ia ikuti, harus dia buat senang dengan menjadi orang tersebut. Cita-cita yang sebelumnya sudah terasa sangat dekat, sekejap luruh. ia kembali dalam fikirannya, mengamati teman-temannya yang terlihat sangat bergairah, bersemangat meskipun nilai perkuliahannya tak sebagus nilai Andi. Bahkan beberapa yang lain sudah bisa menghasilkan uang sendiri.

Andi tertuduk sangat lama, dihadapan wajahnya sudah ada skripsi yang berisi judul pemberian dosen nya, ia telah menyelesaikan itu dengan cara-cara yang di inginkan oleh dosen. sebenarnya ia dulu sempat menyangka bahwa ia sangat dimanjakan oleh perlakuan itu. Tapi kali ini ia mulai berfikir siapa sebenarnya dirinya yang sesungguhnya. Ia mulai merasa bahwa semenjak dulu ia telah mati, sejak ia benar-benar telah menghafal karakter beberapa dosen dan mengerjakan sesuatu sesuai kainginan setiap karakter tersebut.

Andi terpaku, ia menyadari bahwa satu-satunya keahlian yang ia miliki adalah mengikuti dan membuat senang orang lain untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Lalu ia bertanya, inikah yang di inginkan oleh sang Ibu yang jauh disana, merantau sangat jauh, jauh kedalam fikiran orang-orang lain.


By : a.RIP

Jumat, 14 Agustus 2015

Kesamaan Internet dan Demokrasi



Selamat malam. Oke, saya akan menceritakan alasan saya dengan ucapan “selamat malam” pada pembuka kata ini. saat menulis ini saya sedang memikirkan beberapa hal yang muncul dari perjalanan panjang kesendirianku hari ini, dan saat ini adalah malam, mungkin anda sedang membaca ini pada saat siang atau pagi, mungkin juga subuh, entahlah. Tulisan yang saya posting untuk mengisi blog ku yang kekurangan tulisan, adalah tulisan yang kutulis dengan membayangkan saya sedang berbicara dengan orang-orang yang sedang online, meskipun saya sendiri tidak online, saya menyimpannya beberapa lama dan kadang-kadang tidak terlalu lama dilaptop, lalu mempostingnya ke blog saat saya mendapat jaringan wifi yang bisa membantu saya mengaploadnya, yah.. kasus tulisan ini sama dengan kasus semua tulisan yang ada di blog ku.

Menjadi blogger (ciyee blogger) yang sangat kesusahan mendapatkan jaringan internet memang sedikit merepotkan. Kita menulis sesuatu untuk diposting di blog, tapi saat bersamaan kita tak tau kapan akan mempostingnya. Sebelum melanjutkan dengan kalimat lain, saya mungkin tidak akan menggunakan kata “kita” lagi yang berarti keribetan ini adalah keribetan anda juga, ini adalah masalah saya. mungkin bagi anda yang memiliki wifi di rumah atau dikantor anda, atau mungkin bukan wifi milik anda tapi anda bisa terus mengaksesnya kapanpun anda mau seperti teman saya yang tinggal bertetangga dengan warkop, tidak perlu merasakan seperti saya. anda bisa langsung memposting tulisan anda, atau bahkan anda tak perlu lagi menulis di word tapi langung dilaman kosong blog anda, lalu mempublishnya. Mungkin anda memiliki waktu yang sangat berlebihan bercengkrama dengan blog anda dan bisa mempercantik tampilan blog anda, seperti yang kemarin kulakukan di kantor Jendela yang mempunyai wifi pribadi.

Seandainya saja ini adalah negara yang membebaskan biaya internet, seperti Cina atau Jepang (kalau saya tidak salah ingat, saya pernah membaca berita ini dan sedikit lupa dengan nama negaranya saat sedang mengetik, mungkin nanti saya akan memperjelas negara mana, saat saya mendapat kan jaringan internet, mungkin juga tidak), kita akan melihat anak-anak muda seperti saya menjadi lebih kreatif, lebih rajin menulis, lebih memiliki wawasan yang luas dengan bantuan google. Saya tidak leluasa membuka dan mencari manfaat apa yang sebenarnya dari internet, yang jelas mereka yang saat ini berbisnis online punya pengetahuan jauh lebih baik daripada saya. sebut saja GO JEK, yang beberapa karyawannya terintimidasi dari tukang ojek tradisional. Entahlah, saya tidak sedang ingin memberikan perspektif tentang hal itu dari orang yang juga tidak tau dunia cyber seperti saya. 

Saya akan sedikit membagikan perspektif dari “kaum gaptek yang coba berkembang sesuai zaman” tentang internet. Globalisasi adalah mengkampungkan dunia, membuat dunia menjadi lebih kecil, membuat batasan geografis punah, membuat jarak waktu semakin pendek, yah itu adalah hal yang terakomodasi oleh internet. Dengan internet kita hanya perlu melakukan hal yeng penting saja, sekarang saya sedang menunggu pertandingan tim idola saya Chlesea vs Arsenal yang tayang jam 10.00 wib, tapi karena kouta BB saya habis sejak tiga hari lalu, makanya saya menyalakan tv sejak jam 09.51 wib dan ternyata acara komentatornya sudah mulai, mungkin yang posting jadwal itu telat atau entahlah dia menggunakan waktu apa, yang jelas saya tidak ingin melewatkan kick off, jadi saya menyalakan tv dan mengeraskan suaranya lebih awal, tapi karena saya tidak senang dengan komantar-komentar orang indonesia yang seperti lebih jago dari Jose Morinho, maka saya tetap memutar musik juga sambil mengetik. Coba anda bayangkan, seandainya pak Jokowi menggratiskan biaya internet, saya bisa saja hanya online dan mendapat peringatan dari akun-akun chelsea bahwa pertandingan sisa lima menit lagi akan mulai, tak perlu terlalu boros listrik, saya bisa fokus bercerita hal tentang hal yang tadi ingin kubicarakan, dan mungkin lebih bermanfaat daripada membicarakan tentang klub bola. Saya bisa saja mencari hal-hal baru, revrensi tentang bagaimana membuat film yang baik. Entahlah...

Namun saya pesimis dengan terwujudnya internet gratis dirumah kita masing-masing, mungkin ini sangat berlebihan berharap seperti itu. Setidaknya berharap saja untuk agar wifi gratis di kampus ku bisa digunakn tidak hanya untuk membuka  www.umi.co.id, hanya untuk mendaftar KRS online yang tetap diprint lalu meminta tanda tangan pembimbing akademik dan melakukan proses pendaftaran online selayaknya tidak online, bedanya hanya kita print kertas sendiri bukan pihak kampus. Selain itu internet adalah hal yang sangat menyenangkan bagi banyak orang, karena sangat menyenangkan wajar jika semakin hari masyarakat rela membayarnya dengan mahal, mereka rela membeli hp yang lebih cepat mengakses internet, mereka rela gonta-ganti kartu hape jika yang satu dianggap lamban, banyak yang rela mengeluarkan usaha agar bisa terkoneksi dengan internet, mustahil ini digratiskan secara umum, banyak keuntungan yang mengisi kantong-kantong kapitalis disini.

Atau mungkin pertimbangan lain yang tidak memungkinkan internet gratis adalah justru kebebasan dunia didalam internet itu sendiri, banyak yang hawatir dengan dampak negatif internet, lihat saja bagaiman situs-situs Islam tiba-tiba diblokir oleh orang yang merasa dirinya berwenang, atau lihat saja Vimeo.com diblokir oleh keminfo, yang membuat saya kesusahan mendaftarkan film Takut Denda di festival film internasional, tapi untunglah sekarang sudah tidak susah mendaftar karena saya sudah tau caranya. Orang kreatif lain ternyata bisa menerobos banyak hal yang diblokir di internet, yang dianggap berbahaya oleh orang-orang yang diberi kewenangan untuk beranggapan seperti itu. Mungkin juga beberapa pemerhati sosial beranggapan bahwa bila internet gratis diseluruh indonesia akan membuat masyarakat apatis, lihat saja bagaimana apatisnya orang-orang disekitar kita karena sosial media, karena kehidupan didalam internet, padahal sekarang masih berbayar loh, mahal pula. Atau mungkin juga ada pihak yang sangat hawatir dengan semakin narsisnya masyarakat nanti, lihat saja bagaimana demam selfie, atau video-video instagram yang katanya jangan mencap dengan cover, video yang menunjukkan perbandingan orang yang sama saat menggunakan make up secara amburadul dengan secara benar. 

Padahal masih banyak aktivitas yang begitu potensial, lihat saja mereka yang semakin rajin memposting hasil foto mereka, lihat juga bagaimana media-media elktronik dan cetak mempersilahkan warga melaporkan kejadian yang ia lihat yang disebut citizen jurnalism, atau lihat saja saya yang bisa menuliskan apa yang saya fikirkan lalu membaginya, mungkin saja ada beberapa kata didalam tulisan-tulisan saya yang bisa merubah orang menjadi lebih baik, ini hanya sebagian kecil, sebagaimana sebagian kecilnya dampak negatif yang saya sebutkan juga.

Lalu apakah kita akan menuntut internet agar ia menjadi seutuhnya sempurnah atau seutuhnya salah agar kita bisa leluasa dan mudah memberi cap salah atau benar terhadapnya. Bukankah hanya tuhan yang maha sempurnah, selain Dia pasti memiliki sisi baik dan buruk. Internet, sama halnya dengan demokrasi dari perspektif cara kita memperlakukannya, semua benda adalah benda itu sendiri, yang harus membawanya lebih bermanfaat adalah manusianya, rugi dong akal kita jika melulu hal-hal yang sangat baik selalu dibawah kedalam lingkaran kemaksiatan. Kita diberi kesempatan memilih orang yang akan memimpin kita dengan demokrasi, tapi karena beberapa faktor pragmatis kita menyia-nyiakannya dan menghianati diri kita sendiri, padahal kita menggaji mereka dari uang-uang yang susah payah kita dapatkan lalu dimintaki pajak. Kita diberi kesempatan untuk menggunakan internet untuk menjadi masyarakat global, tapi beberapa orang menggunakannya hanya untuk narsisme, hanya menggunakannya untuk memuaskan keinginan sesaat. Entahlah.. saya tidak berhak memberikan beberapa daftar dampak negatif atau positif dari betapa berharganya akal kita, betapa kita diberikan banyak anugrah dan kesempatan untuk menjadikan banyak hal didunia ini bermanfaat.

Menurut saya, lagi-lagi ini faktor pendidikan, entah itu pendidikan agama atau formal. Agar kita bisa memperlakukan internet dan demokrasi menjadi objek yang bermanfaat.