Mendukung Taufik Ismail : Dunia Ini Panggung Sandiwara.
Malam tenggelam, tak
lama lagi terbunuh mentari. Waktu seperti ini menjadi teman lamaku. Duduk
menyendiri dan beramai-ramai dengan kenangan, memilahnya lalu menulis yang
paling berkesan. Tapi entah apa yang berkesan kali ini selain kesempatan duduk ditempat
yang sama beberapa bulan lalu saat saya menulis sekenario film “televisi bekas
baru”. Tapi itu adalah sebuah fiksi, meski secara inplisit sebenarnya merupakan
fakta yang direproduksi. Saya ingin menceritakan banyak hal yang berkesan, tapi
saat bersamaan saya tak bisa menceritakan apa-apa. Mungkin saya tidak memiliki
kesan apa-apa lagi terhadap kehidupan. Sudah beberapa lama bergandengan dengan
pengulangan kejadian yang sama, membosankan. Tapi tunggu, ternyata ahir-ahir
ini saya sedang dipaksa oleh otakku memikirkan suatu tindakan yang disebut
“kepura-puraan”.
Siapa yang mengenal
siapa sekarang ? beberapa orang merasa saling berkenalan. Saya beberapa kali
mendengar orang dengan bangga mengatakan “saya
kenal sekali itu anak”, sebuah prolog yang kemudian diikuti gunjingan dan
sesekali pujian. Entah apa yang terjadi, saya melihat sebuah tindakan
penghormatan terhadap sesorang hanya sebatas tindakan materil. Saya melihat
teman saya sangat sopan dengan seseorang, tapi saat seseorang itu pergi temanku
memelankan suaranya dan berbisik tentang kejelakan seseorang itu yang jika
sedikit saja temanku itu mengencangkan suaranya maka seseorang itu pasti akan
mendengar betapa ia sangat tidak dihormati. Saya selalu berada dalam posisi
mendengar seseorang seperti itu. Dan benar, sekarang saya sedang melakukannya
juga, menggunjing dibalik sebuah penghormatan materil terhadapa temanku.
Terlalu memikirkan cara
yang sebaiknya dilakukan oleh setiap orang sama saja berharap batu mengapung
dipermukaan air. Terlalu banyak formalitas berlalu lalang disekitar. Saya tidak
tau siapa yang benar-benar mengenal saya siapa saya sekarang, jangankan IBU ku,
diriku sendiripun tak tau siapa sebenarnya saya ini. Tapi anehnya, dalam
keadaan “ketidaktahuan” diri kita, selalu saja bermunculan orang lain yang
merasa mengenal siapa kita sebenarnya. Ada beberapa orang yang bahkan tidak
terlalu akrab merasa mengenal lalu menceritakan siapa saya.
Saya pernah berfikir,
bahwa penilaian kita terhadap sebuah objek sebenarnya adalah penilaian terhadap
diri kita sendiri. Terlalu memandang sesuatu jelek menurut saya adalah sebuah
indikasi bahwa fikiran kita hanya melihat sesuatu yang jelek-jelek saja, saat
bersamaan justru kita sendiri yang jelek. Tapi terlalu memikirkan dan berharap
agar semua orang menjadi baik rasa-rasanya mendekatkan diri kebibir kegilaan.
Saya tidak bisa merubah siapapun kecuali diri saya sendiri. Jangankan saya,
agama yang sangat sakaralpun sekarang beberapakali hanya menjadi bahan lelucon.
Saya mungkin hanya akan mencoba untuk saling mengingatkan dalam kesabaran dan
kebaikan.
Meskipun dalam beberapa
situasi saya benar-benar tidak peduli lagi bagaimana sifat seseorang. Saya
percaya Tuhan tidak pernah meninggalkan hambanya. Seseorang yang menurutku
bersifat buruk biarlah Tuhan saja yang mengurusnya, yah meskipun keburukan
sifat beberapa orang benar-benar terasa menyakitkan. Tapi kembali lagi, kita
mempunyai sebuah tindakan “kepura-puraan”. Dalam buku psikologi komunikasi
Jalaluddin Rahmat, kepura-puraan semacam itu disebut ego. Saya tidak lagi ingin menunjukkan ketidak sukaan ku terhadap
seseorang secara gamblang, karena saya tau jika saya menunjukkannya, maka
beberapa urusan dimasa depan menurutku akan lebih menyulitkan saya lagi, itu
salah satu contoh ego.
Meskipun masing-masing
kita memiliki keahlian untuk berpura pura, tapi ada kalanya kepura-puraan pun
tak bisa lagi dilakoni. Tunggu, saya sedang tidak menganggap seluruh hidup
adalah kepura-puraan. Menurut saya, sepandai apapun manusia berkamuflase, ia
juga memiliki sisi lain yang tulus. Kepura-puraan hanya menjadi semacam pilihan
dalam menghadapi sebuah masalah.
Kita mungkin masih
mengingat Mikel Jackson, raja lagu pop dunia, ia populer dan banyak harta. Saya
yakin kebanyakan dari penggemarnya mengenalnya sebatas apa yang mikel ingin
tunjukkan di televisi. Hingga karakter yang lekat dengannya adalah dancing ala
robot, seoarang penyanyi yang sangat energik. Tapi entah siapa yang mengenalnya
secara menyeluruh hingga akhirnya dunia digegerkan dengan kematiannya di dalam
kamar karena over dosis obat. Apa sebenarnya yang terjadi dengannya, apakah ia
menyimpan sangat banyak beban fikiran, padahal ia selalu terlihat bergairah
dilayar kaca dan poster-poster yang tertempel dikamar kita.
Berpura-pura memang
manjur, agar kita diterima oleh sosial yang kita benci. Beberapa anak memaksa
orang tuanya membelikan sesuatu yang dapat membuatnya masuk dalam sebuah strata
sosial yang dianggap keren. Kita, atau saya, tak bisa menunjukkan segala
sesuatunya sesuai apa yang saya inginkan, saya harus menyesuaikan dengan sistem
dan budaya, hal yang selain itu harus saya tutup tak memprbolehkan siapapun tau
kecuali Tuhanku yang tak perlu izin untuk mengetahui segalanya.
Tulisan ini adalah
tulisan yang tiga kali kubaca hingga bisa mendapat apa sebenarnya yang sedang
saya bicarakan agar bisa menyudahinya. Entah apa yang sebenarnya ingin
kubicarakan. Menimbang kata demi kata, lalu menulisnya dan beberapakali
menghapusnya kembali. Saya tau, meskipun saya sedang sendiri, tapi mungkin saja
tulisan ini akan dibaca oleh beberapa orang yang akan merasa tersinggung dan
membuat beberapa masalah yang sedang saya hadapi saat ini semakin kacau (saya
sedang memikirkan beberapa nama). Sebab sayapun tau, ada beberapa orang yang
saya benci saat bersamaan saya menunjukkan sebuah penghormatan, munafik ?,
menurutku itu hanya sebatas kepura-puraan.
Kepura-puraan adalah
tentang permukaan. Kepura-puraan mampu melihat celah panca indera yang kita
miliki. Kita mungkin sangat akrab dengan ucapan “teman makan teman” atau “penghianat”.
Menurut saya itu terjadi karena kelima indera kita tak mampu lagi
menjangkau apa yang sedang dibicarakan oleh orang yang sangat kita percaya saat
kita sedang tidak bersamanya. Mata kita tak bisa lagi melihat ekspresi wajah
sesorang dibelakang kita yang baru saja mengangguk-angguk mendengar apa yang
kita nasihatkan padanya.
Saya sedang tidak
menjastifikasi kepura-puraan adalah materi yang busuk atau mewah. Saya hanya
sedang berfikir tentang kita yang cenderung berfikir sebatas Materil, dan pada
gilirannya berperilaku sebatas apa yang tampak. Kita terlalu pandai
bersandiwara dipermukaan. Mungkin benar lagu tentang “panggung sandiwara” yang
di tulis oleh Taufik Ismail, bahwa dunia ini hanya panggung sandiwara. Entahlah....