Senin, 08 Februari 2016

Bekerja Sebagai Pengangguran

Bismillah yang maha pengasih dan penyang. Memulai dengan nama Allah, saya  berharap bisa banyak mencurahkan hal-hal yang tak ku ketahui namanya, berharap banyak agar kepala mendapat sedikit ruang untuk bergerak ditumpukan tekanan. Lama sudah berlalu, saat terakhir kali saya memilih beberapa rahasia dan lalu menulisnya. Bertatapan dengan laptop kali ini serasa bertemu lagi dengan kawan lama yang sudah banyak berubah.

Hari ini, untuk sekedar menghindari tidur sore, saya ingin bercerita bagaimana kepala saya menanggapi situasi yang sedang kupijaki, PENGANGGURAN. Sebelum sampai pada situasi ini, saya ingat betul bagaimana sebuah kehidupan beberapa waktu lalu yang menghampiriku, sebuah kehidupan yang tak pernah terbayangkan saat saya masih kecil lalu bercerita tentang khayalan setinggi-tingginya bersama teman sebaya. Sebuah kehidupan yang sangat penting, berharga dan sangat istimewa bagi saya.

Hal itu dimulai dari kemenangan film Takut Denda di Apresiasi Film Indonesia. Sebuah penghargaan yang tersimpan jauh-jauh dalam harapanku. Saat menerima emile dari panitia bahwa film itu menjadi salah satu dari tiga nominasi, bayangan yang terus menggantung di ubun-ubun ku adalah bukan kemenangan, tapi tentang saya yang akan pertamakali keluar dari sulawesi dan akan pertamakali menaiki pesawat terbang. Saat menerima undangan dan tiket pesawat menuju Yogyakarta, yang paling kusibuki bukan tentang speech yang harus kubaca atau kuhafal ketika menerima piala, tapi bertanya kesana kemari tentang bagaimana proses dan tahapan saat saya tiba di bandara hingga bisa menemukan kursi yang akan kududuki. Lucu ketika mengingatnya. Sem yang mengantar saya ke bandara tak ku izinkan pulang hingga saya benar-benar mengerti kemana lagi saya harus menunggu setelah cek in. Untung saja Sem bukan saya, jika Sem adalah saya mungkin saya akan mengerjai temanku yang baru pertama kali akan terbang.

Setelah saya berhasil melakukan perjalanan pulang pergi pertama dengan pesawat terbang dan kembali ke kampus, ternyata banyak teman dan junior yang menyambut dengan bahagia, beberapa diantara mereka bahkan tampak sangat bahagia dibanding yang kurasakan. Bahkan mereka membuatkan baliho ucapan selamat berukuran besar lalu memajangnya di depan gerbang masuk kampus. Ada beberapa wawancara yang harus kulalui, dan namaku dengan gampang kutemui di beberapa media, bahkan di buku panduan wisudah diamana saya adalah salah satu dari peserta wisudah itu. Beberapa orang mengatakan ini akan benar-benar mempermudah saya dimasa depan, sebab saya adalah orang baru di film yang tiba-tiba bisa begini, waktu itu saya mempertimbangkan untuk menyepakati anggapan tersebut.

Tak lama berselang, saya mengakhiri masa kuliah dan mendapat gelar wisudawan terbaik ilmu Komunikasi. Ya.. lagi-lagi ini adalah sebuah kejadian yang sama sekali tak kusangka. Saya pernah di skorsing 1 semester dan ipk ku sangat jauh dibawah teman-teman angkatan yang terlebih dahulu wisudah. Ternyata kata “terbaik” yang kudapat waktu itu adalah karena lima orang lain yang wisudah dengan saya mendapat ipk sedikit lebih buruk daripada buruknya ipk ku. Dan akhirnya naik lah saya menerima piagam dan uang 200 ribu dalam amplop dengan Vanilla, pacar yang masih baru waktu yang ku jadikan pendamping rama tamah menggantikan ayah dan ibuku yang baru menuju makassar besoknya. Seandainya saja saya tau bahwa saya bisa menjadi yang “terbaik” pastilah tak ku izinkan mereka melewatkan apa yang terjadi saat saya disanjung oleh dosen bahkan rektor, pastilah mereka akan sangat bangga layaknya orang tua lain.

Dua kejadian yang sangat berdekatan sedekat paragraf yang kupisahkan untuk menceritakan sedikit tentang mereka, menjadi rentetan yang benar benar membahagiakan, dan saya tak tau harus bagaimana merayakannya kecuali bersyukur kepada sang Maha pemberi kejutan, Tuhan ku.


Dan kini, sampailah kita, atau tepatnya saya, pada paragraf yang akan menceritakan siapa saya setelah melewati keduanya saat ini, saat kembali dengan malu-malu meminjam kata untuk ku gunakan merasakan sedikit saja apa yang tidak bisa kuceritakan kepada siapapun seperti caraku bercerita kepada diriku sendiri. Saya pernah membaca buku tentang manusia adalah perangkai suasana alih-alih produk suasana. Dan saya yakin dengan itu dan beberapakali membuktikannya. Tapi entah saat ini suasana benar-benar memenjarakan saya, dan saya benar-benar takluk bersimbah harap didalamnya. Beberapa orang yang melihat permukaan ku akan dengan mudah menuduhku pengangguran dan dalam kata pengangguran itu ia menyelipkan tuduhan tuduhan lain seperti malas dan bodoh. Saya mungkin sependapat, bahwa saya malas, lagi lagi saya menunggu kejutan. Padahal saya tau kejutan-kejutan yang telah kudapatkan tidak begitu saja hadir, tidak dengan terus bermain PS dan COC, tidak dengan tidur sepanjang hari dan begadang sepanjang malam. Atau sebelum menyudahi cerita ini, saya akan membela diri, bahwa saya hanya sedang menikmati masa-masa dimana hanya ada satu tekanan, harus segera bekerja. Dan dibalik bekerja itu ada konsekuensi membiayai adik yang masih kuliah, melanjutkan s2, membelikan orang tua Rumah di Makassar, dan mungkin menikah, yah.. itu adalah permintaan IBU ku yang coba kutunaikan sebagai PENGANGGURAN.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar