Bismillah
yang maha pengasih dan penyang. Memulai dengan nama Allah, saya berharap bisa banyak mencurahkan hal-hal yang
tak ku ketahui namanya, berharap banyak agar kepala mendapat sedikit ruang
untuk bergerak ditumpukan tekanan. Lama sudah berlalu, saat terakhir kali saya
memilih beberapa rahasia dan lalu menulisnya. Bertatapan dengan laptop kali ini
serasa bertemu lagi dengan kawan lama yang sudah banyak berubah.
Hari
ini, untuk sekedar menghindari tidur sore, saya ingin bercerita bagaimana
kepala saya menanggapi situasi yang sedang kupijaki, PENGANGGURAN. Sebelum
sampai pada situasi ini, saya ingat betul bagaimana sebuah kehidupan beberapa
waktu lalu yang menghampiriku, sebuah kehidupan yang tak pernah terbayangkan
saat saya masih kecil lalu bercerita tentang khayalan setinggi-tingginya
bersama teman sebaya. Sebuah kehidupan yang sangat penting, berharga dan sangat
istimewa bagi saya.
Hal
itu dimulai dari kemenangan film Takut Denda di Apresiasi Film Indonesia.
Sebuah penghargaan yang tersimpan jauh-jauh dalam harapanku. Saat menerima
emile dari panitia bahwa film itu menjadi salah satu dari tiga nominasi,
bayangan yang terus menggantung di ubun-ubun ku adalah bukan kemenangan, tapi
tentang saya yang akan pertamakali keluar dari sulawesi dan akan pertamakali
menaiki pesawat terbang. Saat menerima undangan dan tiket pesawat menuju
Yogyakarta, yang paling kusibuki bukan tentang speech yang harus kubaca atau kuhafal ketika menerima piala, tapi
bertanya kesana kemari tentang bagaimana proses dan tahapan saat saya tiba di
bandara hingga bisa menemukan kursi yang akan kududuki. Lucu ketika
mengingatnya. Sem yang mengantar saya ke bandara tak ku izinkan pulang hingga
saya benar-benar mengerti kemana lagi saya harus menunggu setelah cek in.
Untung saja Sem bukan saya, jika Sem adalah saya mungkin saya akan mengerjai
temanku yang baru pertama kali akan terbang.
Setelah
saya berhasil melakukan perjalanan pulang pergi pertama dengan pesawat terbang
dan kembali ke kampus, ternyata banyak teman dan junior yang menyambut dengan bahagia,
beberapa diantara mereka bahkan tampak sangat bahagia dibanding yang kurasakan.
Bahkan mereka membuatkan baliho ucapan selamat berukuran besar lalu memajangnya
di depan gerbang masuk kampus. Ada beberapa wawancara yang harus kulalui, dan
namaku dengan gampang kutemui di beberapa media, bahkan di buku panduan wisudah
diamana saya adalah salah satu dari peserta wisudah itu. Beberapa orang
mengatakan ini akan benar-benar mempermudah saya dimasa depan, sebab saya
adalah orang baru di film yang tiba-tiba bisa begini, waktu itu saya
mempertimbangkan untuk menyepakati anggapan tersebut.
Tak
lama berselang, saya mengakhiri masa kuliah dan mendapat gelar wisudawan
terbaik ilmu Komunikasi. Ya.. lagi-lagi ini adalah sebuah kejadian yang sama
sekali tak kusangka. Saya pernah di skorsing 1 semester dan ipk ku sangat jauh
dibawah teman-teman angkatan yang terlebih dahulu wisudah. Ternyata kata
“terbaik” yang kudapat waktu itu adalah karena lima orang lain yang wisudah
dengan saya mendapat ipk sedikit lebih buruk daripada buruknya ipk ku. Dan
akhirnya naik lah saya menerima piagam dan uang 200 ribu dalam amplop dengan Vanilla,
pacar yang masih baru waktu yang ku jadikan pendamping rama tamah menggantikan
ayah dan ibuku yang baru menuju makassar besoknya. Seandainya saja saya tau
bahwa saya bisa menjadi yang “terbaik” pastilah tak ku izinkan mereka
melewatkan apa yang terjadi saat saya disanjung oleh dosen bahkan rektor,
pastilah mereka akan sangat bangga layaknya orang tua lain.
Dua
kejadian yang sangat berdekatan sedekat paragraf yang kupisahkan untuk
menceritakan sedikit tentang mereka, menjadi rentetan yang benar benar
membahagiakan, dan saya tak tau harus bagaimana merayakannya kecuali bersyukur
kepada sang Maha pemberi kejutan, Tuhan ku.
Dan
kini, sampailah kita, atau tepatnya saya, pada paragraf yang akan menceritakan
siapa saya setelah melewati keduanya saat ini, saat kembali dengan malu-malu
meminjam kata untuk ku gunakan merasakan sedikit saja apa yang tidak bisa
kuceritakan kepada siapapun seperti caraku bercerita kepada diriku sendiri.
Saya pernah membaca buku tentang manusia adalah perangkai suasana alih-alih
produk suasana. Dan saya yakin dengan itu dan beberapakali membuktikannya. Tapi
entah saat ini suasana benar-benar memenjarakan saya, dan saya benar-benar takluk
bersimbah harap didalamnya. Beberapa orang yang melihat permukaan ku akan
dengan mudah menuduhku pengangguran dan dalam kata pengangguran itu ia
menyelipkan tuduhan tuduhan lain seperti malas dan bodoh. Saya mungkin
sependapat, bahwa saya malas, lagi lagi saya menunggu kejutan. Padahal saya tau
kejutan-kejutan yang telah kudapatkan tidak begitu saja hadir, tidak dengan
terus bermain PS dan COC, tidak dengan tidur sepanjang hari dan begadang
sepanjang malam. Atau sebelum menyudahi cerita ini, saya akan membela diri,
bahwa saya hanya sedang menikmati masa-masa dimana hanya ada satu tekanan,
harus segera bekerja. Dan dibalik bekerja itu ada konsekuensi membiayai adik
yang masih kuliah, melanjutkan s2, membelikan orang tua Rumah di Makassar, dan
mungkin menikah, yah.. itu adalah permintaan IBU ku yang coba kutunaikan
sebagai PENGANGGURAN.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar