Minggu, 14 Februari 2016

Mendukung Taufik Ismail : Dunia Ini Panggung Sandiwara

Mendukung Taufik Ismail : Dunia Ini Panggung Sandiwara.

Malam tenggelam, tak lama lagi terbunuh mentari. Waktu seperti ini menjadi teman lamaku. Duduk menyendiri dan beramai-ramai dengan kenangan, memilahnya lalu menulis yang paling berkesan. Tapi entah apa yang berkesan kali ini selain kesempatan duduk ditempat yang sama beberapa bulan lalu saat saya menulis sekenario film “televisi bekas baru”. Tapi itu adalah sebuah fiksi, meski secara inplisit sebenarnya merupakan fakta yang direproduksi. Saya ingin menceritakan banyak hal yang berkesan, tapi saat bersamaan saya tak bisa menceritakan apa-apa. Mungkin saya tidak memiliki kesan apa-apa lagi terhadap kehidupan. Sudah beberapa lama bergandengan dengan pengulangan kejadian yang sama, membosankan. Tapi tunggu, ternyata ahir-ahir ini saya sedang dipaksa oleh otakku memikirkan suatu tindakan yang disebut “kepura-puraan”.

Siapa yang mengenal siapa sekarang ? beberapa orang merasa saling berkenalan. Saya beberapa kali mendengar orang dengan bangga mengatakan “saya kenal sekali itu anak”, sebuah prolog yang kemudian diikuti gunjingan dan sesekali pujian. Entah apa yang terjadi, saya melihat sebuah tindakan penghormatan terhadap sesorang hanya sebatas tindakan materil. Saya melihat teman saya sangat sopan dengan seseorang, tapi saat seseorang itu pergi temanku memelankan suaranya dan berbisik tentang kejelakan seseorang itu yang jika sedikit saja temanku itu mengencangkan suaranya maka seseorang itu pasti akan mendengar betapa ia sangat tidak dihormati. Saya selalu berada dalam posisi mendengar seseorang seperti itu. Dan benar, sekarang saya sedang melakukannya juga, menggunjing dibalik sebuah penghormatan materil terhadapa temanku.

Terlalu memikirkan cara yang sebaiknya dilakukan oleh setiap orang sama saja berharap batu mengapung dipermukaan air. Terlalu banyak formalitas berlalu lalang disekitar. Saya tidak tau siapa yang benar-benar mengenal saya siapa saya sekarang, jangankan IBU ku, diriku sendiripun tak tau siapa sebenarnya saya ini. Tapi anehnya, dalam keadaan “ketidaktahuan” diri kita, selalu saja bermunculan orang lain yang merasa mengenal siapa kita sebenarnya. Ada beberapa orang yang bahkan tidak terlalu akrab merasa mengenal lalu menceritakan siapa saya.

Saya pernah berfikir, bahwa penilaian kita terhadap sebuah objek sebenarnya adalah penilaian terhadap diri kita sendiri. Terlalu memandang sesuatu jelek menurut saya adalah sebuah indikasi bahwa fikiran kita hanya melihat sesuatu yang jelek-jelek saja, saat bersamaan justru kita sendiri yang jelek. Tapi terlalu memikirkan dan berharap agar semua orang menjadi baik rasa-rasanya mendekatkan diri kebibir kegilaan. Saya tidak bisa merubah siapapun kecuali diri saya sendiri. Jangankan saya, agama yang sangat sakaralpun sekarang beberapakali hanya menjadi bahan lelucon. Saya mungkin hanya akan mencoba untuk saling mengingatkan dalam kesabaran dan kebaikan.

Meskipun dalam beberapa situasi saya benar-benar tidak peduli lagi bagaimana sifat seseorang. Saya percaya Tuhan tidak pernah meninggalkan hambanya. Seseorang yang menurutku bersifat buruk biarlah Tuhan saja yang mengurusnya, yah meskipun keburukan sifat beberapa orang benar-benar terasa menyakitkan. Tapi kembali lagi, kita mempunyai sebuah tindakan “kepura-puraan”. Dalam buku psikologi komunikasi Jalaluddin Rahmat, kepura-puraan semacam itu disebut ego. Saya tidak lagi ingin menunjukkan ketidak sukaan ku terhadap seseorang secara gamblang, karena saya tau jika saya menunjukkannya, maka beberapa urusan dimasa depan menurutku akan lebih menyulitkan saya lagi, itu salah satu contoh ego.

Meskipun masing-masing kita memiliki keahlian untuk berpura pura, tapi ada kalanya kepura-puraan pun tak bisa lagi dilakoni. Tunggu, saya sedang tidak menganggap seluruh hidup adalah kepura-puraan. Menurut saya, sepandai apapun manusia berkamuflase, ia juga memiliki sisi lain yang tulus. Kepura-puraan hanya menjadi semacam pilihan dalam menghadapi sebuah masalah.

Kita mungkin masih mengingat Mikel Jackson, raja lagu pop dunia, ia populer dan banyak harta. Saya yakin kebanyakan dari penggemarnya mengenalnya sebatas apa yang mikel ingin tunjukkan di televisi. Hingga karakter yang lekat dengannya adalah dancing ala robot, seoarang penyanyi yang sangat energik. Tapi entah siapa yang mengenalnya secara menyeluruh hingga akhirnya dunia digegerkan dengan kematiannya di dalam kamar karena over dosis obat. Apa sebenarnya yang terjadi dengannya, apakah ia menyimpan sangat banyak beban fikiran, padahal ia selalu terlihat bergairah dilayar kaca dan poster-poster yang tertempel dikamar kita.

Berpura-pura memang manjur, agar kita diterima oleh sosial yang kita benci. Beberapa anak memaksa orang tuanya membelikan sesuatu yang dapat membuatnya masuk dalam sebuah strata sosial yang dianggap keren. Kita, atau saya, tak bisa menunjukkan segala sesuatunya sesuai apa yang saya inginkan, saya harus menyesuaikan dengan sistem dan budaya, hal yang selain itu harus saya tutup tak memprbolehkan siapapun tau kecuali Tuhanku yang tak perlu izin untuk mengetahui segalanya.

Tulisan ini adalah tulisan yang tiga kali kubaca hingga bisa mendapat apa sebenarnya yang sedang saya bicarakan agar bisa menyudahinya. Entah apa yang sebenarnya ingin kubicarakan. Menimbang kata demi kata, lalu menulisnya dan beberapakali menghapusnya kembali. Saya tau, meskipun saya sedang sendiri, tapi mungkin saja tulisan ini akan dibaca oleh beberapa orang yang akan merasa tersinggung dan membuat beberapa masalah yang sedang saya hadapi saat ini semakin kacau (saya sedang memikirkan beberapa nama). Sebab sayapun tau, ada beberapa orang yang saya benci saat bersamaan saya menunjukkan sebuah penghormatan, munafik ?, menurutku itu hanya sebatas kepura-puraan.

Kepura-puraan adalah tentang permukaan. Kepura-puraan mampu melihat celah panca indera yang kita miliki. Kita mungkin sangat akrab dengan ucapan “teman makan teman” atau “penghianat”. Menurut saya itu terjadi karena kelima indera kita tak mampu lagi menjangkau apa yang sedang dibicarakan oleh orang yang sangat kita percaya saat kita sedang tidak bersamanya. Mata kita tak bisa lagi melihat ekspresi wajah sesorang dibelakang kita yang baru saja mengangguk-angguk mendengar apa yang kita nasihatkan padanya.


Saya sedang tidak menjastifikasi kepura-puraan adalah materi yang busuk atau mewah. Saya hanya sedang berfikir tentang kita yang cenderung berfikir sebatas Materil, dan pada gilirannya berperilaku sebatas apa yang tampak. Kita terlalu pandai bersandiwara dipermukaan. Mungkin benar lagu tentang “panggung sandiwara” yang di tulis oleh Taufik Ismail, bahwa dunia ini hanya panggung sandiwara. Entahlah....

1 komentar: