Jumat, 05 Juni 2015

“mutau sendiriji nanti kalo kkn mako, nd bisa dicerita”



“mutau sendiriji nanti kalo kkn mako, nd bisa dicerita”

Mengawali pagi dengan melakukan hal yang sama seperti beberapakali kemarin, seharian, sejak pagi hingga sebelum tidur ditengah malam. Entah apa yang membuatku tak bosan menyaksikannya, ada beberapa jawaban yang berlalu lalang di kepalaku, tapi mungkin sebenarnya dibagian hatiku. Apakah mungkin karena susunan gambar didalamnya adalah rangkaian yang kuinginkan, apakah karena itu adalah hasil editanku, apakah karena itu adalah rekaman dari kameraku dan backsound lagu-lagu kesukaanku,  jika memang iya, maka apakah wajar jika saya mengulang terus menerus vidio itu, tanpa henti, lalu aku tersenyum dan merasakan ada beberapa irisan di hati yang bermuara pada tertahannya air mata di sudut kedua mataku. Saya mulai yakin, hal yang membuatku sangat emosional menonton vidio itu berkali-kali adalah suasana didalamnya, bukan karena materi. Aku masih mengenang dan berharap semuanya tak berakhir secepat ini, tapi sekali lagi, apakah waktu 30 hari adalah waktu yang singkat, itu relatif, jika 30 hari saja aku harus merasakan suasana seperti itu maka saya dengan yakin menjawab itu adalah waktu yang sangat singkat. 

Haru biru menandai usapan berkali-kali air mata ibu Jumanang sembari memeluk dan menciumi kami satu-satu, ia tak lagi tersenyum dan menyuruh kami terus terusan makan seperti sejak hari pertama hingga malam perpisahan peserta KKN semalam. Ia merunduk, tak kuasa menahan dan membiarkan kami melihatnya menangis, ia tak bicara lagi dengan bahasa Konjo yang menjadi komunikasinya kepada kami yang benar-benar tak paham dengan itu. Lalu kecupannya mendarat dikanan kiri pipi kami, ia memelukku setelah teman-teman yang lain, cukup erat tertahan beberapa detik. Aku meminta maaf atas semua kesalahan yang mungkin kulakukan dan tak kuketahui, lalu ia mengusap lagi air matanya yang terus mengalir, aku yakin bukan karena permintaan maafku, saya berbahasa indonesia dan dia tak memahami bahasa itu. Ia mungkin juga tak merelakan kami secepat ini, atau masih ingin merasakan beberapa hari suasana didalam rumah bagai keluarga. Tapi memang beginilah, perpisahan pasti akan menjemput, berapa hari pun kami KKN disana, semuanya akan berahir, kami akan kembali pada angkuhnya kota, kami akan bersikukuh lagi dengan kesombongan udara di Makassar, kami tetap akan meninggalkan asri nya pagi di Desa itu.

Tak terasa, sepertinya 30 hari KKN kemarin adalah mimpi, mungkin sebenarnya hanya hayalan, yah.. semacam lamunan, bahkan mungkin sekedar bayangan. Saya kembali disini, di kontarakan, duduk yang sama dengan 31 hari sebelumnya dan menghadap ke Laptop menulis beberapa ingatan ku. Saya seperti baru saja terbangun dari tidur, setelah memimpikan suasana yang sangat langka, aku kemudian mengenang mimpi itu dan menulisnya, lalu menaburi emosi pada setiap langkahku memasuki kembali memori itu. Aku kemudian melogikakan suasana itu, bahwa aku adalah orang desa yang mirip dengan lingkungan di Posko ku, bahwa orang tua kandungku lebih menyayangiku, bahwa aku memiliki teman yang lebih lama dibanding teman posko ku, ya.. aku membuat diriku angkuh, dan coba bergegas meninggalkan kenangan itu, dan tak lagi memutar vidio, aku sedang mencoba tuk menawar haru ibu Jumanang yang sedikit demi sedikit dan lama kelaman menular kepadakau. Sebab ini sangat mengiris, prestisius. Inilah mungkin yang menjawab kebingungan ku saat bertanya kepada teman-teman yang terlebih dahulu KKN, tentang apa sebenarnya yang membuat mereka sangat senang dengan program perkuliahan itu, yang kemudian beberapa kali dengan orang yang berbeda menjawab “mutau sendiriji nanti kalo kkn mako, nd bisa dicerita”. 

Kuliah Kerja Nyata, masing-masing kita pasti akan membawa cerita yang berbeda meskipun ada beberapa kesamaan. Bahkan dengan satu posko pun, pasti ada yang beda, cerita yang saya maksud bukan laporan harian dan laporan kelompok yang digandakan lalu diserahkan ke supervisi. Tapi cara kita menikmati, cara kita melakukan kesibukan, melihat dan menahan ketidak senangan terhadap teman agar tak nampak lalu menunggunya membagi ceria untuk membuat kita lupa dengan ketidak senangan itu. Ini akan beda, dengan cara kita melihat apa yang ada disekitar kita, dengan cara kita melihat perlakuan tuan rumah dan warga sekitar. Dan berbeda saat kita menyimpan cerita dan ingin menceritakan kembali.

Jika kau tanya aku, dan tak perlulah sebenarnya kau bertanya lalu aku menjawab, saya memang ingin menceritakan ini lagi, banyak hal, dan seperti biasa, manusia akan bosan mendengarnya, maka biarlah saya bercerita dengan diriku, dengan laptop lagi sembari mendengar lantunan musik yang ku jadikan backsound vidio KKN ku. Lagipula saya tak tertarik menceritakan ini dengan orang-orang yang telah KKN, sebab sebelumnya saya sering berada ditengah tengah teman-teman yang menceritakan pengalaman KKN mereka, terasa lucu, mereka saling berlomba menceritakan penggalan kesan mereka, bahkan lebih sering mereka beriringan bercerita satu sama lain, saat yang lain masih bercerita yang lain lagi memotongnya dengan cerita sendiri, lalu saya pun bingung mau mendengar yang mana, karena semuanya memang terasa tak menarik bagiku. Dan setelah saya menjalaninya, saya mengerti mengapa mereka begitu sangat antusias bercerita, tapi pengertianku itu tetap tak membuatku terlalu bersemangat menemui mereka untuk bercerita dan lalu berlomba dan beriringan menceritakan penggalan kesan. 

Suasana sendiri ini memang lebih nyaman, kubiarkan semua kesan saat pertama kali pemberangkatan dengan bus tua kampus yang mogok di Jeneponto dan memaksa kami melanjutkan lebih dari stengah perjalanan menggunakan pete-pete setelah sebelumnya kami hampir terdampar karena tak ada yang ingin bertanggung jawab dengan sigap. Kami disuruh menunggu bus lain dari kampus dengan beberapa jam perjalanan, dan ongkos carter angkot yang menjadi tanggung jawab oporan antara supir bus dan pihak kampus, ahh terasa menjengkelkan memang jika membandingkan pelayanan kampus yang kami dapatkan dengan membayar 1,3 juta pembayaran KKN yang sebelumnya hanya 850 rubu saja. 

Lalu hari pertama menyambut, dengan wajah-wajah mahasiswa dari fakultas lain dan tuan rumah yang seumuran kakek nenek. Kami hanya  enam orang dan semua laki laki, Adi sang kordes dari elektro, Andi dan Ian dari FIKOM, Reza dan Umar dari Perikanan dan Kelautan. Sebenarnya kami memiliki dua teman cewe, tapi yang satu sedang partus sehingga yang satunya di opor ke posko lain. Ini adalah hal rancu lain yang disebabkan “ketidakseriusan” pengurusan oleh pihak kampus, yah itu yang nampak dari awal hingga penarikan yang asal-asalan, atau mungkin sebenarnya jika saya pernah kkn sebelumnya hal ini adalah kejadian biasa, entahlah. 

Hari selanjutnya saya mulai ingin menulis keseharian ku, ingin merekam semuanya secara rinci hari demi hari, menggambarkan perasaan ku yang sempat sakit selama dua hari, tapi ternyata itu sangat tidak memungkinkan bertingkah seakan saya sendiri, teman-teman yang lain selalu ingin mengetahui apa yang sedang kukerjakan. Lalu kubiarkan dulu semuanya kurasa tanpa satu barispun kutulis hingga semua berahir. Biarlah kejadian yang sangat berkesan saja tertulis di ujung hari nanti, tapi ternyata saya salah, saat ini saya tak mengerti bagaimana merangkum semua kejadian yang sangat berkesan itu, terlalu banyak, menumpuk, mengkategorikannya sebagai kejadian “sangat berkesan” lalu menulisnya seakan membuat hal lain tidak berkesan. Untunglah saya mempunyai kamera dan merekam beberapa kejadian itu, meski beberpa kejadian penting lain terlewatkan oleh kamera, seperti suasana salaman kemarin dengan warga sekitar sebelum kami pulang, suasana perjalanan pulang dengan rombongan motor dan hijau yang sangat panjang, suasana pertemanan kami dengan cucu kecil tuan rumah saat ia menonton kami seperti orang asing diawal-awal, lalu mengakrabi kami hanya beberapa hari sebelum kami pulang, suasana pagi saat aku baru bangun dan mendapati teh hangat, pisang goreng dan beberapa temanku yang sedang merokok sedang bercerita. Suasana saat kami antrian mandi dan terlambat beberapa kali ke mesjid untuk sholat Jumat, suasana sore saat bermain bola tanpa sepatu di lapangan tembok dengan beberapa permukaan berbatu hingga kakiku bocor karena menginjak salah satunya. Suasana saat kami tertawa lepas karena nama-nama desa yang sebenarnya wajar tapi menjadi bahan lelucon bagi kami, Kalimporo, Lolisang, Batu Lohe, Pantama dan setiap nama desa selain desa kami semuanya terdengar lucu. Suasana saat kami bertanya ke ibu Jumanang dan dijawab dengan hal yang lain dengan berbahasa daerah. Suasana saat kami mendengarkan cerita panjang lebar dan tertawa lepas bersama Kanda Ummang, seorang warga yang awalnya sangat menakutkan tapi ahirnya sangat bersahabat, menceritakan batu-batu cincin. Suasana saat Kordes mengurus kepindahan cewe dari posko lain yang ternyata menjadi masalah besar dan menjadi cerita yang “memalukan” diantara posko-posko lain, atau suasana saat saya merekam suasana dunia di tanah dan laut Bulukumba. Saya tak sempat merekamnya dengan kamera, meski semuanya tersusun dalam ruhku jika harus mengingatnya lagi.

Semuanya sangat prestisius, istimewa, dan membahagiakan jika saya tak menjadi pengkritik dan tak mempermasalahkan beberapa kerancuan urusan kampus tadi. Saat kami dengan sangat cepat akrab, bercanda dan menceritakan rahasia kesan kami saat awal-awal baru melihat, terasa lucu ketika teman-temanku tertipu dengan janggut dan kumis ku yang lebat, berbadan besar dan pendiam. Ternyata awalnya mereka segan dan takut hingga ahirnya saya di juluki Puang karena katanya saya pelawak.
Sekali lagi, saya saat ini paham, dan mungkin ketika junior-junior ku bertanya tentang kesan KKN, maka saya akan menjawab “mutau sendiriji nanti kalo kkn mako, nd bisa dicerita”. Sebab ingin meceritakan semuanyaa kembali bahkan sebebas saat inipun bersama jajaran qwerty aku tak mampu merangkumnya, bukan karena aku telah melupakannya, tapi karena terlalu banyak hal yang tersimpan dalam ingatan.