Sabtu, 03 Oktober 2015

FASE MENJILAT LUDAH

FASE MENJILAT LUDAH
Tabu rasanya. Membicarakan masalah pacaran dengan orang yang jauh sebelumnya merupakan teman perjuangan dalam memerdekakan sebuah fikiran yang kami sebut idealisme. Dulu, saya dan temanku ini adalah sepasang pembicara yang bergantian membahas tentang hal-hal yang kami fikir seharusnya dilakukan oleh mahasiswa. Kami sangat tidak sepakat dengan seorang mahasiswa yang tenggelam dalam rasa yang mereka sebut ada diantara ia dan pacarnya, kami menjadikan orang yang seperti itu menjadi bahan lelucon.

Aneh rasanya. Topik pembicaraan kami bukan lagi mengenai demo dan melawan kebijakan yang kami anggap mengekang kreatifitas kami. Kali ini kami membicarakan bahan lelucon kami beberapa waktu lalu, membicarakan sesuatu yang sangat tabu, membicarakan pacaran. Membicarakan sesuatu yang dulu kami anggap sangat kekanak-kanakan dan sedikit memalukan. Kali ini kami membicarakan sesuatu yang dulu kami anggap layak dicela, karena kami merasa mahasiswa yang terlalu mengurus perasaan adalah mahasiswa yang belum tamat SMA.

Sangat beda rasanya. Kami tak lagi memperdebatkan tentang agen of change, social control, iron stock ataupun moral force, tapi kami membicarakan dan saling berbagi, bagaiamana seharusnya kami menyenangkan cewe yang kami sukai. Kami membicarakan sesuatu yang mungkin bisa membuat kami kecewa dan sakit hati, pembicaraan yang dulu tak pernah ada, dan jika ada, itu adalah pembicaraan tentang orang lain yang kami jadikan intermesso untuk tertawa terbahak. Kami menyisikan materi tentang logika kali ini, saat dulu kami marah-marah membahas apa itu “ada” dan apa itu “tidak ada”. Kami mengesampingkan untuk memerintahkan salaing berfikir lalu memperdebatkan apakah warna merah pada bungkus rokok Marlboro itu ada pada bungkus itu atau hanya ada dikepala kami. Sebuah pembahasan yang tak berujung.

Sangat asing rasanya. Membicarakan pacaran, sebuah kata yang teralienasi dari sudut pandang wajar kami. Membicarakan sebuah hubungan yang kami anggap buang-buang waktu, penghambat, dan pembodohan.

Tapi mengapa saat membicarakan ini, saya dan teman ku itu merasa lepas, meski terkadang kami saling menertawai dan saling menganggap kami telah berlebihan dan tak wajar. Tapi kami lalu saling mentolerir beberapa saat kemudian, bahwa hal “bodoh” yang kami lakukan untuk membuat orang yang kami sukai senang itu adalah sebuah kewajaran.

Lalu kenapa begini ?. apakah karena kami sudah tak lagi menjadi mahasiswa yang aktif kuliah dan setiap hari ke kampus. Atau bahkan mungkin kami sudah mulai apatis dan lupa idealis. Apakah kami sudah menganggap wajar sesuatu yang dulu kami tampar. Apakah kami sudah merasa bahwa kami memang tak akan pernah mengalahkan sistem yang dulu sangat kami benci. Apakah kami pura-pura untuk menutup salah satu mata kami yang melihat sebuah ketidak wajaran, lalu beronani dengan imaji. Mengapa pembahasan kami berubah ?, padahal kami tau negara ini kacau. Mengapa kami terlalu egois sekarang, padahal kami tau organisasi kami sedang rapuh. Mengapa kami kekanak-kanakan sekarang, padahal kami paham beberapa esensi terlupakan oleh orang yang harusnya kami bimbing.

Saya tau, bahwa temanku itu tidak amnesia, begitupun saya. Kami tak pernah lupa bahwa kami pernah terinjak kuasa para manusia biasa yang bertahta saat kami berbicara lantang di hadapan mereka tentang ketidak setujuan dan hal-hal yang seharusnya mereka lakukan. Kami tak sedang lupa bahwa kami pernah benar-benar sombong dan mencibir apa yang kami bicarakan saat ini. Tapi mengapa kami merasa wajar sekarang dan saling mentolerir. Benar-benar aneh. Atau apakah kami sebenarnya memahami sesuatu yang disebut fase kehidupan, dan sekarang kami berada pada fase menjilat ludah kami. Mungkin kami sebenarnya paham tentang sesuatu yang lebih rileks dan tidak terlalu memusingkan, jadi wajar jika saat ini kami memuji celaan kami dulu, dan lalu berpusing mengenai diri kami sendiri, berfikir bagaimana cara kami bahagia sendiri dan lari dari pembahasan mengenai derita para marjinal.

Lucu rasanya, tapi dari sudut pandang lain miris rasanya. Apakah hal yang kami lakukan sekarang ini adalah wajar. Dan jika itu wajar, berarti pembahasan mengenai sosial dan idealisme hanya menjadi kajian kajian mahasiswa didalam kampus, idelaisme itu akan memudar di bibir sistem yang sangat kuat, saat kami mulai memasuki dunia yang nyata, dunia diamana kami akan menjadi pengekor, di dunia saat kami akan menjadi seorang sarjana dan akan mencari pekerjaan. Atau apakah kami sebenarnya sadar bahwa kami akan menikah dan butuh makanan, dan jika kami terus bertolak belakang dengan tatanan yang dulu kami sangat benci itu kami akan kelaparan dan sangat sulit untuk melamar anak orang lain. Hahaha.


Hal yang baru kusadari saat kami berdiskusi dan mengenyampingkan ketabuan tentang pembahasan kami mengenai pacaran, bahwa ternyata temanku itu sangat melankoli. Dan dulu ia terkekang oleh statusnya sebagai mahasiswa yang sering membaca buku jika harus memancarkan sisi perasa nya itu, mmmm.... dan begitupun saya.