Kamis, 30 Juli 2015

SAYA SAKIT KEPALA DENGAN "film anak-anak" YANG MEMBOLEHKAN PACARAN DAN BERKELAHI.

Selamat malam blogger, atau siapapun, sebab mungkin saja kau memulai rentetan huruf untuk membaca tulisan ini dan kau bukan blogger, melainkan hanya mendapati dilaptopku sebagai file biasa, atau mungkin salah satu kata kunci tulisan ini berkaitan dengan pencarianmu di Google saat kau searching ditengah kelas menggunakan kemeja putih serta celana kain hitam untuk menjawab soal final mu. Entahlah, sebab saya sedang tak ingin menspesialkan salah satu komonitas atau beberapa orang yang sedang berkumpul lalu memberikan nama atas apa yang sama-sama selalu mereka lakukan. Saya hanya sedang dengan angkuh menyeret bentuk demi bentuk kata untuk mencampuri keresahan ku ahir-ahir ini. kegelisahan dari persepsi, dari sekitar, entah apakah ini karena saya terlalu menutup diri dari kelumrahan yang disematkan orang-orang disekitarku saat melihat hal yang sama.

Terasa jelas dan nyata, ada semacam sensasi, kali ini bukan dari materi diluar ragaku, aku merasakan organ yang disebut otak dalam diriku sedang digenggam keras-keras, menghambat fikiran, terasa buntu, dan sakit kepala, aku sadar ini adalah deskripsi yang sedikit berlebihan, tapi jujur inilah yang kurasakan. Saya memiliki lima orang keponakan yang sangat gemar melototi layar tivi, mencari film kartun, dan saya benar-benar yakin mereka tak sekedar membuka mata tanpa menyimpan apa yang mereka saksikan dimemori mereka, dan pada gilirannya mereka tak sekedar menyimpan lagi, tapi meniru, cara mereka bicara sperti Upin dan Ipin, lalu mengeluarkan jurus seperti Naruto. Jika mereka menganggap ini main-main yah mungkin seperti itulah yang wajar, yang jelas anggapan wajar itu tak ada pada saya.

Biklah, mari saya mengajak kita semua yang kebetulan membaca postingan ini (bukan berarti jika tak ada yang membaca berarti saya tak mengajak siapapun), apa yang ada dalam fikiran kita tentang film Kartun ?. jika kalian menanyakan pertanyaan seperti apa yang saya tanyakan kepada anda ini, maka saya akan menjawab ini adalah film anak-anak. Yah, anda mungkin akan menyalahkan saya, atau mengatakan tak selamanya film kartun adalah film anak-anak. Begini saja, saya mungkin akan sangat bias dalam menuliskan apa yang saya fikirkan jika saya saat bersamaan sedang benar-benar mempertimbangkan bagaimana keadaan anda dan apa yang anda saksikan, lalu saya berharap anda akan segera setuju dan menganggukkan kepala anda beberapakali  jika kebetulan ada sebuah kalimat yang menurut anda masuk akal dalam tulisan ini. maka saya akan menceritakan saja apa yang benar-benar saya fikirkan dan apa yang saya rasakan dari apa yang terjadi diluar, disekitarku.

Saya benar-benar merasa risih, dengan beranggapan bahwa film kartun adalah film  anak-anak, saya curiga ada semacam pembiaran dari orang tua jika anak-anak mereka menontonnya, mengikutinya, bahkan mungkin orang tua akan menyerah ketika anak kesayangan mereka ingin menonton fiklm kartun saat bersamaan mereka sedang menonton infotaiment. Yah.. film kartu adalah wajar dan lumrah, bahkan mungkin adalah hal yang wajib dan akan menjadi buah bibir yang dibanggakan orang tua mereka saat menceritakan anak kecil mereka kepada temannya. Yah mereka menganggap ini lucu, saat mereka memasrahkan anak mereka mendongahi “guru” mereka, merekam bagaimana cara Sinchan mengolok-olok orang tuanya dan melihat orang dewasa dari sisi birahinya, menonton Nobita yang membayangkan bagaimana menikah, mencintai sisuka. Seperti tadi sore, saat beberapa anjing memperebutkan seorang wanita yang manusia, wanita yang sangat vulgar. Percakapan mereka adalah persaingan, adalah bagaimana menunjukkan kekuatan didepan wanita, adalah bagaimana menyingkirkan anjing lain, adalah pemukulan, adalah melakukan segalanya demi wanita. adalah mencelakai, tujuannya adalah agar sang anjing bisa pacaran dengan wanita manusia itu lalu bebas memanggil wanita itu dengan kata “sayang”, ya ini adalah film kartun yang dianggap wajar jika anak-anak menyaksikannya, lagian memang katanya acara ini untuk anak-anak.

Kasihan, saya benar-benar merasa risih dengan ini semua, anak-anak kecil kita mempelajari banyak hal yang sangat tidak berkontribusi pada pembangunan negara jika tidak ingin membicarakan setidaknya membangun diri sendiri sejak dini, bahkan mungkin nanti mereka akan benar-benar menyangka bahwa bahasa betawai adalah bahasa Indonesia, dengar saja –jika kita sekejap tak menyalahkan unsur film kartun secara keseluruhan- suara atau dialog yang digunakan semua film kartun di tv swasta, anak-anak kecil kita sudah pandai mencari sendiri salurannya, jika bukan bahasa Malaysa maka dia akan Bahasa Betawi, kedengarannya memang lucu jika anak yang baru belajar bicara langsung tau kalo kakek itu bernama “atoo”, kalau memanggil orang lain maka namanya adalah “lu”. Saya mungkin terlalu berelebihan lagi jika memang ini adalah benar-benar wajar, lalu bagaimana bahasa indonesia yang baik dan benar, lalu apakah kita membiarkan anak-aak kecil kita untuk sebebasnya bermain dan menonton TV padahal mereka sedang mempelejari bagaimana memukul, bagaimana mengejek, bagaiman menyukai lawan jenis, bagaimana berbicara. Padahal pemerintah bisa saja memberikan tayangan yang lebih berguna, stimulasi pelajaran, padahal para pengusaha bisa saja mengajak anak-anak kecil indonsia belajar dan mencintai negara mereka dengan apa yang mereka senangi, menonton TV dan film kartun, padahal orang tua bisa saja mematikan TV dan memberikan permainan yang lebih baik yang bukan tentang bagaimana harus pacaran dan sangat bernafsu saat melihat guru yang cantik.

Lalu bagaimana ?, jika memang wajar lalu silahkan merelakan “guru-guru” mereka mengajarkan untuk berkelahi, saat bersamaan kita meneriaki dan mencubit anak kita yang memukul temannya karena memertahankan mainannya, sebab seperti itulah cara Naruto mempertahankan miliknya, berkelahi. Lalu kita akan tertawa, saat anak yang belum fasih menyebut kata “ibu” sudah tau tentang pacaran, tentang memanggil sayang wanita yang dianggap pacar. Maka biarlah kalian memukul dan menghukum anak kalian saat mereka melakukan apa yang dilakukan oleh tokoh favoritnya dalam film-fim kartun. Ingat ini hanya sebatas film kartun yang saya bicarakan yang sangat nampak ada pihak lain yang ingin membuat moral kita hancur sejak dini, ini belum lagi mengenai lagu anak-anak sekarang yang “jatuh cinta pada pandangan pertama”. Atau bukan lagi dengan anak-anak kita yang ikut menonton sinetron “impor” yang ceritanya dengan sinetron lokal sama persis. Tentang permusuhan, tentang melakukan segala cara untuk merebut milik orang lain. Ahhhhh... what the hell whit the TV. Saya merasa semakin sumpek memikir ini semua, tak berkurang dengan sedikit “membuang” nya dalam tulisan. Ya Allah selamatkan lah generasi kami dari sampah TV, atau sadarkan lah mereka yang terlalu jahat, atau jika tidak, sadarkanlah saya saja dan menganggap ini adalah normal supaya saya tidak sakit kepala seperti sekarang ini.


                        Kamis 23 juli 2015