Selamat
malam blogger, atau siapapun, sebab mungkin saja kau memulai rentetan huruf
untuk membaca tulisan ini dan kau bukan blogger, melainkan hanya mendapati
dilaptopku sebagai file biasa, atau mungkin salah satu kata kunci tulisan ini
berkaitan dengan pencarianmu di Google saat kau searching ditengah kelas
menggunakan kemeja putih serta celana kain hitam untuk menjawab soal final mu.
Entahlah, sebab saya sedang tak ingin menspesialkan salah satu komonitas atau
beberapa orang yang sedang berkumpul lalu memberikan nama atas apa yang
sama-sama selalu mereka lakukan. Saya hanya sedang dengan angkuh menyeret
bentuk demi bentuk kata untuk mencampuri keresahan ku ahir-ahir ini.
kegelisahan dari persepsi, dari sekitar, entah apakah ini karena saya terlalu
menutup diri dari kelumrahan yang disematkan orang-orang disekitarku saat
melihat hal yang sama.
Terasa
jelas dan nyata, ada semacam sensasi, kali ini bukan dari materi diluar ragaku,
aku merasakan organ yang disebut otak dalam diriku sedang digenggam
keras-keras, menghambat fikiran, terasa buntu, dan sakit kepala, aku sadar ini
adalah deskripsi yang sedikit berlebihan, tapi jujur inilah yang kurasakan.
Saya memiliki lima orang keponakan yang sangat gemar melototi layar tivi,
mencari film kartun, dan saya benar-benar yakin mereka tak sekedar membuka mata
tanpa menyimpan apa yang mereka saksikan dimemori mereka, dan pada gilirannya
mereka tak sekedar menyimpan lagi, tapi meniru, cara mereka bicara sperti Upin
dan Ipin, lalu mengeluarkan jurus seperti Naruto. Jika mereka menganggap ini
main-main yah mungkin seperti itulah yang wajar, yang jelas anggapan wajar itu
tak ada pada saya.
Biklah,
mari saya mengajak kita semua yang kebetulan membaca postingan ini (bukan
berarti jika tak ada yang membaca berarti saya tak mengajak siapapun), apa yang
ada dalam fikiran kita tentang film Kartun ?. jika kalian menanyakan pertanyaan
seperti apa yang saya tanyakan kepada anda ini, maka saya akan menjawab ini
adalah film anak-anak. Yah, anda mungkin akan menyalahkan saya, atau mengatakan
tak selamanya film kartun adalah film anak-anak. Begini saja, saya mungkin akan
sangat bias dalam menuliskan apa yang saya fikirkan jika saya saat bersamaan
sedang benar-benar mempertimbangkan bagaimana keadaan anda dan apa yang anda
saksikan, lalu saya berharap anda akan segera setuju dan menganggukkan kepala
anda beberapakali jika kebetulan ada
sebuah kalimat yang menurut anda masuk akal dalam tulisan ini. maka saya akan
menceritakan saja apa yang benar-benar saya fikirkan dan apa yang saya rasakan
dari apa yang terjadi diluar, disekitarku.
Saya
benar-benar merasa risih, dengan beranggapan bahwa film kartun adalah film anak-anak, saya curiga ada semacam pembiaran
dari orang tua jika anak-anak mereka menontonnya, mengikutinya, bahkan mungkin
orang tua akan menyerah ketika anak kesayangan mereka ingin menonton fiklm
kartun saat bersamaan mereka sedang menonton infotaiment. Yah.. film kartu
adalah wajar dan lumrah, bahkan mungkin adalah hal yang wajib dan akan menjadi
buah bibir yang dibanggakan orang tua mereka saat menceritakan anak kecil
mereka kepada temannya. Yah mereka menganggap ini lucu, saat mereka memasrahkan
anak mereka mendongahi “guru” mereka, merekam bagaimana cara Sinchan
mengolok-olok orang tuanya dan melihat orang dewasa dari sisi birahinya,
menonton Nobita yang membayangkan bagaimana menikah, mencintai sisuka. Seperti
tadi sore, saat beberapa anjing memperebutkan seorang wanita yang manusia,
wanita yang sangat vulgar. Percakapan mereka adalah persaingan, adalah
bagaimana menunjukkan kekuatan didepan wanita, adalah bagaimana menyingkirkan
anjing lain, adalah pemukulan, adalah melakukan segalanya demi wanita. adalah
mencelakai, tujuannya adalah agar sang anjing bisa pacaran dengan wanita
manusia itu lalu bebas memanggil wanita itu dengan kata “sayang”, ya ini adalah
film kartun yang dianggap wajar jika anak-anak menyaksikannya, lagian memang
katanya acara ini untuk anak-anak.
Kasihan,
saya benar-benar merasa risih dengan ini semua, anak-anak kecil kita
mempelajari banyak hal yang sangat tidak berkontribusi pada pembangunan negara
jika tidak ingin membicarakan setidaknya membangun diri sendiri sejak dini,
bahkan mungkin nanti mereka akan benar-benar menyangka bahwa bahasa betawai
adalah bahasa Indonesia, dengar saja –jika kita sekejap tak menyalahkan unsur
film kartun secara keseluruhan- suara atau dialog yang digunakan semua film
kartun di tv swasta, anak-anak kecil kita sudah pandai mencari sendiri
salurannya, jika bukan bahasa Malaysa maka dia akan Bahasa Betawi,
kedengarannya memang lucu jika anak yang baru belajar bicara langsung tau kalo
kakek itu bernama “atoo”, kalau memanggil orang lain maka namanya adalah “lu”.
Saya mungkin terlalu berelebihan lagi jika memang ini adalah benar-benar wajar,
lalu bagaimana bahasa indonesia yang baik dan benar, lalu apakah kita
membiarkan anak-aak kecil kita untuk sebebasnya bermain dan menonton TV padahal
mereka sedang mempelejari bagaimana memukul, bagaimana mengejek, bagaiman
menyukai lawan jenis, bagaimana berbicara. Padahal pemerintah bisa saja
memberikan tayangan yang lebih berguna, stimulasi pelajaran, padahal para
pengusaha bisa saja mengajak anak-anak kecil indonsia belajar dan mencintai
negara mereka dengan apa yang mereka senangi, menonton TV dan film kartun,
padahal orang tua bisa saja mematikan TV dan memberikan permainan yang lebih
baik yang bukan tentang bagaimana harus pacaran dan sangat bernafsu saat
melihat guru yang cantik.
Lalu
bagaimana ?, jika memang wajar lalu silahkan merelakan “guru-guru” mereka
mengajarkan untuk berkelahi, saat bersamaan kita meneriaki dan mencubit anak
kita yang memukul temannya karena memertahankan mainannya, sebab seperti itulah
cara Naruto mempertahankan miliknya, berkelahi. Lalu kita akan tertawa, saat
anak yang belum fasih menyebut kata “ibu” sudah tau tentang pacaran, tentang
memanggil sayang wanita yang dianggap pacar. Maka biarlah kalian memukul dan
menghukum anak kalian saat mereka melakukan apa yang dilakukan oleh tokoh favoritnya
dalam film-fim kartun. Ingat ini hanya sebatas film kartun yang saya bicarakan
yang sangat nampak ada pihak lain yang ingin membuat moral kita hancur sejak
dini, ini belum lagi mengenai lagu anak-anak sekarang yang “jatuh cinta pada
pandangan pertama”. Atau bukan lagi dengan anak-anak kita yang ikut menonton
sinetron “impor” yang ceritanya dengan sinetron lokal sama persis. Tentang
permusuhan, tentang melakukan segala cara untuk merebut milik orang lain.
Ahhhhh... what the hell whit the TV. Saya merasa semakin sumpek memikir ini
semua, tak berkurang dengan sedikit “membuang” nya dalam tulisan. Ya Allah
selamatkan lah generasi kami dari sampah TV, atau sadarkan lah mereka yang
terlalu jahat, atau jika tidak, sadarkanlah saya saja dan menganggap ini adalah
normal supaya saya tidak sakit kepala seperti sekarang ini.
Kamis 23 juli 2015